Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Pencuri Kakak Ipar sendiri


__ADS_3

Sudah dua hari aku menunggu rumah sepi untuk melakukan rencana ku. Pas sekali, hari ini Mbak Dita sama ibu sedang pergi ke pasar. Sedangkan laki-laki di rumah ini tentunya sudah pergi kerja.


Aku bergegas masuk ke kamar Mbak Dita. Aku geledah lemarinya Serapi mungkin agar tidak meninggalkan jejak.


Aku harus mencari surat cincinnya lebih dulu sebagai bukti awal. Sudah beberapa tempat aku jelajahi, mulai dari laci sampai selipan baju. Dari lemari baju sampai rak kosmetik. Sial, tidak ada !


Aku duduk dulu sebentar, agar pikiran kembali konsentrasi. Aku duduk di atas ranjang dan kedua tanganku bertumpuh ke belakang pada bantal. Tanpa sengaja tanganku terasa menyentuh sesuatu yang terasa aneh di tanganku.


Hatiku tergoda untuk menggeledah bantal.


"Astaga, kenapa disimpan di sarung bantal ?"


Benar-benar mencurigakan, hanya surat cincin saja kenapa sampai disimpan di sarung bantal. Aneh, pasti ada yang di sembunyikan oleh Mbak Dita.


Segera ku buka surat itu. Aku cukup syok ketika membaca suratnya. Di tanggal surat tertera, emas di beli tiga hari yang lalu, di toko yang sama.


Cepat-cepat aku foto suratnya dan aku kembalikan lagi surat itu ke tempat semula.


"Oke, langkah selanjutnya aku harus pergi ke toko emas ini. Biasanya disana ada cctv. Aku harus bisa mendapatkan video rekaman cctv disana sebagai bukti kuat."


Tidak mau menunggu lagi, aku segera bergegas meluncur ke pasar.


"Ada yang bisa dibantu, Mbak ?" Tanya seorang pelayan saat aku memasuki area toko.


"Gini Mbak, cincin saya hilang. Kayaknya ada yang nyuri terus di jual dan dibelikan emas lagi. Ini cincin saya, Mbak."


Aku tunjukkan foto jemariku yang sedang memakai cincin ya hilang itu.


"Tiga hari yang lalu ada yang jual cincin itu, Mbak." Ujar salah satu pegawai.


"Perempuan ? Rambut panjang, kulit sawo matang ? Apa ciri-cirinya seperti itu, Mbak ?" Tanyaku menyebutkan ciri-ciri Mbak Dita.


"Kayaknya sih, iya. Maaf, saya gak terlalu ingat orangnya. Cuma ingat sama cincinnya, soalnya modelnya cuma ada satu di toko ini."


"Mbak, bisa lihat rekaman cctv tiga hari yang lalu ? Saya butuh banget, Mbak, buat bukti."


"Maaf Mbak, tapi kami cuma pelayan. Kalau mau lihat cctv harus izin pemilik toko."


"Pemiliknya mana, Mbak ?"


"Koh Along, dia belum datang. Mungkin sebentar lagi."


Aku putuskan untuk menunggu. Sekitar dua puluh menit, seorang pelayan toko memanggil saya untuk ikut dengannya. Sepertinya pemilik toko emas itu sudah datang.

__ADS_1


Aku di ajak masuk ke sebuah ruangan di bagian belakang toko ini. Mungkin ini ruangan khusus pemiliknya.


Setelah memperkenalkan diri, aku ceritakan kejadiannya dan maksud kedatangan ku kesini.


"Oke, tunggu sebentar." Koh Along terlihat serius dengan layar komputer nya beberapa saat.


"Sini, lihat !"


Aku mendekat untuk melihat rekaman cctv itu.


"Stop, Koh ! Bisa di zoom bagian yang itu ?"


Koh Along pun menuruti permintaanku.


Di rekaman itu terlihat Mbak Dita datang ke toko ini dan mengeluarkan sebuah cincin. Aku perhatikan dengan fokus, benar, itu cincin milikku.


Tidak salah lagi, dia pencurinya !


Kemudian Mbak Dita menukarnya dengan cincin model lain yang dia pakai sekarang.


"Kamu kenal orang itu ?"


