Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Dukun


__ADS_3

Aku harus memutar otak. Aku buka ponsel untuk mencari informasi tentang pengacara disini. Beberapa kali mendapat kontak pengacara, tapi semuanya tak jelas. Ada yang pengacaranya sok sibu sampai teleponku langsung dimatikan, ada yang bahasanya tak jelas, dan satu lagi, kebanyakan pengacara yang aku mau, bayarannya mahal. Duit dari mana, Si Ayu gak mau bantu. Ibu pun sudah tak berani minta uang lebih, diluar uang bulanan. Bagas sikapnya terlalu tegas, sampai tak bisa digoda atau dibohongi untuk diperas.


"Mama... Mama..."


"Berisik Lea ! Mama lagi pusing kamu malah nangis."


"Bu ! Ibu !!!"


"Kenapa, Dita ?"


"Jagain Lea dulu, Bu. Aku pusing, banyak masalah. Mau istirahat."


"Yang sabar, Dit. Lea sayang, kita lihat bebek yuk, sama Mbah."


"Untung saja ada ibu, aku bisa rebahan dan menenangkan diri sejenak. Aku buka ponselku untuk menghilangkan jenuh. Aku scroll FB untuk melihat-lihat kabar teman-teman lama.


"Ini Si Leha alias Juleha ?"


Mataku melotot melihat sahabat dekat waktu SMP. Dia dulunya jelek, item, miskin, sekarang jadi cantik dan modis. Kenapa bisa berubah drastis, padahal di kelas dulu aku lebih pandai darinya. Masa hidup dia lebih sukses dari aku ? Wah, pasti dia punya rahasia tersembunyi. Aku Pepet terus sampai tahu rahasia suksesnya.


[Leha ? Ya ampun, kamu berubah jadi cantik. Aku Dita, teman sebangku kamu, ingat kan ?]


Aku kirim pesan lewat messenger. Menunggu sebentar dia langsung membalas. Memang moment yang pas, aku mengirim pesan pas lampu hijaunya menyala, artinya dia sedang online.


[Dita, teman yang suka bantu aku nyontek, yah ? Apa kabar kamu ?]


Kami sibuk bertukar pesan, sampai tukar nomer WA. Kami membicarakan banyak hal, ternyata Juleha ini jadi simpanannya pengusaha, makanya kaya raya. Dia sama sekali tak sungkan membeberkan kondisinya saat ini. Ya pasti bangga sih, meski simpanan tapi duitnya banyak.


[Pas banget Dit, aku lagi liburan di kampung, kita ketemuan di kafe dekat kecamatan, gimana ? Aku gak bisa ke rumah kamu langsung, jauh dan melelahkan. Jalannya masih jelek kan ? Terus pinggirannya banyak jurang, aduh serem.]


Sialan, malah terkesan menghina. Mana status WA nya pamer emas, mobil, dan apartemen dari tadi. Apa dia sengaja memamerkan harta ? Dasar, teman gak ada akhlak. Mentang-mentang banyak duit. Mau tak mau aku harus sabar, demi mendapatkan resep suksesnya.


***


Besoknya kami jadi ketemuan di kafe. Aku sangat bersemangat bertemu Juleha, selain mau banyak bertanya, bisa makan gratis juga.


"Dita, kamu lagi hamil ? Ya ampun, nambah gendut yah, tapi kusam gitu."


"Iya, Leha, maklum, pusing. Suamiku bangkrut, padahal dulunya kaya raya."

__ADS_1


"Ya ampun, kasihan banget kamu, Dit."


"Kamu kok bisa kaya banget. Kasih tipsnya dong, sama teman sendiri jangan pelit."


"Hehehe, ya, kuncinya usaha, sama pakai jampi-jampi."


"Jampi-jampi, maksudnya dukun ?"


"Iya, tepatnya orang pintar. Kita minta susuk, biar kelihatan cantik dan banyak yang suka."


"Mau dong, Leha."


"Serius ? kamu lagi hamil, Dit. Emang berani perginya ? Gak boleh bawa orang loh, harus pakai motor sendiri. Tempatnya kayak di hutan-hutan gitu."


"Gak apa-apa deh, asal bisa dapat suami kaya. Capek aku punya suami gak bisa dibanggakan kayak Mas Aldi."


"Nih, aku kasih alamatnya."


Juleha mengeluarkan secarik kertas. Alamatnya bikin pusing, hanya disebutkan nama desanya, tanpa ada keterangan RT RW, terus hanya diberi patokan rumah Mbah Dukun berwarna hitam. Aneh juga, emang ada rumah di cat warna hitam ?


"Ini beneran, Leha ?"


