
Aku duduk santai di ruang tamu, terdengar aktifitas Mbak Dita yang sedang memandikan Lea. Tak lama, Ibu pun tampak membantu menggendong Lea, sementara Mbak Dita mengerjakan pekerjaan rumah sesuai perintahku.
"Dita, Si Reza kemana, cepetan kamu minta dinikahin. Nanti ibu ikut sama kamu, malas tinggal disini."
"Ah, malas sama Reza Bu, dia gak sekaya yang aku bayangkan."
"Lah, kok bisa ?"
"Tau ah ! Udah, jangan banyak tanya, Bu."
"Ya udah, kamu sama anaknya juragan Warso saja !"
"Idih, dia itu jelek banget, Bu. Mana terkenal genit luar biasa."
"Yang penting kaya, Dit."
Astaghfirullah, duo mata duitan tingkat tinggi. Ibu ini, ada-ada saja menasehati anaknya. Bukannya menunjukkan jalan baik, malah membuat anaknya tersungkur dalam hal yang tidak baik. Dipikir nikah hanya butuh harta ? Memang iya, segala-galanya dibeli dengan uang. Tapi kebahagiaan dan kedamaian tak bisa dibeli dengan uang. Dalam rumah tangga itu dibutuhkan kerja sama yang baik antara suami dan istri. Bukan melulu soal uang, tapi soal kehangatan, kebersamaan dan kesetiaan.
"Heh, Ayu ! Kamu nguping, yah ?"
"Bukan nguping, Mbak. Cuma ikut dengerin. Suruh siapa ngobrolnya di tempat umum."
"Sama aja, dasar kurang ajar. Nih, udah beres semua. Mana ponsel aku ?"
"Di lemari dekat tv. Ingat yah, Mbak, kalau Mbak kelihatan santai-santai gak mau urus anak dan pekerjaan rumah, aku gak segan ngasih Mbak sapu. Kalau Mbak gak mau, yah, silahkan angkat kaki dari rumah ini."
"Sialan ! Kamu mau jadiin aku babu ?! Lihat aja, aku bakalan dapat pria kaya !" bentaknya emosi. Dia menyenggol lenganku saat berpapasan di dekat pintu.
"Ayu, jangan kasar dan kurang ajar begitu, Nak. Ibu tahu kamu aslinya baik." ujar Ibu mertua setelah Mbak Dita pergi.
"Bukan kurang ajar, Bu. Tapi aku mengajarkan hal yang baik."
"Tapi itu keterlaluan, Ayu. Kamu pikir anak ibu pembantu ? Dia itu pendidikannya lebih tinggi, dan lebih tua dari kamu, harusnya kamu hormat sama dia, bagaimanapun keadaannya sekarang."
"Kalau berpendidikan harusnya pinter, Bu. Bukannya kebelinger.
"Terserahlah ! Ibu pusing ngomong sama kamu." Ibu melengos membawa anaknya Mbak Dita.
***
__ADS_1
Malam-malam aku melihat Ibu dan Mbak Dita masuk ke kamar Bapak. Aku intip saja dari celah pintu yang tak tertutup rapat.
"Gini Pak, anak kita kan udah lama jadi janda, gak enak juga diomongin tetangga, disangka yang gak-gak. Pas banget, ada cowok yang suka sama anak kita, jadi ibu mau bapak merestui Dita untuk menikah lagi."
"Bapak terserah Dita saja. Asal suaminya pria baik dan saleh, agar bisa membimbing Dita jadi lebih baik. Selama ini kita sudah salah mendidik Dita, Bu, sampai dia tumbuh besar seperti ini. Beda jauh dengan Bagas."
"Dih, apaan sih, Pak. Lagi-lagi Bagas, Bapak kok jadi pilih kasih. Mentang-mentang Dita gak bisa kasih duit."
"Pak, jangan gitu sama anak sendiri. Ibu gak mau kalian ribut, udah, bapak setuju apa gak ?"
"Memangnya siapa pria yang mau menikahi Dita ?"
"Anaknya Juragan Warso."
"Anak juragan Warso ? Juragan rokok ilegal, sekaligus rentenir itu ?"
"Iya, juragan tembakau dia, Pak."
"Tapi dia juga punya usaha rokok ilegal, Bu."
"Ya iya, tapi intinya banyak duit."
"Lha, kenapa gak setuju ? Demi kebaikan anak kita, Pak. Bapak ini sekarang suka gak sejalan sama ibu."
