Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Benalu


__ADS_3

"Pas banget kamu sudah pulang, Mas." Ucapku ketika Mas Bagas baru saja memasuki rumah.


"Kenapa, sayang ? Anak kita kangen ? Atau ibunya yang kangen ?"


Aku tak menggubris rayuan suamiku.


"Aku mau nanya."


"Silahkan, mau nanya apa, sayang ?"


"Gak, sayang. Mas gak pernah kasih duit ke Mbak Dita. Dia punya suami, kenapa harus Mas yang kasih ?"


"Kamu sering ke rumah ibu ? Kenapa gak ngajak aku ?"


"Oh, soal itu. Iya, Mas sering kesana, tapi pas ibu ngeluh sakit. Kadang juga kalau pas lagi cek cabang yang ada di desa ibu, ibu telepon ya Mas sekalian kesana."


"Terus, kamu kasih duit sama Mbakmu ?"


"Ah, masa ? Suaminya kan udah bangkrut, Mas. Dan setahuku, sekarang Mas Adit sudah jarang kirim uang buat Mbak Dita. Terus kenapa dia bisa belanja-belanja barang dan baju di pasar ? Duit dari mana lagi, kalau bukan dari kamu."


"Mungkin Mas Adit udah punya uang kali, sayang. Udah, jangan mikir yang macam-macam. Tumben kamu bahas-bahas kayak gini. Habis ketemu siapa, emang ?"


"Mbak Intan."


"Oh, pantas. Gak baik dekat-dekat sama dia. Mbak Intan terkenal tukang gosip."


"Hhmm, tapi gosipnya benar kan ? Mas jujur saja, sering ngasih duit ke ibu atau Mbak Dita, gak ?"


"Serius sayang, gak pernah ngasih ke Mbak Dita. Tapi kalau ibu... emang setiap Minggu Mas kasih tambahan."


"Tuh kan, benar ! Kamu gak jujur !"


"Mas mau jujur tapi lupa, soalnya ibu minta uang tambahannya mendadak. Katanya ada keperluan bayar hutang bank keliling, sakit, arisan, dan banyak lagi alasannya."


"Kenapa di kasih, Mas ??? Itu pasti alasan doang, disuruh sama Mbakmu. Ihh, kesel aku sama kamu, Mas !!!" Segera aku melangkah meninggalkan Mas Bagas sendirian dan masuk ke kamar.


Percuma aku mengomel panjang kali lebar. Sampai lebaran monyet pun Mas Bagas tak akan paham. Mentang-mentang banyak duit, jadi seenaknya. Kalau buat orang tuanya saja tak apa, tapi kenyataannya Mbak Dita pasti memanfaatkan keadaan.


Baiklah, sepertinya aku memang harus mengambil keputusan terberat. Kita lihat saja, Mbak Dita. Tak akan ku biarkan kamu memanfaatkan suamiku.


.


.

__ADS_1


Hari ini, sebelum Mas Bagas ke tempat produksi pentol, aku menyampaikan keputusanku untuk pindah ke rumah ibu.


"Sayang, kamu serius mau pindah ke rumah ibu ?" Tanya Mas Bagas dengan ekspresi tak percaya.


"Ya serius, Mas. Aku sudah memutuskan dengan sadar, ikhlas dan percaya diri. Hehehe,"


"Tumben..."


"Dih, emang kenapa ? Masalah buat bapak Bagas ? Itu kan rumah kita."


"Gak sayang, Mas malah senang kalau kamu mau tinggal sama ibu. Semoga makin akur, yah. Perut kamu kan juga makin besar, pasti kamu kesusahan. Dan, biar ada yang bantu pas kamu lahiran nanti."


"Iya, bapak Bagas tercinta." Jawabku yang langsung mendapat ciuman di kening oleh suami.


Mulai hari ini kami bersiap membereskan barang-barang. Hari Minggu nanti bariu dibawa ke rumah mertua. Sebenarnya capek juga bolak balik pindahan apalagi dalam kondisi hamil begini, tapi ini demi misi rahasia. Aku mau sedikit mengusik kakak iparku dulu, biar tak seenaknya minta duit sama suamiku. Mereka pikir aku ini peternak uang ? Sekalian aku juga berencana untuk membeli tanah dan rumah di desa sebelah. Disana lebih dekat dengan lapak-lapak kami, jadi bisa lebih mudah untuk mengontrol jualan. Aku sudah punya tabungan lima puluh juta. Cukuplah buat beli tanah. Nanti setelah lahiran aku akan fokus lagi buat ngonten, untuk biaya bangun rumah.


