
"Jangan ngaco, Bu, ngomongnya ! Bagas tidak suka !" ujar Mas Bagas penuh penekanan.
Aku melirik ke arah ibu, dia malah tersenyum. Sementara suamiku terlihat menahan tangis. Aku usap punggung ibu dan memberinya sugesti positif, bahwa dia bisa sembuh.
Umur memang tak ada yang tahu, tetapi sebagai manusia kita masih bisa berusaha menemukan jalan kesembuhan.
...
"Saya sakit apa, Dok ?" tanya ibu setelah diperiksa.
"Sayang, ajak ibu keluar dulu."
"Ibu sudah tahu, Bagas. Kamu tidak usah menutupinya. Ibu dengar dari dokter yang kemarin, kalau ibu kena kanker paru."
"Hah, kanker paru ?" tanyaku mirip orang bodoh yang kebingungan. Mas Bagas sama sekali tak cerita apapun.
"Ibu mau dengar penjelasan dari dokter."
"Bu..."
"Ibu pasti akan melawan penyakit ini, Bagas. Kamu jangan sedih."
"Bu, hiks, hiks." Mas Bagas memeluk erat ibunya. Dokter saja sampai ikut terbawa suasana duka ini. Apalagi aku, hatiku rasanya dipukuli petinju terkenal. Sakit dan pedih mengetahui penyakit ibu yang sudah sangat menyeramkan.
"Ibu pasti sembuh, Bagas akan berusaha semaksimal mungkin. Kalau perlu kita berobat ke luar negeri." ibu hanya tersenyum dan menggenggam erat tangan putranya.
"Betul kata Pak Bagas, saya perhatikan dari hasil dokter sebelumnya, kanker ibu belum menjalar terlalu luas. Masih sekitar stadium satu atau dua. Kita akan melakukan pemeriksaan lagi untuk memastikan hasilnya."
"Jadi, ibu saya masih bisa disembuhkan, Dok ?"
"Insyaallah, bisa, Pak. Tapi kalau stadium dua tidak bisa sembuh total. Setidaknya, harapan hidupnya masih tinggi."
"Alhamdulillah."
"Bu, ibu kuat, lawan penyakitnya, Bu. Biar bisa lihat cucu ibu tumbuh dewasa." ibu mengangguk.
Air matanya dihapus bersih. Penjelasan dokter menjadi secercah cahaya menuju harapan.
...
"Ibu senang sekali, Bagas. Ibu hampir putus asa saat pertama kali mendengar penjelasan dokter sebelumnya. Ibu tahunya kanker itu penyakit mematikan. Padahal ibu masih punya banyak keinginan untuk menemani kamu dan Ayu. Ibu mau mencurahkan kasih sayang yang seutuhnya, menebus dosa-dosa ibu yang dulu sama kalian."
__ADS_1
Aku tersenyum lebar. Semoga saja harapan kami terkabulkan. Ibu bisa panjang umur, dan menyaksikan tumbuh kembang anak-anakku kelak.
"Bagas juga senang, Bu. Tidak sia-sia kita ke rumah sakit dengan dokter spesialis kanker terbaik di negeri ini."
Kami selesaikan pengobatan hari ini. Ibu diberi obat dan dianjurkan berobat jalan seminggu lagi. Kami pulang dengan sedikit perasaan lega, meskipun kecemasan masih ada.
***
[Ayu, Dita makin keterlaluan.]
Sesampainya dirumah, Mbak Intan kembali mengirimkan informasi terkini yang terjadi di kampung. Dia mengirim foto Mbak Dita yang sedang menyiram air dan menabur garam di rumahku yang di kampung.
[Itu kapan, Mbak?]
[Tadi, sehabis magrib. Gila Si Dita, kayaknya dia pakai jampi-jampi. Kalau setahuku menabur garam itu ada efek negatifnya. Pasti bukan garam biasa.]
[Biarkan saja, Mbak. Aku doa saja dari sini. Nanti rumah itu mau disewakan. Tolong yah, Mbak, Carikan yang mau ngontrak. Atau tempat ngaji juga gak papa. Dari pada kosong.]
[Siap, kenalanku banyak, nanti aku tawarkan di grup.]
[Sipp, Mbak.]
Aduh, aneh-aneh saja, tapi aku tak mau terlalu ambil pusing. Mbak Dita tak akan melangkah jauh ke hal mistis. Jasa mistis seperti itu pastinya butuh duit yang besar. Mbak Dita juga tipe orang yang penakut. Kita lihat saja, sejauh mana dia bermain dengan hal-hal menyeramkan.
