
"Pokoknya aku mau kamu ceraikan perempuan ****** ini, Mas !"
"Dia punya nama, Dita ! Namanya Bella, jangan panggil dia seperti itu." Sekarang terang-terangan Mas Adit membela perempuan itu.
"Bodoh amat, suka-suka aku lah. Gimana, Mas ? Kamu ceraikan dia, aku pasti akan menerimamu lagi. Dan kita mulai dari awal. Aku gak akan mengungkit kesalahanmu ini lagi."
Suamiku menghembuskan nafas kasar. Dia tampak bingung untuk mengambil keputusan. Enak saja, aku tak akan menyerahkan suamiku pada pelakor gila ini. Kalaupun ada yang harus mundur, Bella orangnya.
"Maaf, Dita, tapi Mas juga sudah punya anak dari Bella. Mas gak mungkin menceraikannya."
"Lha, terus gimana sama aku, Mas ? Aku juga sedang hamil anak kamu ! Tega banget kamu, Mas !"
"Ya, karena itu, Mas juga gak akan menceraikan kamu. Gimana nasib anak dalam kandungan kamu nanti kalau kita bercerai. Bagaimanapun itu juga anak Mas."
"Lebih baik kita akur saja, Mbak. Aku tak apa jadi madu, Mbak." Bella ikut berkomentar membuat emosiku makin menjadi.
"Heh, ****** ! Tutup mulut sampahmu itu !!! Dasar perempuan gak bener !"
"Dita ! Jaga bicaramu !" Sentak Mas Adit malah membela pelakor sialan ini.
"Aargghh ! Sialan kamu, Mas ! Aku gak Sudi di poligami."
"Adit, biayain anak ibu saja kamu gak mampu, gimana mau punya istri lagi ? Yang bener aja kalau ngomong. Gak ada pikirannya kamu itu !"
"Ya, mau gimana lagi, Bu ? Udah kejadiannya kayak gini."
"Sialan kamu, Mas ! Bisa-bisanya kamu santai kayak gitu. Berasa gak salah kamu ? Bu, Pak, gimana ini ?"
"Terserah kamu, Dita. Ini rumah tangga kamu. Bapak juga bingung harus memberi saran seperti apa." Ucap Bapak sambil memijit keningnya.
"Cerai saja, Dita ! Makan hati kamu di poligami. Satu istri saja sudah susah begini, apalagi dua ?!"
Ucapan ibu ada benarnya juga. Satu orang istri saja Mas Adit tak bisa menafkahi, apalagi dua. Heran, kenapa Si Bella begonya gak ketulungan. Cantik doang, tapi mau aja sama Mas Adit yang jelas-jelas suami orang. Ah, terus gimana dong ???
"Bagaimana, Dita ? Kalau kamu mau memaksa cerai, Mas tidak bisa melarang atau memaksa kamu. Mau bagaimana lagi, Mas gak mungkin menelantarkan anak Mas, Revan."
__ADS_1
"Dasar egois kamu, Mas !" Sentakku kesal.
Mau bagaimana lagi, kalau aku memaksa bercerai, bagaimana dengan anak dalam kandunganku. Kasihan, bisa-bisa dia kekurangan kasih sayang. Aku gak mau anakku lahir tanpa bapaknya.
"Ya sudahlah."
"Gitu dong, keputusan kamu sudah tepat. Makasih ya, Dita. Kamu tenang aja, Mas akan berusaha adil pada kalian berdua."
Ibu terlihat sangat kesal dengan keputusanku. Dia menyentak kakinya dan masuk ke kamar. Sementara bapak, hanya diam dan pasrah.
"Mulai sekarang Bella akan tinggal di kontrakan. Kamu tinggal disini saja, sama Ibu dan bapak. Kasihan mereka sudah tua tidak ada yang menemani. Lagipula, perutmu sudah sangat besar, di kontrakan sempit, kamu bakal kesusahan nanti disana."
"Enak saja, itu alasanmu saja, Mas ! Bawa selingkuhan kamu keluar dari desa ini !"
"Dita ! Aku ini kepala keluarga, kamu harus dengar dan turut apa kataku. Kalau kamu gak bisa terima, ya sudah kita cerai saja."
