
"Bapak kenapa, Mas ?" Sentakku kesal. Mas Bagas malah diam melongo, lalu duduk begitu saja. Aku ambil air putih, menyuruhnya minum agar lebih tenang.
"Istighfar, Mas... serem ih, kayak kesambet kolor ijo. Baca istighfar, Mas... Astaghfirullah,"
"Astaghfirullah, Ya Allah, Mbak Dita gak ada habisnya buat perkara."
"Maksudnya ?"
"Kata Joni, bapak masuk rumah sakit, kena serangan jantung karena lihat video Viral Mbak Dita."
"Ya Allah... Ya udah, ayo Mas kita ke kampung."
Aku berdiri untuk siap-siap, menyuruh bibi untuk memegang Kiara dulu. Aku harus memasukkan beberapa baju dan barang penting yang harus dibawa ke kampung.
"Mas, malah bengong kayak oran kesambet. Ayo siap-siap."
"Gak usah, sayang... Biar Mas kirim uang saja, kita gak usah kesana."
"Ih, Mas ! Masa kayak gitu, kalau bapak kenapa-kenapa, gimana ? Ayo kita pulang, lupakan keegoisan kamu, hilangkan kebencian, jangan sampai kamu menyesal, Mas."
Suamiku masih diam, tampaknya dia sedang mempertimbangkan ucapanku. Aku terus mempengaruhinya dengan kata-kata ajakan, kebaikan dan nasehat, agar suamiku sadar.
"Mas, mau kemana ?"
"Pabrik."
"Mas !" Teriakku berusaha menghentikan Mas Bagas, tapi suamiku tak mendengar sama sekali. Aku sudah bersiap-siap pulang, suamiku malah kembali kerja.
"Mas, pikirkan lagi, Mas." Ujarku sambil mengejar Mas Bagas sampai halaman depan. Suamiku masih diam dan tetap melajukan mobilnya.
"Mas !"
Ya Allah, setan apa yang merasuki suamiku, sampai dia memiliki kebencian yang sangat mendalam terhadap keluarganya.
"Assalamualaikum, Hallo Mbak Rina..."
"Waalaikumsalam, pas banget kamu nelpon, Yu. Mbak baru aja mau telepon kamu, tapi lupa terus, banyak urusan ini itu."
"Iya Mbak, gak apa-apa. Ayu mau tanya, itu Bapaknya Mas Bagas kenapa yah, Mbak ? Mbak sama Mas Joni udah nengok ?"
"Itu juga yang mau aku omongin. Bapak mertuamu kritis, kena serangan jantung karena ulah Mbak iparmu itu. Sekarang belum sadar, kasihan ibu mertuamu. Tapi Si Dita kayak peduli gak peduli, masih aja ngurusin suaminya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, aku jadi khawatir sama bapak, Mbak. Aku udah coba bujuk Mas Bagas buat pulang, tapi dia nolak."
"Ya Allah, Si Bagas kenapa sih ? Kasihan bapaknya disini. Mas Joni juga suruh Bagas untuk pulang, malah dikasih duit buat ngurus biaya rumah sakit."
"Aduh, aku juga gak tahu, Mbak. Aku harus gimana yah, Mbak ? Nih, kepala panik, otak buntu, bingung cari solusi. Aku takut bapak kenapa-kenapa, nanti suamiku bakal nyesel sendiri karena gak mau nemuin bapaknya.
"Kamu coba bujuk terus, Yu. Takut bapak mertuamu gak ada umur."
"Iya Mbak, aku coba lagi. Tolong kabari terus keadaan disana yah, Mbak. Kalau gak ngerepotin, Mbak tunggu dulu di rumah sakit sampai bapak sadar."
"Tenang aja, Yu, Mas Joni yang jagain. Aku disuruh jaga di rumah, soalnya usaha pentol harus dipantau dulu.
"Alhamdulillah kalau gitu, Mbak. Kabari terus yah."
"Siap, Yu. Kamu tenang aja, yah."
Aku ucapkan banyak terima kasih pada Mbak Rina dan Mas Joni. Ini yang dinamakan sahabat rasa saudara, mereka selalu mau membantu dan dilibatkan dalam masalah keluargaku. Aku bersyukur sekali punya sahabat seperti mereka.
Setelah menelepon Mbak Rina, perasaanku belum tenang juga, padahal aku juga sudah menyuruh Mbak Intan datang ke rumah sakit, membawakan ibu makanan, dan memberi dukungan. Aku sudah transfer uang untuk beli makanan dan buah-buahan. Kasihan ibu mertuaku, pasti dia panik dan lupa makan.
"Ma, tolong bujuk Mas Bagas, Ma."
Aku sudah menceritakan kondisi terkini pada Mama. Berharap nasehat dari Mamaku bisa menembus relung hati Mas Bagas dan meluluhkan hatinya.
"Makasih, Ma." Hatiku terasa lega setelah mencurahkan gelisah yang bergelora ini pada ibu tercinta. Semandiri apapun seorang anak, ibu merupakan sandaran paling nyaman saat merasa masalah begitu menghimpit dada.
***
"Bagas, Mama mau bicara, boleh ?" Tanya Mama menghampiri Mas Bagas yang sedang menonton TV. Aku mengintip dari dapur.
"Iya, Ma, kenapa ?"
"Kata Ayu, bapak kamu sakit. Kenapa tidak pulang dulu, Nak ?"