"Kenal banget, Koh. Dia kakak iparku. Wah, benar-benar Mbak Dita ini. Harus di ceburin ke Empang biar daki-daki yang nutupin otaknya di makan ikan gabus. Bisa-bisanya punya ide licik kayak gini."


Koh Along kemudian meminta nomor ku dan mengirimkan video itu ke ponselku sebagai bukti.


"Iya."


Aku keluar dari ruangan Koh Along dengan mengantongi bukti rekaman cctv. Sudah tidak sabar ingin membongkar kelakuan Mbak Dita. Biar dia malu dan kapok karena sudah ketahuan mencuri cincin adik iparnya sendiri.


***


"Ayu, dari mana aja kamu ? Rumah ditinggal gitu aja."


"Biasa, Mbak, habis main ke tetangga sebelah."


"Kayak bocah aja, main terus. Kalau ada maling masuk rumah gimana ?"


"Di jagain juga tetap maling bisa masuk. Buktinya cincin aku bisa hilang."


Sesaat Mbak Dita terdiam.


"Udah ah, Mbak. Jangan ganggu dulu, aku mau ke kamar, mau semedi. Siapa tahu nemu cincin aku."

__ADS_1


Aku segera berlalu meninggalkan kakak iparku. Namun masih bisa aku mendengar dia mengumpatku.


"Dih, dasar gak waras."


Awas aja kamu Mbak, kalau aku sudah punya ide cemerlang, aku bikin kamu malu, Mbak.


Lama-lama kesel juga sama ipar muka tembok modelan begitu.


Lagi panas hati, tiba-tiba ponsel berbunyi. Ada pesan masuk.


[Hai Ayunan... bestiku yang cantik, baik hati dan tidak sombong. Kamu di Jawa, kan ? Aku mau mampir, boleh gak ?]


Ternyata pesan dari sahabat lama yang sudah jarang memberi kabar karena kesibukannya. Ah, aku jadi punya ide. Memang Dewi Fortuna sedang ada di pihakku.


[Cendol, sombong banget baru kabarin sekarang. Ayo, buruan kesini ! Tapi aku tinggal sama mertua, gak jauh dari rumah bapak. Nanti aku kirim lokasinya. Kamu kesini sama siapa ?]


[Cendol, cendol... Namaku, Cindy ! Dasar sahabat gak ada akhlak. Aku kesini lagi liburan sama keluarga. Nginap di hotel dekat sini. Jadi keingat besti dari orok. Tapi nanti aku ke tempat kami sendirian, anak-anak biar bapaknya yang jagain dulu. Gak mau ribet.]


[Wihh, ibu pengusaha emang beda ya, mantul !!! Ya sudah, aku tunggu. Tapi kita ketemunya di warung bakso dulu. Aku mau minta tolong sesuatu juga sama kamu.]


[Wah-wah, aku mengendus sesuatu yang janggal nih. Pasti kamu lagi punya ide aneh. Ngaku !]


Aku ceritakan sedikit tentang permasalahannya. Tiba-tiba ponselku bergetar, panggilan dari Cindy.


Ah, kenapa gak dari tadi aja telponan. Jariku hampir keriting berbalas pesan dari tadi.


"Yu, beneran ipar kamu kayak gitu ?"


"Iya, cendol... makanya kamu mau ya bantu aku, jadi paranormal gadungan. Please,"


"Tapi harus ada bayarannya."


"Ah, kamu... sama teman sendiri."


"Teman sih teman, tetap harus ada pelicin dong. Apalagi ini akting yang sangat spektakuler nanti."


"Ya sudah, aku traktir makan deh, terus aku bawakan oleh-oleh khas sini."


"Hahaha, tahu aja kesukaan besti mu ini. Oke, deal !"


Fix, sudah punya pemeran utamanya. Sekarang tinggal susun rencana sebaik mungkin.


Mbak Dita, kamu tunggulah, besok akan ada pertunjukan heboh.

__ADS_1


Udah gak zaman aku marah-marah sampai darah putih naik kepala. Orang tipe seperti Mbak Dita itu pinter ngeles kayak bajai, meskipun aku sudah punya buktinya. Jadi, Lebih baik aku pakai cara kocak agar membuat dia mengakui sendiri kesalahannya. Baru aku tambahkan bukti yang akurat, biar dia gak bisa berkutik lagi.


Hhhm, gimana ? Keren kan rencana ku ? Siapa dulu, Ayu...


__ADS_2