
POV Ayu
[Yu, aku sudah menjalankan tugas, yah.]
[Mbak Rina gak keceplosan kan kalau tahu informasi itu dari aku ?]
[Aman dong, aku pura-pura pernah jadi followernya Bella.]
[Mbak Dita percaya ?]
[Percayalah, emang aneh kakak iparmu. Pantesan aja mudah dibodohi, orangnya mudah percaya dan dipengaruhi.]
[Hahaha, betul Mbak. Mulutnya aja yang judes sama teliti mengoreksi orang. Tapi, makasih lho, Mbak, udah dibantuin.]
[Siap. Aku bantu terus sampai rencananya sukses.]
"Woi, hapean terus !"
"Hehehe, maaf Cendol, lagi asik jadi sutradara."
"Soal kakak ipar kamu yang dipoligami itu ?"
"Iya, aku lagi membuka matanya yang kelilipan biji salak, biar sadar."
"Ya elah, Ayunan, Lo overdosis baik sama orang. Kalau gue yah, biarin aja tuh Mak Mak mulut cabe setan kena karma, merasakan ketidakadilan. Kayak kelakuannya selama ini sama suami kamu."
"Eh, eh, Cendolku yang manis rasa pandan, kita gak boleh dendam. Emosi dikit, boleh. Tapi dengan sama benci, janganlah. Bukan musuh kita yang susah kalau kita dendam, malah kita sendiri yang tersiksa."
"Behh, besti akoh udah kayak ustadzah aja. Harus banyak belajar aku sama kamu, Yu. Biar hatiku lapang, pantat lebar karena panjang sabar, hahaha."
Kami terus mengobrol sampai tak terasa sudah menghabiskan minum, steak, dan kentang goreng di kafe ini.
Semenjak kami pindah ke Jakarta, usaha Mas Bagas maju pesat. Aku selalu diberi jatah Me Time bersama besti atau sama Mama dan Ara. Tapi kali ini aku mau jalan sama Cendol, karena kami sedang membahas misi khusus. Tentunya, aku butuh bantuannya.
Semenjak pindahan dan dilarang berkomunikasi, satu bulan kemudian aku tetap berusaha mencari informasi tentang mertua di kampung. Banyak mata-mataku disana, termasuk Mbak Rina dan Mbak Intan. Tapi Mbak Intan baru beberapa Minggu ini aku ajak kerjasama, karena butuh berita faktual darinya, tentang poligami Mas Adit. Kasus itu sangat menarik, bikin naik darah. Mau tak ikut campur, tapi hati nurani ku sebagai perempuan meronta-ronta ingin membantu perempuan lain, yang tak lain adalah kakak iparku sendiri, dari pembodohan laki-laki seperti Mas Adit.
Kami asik mengobrol sampai suara notifikasi pesan di ponselku membuatku sadar ternyata hari sudah sore. Waktunya pulang, kasihan Kiara, dia pasti sangat merindukan ibunya. Aku pamitan dulu dengan sahabat terkicak sejagat raya. Kami akan bertemu lagi nanti setelah hasil tes DNA Mas Adit dan anaknya Bella keluar.
***
"Mas, kenapa murung banget, sih ? Udah kayak ulet keket, gak ada senyum-senyumnya."
"Mas mau bicara, sayang."
"Apa ?"
Wah, menjelang malam, suamiku bukan mengajakku tidur, malah mau membicarakan hal penting. Aduh, semoga bukan berita yang mengguncang jiwa dan raga.
__ADS_1
"Maafkan Mas, sayang."
"Ih, maaf kenapa, Mas ? Mas selingkuh sama karyawan pabrik ?"
Usaha suamiku memang sudah besar, sampai kami punya tempat produksi yang sudah layak dikatakan pabrik. Ya, meskipun masih level pabrik anak bawang, alias belum terlalu besar.
"Astaghfirullah, bukan itu, sayang."
"Terus ?"
"Mas sudah berbuat lancang, sayang."
"Ih, maksudnya apa, sih ? Ngomong yang jelas dong, Mas."
"Jadi... begini, Mas dapat kabar dari Joni, katanya Bapak dirawat di rumah sakit. Jadi, Mas langsung transfer uang ke Joni buat biaya rawat bapak, sama modal buat ibu buka usaha. Bapak kena penyakit jantung, butuh uang banyak buat obat-obatan. Tapi tenang aja, sayang, Mas gak bilang kalau itu dari Mas. Biar bapak dan ibu gak mengusik kita."
"Oh, soal itu... kirain apa ?"
Aku tersenyum lebar lalu membaringkan tubuhku di ranjang. Sementara Kiara, sudah tidur nyenyak di pojok kasur kami.
"Kamu gak marah ?"
"Ya gak lah, Mas. Masa aku harus marah kalau untuk pengobatan bapak, apalagi bapak sakitnya parah. Harusnya aku nawarin kamu, kamu mau gak balik ?"
"Mas belum mau pulang, biar saja seperti ini. Kita pantau bapak dan ibu dari jauh. Karena biasanya yang dekat memang sering tak dianggap. Mas hanya mau mereka sadar, kalau kita juga anak dan mantunya yang harus diberikan kasih sayang."
