
Tontonan mengharukan tersaji depan mata. Aku pun ikut berkaca-kaca melihat suami dan bapak mertuaku.
"Bagus kalian pulang !" Celetuk Mbak Dita yang ada di pojok ruangan. Matanya menatap sinis ke arah kami. Sementara ibu, dia terlihat tak acuh padaku. Wajahnya melengos saat aku mencium tangannya. Berbeda dengan bapak, dia tampak senang dengan kehadiranku dan juga Kiara, cucunya.
"Boleh bapak peluk Kiara ?" Aku mengangguk.
Kiara yang masih terlelap dalam gendongan, aku tidurkan disamping bapak. Sebelah tangan bapak mengusap lembut kepala Kiara. Kasihan bapak, hanya tangan dan kepalanya saja yang masih bisa digerakkan, sementara area kaki sama sekali tidak bisa digerakkan. Setelah merasa sudah cukup Bapak menyalurkan rasa rindu dan sayangnya pada Kiara, Bapak memintaku mengambil Kiara lagi.
"Apa yang dirasa, Pak ? Jangan banyak pikiran, bapak harus sehat lagi." ucapku.
Bapak hanya tersenyum dengan air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Dia menangis menatap penuh penyesalan ke arah Mas Bagas, dan sesekali melihat ke arahku. Sementara suamiku, mengalihkan pandangan untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Ma-maafkan bapak, Bagas... Ayu..."
"Ngapain minta maaf sih, Pak. Mereka yang salah, sudah melupakan orang tua. Harusnya mereka yang minta maaf." ujar Mbak Dita dengan sinis.
Astaga, kumat lagi mulut julidnya. Dalam keadaan tak kondusif seperti ini saja, mulut merconnya sukses buat hati orang panas. Sabar Ayu... Ini hanya cobaan.
"Bener kata Dita, Pak. Udah, lebih baik bapak istirahat. Syukur kalau anak kita sudah sadar, Pak."
"Gas, maafkan Ibu dan Mbakmu juga. Bapak sadar, Bapak sudah pilih kasih selama ini. Bapak selalu melupakan perasaanmu, maafkan bapak... Nak."
Air mata Bapak kembali membanjir. Dari sorot matanya, aku bisa melihat ada rasa penyesalan dan cinta untuk anaknya. Ya, walaupun hati Ibu dan Mbak Dita masih sekeras batu, tapi aku bersyukur bapak sudah sadar akan kesalahannya.
"Pak, ngomong apa, sih ? Jangan salah-salahin Dita !"
__ADS_1
"Diam.... Dita !" Tegas Bapak dengan suara lirih dan tertatih.
"Sudah, Pak, istirahat saja. Jangan banyak pikiran." Ucap Mas Bagas tanpa mempedulikan Mbak Dita.
"Maafkan dulu Bapak, Nak. Jangan sampai Bapak meninggal tapi hati kamu masih menyimpan benci sama Bapak, Ibu dan Mbakmu. Sebagai kepala keluarga, Bapak akan merasa sangat gagal." Lirih Bapak. Dadanya kembang kempis, suaranya serak dan berat, seolah-olah sedang menahan sakit yang teramat hebat dihatinya.
Tak ada hal yang lebih menyakitkan selain penyesalan. Ketika menuai kecewa, kita masih bisa berusaha menghapus kekecewaan itu. Sementara penyesalan, meski disesali dengan segala cara, masa lalu tak bisa diulang lagi.
"Jangan bicara seperti itu, Pak. Bagas memang sakit hati dengan perkataan dan perbuatan Bapak dan Ibu, tapi jika dibandingkan dengan jasa kalian, tidak ada apa-apanya. Bahkan, sebanyak apapun uang Bagas, tak akan bisa membeli jasa kalian."
"Terima kasih, Nak."
Suamiku mengangguk, dia tampak berusaha tegar. Perlahan air matanya surut, digantikan dengan senyum hangat. Sebuah senyuman yang aku rindukan. Senyum yang telah lama hilang. Sebuah gores kebahagiaan. Suamiku tampak lega dengan keputusannya yang sudah rela memaafkan.
"Pak, ngapain sih ? Konyol banget deh, siapa yang salah, siapa yang minta maaf."
"Dita, sadar ! Kamu sudah keterlaluan, Nak."
