Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Istri Kedua


__ADS_3

"Ayu belum menghubungi kami. Saya malah baru tahu kalau Ayu dan Bagas pindah ke Jakarta." Ujar bapaknya Ayu.


"Masa bapak gak tahu anaknya di Jakarta. Gak usah bohong, pak. Gara-gara anak bapak ngajakin adik saya pindah, ibu saya jadi susah."


"Saya ini sudah tua, untuk apa berbohong."


"Ya sudah, gini aja. Bapak kasih kami duit, nanti bapak tagih ke Ayu. Soalnya saya yakin, uang bulanan dari Bagas buat ibu saya raib dimakan Si Ayu."


"Enak saja minta uang kesini ! Itu urusan kamu sama Bagas dan Ayu. Jangan bawa-bawa orang rumah ini !"


"Lha, kalian orang tua nya, tanggung jawab, dong !"


"Itu bukan tanggung jawab kami. Enak aja !" Ucap ibu tiri Ayu.


"Betul kata istri saya. Sebagai ayah, tugas saya selesai, karena sudah melimpahkan amanah, Ayu sama Bagas. Soal urusan kalian, silahkan urus sendiri."


"Udah-udah, keluar sana ! Kesini malah minta duit. Kalian pikir ini panti sosial ?!"


Sial, aku dan ibu malah diusir. Aku sumpahin rumah mereka kebakaran. Seenak jidat, persis anaknya Si Ayu. Mau tak mau kami pulang dengan tangan hampa, tak tahu lagi bagaimana caranya menghubungi Bagas. Tak mungkin menyusul mereka ke Jakarta. Duit dari mana ? Buat makan aja susahnya setengah mampus.


"Pak, gimana ini, Pak ? Bagas dan Ayu gak bisa dihubungi. Apa mereka dirampok atau gimana di Jakarta ?" Keluh ibu sesampainya dirumah.


"Baguslah kalau kerampokan. Karma orang pelit. Banyak duit tapi malah membuang orang tua disini. Mereka tuh gak ada akhlak."


"Ini semua karena sikap ibu. Harusnya jangan terlalu kentara, kalau lebih sayang sama Dita. Coba kelihatan adil, biar Bagas tetap disini. Toh, Bagas juga anak kandung kita."


"Lho, kok bapak nyalahin ibu doang ?"


"Emang ibu yang berlebihan sama Dita."


"Kok aku sih, yang dibawa-bawa ?!"


"Bapak kamu emang aneh, Dit."


Ruang keluarga rasanya memanas. Aku tak terima disalahkan begitu saja. Bukan salahku, Bahasnya saja yang terlalu kekanak-kanakan dan cemburuan. Perasaan, sikap orang tua kami sama saja, tidak membedakan satu sama lain.


Tok... Tok...Tok


"Sudah debatnya, ada tamu itu. Dita, buka pintunya."


"Hhmmm" Dengan langkah malas, aku bangkit dan membuka pintu.


"Bella ?"


"Mbak Dita..."


"Kamu kenapa ada disini ? Mau ajak suamiku kerja sama lagi ?"

__ADS_1


"Bukan, Mbak. Ada hal penting yang mau aku omongin." Ucap Bella yang sedang menggendong anaknya yang berumur sekitar dua tahun. Dia juga membawa sebuah tas yang cukup besar. Aku suruh saja mereka masuk.


"Diminum dulu, Bell."


Kami berkumpul diruang tamu. Bapak dan ibu juga ikut duduk bersama. Mereka kepo dengan Bella yang dulu dituduh sebagai selingkuhan suamiku.


"Makasih, Mbak. Oh iya, Mas Adit mana, Mbak ?"


"Mas Adit lagi narik ojek, Bell. Kenapa, yah ? Kamu mau ngajak kerja sama lagi ? Wah, pas banget nih, bisa nambah cuan."


"Bukan itu, Mbak. Aku kesini mau jujur sama Mbak Dita. Aku sama Mas Raka sebenarnya sudah menikah. Dan ini Revan, anak kami."


"Hahaha, gila kamu, Bell. Aku tahu kamu konten kreator, tapi jangan ngeprenk segala. Mana ngaku-ngaku istri kedua suamiku lagi. Hahaha."


Gila ! Perempuan zaman sekarang mulai kurang waras. Gak lucu membuat konten seperti ini.


"Bener, Mbak. Ini buktinya, foto-foto waktu aku nikah dengan Mas Adit. Aku kesini mau minta tanggung jawab dia karena sudah dua bulan ini Mas Adit gak kasih nafkah. Meskipun aku istri kedua, tapi Mas Adit harus adil."


"Aaaa... Mbak, lepaskan !!!"


Aku cekik leher perempuan itu. Sialan, jadi Mas Adit benar-benar mengkhianati ku ? Aahh, kenapa aku terlalu bodoh sampai tidak menyadarinya.


"Terus, Dit ! Keterlaluan perempuan ini. Ternyata benar kata Ayu, suamimu selingkuh."


"Ambil anaknya, Bu."


