Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Korupsi


__ADS_3

Sesuai perkataanku kemarin, hari ini aku sudah membeli gelang emas untuk ibu mertuaku. Nanti akan aku berikan di depan Mbak Dita, biar sekalian kakak iparku itu makin tersakiti.


Pas sekali, sepulang dari pasar, ibu dan Mbak Dita sedang duduk bersantai.


"Bu, Ayu mau ngomong, penting." Ucapku mendekati ibu dan Mbak Dita.


"Apa ? Belum puas kuasai anak ibu ?"


"Sensi amat sih, Bu. Nanti cepat ompong lho. Nih, Ayu mau ngasih hadiah."


"Hadiah apa ?" Tanya Mbak Dita dengan cepat.


"Hhh, kalau soal hadiah aja, gercep !"


"Emang kenapa ? Aku juga gak bakal minta, cuma kepo doang !" Jawab Mbak Dita ketus.


"Iya, terserah Mbak. Jangan ajak aku debat dulu, nanti hadiah buat ibu aku tangguhkan." Ucapku sedikit mengancam.


"Dita, diam dulu !"


Mbak Dita langsung menutup mulutnya rapat.


"Ini Bu, emas asli, gelang buat ibu."


"Beneran ?"


"Iya, tapi suratnya udah aku simpan ditempat yang aman. Emasnya gak boleh digadai, apalagi dijual. Pakai tiap hari boleh, sampai bosan. Kalau mau ganti model juga boleh, asal jangan dijual. Kalau dijual, uang bulanan ibu aku potong, terus gak bakal Ayu belikan lagi."


"Kejam banget, sih. Tapi gak apa-apa deh, yang penting ibu dibeliin. Aduh, cantik banget."


Ibu mertuaku berseri-seri bahagia. Harga gelang itu tak sebanding dengan rezeki yang teru berlimpah ruah. Meski kesal dengan mertua, sekali-kali harus berbuat baik. Siapa tahu kebaikanku bisa membuat ibu mertua luluh dan tidak Julid lagi padaku dan suami.


"Dita, lihat deh, bagus banget. Asik, ibu gak malu lagi kalau acara pengajian."


"Kalau ngasih tuh yang ikhlas, masa suratnya diembat. Jangan-jangan emas palsu." Ucap Mbak Dita dengan wajah tak bersahabat seperti biasa.


"Nih, foto suratnya. Sengaja gak dikasih surat, biar tuh emas gak di maling kucing garong." Aku tunjukan saja foto suratnya dari ponselku.


"Emang dirumah ini ada kucing garong ?" Tanya ibu polos.


"Ada, Bu, kucing yang ada rambutnya."


"Nyindir ?"


"Idih, siapa yang nyindir ? Mbak aja yang merasa kesindir. Kucing kan emang ada rambutnya."


"Terserah !" Mbak Dita membuang mukanya.


Tiba-tiba Mas Adit juga ikut-ikutan gabung.

__ADS_1


"Lagi ada apa ini ? Lagi bagi-bagi duit, yah ?" Tanya Mas Adit.


Aku tak menjawab. Lagian, yang ada dipikirannya duit melulu. Persis sama istrinya.


"Ayu, pas banget kamu disini. Aku mau minta kerjaan. Apa saja, daripada nganggur kayak gini gak enak. Kalau tak bisa memberikan pinjaman uang, berilah lapangan kerja, jangan pelit."


"Dagang pentol di alun-alun mau, Mas ?"


"Dagang pentol ? Suamiku ini kakak iparnya Bagas, dijadikan orang kepercayaan kek atau bagian keuangan gitu, jangan pelit !"


"Lowongan pekerjaannya cuma ada jadi penjual pentol, kalau gak mau ya udah."


"Mau, aku mau, Yu."


"Mas !!!"


"Sudah, diam saja kamu, Dit. Kamu mau kita belangsak terus ?"


Tumben pikiran Mas Adit lurus. Pasti dia sangat terdesak dan butuh uang, makanya mau kerja apa saja.


"Nanti aku tanya Mas Bagas dulu. Namanya juga rumah tangga, ya semua keputusan harus diambil bersama."


"Tumben kamu lagi bener, Ayu. Sering-seringlah kayak gini, biar cucu ibu jadi anak yang baik. Gelangnya, makasih yah, hari ini kita damai dulu." Sambil cengar-cengir ibu masuk ke kamarnya sambil terus memegangi gelang yang sudah melingkar di tangannya. Sepertinya ibu suka dengan modelnya. Hhh, syukurlah.


  ***


Hari ini aku memutuskan untuk membawa makan siang buat suamiku ke tempat produksi.


"Sayang, kamu kenapa kesini ? Perutnya udah gede banget. Udah dekat hari lahiran, harusnya banyak-banyak dirumah."


"Cuma nganterin makan siang doang, Mas. Lagian kan dekat. Aku kangen makan bareng, soalnya akhir-akhir ini Mas sibuk banget."


