
"Sayang, Mas sudah mengatur soal usaha kita. Lapak disini akan dipegang Joni dan Rina. Lalu nanti, Mas mau sewa truk buat angkut barang-barang produksi."
"Mau secepatnya pindah, Mas ?"
"Iya sayang, Mas mau kita secepatnya pindah, demi kebaikan kita. Toh, kita sudah dapat tanah, pembangunan rumah bisa satu atau dua bulan. Mas Rasa Mama kamu gak akan keberatan kalau kita numpang di rumah Mama untuk sementara waktu, sampai rumah kita selesai."
Mendadak suami bertekad bulat untuk pindah. Baguslah, biar aku secepatnya bisa hidup tentram.
"Kalian beneran mau pindah ?" Tanya Ibu menghampiri. Oh iya, aku lupa, kami membahas soal kepindahan di ruang tamu. Jadi, Ibu bisa saja ikut nimbrung.
"Iya, Bu. Jangan cegah kami. Mau ibu pura-pura sakit, atau sakit beneran, gak akan merubah niat Bagas." Tegas Mas Bagas.
Kenapa yah, suamiku mendadak niat sekali untuk pindah ? Sudahlah, tak usah dipertanyakan. Yang penting aku bisa terbebas dari mertua dan kakak ipar yang bikin kena serangan mental.
"Kapan kalian mau pindah ?" Tanya Ibu dengan raut wajah sinis menatap kami berdua.
"Satu Minggu lagi." Jawab Mas Bagas mantap. Aku lirik suamiku, kami belum ada membahas soal kepindahan. Kenapa cepat-cepat sekali ?
"Tega kamu sama Ibu, Gas !"
Ibu masuk ke kamar dengan raut kecewa. Aku Pepet suamiku, mau tahu alasannya kenapa dia mau pindah buru-buru.
"Mas,"
"Kamu mau tanya kenapa Mas ngajak pindah seminggu lagi ?"
Aku mengangguk. Suamiku sudah macam dukun saja, paham sekali isi kepalaku.
"Mas udah merenung panjang, pas kamu sama Ara tidur. Keluarga kecil kita gak bisa kayak gini terus. Kamu sama Ara butuh ketentraman, begitu pula dengan Mas. Mas tahu, kamu perempuan hebat, bisa diandalkan dalam segala cuaca rumah tangga kita. Tapi, tetap saja kamu istri Mas, Ibu dari anak-anak Mas. Kesehatan Mental dan hati kamu nomer satu."
Mataku berkaca-kaca mendengarnya. Mas Bagas mencium tanganku. Asli, baru kali ini bibirku yang cerewet ini tak sanggup berkata-kata. Sikap dan ucapan suamiku terlalu mendebarkan hati, hingga aku tak bisa berkutik.
"Tapi, Mas... Bapak sama Ibu kamu, gimana ?"
"Untuk kali ini Mas akan tegas. Mas juga sudah capek dengan keadaan dirumah ini. Beda sekali kondisinya saat dirumah Mama kamu. Kamu terlihat sangat bahagia, senyum lepas, dan hati Mas juga damai. Gak banyak kegaduhan kayak disini."
"Ya sudah, Mas, kalau itu keputusan kamu. Sebagai istri yang rindu surga, hehehe, aku nurut, setuju seribu persen."
"Makasih, sayang. Selalu dukung suami kamu ini."
Mas Bagas mengusap lembut kepalaku. Asikk, sepertinya suamiku ketempelan aura-aura baik, sampai sikapnya tak seperti biasanya. Lebih tegas level tinggi, lebih sat set, dan tak goyah.
***
"Bagas !!! Keluar !!!" Terdengar teriakan dari luar. Aku hafal betul itu suara siapa. Dengan santai aku langkahkan kaki ke depan untuk membukakan pintu buat tamu yang tak diundang.
"Ngapain sih kesini, Mbak ?"
"Mana suami kamu ?"
"Di kamar. Kenapa sih, Mbak ?"
"Panggil ! Aku mau ngomong penting !"
__ADS_1
"Mau minjem duit ? Gak ada, Mbak. Lupa sama perjanjian kita ?"
"Enak aja ! Dasar manusia pelit ! Aku gak butuh uang kalian. Aku kesini mau bicara sama Bagas sebagai seorang kakak."
"Oke, oke... Santai dong, Mbak. Sampai hujan lokal. Muncrat tuh, ludahnya."
"Buruan ! Suruh Bagas keluar."
Aku masuk ke kamar. Mas Bagas sedang menjaga Kiara, karena produksi pentol dihentikan sementara selama proses pindahan. Aku sampaikan pada Mas Bagas jika Mbak Dita ingin bicara dengannya.
"Mau apa kesini, Mbak ?"
"Langsung pada intinya. Kamu kenapa pindah ke Jakarta tanpa minta pendapat orang tua ? Aku disini ngomongin kamu sebagai seorang kakak, meski gak pernah dihormati. Kamu bolehlah bersikap seenak dengkul sama Mbak, tapi jangan sama Ibu dan Bapak. Minta izin dulu lah sama mereka. Lagian, udah enak disini, ngapain segala ke Jakarta."
"Udah ngomongnya, Mbak ?"
"Heh, Mbak serius ! Makin kurang ajar kamu yah."
"Aku juga serius ! Mbak tidak ada hak melarangku. Kita sudah sama-sama dewasa. Jalani saja hidup masing-masing."
"Sumpah, yah. Kamu keras kepala sekali, Gas !"
Suami tak mempedulikan ucapan Mbak Dita, malah hendak kembali masuk ke kamar.
