Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Orang Kaya Pelit


__ADS_3

"Mas, ibu kamu udah ngasih kabar, belum ?"


"Belum, sayang. Tapi kayaknya sudah sampai."


"Emang udah sampai, Mas. Tadi supirnya telepon, kasih tahu kalau ibu sudah diantar sampai depan rumah dengan selamat sentosa. Tapi, ya, harusnya ibumu telepon dong. Kita kan juga khawatir disini."


"Gak papa sayang, kamu kayak gak tahu ibu aja. Yang penting selamat, udah, gak usah banyak pikiran."


Aku pun duduk di samping suami yang sedang sibuk menghitung dan mengecek keuangan. Wajahnya terlihat suram. Aku ikut mengecek, ternyata terjadi kerugian yang cukup besar akibat banyak barang yang tak terjual.


"Mas, kita harus cari uang buat nutup setoran bank ?"


"Iya, sayang. Mas rencananya mau jual rumah di kampung, menurut kamu gimana ?"


"Hah, serius, Mas ? Apa gak ada cara lain selain jual rumah ?"


"Gak ada, sayang. Mas juga bingung. Penjualan menurun drastis, karena banyak pentol dan Frozen food lain yang cepat basi karena lambat terjual."


"Aduh, kita harus cari formulasi biar produk kita awet, banyak variasi, dan pemasarannya semakin terkenal luas."


"Sulit, sayang, harusnya kita punya rekan kerja di bagian marketing. Terus, harus punya langganan tetap dengan skala pembelian banyak dan berkelanjutan untuk mendistribusikan produk kita. Misalkan restoran, atau tempat makan lain yang mau mengolah Frozen food kita."


"Hhmmm, iya sih, Mas. Ya sudah, kita pikirkan lagi itu nanti. Sekarang kita pikirkan dulu cara cari uang buat nutup setoran bank, Mas. Baru memikirkan solusi meningkatkan pendapatan selama sebulan ke depan."


"Setuju, sayang. Nanti Mas akan coba cari orang yang mau beli rumah kita di kampung."


"Tapi, Mas, kalau rumah kita yang di kampung dijual, ibu kamu gimana, Mas ? Masa iya disuruh tinggal di kontrakan, apalagi kolong jembatan, gak mungkin dong."


"Ya, gak gitu juga, sayang. Biar ibu tinggal sama Mbak Dita saja, sayang. Sekali ini saja, kita kesampingkan dulu soal ibu. Toh, ibu juga selalu membela Mbak Dita, dan maunya sama Mbak Dita terus. Biar ibu tinggal lagi sama Mbak Dita."


Aku diam, merenungi kisah hidup ini. Jujur, aku tak tega kalau ibu kembali ke rumah Mbak Dita dan harus jadi babu di rumahnya Mbak Dita. Ya, walaupun demikian, menyelamatkan usaha suami tentunya nomer satu.


Tapi, bagaimana nasib ibu kalau sampai tinggal bertahun-tahun dengan Mbak Dita dan suaminya. Jangan-jangan rambutnya bisa jadi gundul mirip titisan tuyul. Tak tega juga.

__ADS_1


Oke, isi kepala, otak tercinta, mari kerahkan segala daya upaya untuk mencari jalan terbaik. Manusia itu makhluk paling sempurna, karena diciptakan sangat spesial, memiliki perangkat canggih dalam dirinya yakni pikiran, alias otak.


"Ahaa, akhirnya ide cemerlang muncul juga. Gak sia-sia otak diforsir buat mikir."


Pertama-tama aku minta bantuan Cendol, bestie ku sepanjang masa. Suaminya pebisnis sekaligus rekan kerja kami. Tapi, bukan di bidang Frozen food pabrik kami, hanya franchise produk pentol di dekat tempat tinggalnya.


...


"Aduh, kalau sebanyak itu suamiku gak tahu deh, ada atau gak. Tapi, tenang Ayunan, sebagai sahabat sejati mu, aku bakal coba bantu. Terus, kalau soal tempat buat promosi jualan kamu, sama orang yang bisa memberi konsultasi biar produk awet tanpa pengawet yang berbahaya, itu bisa diatur. Nanti aku bantu cari orangnya. Temanmu ini banyak pasukannya, nanti aku cari bantuan untuk menyelamatkan usahamu."