"Iya, sayang, maaf yah. Pesanan Frozen food lagi banyak-banyaknya, jadi produksi harus dalam skala besar. Jadinya Mas tambah sibuk."


"Alhamdulillah, rezeki anak kita, Mas. Oh iya, lapak pentol gimana, Mas ?"


"Aman, tapi ada beberapa lapak yang sepi dan kadang rugi."


"Ah, masa sih, Mas. Coba sini aku cek laporan keuangannya."


"Biar Mas saja, sayang. Kamu jangan kecapean."


"Gak apa-apa, Mas. Cuma ngecek doang."


Akhirnya Mas Bagas memberikan laporannya padaku. Aku lihat catatan pemasukan setiap lapak. Ada dua lapak yang bermasalah. Satu lapak keuntungannya kecil, tapi masih masuk logika karena tempatnya di desa, bukan di daerah jalan raya.


Satu lagi lapak di dekat alun-alun. Disini ada kejanggalan. Hampir setengah bulan ini tak ada keuntungan sama sekali, padahal tempatnya sangat strategis.


Sistem pembayaran di cabang pentol menggunakan sistem upah per hari. Jadi, meskipun tak laku, karyawan tetap diberi upah. Namun, jika berturut-turut rugi, maka akan diadakan evaluasi dan penanganan.

__ADS_1


"Mas, ini cabang ya di alun-alun di pegang Mas Adit, kan ?"


"Iya sayang, kenapa ?"


"Kok udah setengah bulan rugi terus ? Kayaknya mustahil deh, tempat itu dulunya paling rame, lho."


"Mungkin udah pada bosen, sayang."


"Ah, masa sih ? Setidaknya balik modal lah, masa sampai rugi gini. Ini setorannya dibawah minimum penyetoran lho, Mas."


"Mas kurang paham, sayang. Terlalu banyak pekerjaan. Coba kamu tanya pakde Eko, dia di bagian pencatatan laporan harian, sekaligus mengecek jumlah pentol yang belum terjual."


"Pakde Eko, kakak kandung bapak kamu ?"


Mas Bagas mengangguk. Hhmm, aku mencium bau-bau tak beres disini. Pakde Eko terkenal kurang jujur. Walaupun aku belum punya bukti untuk itu. Ditambah lagi, setahuku Mas Adit dekat dengan Pakde Eko. Jangan-jangan terjadi kecurangan, atau bahkan korupsi.


"Biar nanti aku cek. Kalau ada kejanggalan, aku boleh memutuskan apapun yah, Mas."


"Maksudnya, ada yang mau kamu pecat ?"


"Kalau ada karyawan yang gak jujur, ngapain dipertahankan. Mau kakak ipar kamu, atau bapak kamu sekalipun, kita harus tegas. Usaha ya usaha. Kalau ngasih beda lagi. Itu diluar kerja."


"Ya sudah, Mas serahkan sama kamu, sayang."


.


.


Jam sembilan malam, aku dan Mas Bagas masih di tempat produksi pentol. Jam segini biasanya Pakde Eko mulai bertugas. Mengecek jumlah pentol yang terjual dan belum terjual. Sisanya akan dimasukkan kedalam freezer agar masih bisa dijual lagi. Setelah itu, dia akan memberikan upah pada karyawan bagian penjualan.


"Sayang, kita pulang yuk. Emang kamu gak capek ? Mas aja udah capek banget. Tenang saja, ada Pakde yang menangani disini. Toh, cuma sepuluh lapak, pasti dia bisa bertugas dengan baik." Ucap Mas Bagas.


"Aneh kamu, Mas. Kalau pakde bisa bertugas dengan baik sesuai ucapan kamu, gak bakal ada indikasi korupsi kayak gini. Tolonglah, Mas, jangan lembek. Semakin besar usaha, jangan semakin longgar pengawasannya. Malah sebaliknya, harus semakin ketat."


Suamiku diam dan menurut apa kataku. Kami mengawasi dari kejauhan. Pakde tidak tahu kalau kami disini, karena motor udah aku simpan ditempat yang lain. Biar mereka tidak sadar jika sedang diawasi.


"Tuh, lihat, Mas ! Dagangan Mas Adit habis. Kenapa laporannya lima belas hari ini rugi terus ? Lihat, uang yang disetor juga gak banyak. Wah, usah jelas nih, Pakde dan Mas Adit sudah korupsi."


Kami masih terus mengawasi.


"Besok kita cek, sayang. Sekarang, foto dulu biar punya bukti. Jangan langsung digerebek, pasti gak bakal ngaku."


Tumben suamiku otaknya jalannya cepat. Akhir-akhir ini biasanya lemot. Oke, aku ambil ponselku dan mengabadikan bukti didepan mata.


"Beres, Mas. Bukti suda ditangan." Ucapku sambil menyimpan ponselku.


"Ya sudah, ayo pulang. Mas mau kelonan."


"Hhh, dasar mesum. Ayoklah gas... !"

__ADS_1


__ADS_2