Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Karma Bukan Kurma


__ADS_3

Beberapa Minggu setelah aku colong BPKB motor suamiku, akhirnya cair juga duitnya. Aku tak jadi menjualnya, bisa perang dunia kalau sampai itu terjadi, ditambah lagi suamiku akan kehilangan pekerjaannya. Jadi, aku tangguhkan saja surat motor untuk pinjam uang.


"Bu, nih, uang buat ibu."


"Kamu punya uang dari mana, Dita ?" Tanya Ibu dengan wajah heran, tapi tetap saja duitnya diambil.


"Minjem, Bu... Banyak kan uangnya ? Lumayan, dapat empat juta."


"Hah, minjem dari mana ?"


"Aku gadai BPKB motor Mas Adit, Bu. Itu lho, yang di kecamatan. Tenang aja, Bu. Alamatnya pakai alamat kontrakan, jadi Mas Adit yang bakal ditagih."


"Suami kamu tahu ?"


"Ya gak lah, Bu. Aku bohongi aja dia biar mau urus syarat-syaratnya."


"Ya Allah, Dita..."


"Santai aja, Bu. Nih, lima ratus ribu buat ibu. Aku baik kan ? Gak kayak Si Bagas, anak durhaka. Benar-benar dia itu, udah berbulan-bulan gak ada kabarnya."


"Dit, gimana kalau uangnya kita pakai buat ke Jakarta ?"


"Ih, masa pakai uangku, Bu ? Aku mau shoping, ibu cari uang sendiri saja."


"Yaa, terus gimana dong ?"


"Ibu pergi aja sendiri, pakai uang pemberian Dita."


"Mana bisa kayak gitu, ibu takut nyasar. Lagipula, uang ini mau ibu bayar hutang bank keliling. Capek dikejar-kejar terus."


"Ya sudah, ibu bayar aja. Soal Bagas, anggap aja dia udah mati !"


"Ya Allah, Dit, gitu-gitu juga adikmu."


"Suruh siapa itu anak durhaka, masa melimpahkan tanggung jawab orang tua sama aku doang. Harusnya dia dong yang tanggung jawab, dia anak laki-laki."


"Ibu juga gak tahu kenapa Bagas jadi kayak gini."


"Udahlah, Bu. Emosi tingkat tinggi kalau bahas manusia-manusia itu. Mending aku jalan-jalan keluar, mau belanja. Ibu gak usah ikut, disini saja."


Malas aku mengajak ibu. Dia suka ikut-ikutan belanja, bisa habis uangku kalau dipakai terus.


Sampai di pasar, aku beli beberapa baju, persiapan lahiran, dan sayuran untuk stok satu Minggu. Menyenangkan sekali rasanya bisa belanja sepuasnya. Pas pulang, aku sengaja singgah di warung Bu Ijah.


"Wih, tumben Si nenek gambreng belanja." Ucap Inem.


"Iya dong, habis beli emas baru, nih, lihat, iri kan ?"


"Dih, najis. Cuma emas Segede upil doang. Ditiup angin juga melayang." Ucap Si ratu nyebelin, Intan. Mentang-mentang suaminya pelayaran, banyak duitnya, moncongnya paling sombong sejagat raya.


"Nih, emas aku paling gede, biasa aja tuh, gak norak."

__ADS_1


"Halah, emas doang gede, tapi kesepian tiap malam, ditinggal laki terus. Hahaha, kasihan."


"Heh, Dita, ngaca !!! Emangnya kamu juga gak kesepian ditinggal poligami sama Si Adit ? Hahaha, kasihan."


Sialan, kenapa malah ucapanku balik ke aku ?!


"Aduh, emak-emak rusuh, jangan ribut di warung ibu lagi. Nanti habislah sayuran ibu dilempar-lempar."


"Hahaha, tenang aja Bu Ijah, tuh, mak gambreng baru beli emas. Sita aja cincinnya." Ujar Inem, si cewek jomblo abadi. Maklum, dia gak cantik, jadi suka iri padaku.


"Permisi Bu, beli sayur."


"Wah, pas banget adik madunya datang." Sindir Intan.


Sialan, kenapa Si Bella segala muncul disini. Mukaku seperti dilempar kotoran sapi karena kedatangannya.


"Beli apa, cah ayu ? Pantas Si Adit selingkuh, istri keduanya cantik banget. Anaknya juga ganteng."


"Hahaha, yang pasti mulutnya gak rombeng kayak itu tuh."


"Diam kalian !"


"Mbak Dita, Mbak dari mana ?" Adik madu sialan, segala nanya. Harusnya dia diam saja atau berpura-pura tidak kenal.


