
Dua bulan berlalu sejak Mbak Dita kembali ke tempat suaminya di Jakarta, hidupku sedikit damai dan mulai terasa indah. Pendapatan dari yutub dan TikTak meningkat.
Namun sikap Julid mertuaku juga ikut-ikutan meningkat tajam karena kejadian tempo hari.
Makanya aku dan suami sudah berencana untuk mengontrak rumah, saat gaji turun.
Batas kesabaran ku semakin menipis, terkikis habis oleh tingkah menyebalkan ibu mertuaku.
Pagi ini aku mendapati suamiku sedang duduk dengan wajah gelisah, tegang, ah, sangat sulit di artikan.
"Mas, kenapa mukanya tegang banget ? Ada masalah apa ?" Aku ikut duduk di samping Mas Bagas.
"Iklan di yutub kita gak ada, sayang."
"Hah, serius ? Coba cek yutub studio, Mas. Jangan-jangan...."
Aku tak melanjutkan ucapanku. Terlalu takut untuk berpikir negatif. Segera aku cek email, benar saja, seperti yang aku khawatirkan. Berita duka dikirim via email. Kerja sama kami di blokir. Chenel kami terindikasi melakukan pelanggaran, sehingga uang gaji bulan ini hangus. Pikiran kacau, aku pusing, uang yang hangus ada sekitar 10 juta. Bukan nominal yang kecil untuk aku abaikan.
"Mas, kok bisa kayak gini ? Perasaan konten-konten kita sesuai standar."
"Aku juga gak tahu, sayang. Kayaknya ada yang nakal, sayang. Sengaja bikin chenel kita kayak gini."
"Ya Allah. Cobaan apa lagi ini ?"
Air mata menetes deras. Seorang Ayu tidak biasanya seperti ini, tapi kenyataan kali ini sangat menyesakkan dada. Siapa orang jahat yang ada di balik ini ? Semua rencana-rencana yang sudah kami susun dengan matang bisa-bisa hancur semua karena uang gaji hangus.
"Mas, akun TikTak ku juga gak bisa di pakai." Tangisku semakin menjadi.
Suasana hatiku tak enak, makanya langsung mengecek akun TikTak. Dan benar saja, sepertinya memang ada orang jahat yang sengaja menghancurkan ladang usaha kami.
Aku hanya bisa menangis dalam pelukan suamiku.
Ini memang sudah resiko sebagai konten kreator, tapi tetap saja ini menyakitkan. Mungkin ada pihak-pihak yang tidak suka dengan konten-konten kami, karena pengikut kami yang semakin naik.
"Sabar yah sayang, tenang dulu. Pasti ada jalan keluarnya. Nanti kita pikirkan lagi sama-sama, yah. Tapi sekarang harus tenang dulu, oke. Kalau sekarang kita gak bisa mikir dengan baik."
Ya Allah, cobaannya sangat berat. Memang begini, saat usaha sedang merangkak naik, pasti ada saja angin badainya.
.
.
"Bagas, Ayu, selesai makan malam kita kumpul di ruang tv." Ucap bapak mertuaku saat kami sudah berada di meja makan.
Malam ini aku dan suami makan bersama bapak dan ibu mertua karena memang tadi ibu mertuaku yang mengajak.
__ADS_1
Sedikit aneh memang, tapi kami terima saja. Lagipula aku sedang tidak mood untuk masak gara-gara masalah akun yang diblokir.
"Memangnya ada apa, Pak ?" Tanya Mas Bagas.
"Udah, nurut aja."
Aku dan Mas Bagas saling pandang. Dan kami pun menikmati makan malam yang disediakan oleh ibu mertua.
...
"Duduk, duduk... ibumu mau ngomong penting." Ucap bapak mertua.
"Bapak aja yang ngomong." Ucap ibu mertua.
"Ibu saja, kan ibu yang dapat amanah."
"Bapak aja."
"Jadi mau ngomong apa, pak ? Kalau saling lempar gini, kami mending tidur aja. Lagi gak enak hati." Ujarku dengan nada lemah letih lesu. Maklum, baru kehilangan uang dan lapak chenel online di gusur sama manusia yang tak punya hati, entah siapa orangnya.
Jadi, bawaannya kesal.
