Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Damai Sejenak


__ADS_3

Sesuai kesepakatan, setelah Mas Adit bebas, kami langsung menagih janji Mbak Dita untuk membuat video klarifikasi. Meski sempat terjadi adu mulut, untungnya mereka tetap mengikuti perkataan kami.


Kami ambil video di ruang tamu. Mas Adit dan Mbak Dita membuat video mengakui kesalahan mereka dan berjanji tak akan mengulangi.


"Bagus ! Silahkan kalian pergi sekarang !" Ucap Mas Bagas dengan tatapan dingin.


"Awas kalian !" Ancam Mas Adit.


"Tega kamu, Gas. Mbak gak akan lupa sama sikap kamu ini."


Akhirnya dua benalu pergi. Setahuku, mereka akan tinggal di rumah Pakde Eko. Tapi aku yakin tak akan bertahan lama. Istri Pakde Eko sangat rewel, sebelas dua belas dengan Mbak Dita. Mana tahan mereka tinggal satu atap. Belum lagi rumahnya sempit.


"Bu, ingat, jangan berikan uang bulanan, apalagi emas pemberian kami untuk membantu Mbak Dita." Ujarku mewanti-wanti Ibu mertuaku. Sekali-sekali kejam sama kakak ipar, biar dia mikir dan berusaha untuk hidup mandiri.


Sebagai orang yang sudah berumah tangga, harusnya mikir, apa yang ditanam, akan dipanen. Jadi, jangan berbuat sembarangan hanya mengikuti ego dan kebencian.


"Kamu ini seorang ibu, Ayu. Pasti tahu rasanya jadi orang tua kayak ibu. Mana tega ibu membiarkan anak ibu nelangsa kayak gitu."


"Oh, jadi Ibu gak tega Mbak Dita nelangsa, tapi gak apa-apa kalau Mas Bagas susah, atau belangsak kayak dulu lagi."


"Ngaco kamu, Ayu ! Mana ada ibu yang pilih kasih kayak begitu. Bagas itu beruntung, rezekinya bagus, ya ibu gak was-was. Tapi kalau Dita, rezekinya bahkan makin sulit sekarang. Coba toh, kalian bantu. Dia itu kakak kalian."


"Aduh, Bu, sadar dong. Sikap ibu yang kayak gini yang mengkerdilkan jiwa Mbak Dita. Tapi aku bersyukur sih, ibu bersikap tega dan pilih kasih sama Mas Bagas. Karena ajaran ibu yang kayak gitu, mendidik suamiku menjadi pribadi yang mandiri dan punya mental baja. Gak kayak Mbak Dita, bermental kerupuk disiram air got, melempem dan bau." Sepertinya emosiku mulai terpancing.


"Sudah, sayang, lebih baik kita ke kamar. Buang-buang waktu menghadapi mereka."


Yah, belum puas menasehati ibu mertua, suamiku malah mengajak masuk. Kalau tak ingat Kiara yang sedang tidur sendirian di box bayi, aku pasti masih melanjutkan obrolan seru ini.


.


.


"Mas, aku mau ngomong."


"Apa sayang ?"


"Tabungan buat beli rumah, lumayan udah terkumpul. Gimana kalau kita buat rumah di daerah Mamaku aja ?"


"Maksudnya kita merantau ke Jakarta ?"

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku pikir, kalau kita masih dekat dengan keluarga kamu, gimana yah, ruwetlah, Mas. Aku gak mau nantinya anakku tumbuh besar di lingkungan toxic. Ya, ini sih pandangan aku, kamu bebas berpendapat, Mas."


"Apa yang menurut kamu baik, Mas yakin itu memang yang terbaik. Urus saja, sayang. Soal usaha kita disini, Mas bisa ajak kerja sama Joni, biar dia yang pegang lapak pentol. Tapi kalau usaha Frozen foodnya, kita buka usaha di Jakarta aja. Bismillah, tahu aja maju."


"Insyaallah bisa, Mas. Kita bisa distribusi produknya ke daerah pasar tempat Mama jualan. Terus, TikTak juga bisa diaktifkan lagi buat promo jualan. Nah, kalau yutub tetap kita jalanin buat aku bikin vlog."


"Ya udah, bismillah, yah, sayang."


Aku cium kening jidat suamiku yang lebar dan memeluknya penuh cinta. Bahagia sekali rasanya punya suami seperti Mas Bagas. Selalu siaga mendengarkan istri dan mau melakukan apapun demi kedamaian istrinya.


