
Selesai acara pengajian, aku dan suami sengaja mengajak ibu berbicara serius di ruang tamu. Soalnya, lusa kami berencana kembali ke Jakarta.
"Bu, acara tahlilan bapak sudah selesai. Jadi, keputusan ibu bagaimana ? Mau ikut kami, atau Mbak Dita, atau mau disini ?" tanyaku.
"Kasih aja kunci rumah ini. Biar ibu bisa kesana kemari."
"Gak bisa, Bu. Ibu harus milih, mau dimana. Kalau ibu mau tinggal disini, syaratnya jangan mau jadi babu Mbak Dita." tegas suamiku.
"Kamu jangan berpikir buruk terus sama Mbakmu. Lagian ibu bukan jadi pembantu, cuma bantu-bantu rawat cucu sendiri. Apa salahnya coba ?"
"Bu, Bu... iya, kalau anak ibu berpikir begitu. Lihat saja, modelan Mbak Dita paling-paling mau tenaga gratisan. Katanya kaya, tapi sewa perawat aja gak sanggup."
"Hei, dijaga kalau ngomong." jawab Mbak Dita keluar dari kamar.
"Aku berani taruhan, aku yakin Mbak emang mau memanfaatkan tenaga gratisan. Tuh, lihat aja, sekarang aja kerjaannya berduaan suami terus. Ingat tuh, anaknya diurus."
"Ikut campur terus urusan orang. Sana, kalian balik ke Jakarta ! Bikin kepala cenat cenut aja."
"Bagaimana, Bu ?" tanya suamiku tak mau menanggapi Mbak Dita.
"Ibu ikut Dita aja, Gas. Kalian kan selama ini gak ikhlas bantu ibu. Ya sudah, biar ibu sama Dita saja. Hidup ibu pasti lebih bahagia."
"Ya sudah, Mas. Nanti rumah ini kita kontrakan saja."
Aku tarik suamiku ke kamar. Sudah jelas jawaban ibu. Semoga beliau tak menyesal dengan keputusannya. Aku dan suami bersiap merapikan baju-baju yang akan kami bawa.
...
"Heh, Ayu ! Sekarang aku gak takut lagi yah sama kamu. Lihat saja, nanti kalau kamu jatuh miskin, jangan minta bantuan ku !" ujar Mbak Dita saat kami berpapasan di dapur.
"Hahaha, Mbak, Mbak... kepedeannya mengalahkan artis papan penggilasan. Aku seneng lho, Mbak banyak duit. Jadi berkurang deh benalu dalam hidupku, hehehe." Aku tertawa puas di depan wajah Mbak Dita. Ini orang baru kaya saja sudah banyak gaya.
Dia lupa konsep harta, bahwa segala yang kita punya hanya titipan sang kuasa. Kapanpun bisa diambil sesuai kehendak-Nya.
"Sialan ! Hati-hati kalau ngomong, aku lakban mulut kamu."
"Mbak pikir mulutku toples bawang goreng, enak aja main dilakban. Harusnya otak Mbak di tukar di pasar, tahu aja ada yang jualan isi otak yang lebih baik. Ya, biar gak eror terus."
"Dasar edan, awas kamu !"
Dengan wajah kesal, Mbak Dita keluar dari dapur. Emang enak aku ledekin ? Lagian, jangan sok paling kaya, nyungsep baru tahu rasa.
.
.
__ADS_1
"Bu, Bagas pamit. Ini ponsel, kalau ada apa-apa hubungi saja."
"Halah, ibu udah gak butuh kamu. Toh, kamu aja dulu gak pernah ngasih duit sama orang tua. Tenang aja, sekarang Mbak bisa ngasih apa aja."
"Bagus dong, Mbak gak jadi beban orang tua lagi, hehehe."
"Enak aja kalau ngomong !" bentak Mbak Dita emosi.
"Hati-hati Bagas, paling ibu telepon kalau kangen saja."
Kami pamit kembali ke Jakarta. Kunci rumah sengaja diambil, sesuai kesepakatan. Mbak Dita merasa punya segalanya, jadi dia tidak butuh kami lagi. Begitu pula dengan ibu, dia sangat bahagia akan dibawa pindah ke Istana Mbak Dita.
...
