
...Kubiarkan kalian berperan kemarin, tapi kali ini biar takdir yang bermain....
...🔱...
Arkan benar-benar mengajak Sara makan siang di caffe dekat kampus, entah apa motif Arkan melakukan ini. Namun kelihatannya Arkan sungguh gugup ketika berdekatan dengan Sara. Sama seperti perlakuannya kepada Senja, Arkan membuat semua wanita spesial di matanya.
Sara, gadis itu tak tahu jika Arkan adalah milik Senja. Ia juga tak tahu mengapa Arkan tiba-tiba mengajaknya makan siang. Namun wajah Sara, tingkah lakunya, kepintarannya dan gelar yang akan didapatkannya nanti, itu sudah menjawab kenapa Arkan melakukan ini.
"Lo mau pesen apa, Sar?" tanya Arkan.
"Apa yang lo pesen, itu aja."
Arkan terkekeh, sederhana sekali. Tak ada kata terserah atau apapun itu. "Lo serius? Gue takut lo ada alergi atau gak suka sama apa yang gue pesen."
"Beneran, Ar. Gue mau apapun, asal bisa dimakan."
"Oh, o-oke."
Arkan mengacungkan satu tangannya memanggil pelayan caffe. Pelayan caffe itu datang menghampirinya dan Arkan segera memesan.
"Ya Mbak, itu aja."
"Baik. Ditunggu ya Mas, Mbak?" kata Pelayan itu sopan.
"Terima kasih, Mbak," ucap Sara seraya tersenyum.
Arkan kembali kagum, gadis ini sama sederhananya dengan Senja. "Oh iya Ar, lo mau ngomong apa?"
"Apa gak sebaiknya kita makan dulu?" tanya Arkan.
Sara sedang dibawa berkeliling dulu oleh Arkan. Makanya ia kebingungan, apa yang sebenarnya ingin dikatakan Arkan? Mengapa begitu berbelit-belit?
"Ya, bisa sih. Tapi gue jadi penasaran apa yang mau lo omongin," kata Sara sedikit canggung dan tegang.
"Sar... kalau memang sekarang lo sibuk, lo bilang aja."
Sara menggeleng cepat. "Nggak, kok. Gue sama sekali gak sibuk."
"Kalau gitu, gue minta maaf kalau seandainya lo gak nyaman."
"Arkan, lo jangan merasa bersalah. Gue beneran gak apa-apa kok. Gue malah suka makan siang sama lo."
Lagi-lagi berdetak, sudahlah tidak beres!
****
"Makasih, Lang," kata Senja.
Langit berdeham, "Kalau masih pusing, telpon!"
Senja tersenyum bangga. "Aku gak mau repotin kamu terus, aku kan ada Kak Arkan. Aku bisa telepon dia."
Langit menunduk. "Jangan Arkan, aku aja."
Senja memegang lengan Langit. "Jangan iri, Lang. Aku butuh kok, butuh kamu. Tapi aku harus terbiasa untuk gak andalin kamu setiap saat. Karena nanti, kamu juga pasti punya orang spesial."
"Jangan bilang begitu, kapanpun kamu mau, ada aku."
Langit terlampau sadar, Kakak tirinya tak sedang baik-baik saja. Ada hal yang sepertinya rusak di diri Arkan. Makanya Langit akan cari tahu apa penyebabnya.
Sedangkan Senja takut jika Langit tak mengerti maksudnya. Sebenarnya Senja tak ingin sedekat ini dengan Langit, karena yang tetap bersama justru akan semakin membuat sesuatu mudah larut dan sukar dihilangkan.
"Makasih banyak, Lang. Kamu memang sahabat yang paling baik. Makasih juga karena kamu selalu ada."
__ADS_1
Langit hanya mengangguk.
"Ehem.. ehem." Dehaman itu ternyata berasal dari adik Senja, yang pernah suka kepada Langit. Ya, dia Risa dan kekasihnya... Eri.
Senja dan Langit menoleh ke sumber suara. Ternyata Risa baru saja pulang sekolah diantar Eri. Entah kenapa Risa memilih Eri, tapi perlu kalian ketahui bahwa mereka sedang backstreet dari Falah. Sebuah teori mengatakan bahwa Risa pernah menanyakan siapa Eri di episode ketika Langit sedang berbohong mengenai id Line Senja. Sekarang terjawab siapa Eri, dia adalah kekasihnya.
"Oi Lang!" sapa Eri sembari bersalaman dengan Langit.
"Berduaan aja? Tumben gak sama Kak Arkan?" tanya Risa.
Senja dan Langit saling bertatapan. "Kak Arkan lagi istirahat di rumah," jawab Senja.
Padahal Langit ingin menjawab bahwa Arkan sedang berada diluar.
"Eum.. sebenernya sih, aku lebih suka Kak Senja sama Kak Langit. Kalian lebih serasi," ungkap Risa.
"Sssttt.. Risa, kamu apaan sih?" bisik Senja. Seandainya Arkan dengar, itu pasti menyakiti hatinya.
"Ya maaf," kata Risa. "Kak Eri? Ayo kita masuk! Diluar bahaya."
"Ayok!" seru Eri.
"Bye Lang! Gue mau pacaran dulu," kata Eri.
"Hm."
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah Senja. Rasanya Langit ingin mengelus kepala Risa dan bilang terima kasih karena sudah membuat hatinya dipenuhi bunga.
"Lang, gak mau masuk dulu? Di dalam kan ada Eri."
"Nggak, aku mau kamu istirahat. Aku pulang dulu," ucap Langit sembari menaiki motor. "Cepat sembuh, jangan sakit lagi."
