Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Syarat dan Hukuman


__ADS_3

Satu bulan kemudian,


"Mas, gimana kondisi usaha kita ?"


"Alhamdulillah, sudah membaik, sayang. Berita kalau rumor itu cuma fitnah sudah menyebar. Pelan-pelan pelanggan kita balik lagi."


"Syukur Alhamdulillah, kalau begitu, Mas. Terus, soal Mas Adit, gimana ? Sudah sebulan lho, dia di penjara."


"Biarkan saja ! Akan lebih baik dia disana selamanya."


"Tapi itu lho, Mbak mu. Tingkahnya makin konyol. Setiap sore kesini teriak-teriak gedor pintu. Kalau gak dihalangi ibu, kelakuan Mbakmu makin anarkis aja, Mas."


"Nanti juga dia capek sendiri."


"Tumben kamu kejam banget, Mas."


"Sakit hati aku, sayang. Bukan masalah pendapatannya, tapi cemooh orang-orang karena fitnah itu, masih teringat jelas. Ditambah lagi aku harus memecat beberapa karyawan untuk menghemat modal. Bukan cuma sekali mereka buat perkara, sudah terlalu sering. Mas sadar kata-kata kamu, harus tegas."


"Iya, sih. Tapi aku takut mental kakakmu kenapa-kenapa, Mas. Masa setiap hari ada aja kelakuan abstraknya."


"Abaikan saja, sayang."


Mas Bagas sepertinya sudah tidak peduli lagi. Dia bahkan tak berselera membahas tentang Mbak Dita dan suaminya.


"Kiara, sayang, aduh, makin cantik aja anak Ayah."


Mas Bagas malah asik main dengan anaknya. Mungkin hanya dengan Kiara, Mas Bagas bisa melupakan masalah dengan keluarganya sesaat.


"Bagas, Ayu, buka pintunya, ibu mau ngomong sebentar." Teriak Ibu mertua sambil mengetuk pintu kamar kami.


"Iya, Bu."


Mas Bagas yang sedang menimang-nimang Kiara dalam gendongannya, tetap cuek, tak mau menjawab, apalagi membuka pintu. Aku buka saja, siapa tahu ada hal penting yang mau Ibu bicarakan.


"Bagas, ibu mau bicara."


"Bicara apa, Bu ? Kalau tentang Mbak Dita atau Mas Adit, Bagas gak ada waktu bahasnya."


"Bagas..." Suara Ibu mertua benar-benar lirih.

__ADS_1


"Bu, jangan kayak gitu." Ujarku berusaha membangunkan ibu yang bersimpuh di bawah kaki Mas Bagas.


"Kasihan Mbakmu, Gas. Maafkan dia. Mbakmu sakit, dia kayak orang depresi. Tolong bebaskan Adit untuk Mbakmu, Gas."


Ibu menangis sambil memegangi kaki Mas Bagas. Aku berusaha membangunkan ibu, tapi ibu gak mau. Sementara Mas Bagas kesulitan melepaskan cengkeraman ibu. Satu sisi aku kasihan pada ibu, dia pasti ikut menderita. Sebagai seorang ibu, aku paham bagaimana perasaannya sekarang. Tapi disisi lain, sikap Ibu mertua terlalu berlebihan. Dia terlalu memanjakan Mbak Dita. Tanpa sadar, sikapnya itu sendiri yang membuat Mbak Dita sering bertingkah buruk.


"Bagas, ibu mau mencium kakimu, atau apapun yang kamu suruh, asal kamu mau membebaskan Adit. Kasihan Dita, dia sangat tersiksa, Gas. Mbakmu sedang hamil, bagaimana nasib anaknya kalau tahu bapaknya di penjara."


Aku kaget, ternyata Mbak Dita sedang hamil. Ah, kasihan juga nasibnya. Hamil, tapi suami malah masuk penjara.


"Lepas, Bu !" Sentak Mas Bagas, membuat ibu terhuyung, hampir membentur lantai. Untung aku sigap merangkulnya.


"Astaghfirullah, Mas !" Teriakku kaget. Meski aku kadang jengkel sama sikap Ibu, tapi perbuatan Mas Bagas tidak bisa dibenarkan.


"Bu, keluar dulu, Bu. Nanti biar Ayu bantu ngomong sama Mas Bagas."


Ibu mertua mengangguk pelan. Aku rangkul ibu mertuaku yang sedang menangis sesenggukan keluar kamar. Aku berikan dia minum dulu agar tenang, baru aku kembali ke kamar menemui Mas Bagas.


