
...Jika akhirnya pergi, untuk apa kata-kata dan tindakan kemarin?...
...🔱...
Tindakan Langit tadi membuat hati Senja perih, tapi Senja tak akan pernah menyalahkan itu. Langit pergi karena salahnya, Langit begitu karena dikecewakan dan diabaikan olehnya malam kemarin. Jadi tak apa.
Senja tak ingin memikirkan hal itu di kampus, ia mencoba menghubungi Arkan untuk pulang duluan.
Gadis itu memandangi ponselnya dengan mata yang berkaca-kaca. Lelakinya itu memang selalu sibuk, sebab wajar saja, fakultas kedokteran memang menggulung waktu Arkan dan mahasiswa yang lain lebih banyak. Senja memaklumi itu. Masa-masa SMA saja sudah cukup, jadi ia akan menerima waktu yang Arkan luangkan walaupun sedikit.
Kak Arkan
^^^Kak, aku pulang duluan, yaa? Semangat belajarnya.^^^
Tak ada jawaban karena memang centangnya hanya satu. Itu artinya Arkan masih berada di kelas bersama dengan teman-temannya dan dokter yang mengajar.
Senja menghela nafas, rasanya ingin mengatakan jika ia akan pulang naik bus dan... sendirian.
****
Langit benar-benar membawa Luna ke minimarket. Luna yang polos, tapi liar itu langsung berbinar ketika melihat sebuah kotak-kotak berjejeran dihadapannya dan dibelakang kasir. Luna berdiri di hadapan kasir, sedangkan Langit berjalan ke arah lemari es.
Menyadari gadis yang dibawanya tak ada, cowok itu lantas menengok ke belakang dan mendapati Luna bertingkah konyol. Langit menunduk dan mengaruk rambutnya yang tak gatal. Dengan cepat, ia menarik tangan Luna untuk ikut dengannya melihat lemari es.
"Dasar cowok dingin! Apa-apa harus tarik tangan, gak bisa ngomong dulu gitu?!" tanya Luna. "Basa-basi dulu atau gimana kek, main tarik-tarik aja. Gue doain semoga besok-besok nih ya... lo salah tarik orang."
Luna acuh tak ingin menatap Langit. "Biar lo malu."
Namun Langit masih dengan wajah datarnya sambil menarik lengan lemari es dan membukanya. "Gak perlu besok, karena itu terjadi hari ini."
Langit mengambil satu kaleng soda dan sekotak susu, lalu menutup pintu lemari es itu. Ia memberikan kotak susu itu kepada Luna, tapi sepertinya gadis itu tidak menginginkannya. "Maksud lo apa?" Luna menatap Langit nyalang. "Oh, lo salah dan malu bawa gue? Terus kenapa lo tawarin gue ke sini?! Kenapa gak Senja aja yang lo bawa? Biar lo gak malu!"
"Udah ngomongnya?" tanya Langit. "Lo bawel."
Luna tercengang, lalu Langit meninggalkan gadis itu begitu saja.
"Eh, cowok cool! Jangan main tinggal-tinggal aja! Katanya mau beliin gue rokok?!" teriak Luna, membuat seantero minimarket menatapnya pelik. Sedangkan Langit memejamkan mata karena malu.
Langit kembali kepada gadis itu. "Jangan rokok!"
"Gak mau, gue maunya rokok!" bantah Luna. Langit memberikan kartu ATMnya di depan wajah Luna.
"Maksud lo apa? Gue bukan cewek kayak gitu, ya! Kartu setipis itu gak akan bisa ngebeli gue!" katanya tegas.
"Gue kalau traktir gak tanggung-tanggung. Ambil apapun!" jawab Langit.
"Nih cowok unik banget, sih," batin Luna. "Ya udah sini!"
Luna hendak mengambil kartu itu, tapi segera ditepis oleh Langit. "Minum dulu," ucapnya sembari memberikan sekotak susu.
Gadis itu pun mengambil kotak susu itu. "Ck, lo pikir gue bayi apa dikasih susu kayak gini?!"
"Lebih baik bayi daripada lo."
__ADS_1
Langit pun memberikan kartu ATM miliknya dan keluar dari minimarket itu, agar Luna benar-benar bebas mengambil apapun yang diinginkannya.
****
Gilang merangkul bahu Ghea dan membawanya keluar. Ghea kali ini pasrah dan benar-benar menyerahkan dirinya untuk kelangsungan Arkan dan Sara dulu. Sara yang masih sibuk dengan tugasnya itu tersadar jika Ghea tidak ada di tempatnya.
Wajahnya kemudian teralihkan untuk melihat Gilang yang membawa Ghea. "Gilang! Lo mau bawa Ghea kemana?!" teriaknya.
"Ke pelaminan!" jawab Gilang dengan suara samar karena cowok itu sudah berada diluar.
Sara berdecak dan kelabakan membereskan peralatan belajarnya. Namun kemudian Arkan menahan semua kegiatan Sara tersebut. Gadis itu pun menatap Arkan dengan tatapan bingung, sedangkan Arkan dengan tatapan serius. "Sar, gue janji malam ini gue gak akan ninggalin lo lagi," ucap Arkan.
Sara menggeleng. "Gue gak mau dan gak bisa."
"Karena lo masih marah sama gue?" tanya Arkan.
"Bukan... tapi karena gue ada makan malam sama yang lain," ucap Sara dingin.
