
Prang !
Prang !
"Arrghh !"
"Ya Allah, Dita... sadar, Nak ! Istighfar !"
"Arghh, sialan !"
Mbak Dita berteriak-teriak benar-benar seperti orang kesetanan. Dia bahkan berguling-guling di lantai. Ibu mertua berusaha memeluk anak kesayangannya, tapi Mbak Dita malah mendorong ibu sampai hampir jatuh.
"Dita ! Dasar istri gila !" bentak Mas Aldi keluar dari kamar.
Sementara aku, bertugas menjaga anaknya Mbak Dita. Aku gendong sambil tetap memperhatikan. Tentu saja aku penasaran kenapa dia mendadak jadi begitu.
"Berhenti membuat kepalaku tambah pusing !" bentak Mas Aldi.
"Aargghh... !!!"
Plak !
Bugh !
Mas Aldi langsung memukul Mbak Dita sekuat tenaga, sampai bibirnya berdarah. Dasar laki stres, istrinya sedang mengamuk, bukannya menenangkan dia malah main kasar. Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga.
"Hentikan, Aldi ! Hentikan !" teriak ibu meraung marah. Meski sudah renta, tapi dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk membela sang anak tercinta.
"Dasar istri sialan ! Suami lagi pusing, malah bertingkah gila seperti itu."
"Aku gak mau miskin lagi, aku gak mau !!!" teriak Mbak Dita semakin menjadi-jadi.
Mas Aldi maju dengan tangan terangkat ke atas, bersiap mendaratkan tamparannya di pipi Mbak Dita.
"Aldi, jangan dipukul !" teriak ibu.
"Terus pukul, dasar suami gak tahu diuntung ! Sudah jelek, sekarang miskin lagi ! Gak Sudi aku sama kamu !" teriak Mbak Dita membuat Mas Aldi menggeram.
"Berani kamu berkata seperti itu ?! Istri tak tahu diri !" teriak Mas Aldi.
"Cukup, Mas Aldi ! Berani kamu berbuat kasar sama ibu, aku bawa kamu ke polisi !"
Niat Mas Aldi memang memukul Mbak Dita, tapi ibu mertua menghalangi. Aku tak mau ibu kenapa-kenapa. Sebenarnya malas menolong Mbak Dita, ini semua hanya demi ibu. Jangan sampai dua-duanya dalam kondisi bahaya.
"Bu, bawa Mbak Dita pulang. Aku panggil supir kesini dulu."
...
Supirku datang, kami segera bawa ibu, Mbak Dita dan Lea ke mobil. Biar mereka menenangkan diri dan istirahat di rumah ibu.
__ADS_1
"Minum dulu, Bu."
"Makasih, Yu."
Bukannya ibu yang minum, malah diberikan Mbak Dita. Ya sudah, biarlah, Mbak Dita juga butuh diperhatikan dalam kondisi shock seperti ini. Biar ibu saja yang memberikan perhatian, aku malas.
"Gimana Mbak Dita, Bu ?"
"Dia sudah tidur sama Lea. Untuk sementara biar Dita tinggal disini yah, Yu."
"Boleh, tapi jangan lama-lama, Bu. Dia punya suami, biar suaminya yang urus.
"Kamu lihat sendiri suaminya gila, bahaya kalau Dita serumah sama Aldi."
"Itu sih derita Mbak Dita, Bu. Makanya jangan dimanja, pas nyungsep miskin jadi kaget."
"Ngomongnya jangan kayak gitu, Ayu."
Ibu mertua terlihat kesal, tapi dia berusaha menahan emosinya. Sengaja bersikap manis, agar aku mau membantu. Tentunya kalau bukan aku, siapa lagi yang bisa diandalkan. Lihat saja, kalau aku sudah kesal, aku tinggal.
"Terus aku harus ngomong gimana ? Gini Bu, kalau Mbak Dita masih ngamuk-ngamuk gak jelas, kita bawa saja ke rumah sakit jiwa."
"Ayu ! Dijaga ngomongnya !" bentak ibu kesal.
"Dih, ibu dikasih saran bener, gak mau."
Aku tinggal saja ke kamar. Kiara menangis, aku sampai lupa menyuapi dia makan. Beres menyuapi Kiara, aku telepon Mas Bagas, biar dia juga tahu kondisi terkini.
"Terus, ibu sama Mbak kamu gimana, Mas ? Ibu sakit-sakitan, Mbakmu kayaknya depresi. Bahaya kalau ditinggal gitu aja, Mas."
