
"Gak usah kaget gitu. Cuma 50 juta, pasti lunas. Kami mau buka usaha cafe dan online shop, pasti booming."
"Bagas gak setuju, Bu."
"Hahaha, emang kami minta pendapat atau persetujuan kamu ? Tenang aja, ini semua ga ada urusannya sama kalian. Makanya gak usah ikutan nimbrung disini. Sana, sana, masuk kamar aja." Mbak Dita malah mengusir kami.
"Mas Bagas berhak ikut campur dong, Mbak. Dia juga anaknya ibu. Kalian main memutuskan secara sepihak. Lagian apa iya, Mbak Dita bisa melunasi hutang di bank nantinya ? Hutang 10 juta di kami aja belum dibayar."
"Masih aja di ungkit. Tenang, kami pasti bayar."
"Udah ! Bagas, Ayu, jangan ribut. Bapak sama ibu udah setuju. Lagipula ini juga demi kebaikan kalian."
"Kebaikan Mbak Dita, bukan kebaikan Bagas."
"Demi kamu juga, Gas. Kalau Mbak mu dapat pinjaman, uang kamu juga bakal balik lagi."
Aku dan Mas Bagas akhirnya memilih bungkam dan memperhatikan. Bapak, ibu dan Mbak Dita terlihat sibuk mengurus surat-surat pengajuannya.
***
"Ayu, chenel kamu di banned ?" Tanya Mas Adit yang menghampiri ku ke dapur saat aku sedang masak.
"Iya Mas, kenapa ? Mau kasih uang buat buka usaha ? Ups, aku lupa kalau kalian juga hutang, mana bisa kasih pinjaman."
"Hahaha, pintar sekali mulut kamu kalau bicara dan menyindir orang. Mas ingatkan kamu dan Bagas, jangan pernah ikut campur masalah rumah tangga Mas. Apalagi berkomentar yang tidak pantas di akun Bella sampai akunnya di blokir."
Seketika aku langsung diam, mengingat apa yang sudah aku lakukan. Aku baru ingat kalau aku pernah berkomentar di akun perempuan bernama Bella itu dengan kalimat sindiran dan tuduhan kalau dia adalah seorang pelakor. Aku juga baru ingat, sejak kejadian video yang menggegerkan itu, akun Bella mulai di privat, bahkan sekarang sudah tidak ada.
"Jangan-jangan Mas Adit yang bikin chenel yutub dan akun TikTak ku di banned ?"
Kulihat Mas Adit tersenyum miring. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan ku, malah pergi begitu saja.
Tak terima dengan sikap Mas Adit, aku ikuti dia ke depan sambil terus memakinya. Saking kesalnya, aku lupa meletakkan spatula yang sedang aku gunakan untuk masak.
"Tega banget sih Mas jadi manusia. Usaha adik sendiri juga dirusak. Jangan-jangan benar kalau Bella itu selingkuhan Mas Adit, makanya Mas gak terima saat aku hujat di kolom komentarnya."
"Ngaco kamu kalau ngomong."
Mas Adit tetap melangkah ke depan.
"Tunggu !"
Aku tarik tangan Mas Adit, menodongnya dengan spatula yang sedang ku pegang. Aku kesal karena mukanya yang mencurigakan. Sepertinya dia memang menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
"Jawab, Mas. Kamu dalang dari semua ini ?"
"Kamu pikir saja sendiri."
"Apa salah kami sih, Mas ?"
"Kamu sudah mengusik Bella."
"Jadi, benar dia selingkuhan kamu, Mas ?"
"Bukan."
"Kalau bukan, lalu apa ?"
"Dia istriku !"
Mataku melotot lebar. Tubuhku bagai kena setrum tenaga tinggi. Mirip pohon kelapa terkena petir, otakku langsung tak bisa berpikir, kaget dengan pengakuan Mas Adit. Dia percaya diri sekali mengumbar aibnya.
"Wah, benar-benar gila kamu, Mas. Aku akan aduin ini ke Mbak Dita. Siap-siap terong mu jadi sambal balado."
"Hahaha, silahkan saja. Dita gak akan percaya sama kamu. Dia cinta mati padaku. Percuma kamu ngomong, yang ada malah dia akan semakin benci sama kamu."