"Assalamualaikum, Ayu !"


"Ayu !"


Ada yang memanggil-manggil namaku dari luar saat aku sedang sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper.


"Sepertinya ada tamu, Mas. Tolong bukakan pintunya, yah. Aku lagi ribet nih."


Mas Bagas pun beranjak ke depan untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang bertamu pagi-pagi begini.


"Ibu, Mbak Dita?"


Dari kamar aku mendengar, ternyata tamunya adalah ibu mertua dan kakak iparku. Langsung saja aku tinggalkan aktifitasku dan langsung menyusul Mas Bagas ke depan.


"Kalian beneran mau pindah ke rumah ibu ?" Tanya ibu mertua tanpa basa basi.


"Rumah kami maksudnya, Bu ?" Aku meralat ucapan ibu mertuaku.


"Iya, itu. Mentang-mentang udah balik nama."


"Hehehe, iya dong, rumah kami, jadi kami bebas kapan pun mau tinggal disana."


"Sudah, kalian ngontrak aja."


"Lho, kok ibu ngatur ? Perasaan beberapa bulan lalu, ibu yang suruh kami untuk tinggal disana."


"Itu dulu, dipikir-pikir lagi, lebih baik kamu tinggal di kontrakan saja."

__ADS_1


"Terserah aku dong, Bu. Rumah, rumah aku."


"Ih, jadi mantu susah banget dibilangin. Sudah, kalian ngontrak saja, biar lebih nyaman. Kalau kalian juga pindah ke rumah, nanti makin sesak rumahnya. Ditambah Adit juga mau tinggal dirumah ibu."


"Lho, bukanya mbak Dita punya rumah sendiri ? Kenapa malah jadi benalu di rumah kami ?"


Bukannya menjawab, ibu dan Mbak Dita malah saling pandang. Aneh sekali mertua dan kakak iparku ini.


"Kenapa di, Bu ? Rumah Mbak Dita masih ada kan ? Atau jangan-jangan...." Mas Bagas tak melanjutkan kata-katanya.


"Rumah Dita baru dijual bulan kemarin."


Aku dan Mas Bagas saling tatap, tak habis pikir dengan kehidupan Mbak Dita.


"Ihh, ibu pake ngomong segala !" Mbak Dita protes.


"Gak-gak apa, Dit. Biar adik ipar mu ini prihatin sama keadaan kamu."


Aku hanya bisa geleng-geleng kepala dengan pikiran ibu mertuaku.


"Kenapa dijual, Mbak ? Kenapa gak bilang ke Bagas ?"


"Bilang ke kamu ? Emang kamu bisa bantu ? Suami Mbak butuh duit, jadi harus dijual buat modal usaha." Jawab Mbak Dita jutek.


"Terus, kenapa Mas Adit juga mau ikutan tinggal dirumahku ?"


"Dia bilang sepi jualan di Jakarta, mau jualan di desa saja."


"Kok bisa gitu ? Bukannya di Jakarta peluangnya malah lebih besar. Lagian, Mbak setuju-setuju aja rumah dijual, kalau begini kan kami yang repot harus nampung kalian dirumah kami."


"Kamu kan bisa ngontrak, Ayu. Kasihan Dita kalau harus ngontrak gak ada uang. Kamu ikhlaskan saja mereka tinggal di rumah ibu, eh rumah kamu maksudnya. Sementara, kamu dan Bagas ngontrak dulu."


"Kok ibu yang ngatur, sih ? Pokoknya Ayu bakal tetap pindah ke rumah."


"Bagas, coba bilangin istri kamu. Heran, susah banget kupingnya kalau dibilangin orang tua."


"Maaf, Bu. Tapi Bagas juga setuju kalau Ayu tinggal dirumah ibu, biar nanti kalau lahiran ada yang bantuin. Udah yah, Bu. Jangan debat lagi. Bagas mau ke tempat produksi pentol dulu."


"Bagas ! Kamu ini jadi adik bukannya mendukung kakaknya, malah kayak gini." Sentak Mbak Dita kesal.


"Emang Mbak pernah mendukung Bagas ?"


Mbak Dita langsung membisu, salah tingkah termakan omongan sendiri. Mas Bagas pamit pergi, hari ini jadwal mengecek bahan di tempat produksi pentol.

__ADS_1


Tumben suamiku sedikit tegas. Baguslah ! Setidaknya dia lembek lagi seperti ongol-ongol lembek, dan mudah terpengaruh. Tinggal aku perbanyak beri komat Kamit, eh maksudnya Doa istri yang tersakiti, mujarab sekali membuat suami nurut.


__ADS_2