Setelah enam jam perjalanan, kami sampai di rumah. Aku tarik nafas sambil menyunggingkan senyum. Di mana pun berada, rumah sendiri tetap tempat ternyaman. Rasanya kalau pulang ke rumah, beban hidup langsung rontok. Tak ingat lagi bisik-bisik yang mengganggu kenyamanan.
"Mas, kamu gak apa-apa ninggalin ibu ?" tanyaku sebelum kami tidur.
"Kok kamu nanya kayak gitu, sayang ?"
"Ya, aku gak yakin aja ninggalin ibu sama Mbak Dita."
"Biarkan saja, kadang menyadarkan seseorang itu harus membuat diri mereka sendiri merasakan kepayahan dan kesulitan."
"Iya sih, kita juga sudah ngasih ponsel, jadi kalau ada gimana-gimana kita bisa pantau dari sini."
"Uh, sayang... Kamu udah gak marah lagi sama ibu ?"
"Kadang kesel, juga marah. Tapi gak bisa benci. Mas sayang sama ibu, sampai kapanpun."
"Gitu dong, baru namanya suamiku tercinta."
Mas Bagas mencium keningku. Andalan setelah lelah melanda, kami saling menguatkan lewat pelukan. Meski badai, angin ribut, topan, bahkan tsunami sekalipun, siap kami hadang. Inilah seninya berumahtangga, setelah lelah menghadapi segala drama kehidupan, kita harus saling berpelukan untuk mencharge energi. Sehingga bisa terus kuat menapaki jalan terjal dalam rumah tangga yang sedang dijalani.
***
[Bagas, ibu minta uang, ada gak ?]
"Mas, ibu chat nih !" teriakku saat sedang menimang-nimang Kiara.
Sudah hampir dua bulan tak dapat kabar dari ibu, sekalinya menghubungi malah mengirim pesan aneh. Kenapa ibu minta uang sama Mas Bagas ? Kemana Mbak Dita ?
"Mas !" Teriakku lagi, tapi Mas Bagas sepertinya masih sibuk mandi.
"Aku balas aja deh."
__ADS_1
[Uang buat apa, Bu ? Emangnya Mbak Dita gak ngasih uang sama ibu ?]
[Dita ngasih uang sih, tapi...]
[Tapi apa, Bu ?]
Ibu hanya membaca pesannya. Tak lama kemudian ada panggilan masuk dari ibu. Aku gedor pintu kamar mandi. Untung Mas Bagas sudah selesai mandi.
"Angkat, Mas."
"Siapa ?"
"Ibu."
"Tumben telepon, ada apa ?"
"Yah, keburu mati. Aku juga gak tahu, Mas. Tiba-tiba tadi ibu chat minta uang. Jangan-jangan Mbak Dita bersikap gak baik sama ibu."
"Coba aku telepon balik."
Tuuut...
Tadi telepon, ditelepon balik malah gak diangkat. Aneh, ada apa dengan ibu mertua ? Hampir lima kali kami terus mencoba menghubungi ibu.
"Hallo, Bu, ada apa ?" tanya Mas Bagas. Akhirnya diangkat juga. Aku gunakan pengeras suara agar bisa ikut mendengarkan juga.
"Gas, ibu minta uang, ada gak ?"
"Buat apa, Bu ?"
"Buat... buat .. Ya, buat pegangan aja."
"Jangan bohong, Bu. Buat apa, kalau gak jelas Bagas gak mau kasih duitnya."
"Hhmmm, buat... gak jadi, deh. Ibu minta kunci rumah saja."
"Lah, kenapa gak jadi ? Terus, buat apa ibu minta kunci rumah, emang ibu gak betah tinggal di istananya Mbak Dita ?" tanyaku bingung.
"Ayu, ikut-ikutan aja kamu, kasih ponselnya sama Bagas."
"Iya, Bu, Bagas ada di samping Ayu. Kenapa emang, Bu ? coba jelaskan."
"Hhmmm, gini..m ibu mau tinggal di rumah dulu aja, soalnya suka kangen sama almarhum bapak."
"Beneran cuma kangen ? Apa ada sesuatu yang ibu sembunyikan dari Bagas ?"
__ADS_1
Aku dan Mas Bagas menunggu jawaban ibu, tapi ibu diam saja tak menjawab apapun. Sampai akhirnya panggilan diakhiri. Aku dan suami hanya bisa saling pandang dengan pertanyaan di kepala masing-masing.