
"Permisi... Paket !!!"
"Wah, pasti paket aku udah datang, nih."
Tapi aneh, perasaan baru semalam pesan, kenapa hari ini paketnya sudah sampai. Aku lihat dulu, tahu saja memang cepat pengiriman barangnya.
"Atas nama Mbak Dita ?" tanya Si kurir.
"Iya, mana paketnya, Mas."
"Ini, Bu."
"Bunga ??? Perasaan saya gak pesan bunga."
"Itu ada suratnya, mungkin ada nama pengirimnya, Mbak."
"Mas Adit ?" Dahiku mengernyit heran. Mas Adit masih saja terus mengganggu hidupku. Kenapa dia segala mengirim bunga. Nambah masalah saja.
"Mas, ini bawa lagi saja, Mas."
"Tapi, Bu..."
"Bawa saja, Mas. Nih, saya kasih lima puluh ribu, bawa paket ini jauh-jauh dari sini. Buang ke tong sampah juga gak apa-apa."
"Oke, Mbak, siap !"
Aku masuk ke rumah dengan perasaan cemas. Semoga saja Mas Aldi tidak tahu. Bahaya kalau dia tahu, bisa-bisa aku direndam dalam bak. Aduh, kenapa sih pria gila itu masih saja terus menggangguku.
Lebih baik aku chat Mas Adit biar dia tak mengganggu lagi. Aku kirim pesan lewat FB karena tak punya nomor teleponnya.
[Heh, Adit stres ! Jangan ganggu aku lagi ! Awas saja kalau kamu berani bertingkah, aku laporkan polisi ! Hidupku bisa dalam bahaya kalau kamu terus menerus mengganggu. Suamiku bisa menghabisi kita berdua.]
Aku sengaja mengirim pesan ekstrim biar Adit sadar, tingkah konyolnya hanya bisa melukaiku.
"Dita !"
"I-iya, Mas..."
Aduh, Mas Aldi sudah pulang. Aku harus bersikap biasa, jangan sampai menunjukkan sikap yang mencurigakan. Sebelumnya aku hapus dulu semua pesan. Pria itu suka mendadak memeriksa ponselku, jadi harus hati-hati.
"Kenapa, Mas ?"
"Siapkan aku makan."
"Siap, Mas. Sudah siap, ayo kita makan."
__ADS_1
Aku segera menuju meja makan, menuangkan rendang daging dan kentang balado. Syukurlah, Mas Aldi dalam mode santai. Dia makan dengan lahap, aku layani sebaik mungkin. Sepertinya dia tak tahu Mas Adit masih mengganggu.
"Mbok..." panggil Mas Aldi. "Kemana sih Mbok ?"
"Kamu mau apa, Mas ? Biar aku yang layani."
"Aku mau ngomong sama Mbok. Mbok !"
"Iya, Mas." Mbok datang dengan sedikit berlari.
"Mbok, dari mana saja ? Terus, ngapain gendong-gendong Si Lea ? pantas saja rumah kelihatan berantakan. Ibu kamu mana, Dita ?"
"I-ibu sakit, Mas. Udah seminggu, gak sembuh-sembuh."
"Bawa ke dokter dong, kalau sakit rebahan terus kayak gini bikin repot saja."
"Sudah, Mas. Tapi belum sembuh juga."
"Jangan-jangan ibumu sengaja mau santai-santai. Mana ibumu, aku mau bicara."
"Mas !" teriakku mencegah Mas Aldi, tetapi dia tetap pergi ke kamar ibu.
"Bu... tidur terus ! Enak yah, Bu, makan gratis, apa-apa gratis. Ngurus bayi aja gak mampu !"
"Nak Aldi, ibu benar-benar gak enak badan. Lemas sekali. Izin istirahat dulu."
"I-iya, Mas."
Nafasku tercekat, bagai tertindih batu katlrang. Arrghh, masalah demi masalah ters saja datang. Belum selesai urusan Ma Adit, ibu buat masalah juga. Apa aku kirim saja ibu ke Jakarta ? Tapi apa kata tetangga nanti, pasti aku dicemooh karena dicap anak durhaka. Biar Bagas saja yang dicap begitu.
"Bu, nanti periksa sendiri sam supir. Pusing aku lihat ibu kayak gini."