"Woyyy... ditanya !!! Hahaha, kasian deh Lo, sok-sokan kelihatan bahagia, aslinya menderita. Mbak Bella, tuh, kakak madunya abis belanja, palakin aja. Pasti Si Dita ngambilin duitnya Si Adit diam-diam, sampe bisa belanja sendirian, banyak pula."


"Enak aja !!!"


Kabur... Dari pada aku terus disindir. Gengsi dong, bisa turun harga diriku. Lebih baik aku santai dirumah sambil menikmati cemilan yang aku beli di pasar tadi.


"Assalamualaikum, Mbak Dita..."


"Ish, siapa sih ? Ganggu aja ! Lagi enak makan cireng isi ayam suwir, malah diganggu."


"Mbak Dita,"


"Eh, kamu main nyelonong aja ?" Tanyaku kaget, Si Bella langsung masuk ke dapur. Matanya jelalatan lihat makananku di meja.


"Maaf, Mbak, ini kan rumah kita bersama, Mbak. Namanya juga aku adik madu Mbak."


"Eh, songong, seenak jidat kalau ngomong. Ingat yah, aku gak pernah menganggap kamu ada !"


"Ya, itu terserah Mbak. Oh iya, Mbak kok bisa belanja banyak gitu ? Bukannya Mas Adit cuma ngasih jatah kita masing-masing dua puluh ribu setiap hari ?"


"Dih, ini bukan duit Mas Adit. Ini duit ibu sama bapak aku. Sana pergi !"


"Gak bisa gitu, Mbak. Kita ini sudah kayak adik kakak, tepatnya aku adik madu, Mbak. Harusnya Mbak berbagi sama aku dong. Masa aku masak tahu tempe doang, Mbak makan enak begini."


"Dih, gak waras kamu ! Suka-suka aku lah, duit-duit aku. Sana, sana... pergi !"


Wajah Bella terlihat jengkel. Aku lempar dia dengan cireng sisa yang sudah aku makan separuh, untuk mengusir dia. Bisa alergi aku dekat-dekat dia.

__ADS_1


"Awas aja kamu, Mbak. Aku bilangin Mas Adit."


"Gak takut !"


"Awas yah, Mbak!"


"Hei !!! Pergi, pergi aja ! Malah maling chicken aku, sialan !" Teriakku emosi. Untung aku lagi banyak duit, malas mengejar Si Bella. Biarkan saja, aku catat sebagai hutang, biar nanti aku tagih.


.


.


"Dita ! Bangun kamu, Dita !"


"Ih, apaan sih Mas ?! Orang lagi tidur siang, ganggu aja !"


"Bangun !" Sentak Mas Adit.


Mas Adit langsung menarikku dari tempat tidur. Hampir saja perutku terbentur, kaget ditarik langsung berdiri.


"Apaan sih, Mas ?!"


"Kamu jangan kasar sama Bella. Yang akur, Dita. Dan lagi, kamu dapat uang dari mana ? Kenapa gak bagi-bagi ?"


"Dih, duit aku yah, bukan duit kamu !"


"Jangan gitu, Dita. Uang kamu, ya, uang kita bersama."


"Stres kamu, Mas !"


"Sudah, mana duitnya, sini. Kasihan Bella, mau makan enak juga."


"Lha, orang dia sudah nyopet chicken aku, enak aja sekarang mau minta duit aku. Kami yang adil dong, Mas. Kasih makan istri keduamu pakai uangmu sendiri. Jangan jadi benalu dihidup aku."


"Kamu ini perhitungan sekali, Dita. Kalau aku ada duit juga pasti aku bagi rata. Kamu lupa, dulu pas Bella banyak uang, dia ngasih kamu. Sekarang gantian dong."


"Mana aku tahu ! Setahuku itu uang bayaran gaji kamu. Kalau aku tahu itu uang sogokan biar aku gak curiga dengan perselingkuhan kalian, najis aku terima uang itu."


"Gak usah banyak ngomong !"


Mas Adit menggeledah kamarku.


"Ih, apaan sih, Mas ?!"


Sial, aku menyimpan dompetku di tempat biasa, dan dengan cepat Mas Adit langsung menemukannya. Mas Adit langsung menguras habis sisa uangku yang tinggal lima ratus ribu.


"Mas ! Sialan kamu ! Duitku jangan dibawa semua !" Teriakku tak mampu menghentikan Mas Adit.


"Besok aku jatah yang rata."


Dasar suami gila. Dia kabur pakai motor. Tahu begini, aku jual aja motornya. Sialan, bisa-bisanya Mas Adit lebih mementingkan kebahagiaan Bella dibanding aku. Ih, menyebalkan !

__ADS_1


__ADS_2