Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Cincin Hilang


__ADS_3

Aku sedang menikmati kegiatan memasak ku, membuatkan sop untuk suami tercinta, sebelum biang rusuh tiba-tiba masuk dapur dan menghampiri ku.


"Wih, masak sop ayam, enak tuh, di tambah sambel ijo mentah. Minta yah."


"Iya, Mbak. Tapi ini belum matang."


Mbak Dita kemudian mengambil kursi dari ruang makan dan duduk memperhatikan ku yang sedang masak.


"Ngapain lihatin aku masak, Mbak ? Ngefans yah ? Atau mau minta tanda tangan ? Secara adik ipar kesayangan Mbak ini kan artis yutub sama Tik Tak, hehehe."


"Pede banget kamu. Artis dari ragunan ? Pengikutnya aja baru sedikit, gaya-gayaan jadi artis. Bangun, Yu, tidur kamu kemiringan. Mbak yakin, mereka itu hanya terpaksa lihat konten kamu. Konten kayak gitu, gak ada mutunya."


Aduh, mulai lagi Julid nya. Mungkin seharusnya aku pakai mode hening aja saat menghadapi Mbak Dita. Pusing sendiri kalau terus melayani nya. Julidnya gak ad obat.


"Iya-iya, suka-suka Mbak aja yang penting Mbak bahagia."


"Mbak bakal bahagia kalau kamu mau minjemin Mbak duit. Minjem lah, Yu, satu juta aja, buat Mbak balik ke Jakarta.


"Gak ada, Mbak." Jawabku santai sambil terus memasak.


"Bohong. Orang kamu sendiri yang ngomong kalau kamu punya uang puluhan juta. Jangan pelit jadi orang, Yu. Apalagi sama Mbak sendiri. Nanti uangnya di maling baru tahu rasa."


"Ya, emang gak ada di dompet, Mbak. Adanya di bank."


"Pinter banget ngelesnya. Sudah sana ambil uangnya di bank, nanti Mbak ganti. Mbak bosan disini, mau balik ke Jakarta aja. Lagipula Mbak udah kangen juga sama suami Mbak."


"Gak bisa, Mbak. Itu uangnya gak bisa di ambil sembarangan. Nanti malah kena denda, soalnya uang itu aku deposito di bank."


"Buat bayar rumah sakit kemarin, bisa diambil." Raut wajah Mbak Dita mulai berubah.


"Ya, itu beda lagi, Mbak."


"Halah, dasar pelit kamu, Yu !"


"Suka-suka Mbak deh mau bilang apa. Orang duitnya gak ada, ya mau gimana lagi."


"Ngeselin kamu ! Lihat aja yah kalau Mbak banyak duit, gak bakal Mbak bantu kamu. Awas aja kamu datang ngemis-ngemis sama Mbak minta bantuan. Gak Sudi Mbak bantuin manusia yang pelitnya minta ampun kayak kamu."


"Iya, terserah. Dari pada Mbak maksa sama aku, Mbak mending minta duit sama Mas Adit deh. Takutnya duit suami Mbak malah abis digares valakor."

__ADS_1


"Eh, dijaga yah congornya ! Seenaknya kalau ngomong, gak pake mikir ! Suami Mbak itu laki-laki paling setia di muka bumi ini."


"Yah, sebagai adik ipar yang baik hati dan tidak sombong, aku cuma ngingetin biar Mbak lebih waspada aja. Kita kan gak ada yang tahu apa yang di lakukan suami Mbak di Jakarta."


"Ngeselin kamu, Ayu ! Udah pelit gak mau ngasih Mbak duit, ngatain suami aku yang gak-gak lagi. Awas aja kamu."


Emosi membara di wajah Mbak Dita. Dia masuk ke dalam rumah. Biarkan saja, emang aku pikirin ? Oh, tentu tidak. Aku lebih memikirkan kesehatan mental ku. Jadi bersikap tak acuh pada biang masalah dan segala sesuatu yang membuat hati sakit.


Sebagai manusia, kita tidak bisa mengendalikan orang lain, tapi kita bisa memilih apa yang harus di dengar dan tidak. Apa yang harus di lakukan dan apa yang harus di tinggalkan. Jadi, jangan pernah mau di jajah orang lain. Jalani hidup senyaman mungkin, asal tidak melanggar hukum agama dan negara.