***
"Hallo, Ayu, aku dapat kabar bahagia."
"Apa tuh, Mbak ? Udah seminggu lebih Mbak Intan gak ada kabar. Aku kira lagi sibuk liburan, atau main camping-campingan sama suaminya, soalnya statusnya bucin terus."
"Hehehe, maklum suami baru balik, rindu berat. Tapi tenang, aku sudah dapat orang yang mau memanfaatkan rumah kamu untuk hal kebaikan."
"Siapa, Mbak ?"
"Kiai Munir, dari desa tetangga yang punya pondok itu."
"Oh, iya-iya, gimana, Mbak ?"
"Ibu mertuaku suka ikut pengajian beliau. Terus, dia punya anak katanya mau buka TPQ di desa kita. Kamu tahu sendiri, di desa kita gak ada tempat ngaji. Anak-anak ngajinya harus ke desa seberang yang jauh."
"Wah, ide bagus tuh, Mbak. Tolong diatur saja, Mbak. Nanti aku kirim kuncinya lewat travel, kalau memang Pak Kiyai nya juga setuju."
__ADS_1
"Tapi, bayarannya gak banyak. Ya, maklumlah, namanya juga cuman untuk tempat ngaji."
"Gak usah bayar, Mbak. Yang penting rumah itu gak kosong."
"Serius gratis ?"
"Serius, masa iya aku ngelindur."
Investasi harta bukan hanya di dunia, akhirat pun sama. Harus banyak menabung agar harta itu bisa menemani kita di hari perhitungan kelak.
"Oke-oke, nanti aku kabarin lagi."
Setelah dirasa cukup berbincang ini itu, sambungan telepon dimatikan. Nanti aku juga mau izin Mas Bagas. Sebenarnya sudah dibicarakan, tapi kalau jadi harus diomongkan lagi. Sebagai seorang istri wajib hukumnya untuk mendiskusikan segala pilihan atau keputusan dengan suami.
.
.
[Heh, Ayu titisan siluman kelelawar, gak usah usik hidupku. Segala fitnah yang gak-gak.]
Mataku melotot saat melihat pesan dari Mbak Dita. Posisi sedang menidurkan Kiara untuk bobo siang.
[Maksud ?]
Aneh Mbak Dita ini, suka mengigau saja. Perasaan dia sudah memblokir nomorku, tapi malah dibuka lagi. Harusnya aku blokir balik biar tak diusik.
"Gak usah pura-pura polos. Kamu yang fitnah aku sudah mengguna-guna kamu, terus kirim teror mistis. Sialan, kalau ngomong gak disaring. Aku dihujat satu desa sampai ke kampung suamiku, gara-gara mulut petasan kamu !" bentak Mbak Dita penuh emosi melalui voice note.
Aku kirim saja foto saat Mbak Dita menabur garam. Dibumbui caption yang menonjok hatinya.
[Ini siapa yah, Mbak ? Kayaknya orang itu yang fitnah Mbak. Soalnya dia yang berniat buruk di rumahku. Niatnya sih, mau aku laporkan polisi, atau cari dukun hebat buat lawan orang ini. Aku kan punya banyak uang, bisa dong sat set diberantas, hahaha.]
Beberapa menit kemudian centang biru, setelahnya profil Mbak Dita berubah abu-abu. Dia langsung memblokir nomerku. Aku cekikikan sendiri, baru diancam bohongan sudah kelabakan. Begitulah kalau orang salah, ketakutan tapi gaya-gayaan membalikkan fakta.
"Ayu, kamu kenapa ?"
"Eh, ibu, gak Bu, biasa ada fyp yang lucu."
"Owalah, kirain ada apa." ibu keluar lagi dari kamarku.
Sekarang kesibukan ibu mertua ikut pengajian, mengisi hari-harinya dengan kegiatan positif. Bukan hanya itu, ibu mertua semakin akrab dengan Mamaku. Baguslah, lama-lama mereka bisa jadi besti.
__ADS_1
Soalnya penyakit ibu, aku dan Mas Bagas terus berusaha mengusahakan pengobatan terbaik. Alhamdulillah, dokter menyatakan harapan sembuh ibu mertua cukup tinggi
Kami juga berusaha memberi sugesti positif dan dukungan, agar ibu semakin semangat untuk sembuh, dan tidak terlalu terpuruk memikirkan penyakitnya.