Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Efek Sosial Media


__ADS_3

Sudah tiga bulan berlalu menjalani peran baru sebagai orang tua. Aduh, sangat luar biasa menjadi ibu muda. Mau makan saja susah, BAB gak bisa lama-lama, tidur pun kurang nyenyak. Ya ampun, sungguh nikmat. Ternyata begini rasanya menjadi seorang ibu.


Untung saja sikap ibu mertua tidak sejulid dulu dan masih tetap mau membantu mengurus Kiara. Ternyata, meski kami sering perang cobek dulunya, setelah aku punya anak, kadar perangnya berkurang. Paling sesekali adu mulut saja. Ibu mertuaku terlihat sangat menyayangi anakku. Syukurlah.


"Mas ! Astaghfirullah,"


Aku yang baru saja selesai dari kamar mandi, kaget. Mas Bagas melamun saat memberikan ASI yang sudah di perah dalam botol susu. Sampai tumpah-tumpah ke lantai dan baju Kiara. Pantas saja Kiara menangis. Aduh, kumenangis juga melihat ASI yang susah payah aku perah, malah berceceran.


Ih, gimana sih Mas Bagas. Dia malah melamun, tatapannya kosong, wajah bagai banyak beban.


"Mas !"


"Eh, i-iya sayang, kenapa ?"


"Kenapa-kenapa, liat tuh ASI buat Ara malah tumpah-tumpah."


"Astaghfirullah, maaf, sayang... Kayaknya Mas kurang fokus karena kurang tidur."


"Mas sakit ?" Tanyaku khawatir juga kalau sampai suami tercinta sakit.


"Gak sayang. Oh iya, jam berapa ini ?"


"Jam delapan."


"Astaga ! Mas harus ke tempat produksi."


Suamiku bergegas mengambil ponsel dan kunci motor. Dia bahkan lupa salaman. Aneh, apa sebenarnya yang menggangu pikiran suamiku ? Apa ada masalah pada usaha kami ? Sejak lahiran sampai sekarang aku memang belum sama sekali mengecek kondisi usaha pentol kami. Tapi, setiap aku tanya, Mas Bagas bilang semuanya baik-baik saja. Apa dia berpura-pura baik-baik saja tapi nyatanya menyembunyikan sesuatu lagi dariku ? Karena aneh, tak biasanya Mas Bagas melamun seperti itu. Apa duo kakak iparku itu mengganggu lagi ? Tapi akhir-akhir ini mereka terlihat sibuk sendiri. Aku lihat, Mas Adit juga sudah punya kerjaan. Kata ibu, dia jadi anak buah pedagang daging sapi di pasar. Sementara Mbak Dita, kayaknya dia iri karena aku sudah punya anak, sedangkan dia tak kunjung hamil. Makanya sering keluar rumah, entah kemana.


Mataku tertuju pada sesuatu di atas ranjang.


"Tas Mas Bagas, aduh, teledor banget sih Mas Bagas."


Aku cek isi tas suamiku. Ada beberapa laporan keuangan yang lupa dibawa. Kebetulan sekali, beberapa hari yang lalu aku memang meminta laporan ini, tapi Mas Bagas tak mau memberikannya. Curiga, ada yang dia sembunyikan. Akhir-akhir ini sikapnya juga sedikit aneh. Sambil menyusui Kiara, aku baca-baca saja.


"Astaghfirullah, kenapa omset penjualan pentol menurun drastis seperti ini ???"

__ADS_1


Mataku melotot. Laporan keuangan hancur. Ini benar-benar kerugian. Apa sebenarnya yang terjadi, Ya Allah, baru tiga bulan tak mengecek usaha pentol, sudah kritis aja kondisinya.


"Sayang, tas Mas keti-"


Mas Bagas tak melanjutkan kata-katanya saat melihat mataku melotot kearahnya dengan laporan di tanganku.


"Coba jelaskan, kenapa bisa kayak gini ? Jangan-jangan kamu jajak apem busuk, gara-gara aku belum bisa disentuh habis lahiran. Istighfar, Mas ! Setan apa yang merasukimu ?"


"Astaghfirullah, demi Allah, sayang, Mas gak main gila kayak gitu. Mana berani, Mas gak mungkin tega mengkhianati wanita yang sudah menaruhkan nyawanya untuk anak Mas."


"Terus kenapa pendapatan bisa anjlok kayak gini ? Oh, jangan-jangan diam-diam Mas ngasih uang banyak ke ibu, atau kasih sumbangan dana ke Mbak Dita ? Pantesan, Mbak Dita anteng-anteng aja. Kebiasaan kamu, Mas !"