Ibuku bergegas menggendong anaknya, lalu ditaruh di lantai begitu saja. Sementara aku, terus menjambak dan mencekik perempuan itu.


Seisi dada seolah dipenuhi kobaran api. Siap melahap siapa saja. Aku tak peduli sedang hamil, sekuat tenaga aku kejar Bella yang berlari keluar. Aku Jambak dan pukul perempuan itu.


"Gila kamu, Dita ! Lepaskan !!!"


"Lepaskan ? Dasar sialan kamu, Bella ! Wanita murahan, ****** !!!"


"Aaaa... Tolong !!!"


"Beraninya kamu membohongiku selama dua tahun !"


"Heh, salahkan dirimu yang tak becus menjaga suami."


"Aargghh... Sialan !!!"


Aku terus menjambak perempuan itu sekuat tenaga. Tak peduli halaman rumah ibu sudah dipenuhi banyak orang yang sedang menonton pergulatan ini.


"Terus lawan, Dita ! Ibu dukung kamu !" Aku mendengar suara teriakan ibu.


"Aneh kamu, Bu. Bukannya malu dilihatin banyak orang. Cepat bantu bapak misahin mereka."

__ADS_1


Bapak berusaha memisahkan kami, tapi tenaganya kalah kuat. Sampai bapak tersungkur karena tak sengaja terhempas tanganku.


"Hentikan !!!"


"Aw!"


Dari arah belakang Mas Adit menarik tubuhku. Dia mencengkram tubuhku sekuat tenaga. Sangat kuat dan erat sampai aku kesulitan bergerak.


"Gila kamu, Dita ! Jangan main hakim sendiri."


"Kamu yang gila, Mas ! Bisa-bisanya kamu selingkuh di belakangku !"


"Tenang dulu, kalau kamu gak mau diam, aku akan menceraikan kamu !"


Tubuhku mendadak lemas. Meski aku sangat sakit hati diselingkuhi, tapi aku tak mau Mas Adit meninggalkanku. Mau tak mau aku harus berusaha tenang.


"Lepas ! Aku tunggu penjelasan kamu di dalam !"


"Mas, Revan di dalam. Dia di taruh di lantai sama mertua Mas. Emang pada gak ada otaknya !" Teriak Bella. Mas Adit bergegas masuk dan menggendong anak itu. Sialan, suamiku kelihatan sangat menyayangi anak haram itu.


"Yah, kok berhenti sih. Dita, lanjut dong ! Nanti aku sebar biar viral. Asli, gayamu melawan pelakor mantapo betul. Sudah macam monyet kerasukan jin betina, hahaha." Ucap Inem, musuh bebuyutanku. Aku melotot ke arah Inem dan Intan.


"Nem, Nem... ayo kita pergi. Mau kamu dimakan macan kelaparan, hah ?" Intan menarik sahabatnya untuk menjauh.


Aku masuk ke dalam rumah, semua sudah berkumpul. Sial, Mas Adit malah duduk di samping Bella. Beraninya mereka mengumbar kemesraan di depanku !


"Adit, jelaskan semuanya !"


"Sebelumnya maaf, Pak, Bu. Tapi Bella ini memang istriku, istri kedua. Aku menikahinya dulu karena ingin punya anak, sementara Dita tak kunjung memberiku anak, padahal usia pernikahan kami sudah lima tahun."


"Tapi sekarang aku sudah hamil, Mas ! Gila aja kamu, cuma karena alasan begitu kamu selingkuh bahkan nikah diam-diam !"


"Maaf, Dita. Mas mana tahu kalau kamu juga bakalan hamil. Mas pikir kamu itu mandul."


"Aaaa... Sialan kamu, Mas ! Sudah selingkuh, sekarang mangataiku mandul !!! Gak lihat nih perut bentar lagi mau meletus, hah ???"


Aku emosi tingkat tinggi mendengar ucapan Mas Adit. Bisa-bisanya dia menghinaku di depan Bella. Sialan !!!


"Sudah, tenang, Dita. Jangan buat onar lagi. Percuma, mau kamu pukul mereka sampai mati pun, yang sudah terjadi tak akan kembali seperti semula."


"Pak, kamu kenapa malah bela menantu kurang ajar kayak Adit, sih ? Harusnya kamu bela Dita, anak kita."


"Ya, mau gimana lagi, Bu ? Lagian, bapak heran. Dita kenapa bisa dibohongi dan dibodohi begitu lama. Harusnya kita percaya dengan ucapan Ayu. Dia lebih peka dibandingkan Dita sendiri.


"Apaan sih, pak. Malah bahas Ayu ! Aku ini istri setia dan percaya pada suami. Makanya gak menaruh curiga."


"Benar juga kata bapak kamu. Harusnya kemarin kamu percaya sama Ayu, biar gak dibodohi begini."

__ADS_1


"Apaan sih, Bu, pak ?! Masalahnya apa, bahasnya apa !"


Kesal sekali, ibu dan bapak malah membahas Ayu disaat aku sedang pusing dengan kenyataan.


__ADS_2