Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Kunjungan ibu mertua


__ADS_3

Dalam kurun waktu beberapa bulan, perekonomian kami mulai naik. Chenel Yutub yang baru sudah mulai gajian dan TikTak juga mulai aktif jualan lagi. Pentol untuk saat ini kami percayakan pada Rina, dia katanya butuh pekerjaan untuk tambahan kebutuhan sehari-hari. Meskipun kami belum bisa memberi gaji besar karena usaha kami pun masih kecil-kecilan, setidaknya itu sudah cukup membantu Rina dan keluarganya.


"Mas, aku udah narik dua juta, yah. Satu setengah buat bayar gajinya Rina, lima ratus ribu jatah makan seminggu." Aku laporan ke pak suami. Meskipun Mas Bagas mempercayakan semua uang padaku, tapi aku mau selalu terbuka soal pengeluaran.


"Iya sayang. Jangan lupa kamu beli skin care dan baju yang mahal."


"Siap, suamiku tercinta."


Aku menemani suamiku yang sedang merekap pemasukan dari hasil jualan pentol.


Tiba-tiba ada seseorang yang mengucap salam dari depan.


Aku langsung berdiri dan bergegas membuka pintu.


"Ibu ?"


Setelah sekian purnama tak bertemu ibu mertua, hari ini dia datang ke kontrakan kami. Baru pertama kali ini dia datang. Tumben sekali, pasti ada hal penting yang mau dia sampaikan.


"Ibu mau ketemu Bagas." Ucap ibu mertua saat aku membuka pintu.


"Masuk, Bu. Udah lama gak ketemu, makin kurus aja. Ibu diet ?" Ibu mertua tak menjawab, malah nyelonong masuk dan duduk di ruang depan.


Aku pun tak mau ambil pusing dengan sikapnya. Memang sudah seperti itu, aku sudah biasa. Aku pun masuk dan memanggil suamiku di kamar.


"Mas, ada ibu kamu." Kataku memberitahu.


Sesaat Mas Bagas menatapku dan langsung menghentikan aktifitasnya. Kami berjalan beriring menemui ibu mertua yang sudah menunggu.


"Bu, ngapain kesini ?" Tanya Mas Bagas.


Aku tinggal ke dapur untuk mengambil minum dan sedikit cemilan untuk tamu istimewa kami. Tapi tetap, telinga siap siaga mendengar perbincangan antara ibu dan anak.


"Kamu benci dan jijik lihat ibu ?" Tanya ibu dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Ngomong apa sih, Bu. Mau ibu pilih kasih sekalipun, ibu tetap ibunya Bagas. Emang ada apa ?"


Ibu mendadak menangis dan merengek sambil memegangi tangan Mas Bagas. Ada apa dengan ibu ? Tumben sekali sikapnya seperti ini. Entah apa yang sudah terjadi selama beberapa bulan ini tanpa kehadiran kami dirumah ibu.


"Gas, ibu mau pinjam uang sama kamu, boleh ? Ibu janji akan menggantinya. Ibu sama sekali gak punya uang lagi, Gas. Banyak yang nagih hutang, ibu bingung harus bagaimana bayarnya."


"Hutang apa, Bu ? Ibu bayarin hutangnya Mbak Dita ?"


"Iya, Bagas. Mau bagaimana lagi ? Mbak mu tetap bayar, tapi uangnya kurang. Mau gak mau ibu tambahin dari hasil pinjam ke bank keliling."


"Astaghfirullah, Bu..." Mas Bagas menyapu dadanya. Aku juga yang mencuri dengar dari belakang hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Maafkan ibu, Gas. Ibu pinjam lima ratus ribu aja, biar ibu gak di kejar-kejar hutang sama pegawainya."


Tanpa menunggu persetujuan ku, ku lihat Mas Bagas langsung mengambil uang dari uang modal yang sedang dia hitung. Wajahnya seketika iba melihat kondisi orang tuanya yang memprihatinkan.


"Iya, Bu. Bawa aja uang ini. Ibu dan bapak jangan sampai gak makan." Ucap Mas Bagas.


"Bapak kamu sedang sakit, Gas."


"Sakit banyak pikiran gara-gara rumah mau disita bank." Jawab ibu mertua dengan wajah yang mulai menunduk.