Mas Adit pergi begitu saja. Aku diam mencerna ucapannya. Betul juga, Mbak Dita tak akan percaya padaku. Tapi, kenapa Mbak Dita sangat bodoh ? Apa dia tidak curiga, atau dia pura-pura tidak tahu ? Sungguh mengherankan sikap kakak iparku.
"Bau gosong, astaga !!!"
Ya sudah, terpaksa aku masak lagi.
***
"Gimana, Dit ?"
"Berhasil, Bu. Uang 50 juta sudah mendarat sempurna di rekening Dita."
"Alhamdulillah, jangan lupa jatah ibu."
"Iya, siap, Bu."
"Ingat Dita, jangan telat bayar. Bapak gak mau rumah ini sampai disita bank gara-gara cicilannya nunggak."
"Tenang aja, Pak. Bapak kayak gak percaya banget sama Mas Adit. Mas Adit itu bertanggung jawab. Dia bakal kerja keras buat bayar cicilannya ke bank."
"Semoga aja gak ingkar yah, Mbak." Ujarku keluar dari kamar. Sengaja dari tadi menguping, dan mulut pun jadi gatal ingin ikut berkomentar.
__ADS_1
"Gak usah ikut campur kamu Ayu !"
"Ya, aku hanya mengingatkan, Mbak. Jangan terlalu percaya pada sesuatu yang tampak dari luarnya saja. Contohnya kayak buah kedondong nih, luarnya aja mulus, tapi dalamnya berduri. Kalau gak hati-hati kita bisa terluka."
"Ngomong apa sih kamu, bikin emosi aja. Bilang aja kalau sirik. Makanya jadi orang jangan pelit, jadi cepat miskin."
"Gak apa-apa miskin, uang seadanya, dari pada banyak duit hasil minjem, kan pusing mikirin nya. Hehehe,"
Gemas sekali menghadapi kakak iparku ini.
"Sudah gak usah di dengerin Dit, biarin aja si Ayu mau ngomong apa, kamu fokus aja buat usahanya. Jangan buang-buang tenaga." Ibu mertuaku menengahi tapi tetap aja Julid.
"Oh iya Mbak, aku sudah kirim nomor rekeningku yah. Jangan lupa hutang 10 juta nya dibayar."
"Dih, enak banget kalau ngomong."
"Ya enaklah, Mbak. Itu hak aku sama Mas Bagas."
"Nanti, kalau urusan buka kafe udah selesai, baru aku transfer."
"Sekarang, Mbak. Katanya kalau punya uang mau di transfer."
"Berisik banget, sih. Cuma hutang segitu doang, perhitungan banget sama saudara sendiri."
"Hahaha, kocak Mbak Dita ini. Dari mana sejarahnya nagih hutang di bilang perhitungan. Emang zaman edan, yang punya hutang malah lebih galak dari pada yang hutangin. Ckckck"
"Sialan kamu Ayu ! Mulut kamu pedas banget kayak sambel. Sini kamu !"
Aku segera menjauh saat Mbak Dita mendekat dengan tatapan marah. Sekarang aku berdiri di belakang ibu mertuaku. Menjulurkan lidah, sengaja meledek Mbak Dita. Dia semakin kebakaran jenggot, berusaha menarik kerudungku, tapi tak kunjung bisa di raih karena terhalang oleh ibu mertuaku.
"Stop !!!" Teriak ibu mertua karena kesal dirinya berada di tengah-tengah kami.
"Ada apa, Bu, teriak-teriak ?"
"Ini mantumu, Pak, perhitungan banget. Nagih hutang melulu."
"Wajar dong, Pak. Ayu cuma nagih uang Mas Bagas. Saat ini kita lagi butuh buat buka usaha lagi." Aku segera menimpali ucapan ibu mertuaku.
"Dita, ganti uang adikmu. Jangan buat keributan."
"Ih, siapa yang buat keributan sih, Pak ? Ayu aja tuh yang perhitungan, pelit, iri, dengki, ah pokoknya hatinya busuk."
"Sudah-sudah, cepat bayar !"
__ADS_1
Alhamdulillah bapak mertua berpihak padaku dan suami.
Meskipun dengan wajah kesal, Mbak Dita tetap membayar hutangnya. Terserah deh, yang penting sekarang uang kami kembali.