Ibu hanya diam saja. Andalannya menangis, bikin kepala tambah pusing saja. Lama kelamaan aku kirim saja ke panti jompo. Biar Bagas dan Ayu tidak tahu. Kalau mereka yang mengurus ibu, pasti makin besar kepala.
Lagi pusing-pusingnya sama ibu, malah dapat pesan dari orang gila.
[Suami barumu kasar ? Bilang sama aku, biar aku balas pria pengecut itu. Lebih baik kamu sama aku saja. Uang masih bis dicari, tapi kau suami baik hati, hanya aku, Dita.]
[Amit-amit ! Sana sama Bella ! Jangan ganggu aku. Awas saja kamu kalau berani ganggu lagi.]
[Kalau itu yang kamu mau baiklah, aku tak akan mengganggu lagi, tapi tetap mengawasi dari jauh. Kalau kamu butuh apa-apa bilang saja. Tapi, aku hanya bisa memberikan kasih sayang. Aku titip Lea, sayang.]
Aku blokir saja sosial media Mas Adit. Semakin ditanggapi tingkahnya semakin menjadi. Harus diabaikan agar sadar.
***
__ADS_1
Hari ini aku mau menghilangkan kejenuhan dengan memanjakan diri dan berbelanja. Namun, baru saja bersenang-senang, begitu pulang aku dikagetkan dengan kedatangan Bagas dan Ayu.
"Hei, Mbak..."
Mereka sudah duduk di ruang tamu.
"Ngapain kalian kesini ?"
"Segala nanya lagi, Mbak. Ya mau jemput ibu dong. Mbak sih, gak becus kalau ngurus, emak sendiri dijadikan pembokat, heran."
"Fitnah kalian ! Ibu disini senang, makmur, dan banyak duit. Gak usah usik ibu lagi. San kalian pergi saja !"
"Kami mau ajak ibu tinggal di Jakarta."
"Heh, enak aja kamu, Gas !"
"Terserah Mbak mau gimana, ibu sendiri yang minta."
"Bagas... Dita..."
Ibu keluar dituntun pembantuku. Dia membawa barang-barangnya. Ada-ada saja kelakuan ibu, kenapa mendadak mau pindah ? Tak bisa dibiarkan, nanti Si Ayu malah menyebar gosip yang tidak-tidak. Jangan sampai tetangga berpikir aku kaya tapi tak mampu mengurus orang tua.
"Bu, masuk lagi ke kamar."
"Dit, ibu mau ikut Bagas sama Ayu saja. Ibu gak sanggup disini, ibu gak kuat, Dit, harus ngurus anak kamu. Kondisi ibu sudah sakit-sakitan."
"Lebay banget sih, Bu. Nanti juga sembuh."
"Sembuh dari Hongkong ? Ibu kena tipes, dia harus dirawat. Aku dan Mas Bagas mau merawatnya di rumah ibu." sela Ayu.
"Ibu itu cuma sakit biasa, nanti juga sembuh."
"Mbak, jangan halangi Bagas. Tugas Bagas merawat ibu sesuai amanah almarhum bapak. Setelah sembuh, kalau ibu mau tinggal bersama Mbak lagi, silahkan saja !"
"Janganlah, Mas ! Ibumu bisa jadi candi hidup tinggal sama anak kayak Mbak Dita ini. Udah kaya, bukan membahagiakan orang tua, malah dijajah disuruh kerja rodi. Kapan-kapan bedah izin kepala, Mbak, biar pikirannya normal."
"Diam !" bentakku emosi. Aku Jambak kerudungnya Si Ayu, sialan dia malah mendorongku, untung tidak kena tembok.
"Bu, cukup, Bu !" teriak Pak Satpam. Dia memisahkanku, sementara Bagas memegangi istrinya yang kurang ajar itu.
"Bu, lebih baik kita ke pabrik rokok, bapak sedang ribut dengan pria yang pernah kesini itu, Bu."
"Hah ? Mas Aldi ribut sama Mas Adit ?"
"Sepertinya iya, Bu. Kita haru ke pabrik, sepertinya mereka masih baku hantam."
__ADS_1
Aku tinggalkan saja mereka, bodoamat, biar saja kalau mereka mau membawa ibu. Dari pada ibu disini hanya menambah masalah. Aku segera bersiap menggunakan motorku menuju pabrik rokok Mas Aldi. Tempatnya tak jauh dari rumah, hanya sekitar lima menit menggunakan motor.