"Ya udah, ibu yang ngomong. Jadi begini, Dita sama Adit mau buka usaha restoran. Dia butuh modal dan minta ibu pinjam sama kalian dua puluh juta."
"Hah ? dua puluh juta ? Astaga, Bu." Mataku langsung melotot mendengarnya.
"Gimana gantinya,Bu, yang sepuluh juta aja belum diganti sampai sekarang."
"Iya Ayu, nanti sekalian di ganti. Jadi 40 juta, di kasih bunga 10 juta."
"Kami gak ada duit, Bu." Jawabku cepat.
"Jangan bohong, dosa."
"Emang kami lagi krisis, Bu. Chenel yutub kami di blokir, dan uangnya juga gak bisa dicairkan." Mas Bagas akhirnya angkat suara.
"Hah, terus jatah ibu gimana ?" Seketika ibu mertua panik.
"Boro-boro jatah ibu, aku aja pusing mikirin nafkah istriku. Tambah lagi akun TikTak Ayu di blokir. Ada orang jahat yang sengaja ingin menghancurkan usaha kami."
"Ya Allah." Ujar bapak menghembuskan nafas kasar sambil menyenderkan punggungnya di sofa.
"Lagian, kalian sih, punya niat buruk. Jadi dapat karma kayak gini."
"Niat buruk gimana, Bu ?"
__ADS_1
"Itu istri kamu, pakai mau pindah rumah segala. Pasti dia mau menguasai uang kamu sendirian. Kena karma kan."
"Astaghfirullah,"
Aku hanya bisa mengelus dada. Situasi kacau begini, ibu malah ngomong yang tidak-tidak. Bukannya menasihati dengan ucapan yang mendamaikan hati, malah memaki.
"Terus gimana sama Dita dan Adit ? Uang bulanan ibu juga gimana ini, Gas ?"
"Ya Allah, Bu, Mas Bagas yang lagi terpuruk. Ibu malah mikirin Mbak Dita. Gak kasihan sama kami."
"Ini juga salah kamu, Ayu. Jadi istri tuh yang benar. Jangan menghasut buruk pada suami. Apalagi mengajak suami meninggalkan orang tuanya. Jadi kena musibah kan."
"Terserah ibu mau ngomong apa. Aku lagi gak mood berdebat."
"Sayang," Mas Bagas memanggil ku tapi aku abaikan. Maaf Mas, tapi kali ini aku benar-benar gak mood. Aku memilih masuk ke kamar. Pusing, isi pikiran benar-benar kacau tak karuan. Lebih baik aku mengistirahatkan jiwa dan perasaan.
***
Dua hari kemudian, rumah kedatangan tamu istimewa.
"Mbak Dita, Mas Adit ?"
"Kenapa, kaget kami disini ? Tenang aja kami gak bakal pinjam duit sama kamu. Dasar pelit."
"Bukannya pelit, Mbak. Lagian kalau minjem gak ada pikirannya juga. Usaha kami lagi hancur, mending Mbak bayar deh hutang Mbak yang sepuluh juta."
"Bahas hutang terus kamu. Kami aja baru sampai, mau istirahat, capek."
Mbak Dita dan Mas Adit langsung masuk ke dalam disambut antusias oleh ibu mertua. Aku dan Mas Bagas hanya bisa saling tatap dalam diam. Terasa sekali perbedaan sikap pilih kasih mertuaku.
Malam harinya, ibu mertua, anak sama menantu kesayangan sudah ngumpul. Aku tarik saja Mas Bagas untuk ikutan gabung. Entah kenapa aku merasa ada hal serius yang ingin mereka bahas.
"Bu, syarat-syarat nya gimana ? Sudah ada ?" Tanya Mbak Dita sesaat sebelum kami duduk.
Tapi setelah kami ikut duduk, wajah Mbak Dita langsung berubah.
"Ngapain ikut-ikutan kumpul segala ?"
"Emang apa salahnya sih, Mbak ?"
"Sudah-sudah, jangan ribut. Gak apa-apa, biar Bagas juga tahu."
"Tahu soal apa, Bu ?"
"Mbak mu ini mau menjaminkan rumah ini di bank. Dia mau pinjam 50 juta buat buka usaha."
__ADS_1
"Apa ?"