"Gak usah dipedulikan, sayang. Mbak Dita punya suami, soal ibu, toh, sudah berobat."
"Hhmmm, tapi Mas a-"
"Kamu ingat kewajiban istri, sayang ? Harus nurut sama suami. Jadi, nurut yah."
"Kasihan, Mas."
"Nanti Mas bantu kasih uang, itu udah cukup. Lusa kamu pulang."
Mas Bagas menutup telepon sepihak. Dia sama sekali tidak khawatir dengan kondisi Mbak Dita. Ya, memang salah Mbak Dita sendiri, suka buat emosi. Akhirnya, pas udah begini tak ada yang peduli.
***
"Bu, makan !" teriak Mbak Dita mengamuk.
Astaghfirullah, aku yang sedang mengemas pakaian mau pulang nanti sore, jadi terganggu.
Suara piring dibanting, dan amukan memenuhi rumah ini. Semenjak dibawa kesini, Mbak Dita semakin menunjukkan sikap aneh. Mirip ciri-ciri orang otw stres.
__ADS_1
"Ayu... Ayu..." teriak ibu menggedor Pintu kamar.
"Kenapa, Bu ?"
"Kita ajak Dita ke rumah sakit jiwa saja, ibu takut dengan tingkahnya Dita."
"Udah Ayu bilangin dari kemarin-kemarin ibu ngeyel, sih.
"Iya, tolong bawa sekarang."
"Gak ah, aku mau balik. Disuruh Mas Bagas, balik ke Jakarta. Ibu bawa Mbak Dita sendiri saja." Beginilah seorang Ayu kalau mode males.
Makanya, saat orang masih memberi saran dan bantuan itu tanda kepedulian, maka hargai. Jangan abai terhadap kasih sayang dan kepedulian yang orang lain berikan. Ketika tiba saat orang tersebut lelah memberi perhatian, barulah merasa kesepian dan penyesalan.
"Ayu, ibu mohon."
"Bu, bangun, Bu."
Ibu bersimpuh di kakiku, dia mencengkram kakiku sangat kuat, sama sekali tak mau melepaskan. Matanya berkaca-kaca, mulai menetes membasahi pipi. Luar biasa kasih sayang ibu terhadap Mbak Dita. Sayangnya, ibu tak sadar punya anak titisan Mak Gambreng binti Julid binti rada-rada gendeng.
"Iya, iya... ya sudah, ayo kita bawa."
Bukan luluh atau mau dimanfaatkan ibu, aku memang kasihan sama Mbak Dita. Meskipun dia menyebalkan tingkat legend, tetap saja aku tak tega kalau dia beneran jadi gila. Kasihan anaknya, masa punya ibu gila. Ditambah lagi anak dalam kandungannya jga berhak merasakan kasih sayang ibunya. Jadi, sebelum kelewat sebisa mungkin diobati.
.
.
"Bagaimana anak saya, Dokter ?" tanya ibu pada psikiater.
"Tenang, Bu, untung langsung dibawa kesini, insyaallah bisa diatasi asal kita lakukan beberapa tahapan pengobatan."
"Alhamdulillah."
Syukurlah kalau Mbak Dita tak sampai masuk rumah sakit jiwa. Dokter memberi beberapa resep obat. Mbak Dita juga harus rutin kontrol.
"Bu, malam ini aku tetap pulang." ujarku sesampainya di rumah.
"Dita bagaimana ?"
"Ya, ibu urus saja, yah. Tapi, lebih baik serahkan sam suaminya."
"Aldi itu galak, Ayu. Ibu takut Dita malah dianiaya."
"Gini aja, aku gak bisa bantu banyak. Ibu tahu kan kewajiban istri itu nurut sama suami. Tapi, aku juga kasihan sama ibu, ya, walaupun ibu seringnya gak kasihan sama aku dan Mas Bagas. Gini aja, kita ke rumah Mas Aldi, bawa Pak RT, buat perjanjian biar dia gak kasar lagi sama Mbak Dita."
"Gak usah, Yu. Kamu disini saja."
"Mau dibantu gak, Bu ? Masa minta bantuan malah nawar-nawar."
__ADS_1
"Ya sudah, ibu setuju deh."
Aku merasa seperti artis, baru pertama kalinya sangat berharga di hadapan ibu mertua, hehehe. Dulu, ibu sangat tidak menginginkan kehadiranku, tetapi sekarang dia malah takut ditinggalkan. Begitulah hidup, kadang apa yang sangat kita benci malah jadi penolong, dan sebaliknya.