"Mas, gak boleh kayak gitu, ih ! Yang salah itu Mbak Dita, bukan Ibu."


"Mas tahu ! Makanya gak seharusnya Ibu sampai mohon-mohon. Kenapa ibu selalu mati-matian membela Mbak Dita ? Harusnya biarkan dia mandiri dan menyelesaikan masalahnya sendiri."


"Nanti Mas pertimbangkan dulu."


Wajah suamiku lusuh. Aku paham, meski sikapnya keras, sejatinya dia sangat perasa. Namun, kekecewaan terlalu dalam, sampai membuatnya bersikap demikian.


.


.


Aku dan Mas Bagas sudah mengambil keputusan. Demi kedamaian negeri Konoha ini, kami akan bertindak. Menghentikan huru-hara, dan fokus pada perjalanan hidup keluarga kecil kami.


"Sesuai permintaan Ibu, aku dan Ayu akan membebaskan Mas Adit, dengan syarat."


"Apa syaratnya ?"


"Mbak Dita jangan mengusik hidup keluargaku lagi. Kedua, kalian tidak boleh tinggal di rumahku ini. Satu lagi, jangan pernah memanfaatkan Ibu untuk minta uang sama aku, tapi uangnya dipakai Mbak Dita. Aku udah gak Sudi bantu kakak macam dia !"


"Sombong banget ! Tenang aja, setelah Mas Adit keluar dari penjara, akan aku buktikan hidup kami lebih baik. Gak butuh adik sombong dan jahat kayak kamu !"

__ADS_1


"Terserah ! Intinya, setuju atau tidak ?"


"Setujulah !"


"Ingat kejadian ini, Mbak. Jangan gegabah lagi. Kalau bukan karena Ibu dan Bapak, mungkin kami gak bakal bebasin Mas Adit. Biar dia adem ayem di penjara."


Mbak Dita melotot. Bibirnya miring. Dia sisis sekali melihatku. Mbak Dita kasihan sekali, hatinya terus menerus digerogoti rasa iri, dengki, dan benci. Bukan makin makmur, malah keadaannya semakin tersungkur.


"Hati-hati matanya copot, Mbak."


"Diam !"


"Ih, serem banget, sih, Mbak. Kayak Mbak Kunti penunggu pohon bambu."


Tegang sekali suasana disini. Mas Bagas pun begitu, dia benar-benar benci pada kakaknya. Padahal, selama ini aku sama sekali tak berniat membuat dia membenci saudara sendiri. Hanya ingin dia bersikap tegas. Tapi, mau bagaimana lagi, duo kakak ipar suka sekali memancing emosi.


"Kapan suamiku dibebaskan ?" Tanya Mbak Dita.


"Hari ini juga."


"Satu lagi, Mbak, setelah keluar langsung buat video klarifikasi, mau aku buatkan konten." Ucapku menambahkan satu persyaratan lagi sebelum kami benar-benar membebaskan Mas Adit.


"Songong ! Kamu mau menjelek-jelekkan suamiku ?" Teriak Mbak Dita.


"Tenang aja, Mbak, mukanya nanti diblur. Ingat lho, Mbak, efek fitnah dari Mas Adit cukup besar. Terutama permintaan Frozen food pentol, masih menurun. Padahal, udah buat klarifikasi di postingan Instagram. Jadi biar lebih mantap, harus buat reels klarifikasi."


"Gak mau ! Kalian sengaja mau mempermalukan suamiku."


"Astaghfirullah, harus ngomong pakai bahasa hewan apa gimana, sih. Aku udah bilang, mukanya bakal diblur, suaranya doang yang masih jelas."


"Gak ya tetap gak !"


"Kalau Mbak gak setuju, aku berubah pikiran untuk membebaskan Mas Adit." Sela Mas Bagas mengancam.


"Dit, sudah turuti saja adikmu. Repot kalau mereka berubah pikiran lagi. Pikirkan anak dalam kandunganmu. Siapa yang mau nanggung biayanya ?"


"Dasar adik durhaka ! Ya sudah, suka-suka kalian, asal segera bebaskan suamiku."


Aku tersenyum penuh kemenangan. Kami membebaskan Mas Adit karena kasihan dengan mertua dan janin dalam kandungan Mbak Dita. Tapi, tak semudah itu melepaskan mereka. Harus ada sedikit tekanan dan sedikit hukuman biar mereka kapok dan tak mengulangi perbuatan mereka yang sangat merugikan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2