Wajah suamiku jadi murung. Aku paham betul, dalam hatinya dia sangat rindu dengan orang tua nya. Tapi, rasa sakit yang sudah ditimbun selama ini belum sembuh, sehingga dia masih tak mau menampakkan dirinya.
Bukan maksud mau jadi istri pembangkang karena tak nurut suami, tapi aku juga harus mengawasi keadaan di kampung, antisipasi kalau terjadi hal yang tak diinginkan. Contohnya, seperti sekarang bapak sakit. Bagaimana pun kami harus tetap membantu orang tua.
"Cup, cup, cup, suamiku sayang. Udah, bobo yah, besok kan harus kerja lagi."
"Iya, sayang. Makasih yah, selalu dukung Mas. Kekuatan doa dan keridhoan istri memang luar biasa. Karena menyenangkan kamu dengan tinggal disini, rezeki Mas membeludak bagai hujan deras. Hampir banjir rezeki rasanya."
"Hehehe, Mas bisa aja. Aku yang harusnya makasih, berasa jadi istri presiden. Mau mobil, dibeliin. Boleh perawatan kapan aja, rumah bagus, dikasih pembantu juga. Masya Allah, enak banget. Adem kantong, ya adem kuping juga."
"Alhamdulillah, kebahagiaan kamu adalah penyejuk hati buat Mas."
"Ih, gombal, ah ! Udah-udah, aku mau tidur."
"Jangan dulu, sayang. Kita jalan-jalan dulu."
"Hah ? Malam-malam mau jalan-jalan kemana, Mas ?" Tanyaku mengerutkan kening.
"Jalan-jalan menuju muara cinta, yang sensasinya seperti surga dunia."
"Ih, mesum."
__ADS_1
"Ibadah, sayang, bukan mesum."
Pipiku merah merona diajak menuju puncak kebahagiaan batin. Andalanku, tutup selimut dan berpelukan. Mari ibadah, hihihi.
***
Sudah dua Minggu, aku masih menelaah tentang Bella dan Mas Adit. Penasaran sekali dengan skandal yang dilakukan mereka berdua. Anehnya, kenapa Mbak Dita dengan mudahnya menerima kehadiran Bella ? Harusnya saat ada orang baru datang, diteliti, diamati, dan dimengerti asal usul dan latar belakangnya. Bukan main terima saja, dasar Mbak Dita memang antik. Dia tak menaruh curiga sedikitpun tentang Bella, padahal, aku sampai berbulan-bulan mencari tahu tentang sosok perempuan bernama Bella itu.
"Hallo, Ayu..."
"Iya, Mbak Rina ?"
"Aku mau nanya deh, Si Bella kenapa dirawat di RSJ ? Kakak ipar kamu nanyain terus, dia kepo banget, sampai nempel terus. Udah berasa diteror aku, Yu."
"Bella itu depresi berat, Mbak, karena ditinggal pacarnya nikah, sampai mau bunuh diri. Makanya dimasukkan ke RSJ."
"Oh... terus kalo ditanya aku tahu fakta itu dari mana, aku jawabnya apa ?"
"Bilang aja dari berita. Nanti aku kirim beritanya. Aku dapatnya dari berita, salah satu netizen komen di akun sosial media Bella. Nunjukin berita kalau Bella, Si model cantik yang frustasi sampai mau bunuh diri."
"Oke-oke, aku catat, biar meyakinkan nanti kalau ngomong sama Dita. Aku salut sama kamu, Yu. Cerdas banget sampe cari informasi ke akar-akarnya."
"Hahaha, aku korban film ikan terbang, Mbak. Jadi greget kalau orang disampingku mau dibego-begoin sama suami modelan Mas Adit itu. Pengen cubit bulu matanya, kesel."
"Hahaha, mantap-mantap ! Ya sudah, Mbak mau ke rumah sakit dulu, anterin Dita ambil hasil tes DNA."
"Mas Adit sama Bella gak tahu kan soal ini ?"
"Aman ! Dita nurut saja sama rencana kita. Dia agak pinter sekarang."
"Hahaha, baguslah. Ya sudah, kalau sudah ada hasilnya, foto dan kirim ke aku yah, Mbak."
"Siap."
"Oh iya, Mbak. Itu beneran pakai uangnya Mbak Dita ?"
"Iya, katanya itu uang dari Si Adit. Uang kompensasi sebelum diceraikan."
"Owalah, pasti ini rencana Bella. Dia mulai menggunakan uang bapaknya buat bujuk Mas Adit. Aneh, laki kayak Mas Adit kok dikejar sampe begitunya."
"Mana aku tahu, Yu. Aku juga jadi penasaran. Sudah, kamu tenang saja, monitor dari jauh. Aku disini, menikmati peran jadi tukang kompor meleduk, menghasut Dita ke jalan yang benar."
"Hahaha, sip Mbak !"
Beres basa-basi, sambungan telepon terputus. Aku tunggu kabar selanjutnya sambil mengurus Ara.
***
__ADS_1
[Hasilnya sesuai dugaan kamu, Yu.]
Mataku melotot hampir copot saat mendapat pesan dari Mbak Rina sore hari. Hampir saja hp jatuh ke kuah soto yang sedang aku makan.