"Bukan sayang. Boro-boro mau ngasih ibu atau Mbak Dita, kondisi usaha kita emang lagi mau bangkrut."


"Ya, alasannya apa ? Ngomong yang benar dong, Mas !"


"Sepertinya, ini efek sosial media, sayang. Padahal kejadiannya sudah satu bulan yang lalu."


"Hah ? Udah satu bulan ? Kejadian apa ? Kamu hamilin anak orang ? Apa sih, ngomong yang bener, Mas."


"Buruan ngomong !" Teriakku emosi.


"Ada yang menyebar hoax di Instagram dan Facebook. Dia fitnah pentol kita menggunakan daging babi dan daging tikus, makanya enak."


"Astaghfirullah,"


Untung mentalku kuat, kalau tidak bisa-bisa Kiara jatuh dari gendonganku.


"Siapa lagi yang berbuat keji seperti itu, Mas ? Wah, cari ribut dia sama Ayu !"


"Mas juga gak tahu, sayang. Dia pake akun fake."


"Kenapa baru bilang sekarang ? Ih, gemes aku, Mas ! Mana, tunjukkin akunnya, biar aku sewa hacker untuk lacak pelakunya."


"Emang bisa, sayang ?"

__ADS_1


"Ya, bisalah, Mas ! Makanya kalo ada apa-apa tuh ngomong. Jangan diam aja. Ih, benar-benar menguji kesabaran kamu, Mas. Lama-lama badanku makin melar gara-gara sikap kamu."


"Maaf, sayang. Mas kasihan sama kamu, baru lahiran masa harus dikasih berita buruk kayak gini."


"Ya udah, mana sini akunnya, biar aku cari sampai dapat. Awas saja tuh orang, aku laporin ke polisi." geramku kesal.


Siapa lagi yang berani buat hura-hura. Dia pikir seorang Ayu karena sudah melahirkan akan kehabisan akal ? Oh, tidak ! Akan aku cari siapa orang yang dengan sengaja mau menghancurkan usaha kami. Sampai goa beruang juga aku cari. Awas, lihat saja pergerakan emak-emak berdaster anak satu ini kalau sudah mengamuk. Macan, harimau, kera, lewat keganasannya.


.


.


Aku menghubungi Cindy. Suaminya seorang pebisnis sukses, pasti punya banyak kenalan. Aku minta bantuannya untuk mencarikan hacker handal. Aku ceritakan semuanya panjang kali lebar, dari atas sampai bawah, sudah mirip seorang ibu yang sedang mendongeng untuk anaknya.


"Tenang, besti... pasti aku cariin. Yang penting kamu jangan banyak pikiran. Kasihan Kiara nya nanti kalo bundanya stres."


"Oke, besti... Aku tunggu ya kabarnya."


Sambungan telepon dimatikan, sementara Mas Bagas rebahan di samping Kiara yang sudah aku letakkan di ranjang. Wajahnya sangat kusut mirip baju belum disetrika.


Jujur aku kesal pada suamiku yang kurang sat set dalam menghadapi masalah. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga suamiku bukan Superman. Mau marah, tapi tak tega dengan ekspresinya.


"Maafin Mas, yah, sayang."


"Iya, tapi ingat dong, Mas. Dalam rumah tangga, komunikasi itu penting."


"Iya, sayang..."


Mas Bagas duduk di sampingku dengan mata berkaca-kaca, lalu memelukku.


"Maaf, mas memang suami yang tidak becus. Tanpa kamu mas gak bisa apa-apa."


Mas Bagas menangis sesenggukan. Pasti bebannya sangat menghimpit hati. Mau bicara, serba salah karena kondisiku yang baru selesai lahiran.


"Semangat, Mas ! Dulu kita gak punya apa-apa, kita juga pernah terpuruk, tapi lama-kelamaan kita bisa membangun usaha yang cukup besar. Kalau sekarang sedang diterpa badai, tandanya kesuksesan semakin dekat. Kita lawan bersama, jangan dilawan sendiri. Rumah tangga itu dibangun bersama, bukan hanya suami saja yang harus menerima susah da perihnya cari uang. Kita bisa kerja sama agar beban terasa lebih ringan."

__ADS_1


Kami saling berpelukan cukup lama. Ini baru namanya rumah tangga, susah senang bersama. Membangun ekonomi yang baik, hubungan yang harmonis, bukan hanya tugas istri atau suami, tapi kewajiban bersama. Harus saling kerja sama melewati segala cuaca dan badai yang menerpa.


__ADS_2