Aku pamit ke dapur untuk memasak. Biasanya kami beli yang udah matang, tapi hari ini mood ku sedang bagus, jadi aku putuskan untuk masak. Aku mau masak makanan simpel, ayam goreng, sambal geprek, dan sayur pokcay.


"Masak apa, Yu ?"


"Ayam, Bu."


"Oh..."


Tumben ibu gak minta disisain. Pasti ada tujuan lain nih, ibu mendekatiku jam segini.


"Ayu, punya uang gak ?'


"Bukan. Buat ibu beli baju pengajian. Ibu gak ada uang, malu dong sama ibu-ibu pengajian yang lain. Kalau gak dibeliin mending ibu gak usah pengajian."


"Tinggal pakai yang ada aja, Bu."


"Ih, jangan pelit-pelit, Ayu. Nanti kamu dapat pahala beliin baju buat ibu pengajian."


"Hhhmm, beneran yah, Bu, buat beli baju. Awas aja buat bantu Mbak Dita. Nanti aku tagih kalau ketahuan."


"Iya-iya, ih, perhitungan dan banyak syarat banget. Buruan, uangnya mana." Ibu mertua menadahkan tangannya.


"Berapa ?"


"Enam ratus ribu."


"Baju apaan mahal banget ? Itu baju dibuat dari sayap kupu-kupu atau dari plastik branded ?"


"Norak banget sih, Yu. Itu baju dari bahan sutra, makanya mahal."

__ADS_1


"Aduh, ada-ada aja. Kemahalan itu, Bu."


"Udah, gak usah komen. Buruan, mana uangnya. Ingat, orang pelit kuburannya sempit dan tulangnya bakal dihimpit. Kata ustad gitu."


Tak mau memperpanjang perdebatan, aku masuk ke kamar, minta uang dulu sama suami. Apapun pengeluarannya, meski diberikan untuk ibu, harus tetap izin.


"Nih, Bu. Enam ratus ribu."


"Alhamdulillah, tumben baik, Yu." Ucap ibu dengan mata berbinar.


"Ya udah, ibu mau bayar dulu."


"Bu, ayam Ayu pada kemana ? Bisa jalan apa terbang ? Kok tinggal yang di penggorengan, perasaan tadi ada yang sudah di goreng."


"Diembat kucing, hahaha."


Ibu kabur sambil cekikikan. Pasti ibu kucingnya. Aduh, daging ayamku digondol juga. Dasar ibu-ibu, tak mau rugi. Sudah dapat uang, ayam goreng pun dia bungkus juga. Tapi tak apalah, untung aku sedang dalam mode damai sejenak. Mau menikmati ketenangan, tak seaktif dulu sebelum punya anak. Soalnya, tenaga habis terkuras untuk merawat putri kecilku. Jadi, sebisa mungkin menghindari keributan. Untungnya, tak ada nenek gerondong disini. Damai hidupku beberapa hari ini setelah kepergian Mbak Dita.


'Aduh, gas habis lagi."


Cobaan hidup mana lagi yang tak terlewatkan. Si tabung Buto ijo segala kehabisan isi perutnya lagi. Mau tak mau aku harus ke warung.


"Hei, Ayu, tumben keluar rumah." Sapa Mbak Intan.


Pergibahan pun di mulai. Dan topik utamanya tak lain adalah Mbak Dita. Sebenarnya aku tak ingin mengembangbiakkan dosa, tapi tak apalah, penasaran.


"Kita masuk ke topik terkini. Tadi aku lihat mertua kamu anterin Dita cari kontrakan. Katanya ngontrak di Pak Rusli, gak jauh dari rumah ibuku." Ucap Mbak Inem, bestinya Mbak Intan.


"Ah, masa sih, ibu kesana ? Katanya mau bayar baju pengajian."


"Baju pengajian apa ? Orang gak ada acara-acara beli baju." Ujar Bu Ijah, pemilik warung.


"Yang bener, Bu ?" Perasaanku mulai tak enak.


"Ya, bener. Orang ibu juga ngaji kok. Mana ada bayaran beli baju."


Wah, duit enam ratus ribu ku lenyap sudah buat bayar kontrakan Mbak Dita. Aduh, Ken tipu mertua sendiri. Kalau Mas Bagas tahu, pasti ngamuk dia. Sepertinya aku harus beraksi lagi, biar ibu gak terus menerus memanjakan Mbak Dita.


Hah, padahal niatnya mau damai sejenak, mau libur dulu buat keributan. Baiklah, kita lawan, tak boleh dibiarkan. Efeknya membahayakan, lama-kelamaan makin memanfaatkan ibunya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2