
Dalam dua bulan ini, tidak ada perkembangan pada usaha pentol kami. Padahal bulan-bulan sebelumnya, pendapatan selalu meningkat setiap minggunya. Sekarang malah Mas Bagas lebih sering menambah uang pribadinya untuk modal, karena nyaris merugi.
"Mas, penghasilan dagang kita tumben menurun ?" Tanyaku sambil memperhatikan rekapan yang di buat suamiku.
"A-apa iya ? Mungkin memang lagi sepi aja, sayang. Namanya juga jualan, kadang ramai kadang sunyi."
Aku tak berkomentar lagi. Apa memang lagi sepi atau terjadi kebocoran keuangan ?
"Udah dua bulan ibu kamu gak kesini, Mas. Gimana sama rumahnya ?" Tanyaku mengganti topik.
"Mmm, Mbak Dita dapat uang buat bayar cicilan, jadi rumah gak disita."
"Oh ya ?"
Aneh, kenapa tiba-tiba bisa bayar cicilan ? Dapat uang dari mana ? Sementara hutang-hutangnya juga dimana-mana. Semenjak kedatangan ibu kemari tempo hari, ibu gak pernah muncul lagi. Biasanya sebelum mendapatkan apa yang dia mau, dia tak akan berhenti mengusik kami. Ada yang janggal disini. Aku harus selidiki.
"Mau kemana, sayang ?" Tanya Mas Bagas saat melihatku membawa tas.
"Mau ke tempat jualan, mau tanya sama Rina kenapa jualan kok bisa gak laku-laku."
"Gak usah, sayang. Urusan pentol biar Mas aja yang urus. Mungkin memang lagi sepi, namanya juga usaha."
"Ya gak bisa gitu dong, Mas. Kalau begini terus kita bisa rugi besar."
"Iya, nanti Mas saja yang cek kesana. Kamu fokus saja edit video buat konten kita. Kita belum buat konten untuk hari ini."
Aku mencium bau-bau keanehan disini. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Mas Bagas dariku. Dia pikir aku bisa dibodohi ? Oh, tidak semudah itu Fergusoh. Aku akan menyelidiki ini sendiri. Tunggu saja, sampai Mas Bagas tak bisa mengelak lagi.
Sekitar pukul 7 malam, Mas Bagas izin keluar untuk mengambil uang gaji di ATM.
Setelah memastikan suamiku pergi, aku pun segera bergegas ke kontrakan Rina yang letaknya tepat di samping kontrakan kami. Jam begini biasanya Rina sudah selesai jualan.
"Rin, Rina... buka pintunya dong." Aku mengetuk pintu dengan tidak sabar, sampai lupa memberi salam.
"A-ayu ?"
Aneh, wajah Rina terlihat gugup saat melihatku. Seperti melihat mbak Kunti saja. Padahal biasanya dia selalu senang jika aku datang ke kontrakan nya. Memang sih, sudah lebih dari sebulan kami tak bertegur sapa mungkin karena kesibukan masing-masing.
"Rin, aku mau ngobrol sebentar."
"Ngo-ngobrol apa ? Mm, aku, aku capek, Yu. Nanti saja, yah."
"Rin, kamu kok aneh sih ? Kenapa gugup begitu ? Kamu pasti menyembunyikan sesuatu. Iya kan ? Jujur sama aku, Rin."
"Ng, gak ada kok, Yu. Aku cuma capek, mau tidur. Aku masuk dulu yah." Rina seperti sedang menghindari aku.
__ADS_1
"Tunggu, Rin ! Gak biasanya kamu begini, bahkan menyuruh aku masuk saja, gak." Ucapku dan langsung masuk begitu saja.
Rina semakin gugup saat kami duduk berhadapan. Sikap Rina malah membuatku semakin yakin jika ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku, Rin ?"
"Gak ada, Yu."
"Oke, begini Rin, aku hanya mau tanya apa betul pentol lagi sepi pembeli ? Aku harap kamu jawab jujur, Rina. Kita sama-sama seorang istri, pastinya kamu juga tidak mau jika suami kamu berbohong, kan ? Jadi tolong, katakan yang sebenarnya."
"Maaf, Yu, tapi aku takut dipecat."
"Tenang saja, Rin. Aku jamin 100 % gak akan ada yang pecat kamu kalau kamu bicara jujur."