"Disita bank ? Kok bisa, Bu ?" Tanyaku heran saat aku sudah kembali membawa minuman dan cemilan untuk ibu mertua.


"Sekarang Dita gak bisa bayar cicilan bank. Ibu juga gak bisa bantu bayar."


"Ya Allah, Bu. Kenapa ibu gak cerita sama Bagas ? Kalau untuk makan, Bagas pasti kasih. Setidaknya ibu sama bapak tetap makan enak." Ucap Mas Bagas.


"Betul, Bu. Tapi kalau untuk bayar hutang, kami gak ada. Kan gak lucu, masa Mbak Dita yang makan uangnya, kami yang bayar. Mending rumah Mbak Dita di jual aja. Lumayan kan, tahu aja bisa menutupi sebagian hutangnya." Ucapku sekalian memberi usul.


Awas aja kalau sampai Mas Bagas yang dipaksa untuk bayar cicilan bank, aku gak Sudi. Kalau memberikan jatah bulanan untuk orang tuanya, aku masih terima. Wajar, karena itu kewajiban anak laki-laki. Tapi kalau untuk membayar hutang Mbak Dita, itu namanya pembodohan dan di manfaatkan.


"Belum bisa. Rumah Dita juga masih jadi jaminan di bank."

__ADS_1


"Ya Allah, ngeri sekali sih. Banyak sekali hutangnya Mbak Dita." Aku sedikit bergidik membayangkan.


"Kalau sudah begini mau gimana lagi, Bu ? Ibu gak pernah mau dengerin Bagas. Repot kalau kejadiannya kayak gini."


"Ibu mana tahu kalau kejadiannya bakal kayak gini. Kalau boleh, ibu mau minta tolong, Gas."


"Minta tolong apa, Bu ?"


"Kalau bisa kamu bayarin dulu cicilan bulan ini, biar gak disita rumahnya. Kalau rumah disita, ibu sama bapak mau tinggal dimana ?"


"Gak ada, Bu. Ibu tagih aja sama Mbak Dita." Jawabku ketus. Sudah terbaca pikiran terselubung mertuaku.


"Bagaimana, Bagas ?" Tanya ibu mertua seolah tak menggubris jawaban dariku.


"Bagas gak punya simpanan, Bu. Semua uang dipegang Ayu. Kalau Ayu bilang gak bisa, ya berarti gak bisa. Ibu coba tagih lagi ke Mbak Dita, biar dia usaha buat bayar cicilannya."


Ibu mertua menampakkan raut wajah kecewa. Tanpa banyak basa basi lagi ibu langsung pamit untuk pulang. Beruntung Mas Bagas mendengarkan kata-kata ku.


Sekali-sekali memang harus tegas. Mbak Dita tak boleh sering dimanja. Jadi makin besar kepala dan kurang ajar nantinya. Toh, dia sudah dewasa dan memiliki suami. Harusnya mereka tanggung jawab dengan perbuatan mereka.


"Sayang..."


"Apa ??? Jangan rayu aku buat bayar cicilan Mbakmu. Makin besar kepala dia kalau semua dipermudah. Biar dia sadar, hidup tak segampang buang si kuning yang mengambang di kali, yang bisa hanyut dibawa aliran air. Kamu harus tetap ingat sikap buruk Mbakmu, biar gak lembek, Mas !"


Kali ini nada bicara ku sedikit tegas. Mas Bagas terdiam lesu. Pasti dia merasa serba salah. Aku sih bodoh amat. Bukan maksud dendam, tapi belajar menampar seseorang dengan kenyataan, biar Mbak Dita sadar dan kapok.


Mas Bagas terlihat mengambil kunci motornya.


"Mau kemana , Mas ?"


"Mau antar ibu pulang. Sekalian jenguk bapak."


"Ya sudah, hati-hati."

__ADS_1


Bukan maksud mengajarkan hal tidak baik pada suami. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada mertua dan iparku, supaya mereka berpikir dulu sebelum bertindak. Jangan seperti ini, asal meminjam uang tapi tak punya rencana usaha yang baik dan benar. Jadinya seperti ini, malah kerugian yang ada. Dan ujung-ujungnya menyusahkan orang lain lagi.


__ADS_2