***


"Sayang, kamu lagi cari apa ?"


"Ini Mas, cincin aku."


"Cincin yang kita beli di pasar bareng-bareng itu ?"


"Iya Mas. Perasaan aku simpan di bawah baju sini, kenapa gak ada yah ?"


"Apa gak kamu jual buat bayar rumah sakit Mas kemarin ?"


"Coba biar Mas bantu cari. Kamu yang tenang yah."


Kamu berdua mengeluarkan semua pakaian dari lemari, sampai menyapu semua kolong, tetap tak ada. Aneh, emas ku hilang dengan suratnya. Pasti ada yang mengambil. Mana bisa cincin dan suratnya jalan sendiri kembali ke toko penjual. Seperti dongeng aja. Tapi kalau misalnya cincinnya di curi, siapa pencurinya ?


"Kita tanya orang rumah, kali aja mereka lihat, sayang."


"Benar juga Mas. Ayo kita tanya Mbak Dita dan ibu."


Suamiku mengumpulkan keluarganya di ruang tamu, kecuali bapak. Bapak sudah berangkat kerja, jadi tak ada dirumah.


"Kenapa sih Bagas, kamu manggil-manggil ibu. Lagi masa buat makan siang juga. Nanti bapakmu balik kelaparan gimana ?"


"Sebentar doang, Bu."


"Emangnya ada apa ? Kalian mau bagi-bagi THR karena sebentar lagi puasa ?"


"Cincinku hilang, Bu, Mbak."

__ADS_1


"Terus ? Kamu nuduh Mbak dan ibu yang ambil ?" Tanya Mbak Dita dengan ekspresi kesal. Padahal aku belum menuduh, tali sikapnya buat aku curiga saja.


"Siapa yang nuduh, Mbak. Aku cuma mau nanya, siapa tahu Mbak sama ibu lihat."


"Ibu gak lihat. Ngapain ambil cincin kamu. Ibu emang mau perhiasan, tapi ibu gak bakal maling punya anak mantu. Udah, ibu mau masak."


"Mbak juga mau ke kamar lagi. Ganggu aja. Lagi asik main Tik Tak."


Mereka berdua malah kompak pergi. Tiba-tiba suamiku menarik tangan Mbak Dita.


"Sejak kapan Mbak punya cincin ? Katanya gak punya duit ?" Tanya Mas Bagas dengan sorot mata penuh selidik.


Mbak Dita langsung gelagapan.


"Apaan sih, Gas. Ini cincin udah lama, baru di pakai aja."


"Kapan Mbak belinya ?"


"Udah lama, pas dulu."


"Kok masih bagus ?" Tanyaku terus mencecar Mbak Dita.


"Ya iyalah, orang jarang di pakai. Kalian ini jangan kurang ajar yah nuduh Mbak sebagai pencuri."


"Apa lagi ini, Ya Allah, ribut melulu. Bagas, Ayu, cari cincinnya yang benar ! Jangan malah main nuduh gak jelas gini. Kau perlu kamu ke toko emas sana, tau aja itu cincin jalan sendiri ke sana."


"Udah, bu. Masak lagi aja, jangan dengerin mereka." Mbak Dita tampak menarik ibu kembali ke dapur.


Mendengar ucapan ibu tadi, aku jadi punya ide. Oke, lihat saja, saat waktunya tiba aku akan beraksi. Kita cari tahu siapa pencurinya.


"Sayang, maaf yah." Wajah suamiku tampak lesu. Aku yang kehilangan, malah suamiku yang hilang harapan, hihihi.


"Maaf melulu, Mas. Udah gak apa-apa, Mas. Ikhlaskan saja."


"Ikhlaskan saja ?" Tanya suamiku keheranan.


"Iya Mas, nanti aku beli lagi yang gede sebagai gantinya. Kan uang aku banyak."


Sengaja ngomong kayak gitu kencang-kencang agar Mbak Dita mendengarnya. Supaya dia pikir aku tak memperkarakan soal cincin lagi. Tapi diam-diam aku akan menyelidiki nya, seperti seorang detektif keren. Bakal seru nih, kalau memang terbukti Mbak Dita yang ambil, akan aku bakal dengan elegan.

__ADS_1


__ADS_2