"Hhm, Bagas sudah bantu biaya pengobatan, Ma. Disana ada Mbak Dita, pasti bapak dan ibu lebih senang ditemani Mbak Dita dari pada Bagas."
"Ya Allah, Bagas... Kamu ini kata siapa ? Yang namanya orang tua, apalagi kondisinya sedang sakit, pasti mau anak-anaknya kumpul. Bukan cuma butuh uangnya saja."
"Mungkin Mama dan orang tua lain diluar sana berpikir kayak gitu. Beda sama orang tuaku, Ma."
"Jangan gitu, Nak. Semua orang tua sayang anaknya. Mungkin kadang sikap mereka terlihat pilih kasih, namanya juga orang tua itu bukan malaikat, Nak. Bisa saja berbuat salah dan lupa. Dia pikir sudah berbuat sama rata, tapi kenyataannya tidak. Meskipun begitu, Mama yakin semua orang tua sayang sama anaknya."
__ADS_1
Suamiku menunduk sambil mengusap matanya. Suasana mendadak kelabu, mungkin hati dan pikiran suamiku sedang berperang, saling beradu pendapat, antara memaafkan dan pulang, atau tetap disini mempertahankan egonya.
"Coba Bagas renungkan, meski bapak dan ibu kamu kelihatan pilih kasih, tapi mereka yang membiayai kamu sejak kecil. Memandikan kamu, merawat kamu sampai kamu sebesar ini. Apa kamu pernah dibiarkan kelaparan ?" Mas Bagas menggeleng, dia masih menunduk menyembunyikan tangisnya. Mama mengelus pelan punggung Mas Bagas.
"Bagas sakit hati, Ma. Hiks, hiks."
"Bagas benci sama bapak dan ibu. Mereka gak pernah nanya mau Bagas apa, kondisi Bagas bagaimana, apa yang Bagas rasakan, mereka gak pernah ngerti, Ma. Hiks, hiks" Tangisan suamiku pecah. Dia menangis sambil sesenggukan. Mataku ikut berkaca-kaca mendengar suara tangisannya. Seumur-umur hidup bersamanya, baru kali ini aku melihat suamiku menangis sampai begitunya.
"Maafkan ibu dan bapak kamu, Nak. Mereka bukan tak sayang, hanya saja mereka salah memahami anaknya. Mereka pikir kamu paling kuat, sampai lupa kalau hatimu juga bisa terluka. Ikhlas yah, Nak, kamu juga punya anak, dan nanti akan lahir lagi anak-anakmu yang lain. Pasti kamu akan paham, jadi orang tua tidak mudah. Tak ada orang tua yang sempurna. Maafkan mereka, Nak. Ikhlas, mungkin kamu lagi diuji agar lebih kuat menjadi manusia mandiri. Apapun yang kamu alami, pasti ada hikmahnya. Jangan malah menyimpan dendam, anakku."
"Ma, Bagas harus apa, Ma ? Bagas sakit hati, sakit, Ma..."
"Kesampingkan dulu sakit hatimu, Nak. Perlahan, biarkan sakit hati itu melebur dengan rasa ikhlas dengan takdirmu. Sekarang kamu harus pulang, sebelum terlambat. Kita tidak tahu sampai kapan jantung masih berdetak. Jangan sampai kamu menyesal seumur hidup karena lebih mendengarkan ego dan amarah dari pada hati nuranimu, Nak."
Mas Bagas tak bisa berkata-kata lagi. Dia menangis sesenggukan. Aku segera duduk disampingnya. Mas Bagas memelukku erat. Mama tersenyum dan meninggalkan kami. Mama juga berpesan untuk membiarkan suamiku dengan perasaannya, jangan banyak ditanya, sampai dia bisa memilih apa yang harus dilakukan.
***
"Sayang, nanti sore kita pulang." Pagi-pagi bibirku sudah tersenyum lebar mendengar ucapan suamiku. Akhirnya dia luluh juga.
Aku langsung siap-siap lagi. Hanya membawa beberapa baju dan keperluan lain.
...
[Yu, kamu jadi pulang ? Kondisi bapak mertua kamu parah, Yu. Sudah sadar, tapi dokter bilang kalau bapak kena stroke. Badannya gak bisa digerakkan, cuma bisa rebahan sambil terus manggil nama suami kamu.]
Pilu mendengar kabar begitu. Tapi aku sengaja belum memberitahu suami, takut dia tidak fokus menyetir.
Sesampainya di rumah sakit, Mbak Rina dan Mas Joni sudah menunggu di lobi rumah sakit, dan sama-sama kami langsung menuju ruang rawat bapak mertua.
"Assalamualaikum,"
"Ba-ba... Ba..."
"Bagas, kamu pulang."
Dua pasang mata menatap kami dengan penuh kekagetan. Mas Bagas mendekat perlahan, ibu memeluknya, namun Mas Bagas hanya membalas dengan senyuman tipis, lalu duduk di samping bapak.
"Ba-bagas..." Sapa bapak dengan bibir bergetar, matanya berkaca-kaca dan tangan lemahnya berusaha meraih tangan Mas Bagas.
"Pak."
__ADS_1
Mas Bagas memeluk bapak, air matanya terjun bebas. Mereka saling melepas kerinduan. Anak mana yang tak teriris melihat kondisi bapaknya terkulai lemas, dipasangi selang infus dan oksigen.