"Bagas !!!" Teriak Mbak Dita.
Mbak Dita mencengkram tangan suamiku. Mau aku bantu, tapi Mas Bagas melarang. Dia memberi kode agar aku tenang, membiarkan dia menghadapi Mbak Dita.
"Jangan jadi anak durhaka, Bagas ! Tetap disini !!!"
"Hahaha, tenang aja, Mbak. Ibu dan bapak punya Mbak, anak kesayangannya. Kali ini Bagas memberikan kesempatan, Mbak memenuhi semua kebutuhan Ibu dan Bapak. Sebagai anak kesayangan, Mbak yang harus mengurus Ibu dan Bapak."
"Bicara apa sih, kamu ?!"
Suamiku tampak dingin. Lebih dingin dari es krim yang lagi viral, hehehe. Apa dia sudah sakit hati akut, yah ? Sampai sikapnya bisa seperti ini.
"Silahkan Mbak keluar dari rumah Bagas !"
"Arghh !! Dasar adik kurang ajar !"
Mbak Dita marah-marah. Mulutnya dipenuhi sumpah serapah. Tapi suamiku tetap kukuh dan tak tergoyahkan dengan kemauannya.
"Mas, kamu baik-baik aja ?"
"Tenang sayang, Mas tahu harus bagaimana bersikap menghadapi keluarga sendiri."
Aku manggut-manggut saja, percayakan semua pada suami. Apapun pilihan suami, pasti demi kebaikan keluarga kecil kami. Sebagai istri, aku akan mendukung apapun keputusan suami, selama itu baik dan tak merugikan siapa-siapa.
Perkara pindah, menurutku sudah paling tepat. Mungkin suamiku sudah lelah terus berdebat. Betul juga sih, semakin lama disini, tabungan dosa semakin membeludak. Pasti saja setiap hari, bahkan tiap jam, entah mertua atau Mbak Dita suka sekali membuat keonaran yang memancing mulut untuk menanggapi dan mencaci. Akhirnya, banyak dosa tak sengaja yang keluar dari mulut ini.
***
"Mas, barang-barang sudah aku kemas. Kata Mama, alat-alat produksi sudah sampai dirumah Mama dengan selamat."
__ADS_1
"Syukurlah, kita tinggal sewa travel untuk baju-baju."
Kulkas, kasur, tak dibawa. Kata suami nanti beli lagi, agar menghemat budget. Biaya pemindahan alat-alat produksi cukup menguras kantong.
"Kalian benar-benar mau pindah ?" Tanya ibu murung.
"Beneran dong, Bu. Masa cuma setting-an ? Ibu pikir kami artis yang suka buat sensasi ?" Jawabku cepat.
"Bapak dan Ibu kecewa sama kamu, Bagas !"
"Bagas juga kecewa sama Bapak dan Ibu." Jawab suamiku dengan enteng, tanpa menoleh ke arah Ibu.
"Dasar anak tak tahu diuntung !" Umpat Bapak. Suamiku hanya diam, tak menanggapi. Ibu mertua juga terus mengoceh, semua dia ungkit. Bilang suamiku anak tak tahu terima kasih, tak bisa membalas jasa orang tua, mengecewakan, dan kalimat-kalimat tak pantas lainnya.
Aku menghela nafas kasar. Mau menyemprot Ibu mertua dengan mulutku, tapi suami menahan.
"Diam, sayang. Biar mereka puas mau bilang apa. Anggap angin lalu."
Aku cukup syok dengan ucapan suami. Kenapa dia begitu tak acuh dan tak ambil pusing sama sekali ? Aku yang bukan anak kandung mereka saja, sakit hati mendengarnya.
Mas Bagas menarik tanganku, masuk ke kamar.
"Nyesel Ibu melahirkan kamu, Bagas !" Terdengar begitu nyaring teriakan ibu.
"Ya Allah, Mas, ibu kamu harus dilawan. Panas hati aku, Mas."
"Biarkan saja, sayang. Allah maha tahu, Mas ini anak durhaka atau memang ibu dan bapak yang durhaka sama anaknya."
.
.
Akhirnya mobil travel yang kami sewa datang juga. Aku dan Mas Bagas segera keluar. Ternyata di luar sudah ada Mbak Dita. Mungkin Ibu yang menjemputnya agar Ibu punya teman untuk menyerangku di detik-detik terakhir.
Tapi, berhubung tadi Ma Bagas sudah mewanti-wanti untuk tidak menanggapi apapun yang dikatakan Ibu dan Mbak Dita, maka aku pun harus menurut kaya suami. Susah payah aku menutup telinga dari semua ucapan mereka yang sangat tak enak.
"Kalian ini pada bisu, tuli, atau pura-pura bego, sih ?" Sentak Mbak Dita.
"Ngomong sama tembok dulu, Mbak."
Ah, akhirnya semua barang-barang sudah masuk dalam mobil. Mas Bagas yang menggendong Kiara langsung masuk ke dalam mobil. Begitu juga aku. Mas Bagas menutup kaca mobil. Suara ocehan Ibu dan Mbak Dita mulai tak terdengar. Mobil pun mulai melaju.
"Mas, kok kontak ponselku gak ada semua ?"
"Catat nomor yang penting saja. Mas juga sudah mengganti nomor ponselmu, nomor WA juga."
"Hah ? Kok gak bilang dulu ?"
"Maaf sayang, untuk sementara kita harus menutup komunikasi dengan keluargaku."
"Lho, kenapa, Mas ?"
Suamiku hanya tersenyum. Apa sebenarnya yang direncakan suamiku ?
__ADS_1