"Aldi kan yang ibu maksud ? Dia itu pria mesum. Banyak gosip buruk tentang dia. Katanya tukang main perempuan dan kasar."
"Halah, itu cuma gosip, Pak. Buktinya dia bercerai karena mantan istrinya yang selingkuh."
"Intinya bapak tidak setuju !"
"Pak... Pak, anaknya mau jadi kaya raya malah gak didukung. Duit Si Aldi itu banyak, Pak. Ya, walaupun mukanya jelek, tali gak jelek-jelek amatlah. Dita udah sebulan ini dekat sama dia, orangnya baik."
Oh, pantas saja satu bulan ini Mbak Dita suka beli barang-barang mahal. Makin hari makin bergaya juga. Padahal, belum la aku dengar dia tak mau dengan anaknya juragan Warso. Inilah definisi cinta karena uang.
"Menikah karen agamanya, Dita. Dulu kamu menikahi Adit karena dia tampan, lihat hasilnya. Dia meninggalkan kamu. Carilah pria yang akhlaknya baik."
"Halah, bapak banyak ceramah, kayak Si Ayu sama Si Bagas ! Ngomong aja kalau bapak mau anaknya terus dihina adik sendiri. Bapak pilih kasih !"
"Kamu ini, sudah dewasa tapi tidak bisa berpikir yang benar."
__ADS_1
"Bapak yang gak bener ! Selalu belain Si Bagas. Mentang-mentang dia banyak duitnya. Liat aja, nanti kalau aku sudah nikah sama Aldi, bakal aku kasih semua yang bapak dan ibu mau."
"Astaghfirullah, Dita ! Pikiran kamu buruk sekali."
"Bodoamat, pokoknya Dita mau nikah ! Bapak cukup jadi wali saja."
"Bu, nasihati anakmu !"
"Maaf, Pak, kali ini Ibu merasa benar dengan keputusan Ibu dan Dita."
Aku segera kembali ke kamar sebelum Ibu dan Mbak Dita keluar kamar.
"Sayang, kamu lama banget ke dapur, mana minumnya ?"
"Astaga ! Maaf Mas, aku lupa."
Aduh, gara-gara terlalu seru menguping sampai lupa niat awal keluar kamar. Aku keluar lagi, ternyata ibu dan Mbak Dita ada di dapur.
"Jadi, kapan Aldi mau menikahi kamu, Dit ?"
"Dia minggu lagi, Bu. Lusa lamaran, terus nikah disini. Katanya gak usah resepsi, karena bukan pernikahan pertama. Tapi aku mau dikasih mobil sebagai maharnya, Bu. Terus aku juga langsung tinggal di rumah sendiri."
"Serius, Dit ?"
"Iya, Bu, masa bohong."
"Hati-hati, Mbak, cowok kalau lagi bucin emang gitu. Tapi lihat juga aslinya, jangan terburu-buru memutuskan untuk menikah." ujarku sambil menuang putih.
"Heh, gak usah ikut campur kamu ! Ngomong aja kalau kamu takut kalah saing, huuh !"
"Hahaha, dih, sorry yah Mbak, Alhamdulillah aku udah bahagia, ngapain mengusik hidup Mbak."
"Halah, manusia sirik. Aku belum kaya aja udah ketakutan."
"Aduh, susah ngomong sama orang yang kupingnya kebanyakan biji toge. Tersumbat semua kata-kata baik yang mau masuk. Udahlah, terserah, suka-suka Mbak sajalah."
"Iyalah, makanya gak usah ikut campur !"
Oke, siapa juga yang mau ikut campur. Itu sih, pilihan Mbak Dita, biar dia merasakan sendiri akibat dari pilihannya yang terlalu cepat tanpa pertimbangan. Aneh sih, sudah pernah kecewa, menderita, suaminya mendua, masih saja tidak ada kapok-kapoknya. Harusnya, apa ya g sudah terjadi di masa lalu bisa di jadikan pelajaran, bukan malah semakin bertingkah. Belajar dari pengalaman, ini malah hidup asal-asalan, yang penting berduit saja.
__ADS_1
Ya sudahlah, kita lihat saja bagaimana garis takdir Mbak Dita dengan pria pilihannya. Sebagai saudara, yah, walaupun tak dianggap, aku hanya bisa mendoakan agar dia sadar dan bisa menikmati hidupnya.