Senja tersenyum. "Iya, makasih Lang."
****
"Lo mau gak jadi pacar gue?"
Kalimat itu sungguh membuat jantung gadis itu berdebar-debar. Ia jadi gugup seketika, berkeringat dingin dan lemas. Mengapa cowok itu harus melakukan ini? Tak ada pilihan lain lagi, ia harus mengambil jalan ini.
"Aku tolak aja gimana?" tanya Risa kepada Eri. Dan yang mengirim kalimat itu adalah Falah. Ah, ini semakin membuat Eri bingung dan gila. Kenapa sahabatnya harus mengirim kalimat itu kepada Risa!
"Jangan!" seru Eri. "Nanti dia bisa kecewa karena jawaban kamu, mending jangan balas."
"Gimana bisa gak aku balas? Nanti Kak Falah ngejar-ngejar aku terus, Kak. Dan buat hubungan kita gak nyaman," balas Risa.
Tapi Risa salut pada Eri. Di keadaan begini bukannya mementingkan diri sendiri, ini malah mementingkan sahabatnya. "Kamu jangan gegabah, Ris. Kita harus tunggu sampai Falah nyerah dan berhenti ngejar kamu."
Risa mencebikkan bibirnya kecewa. "Bisa-bisanya Kakak ngomong kayak gitu, sementara kita berdua harus umpat-umpatan kayak gini! Emangnya Kakak gak capek?!"
"I-iya sih, tapi aku gak mau kalau sampai Falah sakit hati."
Risa terenyuh, meskipun Eri tidak begitu sempurna. Namun hatinya selalu bisa membuat Risa jatuh cinta. Eri adalah sosok cowok yang super duper aneh, yang kadang pintar dan kadang tidak.
"Ya udah deh kalau itu maunya Kakak, aku bisa apa? Kalau gitu aku gak usah balas nih?"
Eri mengangguk lemah. Yang penting, Risa menjadi miliknya dan tidak mau menerima siapapun selain dirinya, itu cukup.
****
Arkan dan Sara sudah menyelesaikan makan siangnya. Karena setelah inipun mereka harus kembali ke kampus untuk mengikuti matkul kedua. Arkan masih diam, sementara sebentar lagi kelas akan dimulai.
Sara memperhatikan Arkan yang masih diam. "Ar? Lo baik-baik aja, kan? Kok malah diam? Katanya mau ngomong. Ngomong apa?"
__ADS_1
Arkan terlihat gugup lagi. "Maaf, Sar.."
Ting!
Ucapan Arkan terpotong sebab ponselnya berbunyi. "Sebentar," ucapnya.
Senja❤
Aku udah di rumah, tadi diantar Langit.
Rupanya Senja selalu laporan jika sudah bersama Langit. Arkan seakan mengacuhkan emoji yang diberikannya untuk Senja. Emoji itu membuat Arkan buru-buru sadar akan kelakuannya. Ini hampir membuatnya gila dan berengsek, tapi tidak ada pilihan lain. Arkan harus kembali kepada Senja!
"Sar, gue buru-buru. Ada urusan mendadak," ucap Arkan. "Ini biar gue yang bayar!"
Tak ingin mendengar jawaban Sara, Arkan segera berlari untuk menemui Senja. "Loh, Arkan! Lo.."
Sara masih tak mengerti, mengapa Arkan membawanya kesini dan hanya dibuat kebingungan.
"Arkan kenapa, sih? Udah ngulur-ngulur waktu, sekarang gue malah ditinggal!" gerutunya.
****
"Senjaaa!" panggil Arkan seraya mengetuk pintu.
"Eh, itu kayaknya Kak Arkan deh," ucap Risa bermonolog, sebab Eri sudah pulang.
Risa pun pergi untuk membukakan pintu. Ceklek. "Kak Arkan? Ada apa?" tanya Risa.
"Senja mana?" tanya Arkan dengan nafas yang memburu.
"Tadi Kak Senja baru aja jalan ke toko Bunda."
Arkan merosokkan bahunya. Bukankah Senja sedang sakit?
"Kalau gitu makasih Risa," ucap Arkan kemudian pergi untuk mencari Senja.
"Kak Arkan aneh banget." Risa pun mengedikkan bahunya dan masuk lagi ke dalam.
Arkan menyusuri jalan menuju toko kue Bunda Gina dan berharap bertemu dengan Senja di jalan. Arkan sibuk melihat kanan dan kiri. Sampai akhirnya matanya tertuju pada punggung seorang gadis yang ia kenal. Ia sedang berjalan lesu sambil memandangi ponselnya. Arkan lantas mematikan mesin motornya dan berjalan sangat pelan sekali.
Merasa sudah dekat dengan Senja, Arkan pun memilih menstandarkan motornya dan turun. Untungnya Senja belum menyadari dan masih memandangi ponselnya yang tak jua mendapatkan balasan dari Arkan.
Dengan hati yang dipenuhi rasa bersalah Arkan menutup mata Senja dengan kedua tangannya dan membuat gadis itu kelabakan. "S-siapa ini?" tanya Senja sembari meraba tangan itu.
Arkan mengulum senyumnya. "Ini kamu, ya Lang?"
Spontan Arkan menurunkan senyumnya dan melepaskan tangannya dari wajah Senja. Senja pun lantas berbalik ketika Arkan memundurkan satu langkahnya menjauh dari Senja.
...~🔱~...
...Aku mau kalian vote,...
...kalian lebih suka couple yang mana nih?...
...1. Langit - Senja...
...2. Arkan - Senja...
...3. Arkan - Sara...
...4. Langit - Risa...
...Komentar yaaa, aku tunggu🤗...
__ADS_1