"Sebenarnya usaha pentol lagi rame. Sebelum Maghrib aja udah habis. Tapi Bagas sengaja bilang kayak gitu sama kamu dan minta aku untuk bohong biar gak ketahuan sama kamu."
"Maksudnya gimana ?"
"Uang hasil jualan pentol setiap harinya di ambil Bagas tanpa sepengetahuan kamu, Yu. Aku juga gak tahu uangnya buat apa. Tapi pernah aku lihat Bagas ngasih uang sama ibu-ibu yang tempo hari pernah aku lihat datang ke kontrakan kamu."
"Ibu-ibu ?" Aku mengernyit lalu mengambil ponsel. Aku tunjukkan sebuah foto pada Rina.
"Apa ibu ini yang kamu lihat ?" Tanyaku menunjukkan foto ibu mertuaku.
"Astaghfirullah," sentakku langsung berkacak pinggang. Badan rasanya panas terbakar emosi.
"Beraninya Mas Bagas selingkuh."
"Perempuan itu simpanannya Bagas, Yu ? Ibu-ibu kayak begitu ?"
"Maksudnya, selingkuh duit, Rin. Mas Bagas sudah bohong sama aku."
"Kamu yang sabar, Ayu. Jangan bawa-bawa aku yah, aku takut dipecat."
"Aman, Rin. Tenang aja."
Aku pun segera pamit dan kembali ke kontrakan. Aku masuk ke rumah, menunggu dengan gejolak emosi. Namun Mas Bagas tak kunjung datang. Akhirnya setelah hampir setengah jam menunggu, suara motor Mas Bagas terdengar.
"Sayang, muka kamu serem banget sih. Kayak orang kesurupan aja." Ucap Mas Bagas saat masuk. Aku melotot sambil meraung kesal. Mengamuk sambil berteriak bak kuntilanak. Daripada pukul suami, bisa kena KDRT, mending mengamuk persis orang kesurupan.
"Yu, istighfar Ayu..."
"Arghh! Pembohong !"
"Ya Allah, Ayu. Setan apa yang masuk ke tubuh kamu ?"
__ADS_1
"Setan istri tersakiti ! Hihihi... hihihihi"
Plak!
Mas Bagas menabokku dengan uang. Seketika emosiku reda. Aku rebut semua uang yang dia pegang. Lumayan tebal juga.
"Kamu sudah sadar, Yu ?" Tanya Mas Bagas dengan raut wajah bingung.
"Sadar ! Mas pikir aku kesurupan ? Ih, aku tuh lagi kesel sama kamu, Mas. Kamu tega."
"Tega kenapa ?"
"Kamu ambil keuntungan usaha pentol kita. Uangnya kamu pakai buat apa ? Buat jajan apem basi di luar sana ?"
"Astaghfirullah, Mas gak mungkin melakukan hal menjijikkan seperti itu."
"Terus uangnya buat apa ?" Tanyaku pura-pura tidak tahu. Aku hanya ingin Mas Bagas jujur untuk apa dia memberikan uang yang banyak pada ibunya, dan tanpa sepengetahuan ku.
"U-uangnya..."
"Buat apa ?"
Aku cengkram tangan Mas Bagas sambil melotot.
"Uangnya buat bayar cicilan bank."
"Argh !!!" teriakku emosi.
"Ma-maaf sayang,"
"Astaghfirullah ya Allah, inalillahi..."
"Tenang, Yu..."
"Minum, Mas !" Ucapku sambil mengibas-ngibaskan tangan di dari atas kepala sampai dada, seakan sedang mendinginkan otak sampai hati.
"Minum apa, sayang ?"
"Es teh manis, buruan !" Sentakku.
"Oke, tunggu !"
Aku mencoba menenangkan hati. Kekesalan ini cukup membuatku sedikit depresi, tak menyangka suami bisa membohongiku. Aku tarik nafas yang dalam agar tenang. Seorang Ayu tidak bisa nangis-nangis Bombay. Aku akan mengekspresikan uneg-uneg ku. Enak saja, pas susah aku yang diandalkan. Pas ekonomi meningkat, orang tuanya yang enak-enakan. Kalau mertuaku baik dan tidak pilih kasih, aku akan ikhlas lahir batin.
Tapi realitanya, mertuaku hanya ingat kami saat susah saja. Bahkan sama sekali tak mendukung saat kami terpuruk. Hanya Mbak Dita yang selalu dipikirkan dan dipedulikan. Nyatanya, anak kesayangan malah menyusahkan.
__ADS_1