
[Mbak, katanya kaya, tapi kok ibu sendiri disuruh kerja rodi. Udah kayak penjajah aja kamu, Mbak. Sadar kenapa, kalau emang Mbak gak sanggup urus ibu, biar kami yang urus.]
Darahku mendidih membaca pesan yang baru saja masuk dari Ayu. Beraninya dia menghinaku.
[Eh, seenak jidat kalau ngomong. Jaga moncong kamu !]
[Kenyataannya emang gitu kan, ngaku kaya, tapi nyewa baby sitter aja gak bisa. Itu sih definisi kaya jadi-jadian, hahaha]
Sialan Si Ayu, tak hentinya dia menghinaku. Tapi kenapa dia bisa mengirim pesan demikian ? Ditambah lagi berkali-kali dia berusaha menelponku. Langsung aku blokir saja seperti sikapnya dulu. Orang kaya bebas berbuat apapun.
Segera aku mencari ibu. Pasti ibu yang sudah ngomong tidak-tidak sama mereka.
"Bu... Ibu !" teriakku kesal.
"Ih, kemana sih." Niat hati mau maskeran, malah terganggu dengan pesan sialan ini.
"Ibu !"
"Ada apa, Dita, kenapa teriak-teriak ? Ibu lagi repot, nih, anak kamu rewel banget, mana badan ibu pegal-pegal lagi."
"Ibu ngadu apa sama Bagas dan Ayu, hah ?"
"Ngadu apa maksud kamu ?"
"Itu, Si Ayu menghina aku, katanya aku gak bisa urus ibu."
"Ibu mana tahu, Ayu memang suka gak jelas. Sudah, biarkan saja."
"Ibu jangan ngadu macam-macam, yah, apa kurang yang sudah Dita berikan sama ibu ? Makan enak, tinggal di rumah bagus, apa-apa gratis. Kalau soal jatah jajan bulanan, lima ratus ribu itu gede, Bu. Lagian, udah berumur kayak ibu duitnya mau dipakai buat apa ?"
"Iya, Dit. Ibu cuma butuh uang, jadi minta sama Bagas. Ibu juga mau beli emas kayak kamu."
"Astaga ! Tuh kan, ibu ngaku juga kan. Ngapain sih, Bu, ngomong kayak gitu sama mereka. Lihat, mereka jadi menghina aku."
"Ya maaf, Dit. Lagian kamu ngasih jatah ibu sedikit sekali. Mana cukup sih lima ratus ribu."
"Ih, ya sudah, besok Dita tambahin. Mau berapa ?"
"Beneran, Dit ?"
__ADS_1
"Iyalah ! Jangan kayak orang susah, malu-maluin aja."
"Alhamdulillah, terus kapan kamu kasih duitnya ? Ibu udah gak sabar pengen beli emas, nih."
"Mata duitan banget sih, Bu. Tunggu, nanti aku kasih."
Emang benar-benar punya ibu, mata duitan sekali. Mau tak mau aku berikan saja uang sebesar lima juta, biar ibu gak rewel lagi. Sekalian nanti mau cari baby sitter buat Lea, biar tidak disebut miskin atau hinaan lainnya oleh perempuan bermulut petasan seperti Ayu.
.
.
"Dita ! Dita !!!" teriak Mas Aldi. Ahh, dia mengganggu tidur siangku saja.
"Apa sih, Mas ?" tanyaku sambil mengulat di atas ranjang empukku. Hawanya malas sekali membuka mata. Ngantuk tingkat tinggi.
"Bangun kamu !" bentaknya, menarik tanganku sampai aku terduduk di atas ranjang.
"Kenapa kamu memperkerjakan baby sitter tanpa izin aku, hah ?"
"Iya, Mas, emang kenapa sih ? Apa yang salah dengan memperkerjakan baby sitter ?"
"Ya elah, Mas, kamu ini duitnya banyak. Masa cuma sewa baby sitter aja kamu marahnya udah kayak kehilangan mobil Fortuner."
"Halah, jangan banyak ngoceh kamu ! Pecat baby sitter kamu sekarang. Ingat Dita, jangan seenaknya mengambil keputusan di rumah ini !"
"Aww, Mas ! Tanganku sakit."