"Hahaha, bahasamu, Ndol, udah kayak timses mau nyalon jadi Kendedes."


"Kades woyy...."


"Iya, maksudnya itu. Makasih yah, besti, udah mau bantu, hehehe."


"Siap, besti."


Aduh, aku harus cari back up lain. Harus usaha semaksimal mungkin, aku percaya usaha tak akan mengkhianati hasil. Orang kedua, aku telepon Joni. Jawabannya sama, mereka akan berusaha membantu.


"Assalamualaikum, Hallo, Mbak Dita."


"Kenapa lagi, hah ? Udah ngebuang ibu di travel, masih berani telepon aku ?"


"Astaghfirullah, istighfar, Mbak. Aku mode damai, nih. Lagian, emang kayak buang kolor ? Pemilihan diksinya gak tepat, Mbak. Pasti pas pelajaran bahasa Indonesia nilainya cuma tiga puluh kurang setengah, yah ?"


"Berisik ! Langsung aja, ngapain telepon ?!"


"Gini, Mbak, ada uang lima puluh juta gak, mau minjem."


"Hahaha, kamu bangkrut ?"


"Eh, asem, mulutnya gak ada akhlak. Siapa bilang aku bangkrut ? Cuma butuh buat bayar bank untuk sementara, dan modal mengembangkan usaha lagi. Buat ngembangin usaha, Mbak. Asal ceplos aja kalau ngomong, udah kayak panci bolong."

__ADS_1


"Hahaha, jangan bohong. Bilang aja kalian bangkrut. Makanya, jangan kurang ajar. Kasian, mendadak mau miskin. Nih, Mbakmu uangnya satu truk. Aduh, aduh... semesta memang adil ya, orang kayak kalian langsung dimiskinkan."


Astaghfirullah, itu mulut apa kotoran sapi, tak sedap sekali. Diluar prediksi, aku kira Mbak Dita agak berubah setelah kaya. Dia sendiri yang merasa banyak duit, sekalinya diminta bantuan malah pelit, ditambah Julid.


"Mbak, Mbak... Kayak tapi medit. Mulutnya tajam lagi kayak duri kaktus, ampun deh. Ya udahlah kalau gak mau minjemin."


Sambungan telepon aku putuskan secara sepihak. Kupingku gatal terus mendengar ucapan Mbak Dita. Lebih baik baca beberapa artikel untuk mencari inspirasi.


***


[Ayu, makin durhaka yah, kamu ! Pasti kamu kan yang hasut Bagas buat jual rumah ini.]


Pagi-pagi buta bukannya mendapat pemandangan sejuk yang memanjakan mata dan mendamaikan hati, malah dicaci maki sama mertua sendiri.


"Mas, kamu beneran mau jual rumah ? Nih, ibu kamu ngomel-ngomel sama aku. Katanya aku yang hasut kamu buat jual rumah."


"Abaikan saja, sayang." jawab Mas Bagas dengan entengnya. Dia masih meneruskan sarapan.


"Mas, gak usah dijual rumahnya. Emang kita butuh berapa ? Bukannya cicilan gak sampai seratus juta ?"


"Kita butuh kurang lebih seratus juta, sayang, buat nutupin kerugian, cicilan bank, pembayaran gaji karyawan yang kurang, dan modal untuk memulihkan usaha kita."


"Harusnya kita jualan Frozen food, sekaligus jajanan kering, Mas. Jadi, kalau produk mentahan gak laku kayak gini, bisa dijual dalam bentuk kering."


"Maksudnya ?"


"Ya, kita buat cemilan, kayak sejenis keripik pentol, mirip kayak basreng gitu. Jajanan pedas kayak gitu kan lagi viral."


"Ide bagus, sayang. Kita eksekusi ide kamu setelah rumah terjual."


"Dih, jangan jual rumah, Mas. Minjem sama siapa kek gitu."


"Gak ada, sayang. Udah, kamu tenang saja. Gak usah banyak pikiran. Urusan dapatin uangnya, biar jadi urusan Mas."

__ADS_1


Ya sudah, aku pasrah saja dengan keputusan Mas Bagas. Toh, ada Mbak Dita juga yang bisa menampung ibu nanti setelah rumah terjual. Lebih baik aku mengurus Kiara. Aku lanjutkan menyuapi Kiara makan.


__ADS_2