"Dasar laki-laki buaya ! Udah gak bener modelan kayak gini. Udah Dita, kamu cerai saja. Kamu ini cantik, nanti kita cari suami lagi yang lebih segalanya dari laki-laki bajingan ini." Ucap Ibu yang kembali keluar dari kamar. Ibu terlihat sangat marah dengan ucapan Mas Adit barusan.
"Emang ada laki-laki yang mau menikahi wanita hamil ? Ibu ini ada-ada saja. Bukannya menasihati anak yang baik-baik, malah kasih masukan buruk." Ucap Mas Adit. Ibuku menatapnya sinis.
"Mas, t BBMunggu Mas !" Teriakku tapi tak didengarkan oleh Mas Adit. Sialan, baru saja dia bilang mau adil, tapi sikapnya malah begini.
"Bu, hiks, hiks, gimana ini, Bu ?" Aku menangis dipelukan ibuku.
"Udah, gak usah nangis buat laki-laki kayak Adit itu. Mending kamu cerai aja ! Ya Allah, kenapa nasib kamu jadi buruk kayak gini. Pak, kamu kok diam aja, belain anak kita dong."
Bapak hanya diam, tak mau bicara sepatah kata pun. Dia malah masuk ke kamar. Ah, sialan ! Tidak ada yang mendukungku. Mau tak mau aku ikuti saja kemauan Mas Adit. Tak ada pilihan lagi. Semoga saja Ayu gak tahu kalau aku tinggal disini.
.
.
Hampir satu bulan aku mengurung diri dirumah. Semenjak Mas Adit terang-terangan poligami, aku malu menunjukkan wajahku di khayalak umum. Tapi hari ini, mau tak mau aku harus keluar rumah. Ibu sedang tak enak badan, mau tak mau aku yang harus belanja di warung Bu Ijah.
"Dita, aku tahu kamu lagi berduka karena dipoligami, tapi ya, jangan manfaatin harta adik sendiri. Malu dong, masa numpang dirumah yang sudah Ayu sama Bagas beli. Nanti aku aduin Ayu !" Ujar Intan saat dia juga baru sampai di warung Bu Ijah.
__ADS_1
"Eh, jaga moncongmu ! Itu rumah orang tuaku. Laporkan saja, aku gak takut ! Lagian percuma, nomor mereka gak ada yang aktif."
"Hahaha, semua orang juga tahu itu rumah orang tua kamu, yang sudah di tebus Ayu sama Bagas. Jangan sok-sokan jadi nyonya."
"Emang Si Dita ini, mulutnya pintar kayak bebek, tapi kok isi kepala kayak tong kosong, memperihatinkan." Ledek Inem.
Plok!
Plok!
"Arghh!!"
Aku timpuk mereka pakai timun dan kentang. Mereka membalasku dengan tahu. Sialan, bajuku jadi basah.
"Arghh !!! Jualanku ! Cukup, cukup !!! Enak saja kalian, jualanku jadi imbasnya. Bayar cepat !" Teriak Bu Ijah yang punya warung.
"Mereka yang bayar, Bu." Aku kabur dan tak jadi membeli sayuran. Biar makan siang nanti aku beli lauk matang saja. Tapi sebelum pulang, aku mampir dulu ke kontrakan. Mau ambil motor, pegel kakiku jalan jauh begini.
"Mau dibawa kemana motorku, Dita ?"
"Minjem, gak usah pelit kamu, Mas. Udah punya istri dua, gak ada pikirannya lagi. Ngasih duit ala kadarnya. Ini juga motor aku, aku mau pakai !"
"Tapi motornya buat aku berangkat kerja, Dit."
"Berisik kamu, Mas !"
Aku tak peduli dengan teriakan Mas Adit, bodoh amat. Aku segera pergi beli lauk matang.
Setelah beli lauk, aku mau menyimpannya di jok depan tapi sudah tak cukup karena aku juga membeli kerupuk yang kemasannya cukup besar dan menyita ruang. Aku buka bagasi motor. Mataku membulat melihat surat-surat motor disana.
"Dasar suami teledor ! Kebanyakan istri sih, makanya jadi sembarangan menyimpan surat-surat !"
Aku cek semua suratnya, lengkap. Tiba-tiba terlintas ide licik di kepalaku.
Aha... Bagaimana kalau aku jual saja motor ini. Lumayan buat beli keperluan anakku. Anggap saja hasil penjualan motor ini, kompensasi karena dia sudah poligami. Hahaha, ide cemerlang !
__ADS_1