Sialan, tanganku dicengkeram begitu kuat. Sakit sekali rasanya, mungkin sama seperti rasa sakit saat dilindas motor.
"Mas, lepasin, arrghh... sakit, Mas." teriakku meraung kesakitan. Mas Aldi masih saja tidak mau melepaskan cengkeramannya di tanganku. Malah cengkraman itu terasa semakin kuat, membuatku semakin kesakitan.
"Itu hukuman buat kamu yang sudah berani kurang aja sama suami, sayang."
"Aww, sakit, Mas !"
"Dita !" pekik ibu dengan wajah kaget berdiri di depan pintu kamar kami yang terbuka.
"Aldi, kamu apain anak ibu, lepas !"
__ADS_1
Akhirnya cengkraman tangan Mas Aldi bisa dilepaskan. Dia menatap tajam ke arahku dan ibu. Namun beruntung, pria sialan itu langsung keluar dari kamar tanpa sepatah kata. Ah, dasar pria kasar yang aneh, tanganku memerah seperti terbakar.
"Kamu kenapa bisa diginiin sama Aldi, Dit ?" tanya ibu menghampiriku.
"Segala nanya kenapa lagi, ini semua gara-gara ibu ! Gara-gara ibu ngeluh terus, aku jadi dimarahi Mas Aldi karena memperkerjakan baby sitter tanpa sepengetahuan dia."
"Lagian, kenapa kamu gak izin dulu sama suami kamu, Dita."
"Izin gimana, Mas Aldi dari dulu emang gak mau sewa baby sitter. Katanya satu pembantu saja sudah cukup, biar ibu juga bisa banyak gerak di rumah.
"Ya, maaf, Dit, mau bagaimana lagi, ibu udah semakin tua, tenaganya udah gak kayak dulu lagi, banyak yang dirasa kalau kebanyakan kerjaan."
"Banyak kerjaan gimana sih, Bu. Orang cuma jaga anak satu doang. Banyak ngeluh banget. Pokoknya mulai besok, ibu ngurus Lea lagi, gak usah banyak protes. Dan satu lagi, awas saja kalau ibu ngadu sama Bagas dan Ayu. Dita bakal marah besar sama ibu."
Ibu diam dan menunduk, aku anggap diamnya sebagai persetujuan. Aku tinggalkan ibu dan bergegas mandi, supaya rasa panas di tangan dan di jiwa ini bisa segera sirna.
Semakin mengesalkan saja kisah pernikahan keduaku. Bukannya bahagia, malah sengsara, meski sengsaranya beda versi sama yang dulu sama Mas Adit. Tapi, setidaknya sekarang aku punya banyak uang, aku harus bertahan bagaimana pun caranya. Aku tidak boleh menyerah begitu saja hanya karena sikap kasar Mas Aldi. Tentu saja, aku harus melakukan apapun untuk bertahan, karena aku tak sudi menjadi orang miskin lagi.
.
.
Seiring berjalan waktu, lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan sikap Mas Aldi yang selalu berubah-ubah. Aku berusaha semaksimal mungkin agar tidak membuat dia marah. Membuat dia marah, sama saja mengantarkan diri sendiri dalam bahaya. Mas Aldi ini sosok laki-laki yang cukup menyeramkan. Kadang dia sangat baik dan romantis saat ada maunya, tapi jika dia sedang mode emosi, tingkahnya mengalahkan amukan singa kelaparan.
Tok ... Tok ...
"Dita..."
Sedang asik main TikTak, pintu depan di ketuk sangat keras. Awalnya mau aku abaikan saja, tapi suaranya semakin menggangu saja.
"Mbok !" teriakku memanggil pembantu.
"Dita, tolong buka pintunya !' teriak tamu sialan di depan rumah itu. Dia malah semakin keras mengetuk pintu rumahku. Siapa sih ?Dasar tamu tak pernah makan bangku sekolah, tak tahu etika bertamu ke rumah orang. Ini lagi Si Mbok, dipanggil tidak menjawab, entah kemana perginya.
Oke, aku buka saja pintunya agar bisa sekalian menyiram wajahnya.
"Ih, sia-"
"Mas Adit ???"
__ADS_1
"Dita !" teriak Mas Adit langsung memelukku. Ingin ku menolak, tapi tubuh ini malah nyaman da dekapannya.