"Kalau gitu gimana kalau besok?"
"Gak bisa, gue sibuk!"
"Besok lusa?"
"Gue ada urusan!"
"Padahal gue mau ajak lo makan malam sama Mama," ucap Arkan, membuat Sara menoleh cepat. "Sama M-Mama?" beo Sara.
"Iya, Mama gue."
Arkan kelabakan, ia kemudian memberikan sebotol air mineral yang dibelinya tadi. Namun Sara menolak dan memilih meminum air yang dibawanya di tumbrl miliknya. "Nggak usah, gue bawa, kok."
Padahal jika mau, bisa-bisa Sara dan Arkan...?
Sara meneguk dulu minumnya, sembari menghilangkan serat tenggorokan dan debar hatinya.
"Maaf," ucap Sara, Arkan tersenyum. "Gue yang harusnya minta maaf, lo jadi kesedak."
Sara tersenyum canggung. "Hm."
"Jadi gimana? Lo mau, kan?" tanya Arkan.
Sara teringat dan berdesir, kemudian mengangguk pelan. "Hm, gue mau."
Arkan tersenyum menang. Sara akhirnya mau diajak makan malam bersama Arkan sekaligus Mama tirinya nanti. Entah kenapa Sara percaya pada Arkan kali ini. Suatu kelemahan Sara, diberi sebuah harapan dan ia akan luluh.
****
Luna Larasati, gadis itu adalah gadis pertama yang dibawa Langit ke rumahnya. Senja? Dia kan pacar Arkan, dibawa oleh Langit pun atas maunya Arkan. Jadi menurutnya, Luna adalah gadis pertama yang ia bawa ke rumahnya.
Langit menaruh kantung belanjaan yang dibeli Luna di meja makan. Lalu ia menarik satu kursi yang ada di sana untuk Luna duduk. Luna tersentuh, baru kali ini ada laki-laki yang memperlakukan dirinya seperti ratu. Karena biasanya ia hanyalah gadis nakal yang suka membangkang.
"Gue ke atas dulu," ucap Langit. Luna mengangguk pelan.
__ADS_1
Ia baru melihat rumah semegah ini, Langit benar-benar kaya dan mempunyai segala hal yang diinginkan orang-orang seperti Luna. "Gila, ini rumah apa hotel?" tanya Luna. "Kalau gue punya rumah kayak gini, gue pasti punya teman banyak dan pesta setiap hari."
Mata Luna tertarik untuk mendongak dan melihat sekitar, orang sekaya Langit kenapa mau membawa orang baru ke rumahnya? Itu pikir Luna.
Luna melihat Langit berjalan bersama wanita cantik. Gadis itu lantas berdiri dari duduknya. Ternyata Luna masih punya sopan santun.
"Loh, Mama pikir Senja," ucap Mamanya. Langit memasang wajah malas.
"Oh, ini Mamanya. Cantik banget," batin Luna. Luna pun bersalaman dengan Mama Langit. "Kenalin Tante, saya Luna. Saya.."
"Temen dekat Langit, Ma."
Luna maupun Mamanya terkejut, jadi anaknya ini sudah memilih tambatan hatinya?
"Oh, jadi kamu udah mulai ngikutin langkah Kakak kamu, ya?" goda Mamanya. "Bisa banget lagi nyari ceweknya, cantik..."
Mamanya terus menggoda Langit sampai cowok itu menggaruk tengkuknya malu. Bukan hanya Langit, tapi Mamanya juga baik. Mereka berdua bahkan tak pernah mempermasalahkan pakaian yang dipakai Luna.
Mama dari Langit tersebut masih tertawa. "Eh, jadi lupain Lunanya," katanya. "Sebentar deh.. Langit, Luna? Berarti Langit dan bulan? Kalian bahkan serasi."
Oh, iya. Arti dari nama Luna adalah bulan.
Aish, Luna tak tahu apa yang terjadi di sini. "Ma, eum.. kalau gitu, Lang sama Luna mau main di belakang dulu."
"Belakang?" tanya Luna. Apa maksudnya?
"Hm, di taman."
Luna hanya ber oh ria dan paham sekarang. Di rumahnya hanya ada halaman setapak, tapi di rumah Langit? Taman terpampang seluas rumah Luna. Gadis itu menatap kagum ke arah kolam ikan milik Mama Langit. Kolam itu ada pancurannya!
Gadis itu langsung lari menghampiri kolam ikan. "Wah!" Luna hendak membuka bajunya.
Langit berdecak, lalu buru-buru menghampiri Luna dan menjitak gadis itu. "Mau ngapain?"
"Berenang."
"Lo emang ikan." Kolam kan beda lagi!
Luna mencebikkan bibirnya kesal. "Gue buka baju nih!" ucapnya hendak membuka baju.
"Eh jangan!" Luna menggoda Langit, dan baru kali ini ia melihat wajah Langit yang ketakutan sampai sehebat itu.
"Muka lo lucu, haha." Luna tertawa renyah.
Langit menunduk karena aura dinginnya hampir saja terlepas. "Gue cuma takut ikan-ikan itu terpesona lihat lo, jadi jangan buka baju di depan mereka."
Luna melebarkan matanya terkejut. A-apa?
...~🔱~...
...Maaf ya up nya lama, soalnya aku lg kurang sehat...
...inshaaAllah secepatnya aku up lagi😊...
__ADS_1
...ralat part sebelumnya : Minimarket...