"Beneran, Dit. Kamu datang saja kesitu, maaf aku gak bisa antar."


Obrolan kamu terhenti karena pesanan datang. Aku menikmati makan-makan gratis dan lezat ini. Tak sia-sia menemui Juleha, akhirnya aku bisa mendapatkan tips suksesnya.


Sesampainya di rumah, aku simpan dulu rapat-rapat alamatnya. Jangan sampai ketahuan ibu, bisa-bisa diceramahi. Ibu tak terlalu percaya hal-hal seperti itu. Biar aku cari sendiri alamatnya secara diam-diam.


"Dita, kamu belum tidur ?"


"Be-belum, Bu."


Sialan, sedang mencermati alamat di secarik kertas, ibu malah masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu. Aku langsung sembunyikan saja dalam selimut.


"Kamu lagi ngapain ?"


"Lagi rebahan, Bu, sambil main hp. Udahlah, gak usah kepo dan nanya yang aneh-aneh."


"Ingat Dita, kamu sedang hamil, jangan berbuat hal yang aneh-aneh. Sabar dulu saja kalau kondisinya sedang susah kayak gini."

__ADS_1


"Iya Bu, sana-sana keluar. Aku mau tidur."


Ibu menatapku aneh, seolah-olah sedang menyelidiki kalau aku berbohong atau tidak. Aku langsung pejamkan mata, takut ibu semakin curiga. Biar nanti ku pikirkan lagi. Setelah mendengar nasihat ibu tadi, mendadak jadi ragu. Bagaimana jadinya kalau aku ke tempat asing sendirian, dengan posisi hamil besar ? sepertinya aku tunggu sampai lahiran saja. Tapi... malah semakin lama. Ah, besok saja !


***


Besoknya, aku berhasil menyewa motor tetangga terdekat. Aku beranikan diri menuju rumah Mbah dukun. Jarak dari sini ke lokasi itu sekitar dua jam perjalanan. Tapi, jalanya curam dan terjal. Seumur-umur aku belum pernah kesini, hanya pernah mendengar lokasinya saja.


Hampir dua jam aku melawan Medan yang curam, penuh bebatuan, kiri kanan tebing dan jurang. Ditambah lagi jalannya baru terguyur hujan, jadi agak licin. Banyak pepohonan sepanjang jalan, hanya sedikit rumah yang ditemui. Ditambah lagi suasana sore yang hampir gelap, membuatku jadi sedikit takut.


"Permisi, Bu, apa kenal yang namanya Mbah Karno ?" tanyaku setelah sampai di desa sesuai alamat yang diberikan Juleha.


"Oh, Mbah Karno ? Dia sudah meninggal satu tahun yang lalu."


"Hah ? Sudah meninggal ?"


"Iya, Neng. Neng dari mana, sudah mau magrib, dengan kondisi hamil besar kayak gitu ?"


"Saya dari kabupaten sebelah, Bu. Mau silahturahmi sama Mbah Karno."


"Orangnya sudah meninggal, apa Neng mau silahturahmi ke makamnya ?"


"Gak mau, Bu, ih serem."


"Ya sudah, kalau gitu, mending Neng pulang saja, sudah mau magrib. Apa mau mampir dulu, Neng ?"


"Gak usah, Bu, terima kasih."


Sialan, Juleha sengaja mempermainkan aku atau memang dia tak tahu Mbah Karno sudah meninggal ? Aku telepon teman laknat itu, berkali-kali baru diangkat.


"Halo, iya Dit, kenapa ?"


"Kenapa-kenapa, kamu sinting, Leha ? Mbak Karno sudah meninggal, bisa-bisanya kamu suruh aku kesini."


"Hahaha, maaf Dit, aku lupa. Mau bilang, tapi lupa juga. Gak papa yah, itung-itung kamu jalan-jalan. Lagian, aneh-aneh saja, Dit, kalau mau kaya itu yah usaha bukan ke dukun. Aku tahu, kamu pasti meremehkanku yang dulunya bodoh saat kita masih sekolah. Kamu selalu menghina dan menjadikanku budak. Eh, ternyata sekarang kamu lebih bodoh dariku, hahaha."


"Sialan !!Stres kamu, Leha !"


"Hahaha, hati-hati dijalan, Dit. Daerah situ banyak monyet jadi-jadian."

__ADS_1


Aku pukul stang motor saking kesalnya. Bisa-bisanya dia menipuku. Arrghh ! Mana jalanan sudah gelap, tak ada lampu. Hanya mengandalkan lampu motor saja.


"Awas kamu Juleha ! Nanti aku balas. Seenaknya mempermainkan aku dan malah memblokir nomorku. Dasar sialan !"


__ADS_2