"Pak, mentang-mentang sakit, jadi ngaco ngomongnya." Ujar Ibu mertua.
Sedih, ternyata Ibu mertua masih belum sadar. Tapi, aku percaya suatu saat Ibu pasti akan paham, anak mana yang harus diberi kasih sayang lebih, dan mana yang harus dibiarkan mandiri agar berhati baja menghadapi masalah yang ada. Kalau ucapan dan tindakan tak bisa membuat hati mereka berdua sadar, semoga doa bisa melelehkan kerasnya kalbu mereka.
"Iya nih, Bapak aneh ! Jelas-jelas Bagas gak pernah bantu bapak. Lihat saja, bapak sudah sakit parah, baru dia balik. Kemarin-kemarin kemana aja, sama sekali gak ngasih duit."
Dengan percaya dirinya Mbak Dita mengatakan itu semua.
__ADS_1
"Maaf, bukan saya ikut campur, sebenarnya selama ini uang yang Joni kasih sama Ibu dan Bapak bukan uang hutang, tapi murni uangnya Bagas. Jadi, apa yang dikatakan Mbak Dita gak tepat. Meski Bagas dan Ayu jauh dari kalian, mereka tetap peduli, dan mencari tahu kabar Ibu dan Bapak."
"Jadi ... Uang jutaan yang kamu kasih ... Uang Bagas ?" Tanya Ibu kaget.
"Benar, Bu. Uang bantuan modal, dan semua yang kami kasih ke Ibu, itu semua uang dari Bagas. Jadi, saya rasa gak pantas kalau Ibu dan Mbak Dita menghina atau menyalah-nyalahkan Bagas kayak gitu." Bel Mbak Rina. Mungkin dia ikut greget, jadi tak tahan merespon ucapan ibu mertua.
Ibu mertuaku langsung diam menunjukkan ekspresi kaget. Yang awalnya banyak komentar, kini bagai jangkrik tersiram air panas.
"Hahaha, kalian berdua dibayar berapa sama Bagas buat bohong ? Dih, mau-maunya. Rina, kamu juga ngapain sih, belain Bagas sama Ayu. Aneh banget !"
"Maaf yah, Dita, mau mengelak kayak gimana pun emang kenyataannya kayak gitu. Dan asal kamu tahu, yang bantu kamu cari informasi tentang Bella, menyelidiki Bella, itu semua Ayu. Meski mulut kamu julid, tapi Ayu dengan senang hati bantu kamu, biar gak dibegoin laki kayak Si Adit. Heran, kamu ini kok gak sadar-sadar." Ujar Mbak Rina tampak emosi.
Aku diam saja menikmati ekspresi ibu dan bapak yang terpukau dengan kenyataan yang mereka ketahui. Mereka tampak tak menyangka, meski kami terlihat membenci, tapi kami masih sangat peduli.
"Halah, bohong !"
"Nih, baca semua chatan aku sama Ayu ! Jujur, aku ogah bantu kamu kalau bukan karena dimintai tolong sama Ayu."
Muka Mbak Dita merah menahan malu, langsung mati kutu. Bukti chat antara aku dan Mbak Rina menjadi bukti ampuh mengalahkan kesombongan dan mulut mercon Mbak Dita. Aku tersenyum miring, tahu rasa kamu, Mbak. Mau bela diri kayak gimana lagi, Mbak ? Bukan kami yang buruk, tapi hatimu yang tertutup.
"Halah, kalau aku tahu itu bantuan dari Ayu, gak bakal aku terima. Emang aku bodoh ? Aku ini sarjana, ya pasti paham soal kayak gitu. Udahlah, aku mau balik, biar mereka yang gantian jaga disini."
Begitu tuh, andalan orang sombong yang terkalahkan. Tetap merasa tak bersalah dan malah bergaya sok-sokan demi menjaga gengsi.
Hidup itu harus bisa sadar diri dan pahami. Sadar diri jika membuat kesalahan, dan harus paham cara bersikap untuk memperbaiki diri, bukan malah mencari pembenaran dan pembelaan sana sini. Apalagi sampai gengsi dan merasa diri tak punya salah sama sekali. Bahaya tuh, orang seperti itu. Hatinya sudah digerogoti oleh virus iri dengki.
__ADS_1