Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Perdebatan


__ADS_3

Waktunya makan malam. Kami keluar kamar dengan Kiara dalam gendonganku karena dia belum tidur, tak mungkin ditinggalkan sendirian di kamar.


"Kalian kenapa mau beli tanah di Jakarta tanpa sepengetahuan kami ?"Tanya Bapak mertua saat kami makan bersama di meja makan.


"Jangan jadi anak durhaka, Bagas, Ayu. Minta pendapat kami dulu." Ucap Ibu mertua menambahkan.


"Memangnya kenapa kalau kami buat rumah di Jakarta, Pak, Bu ? Harusnya Ibu dan Bapak senang dong, biar Ayu dan Mas Bagas gak ribut-ribut lagi sama Mbak Dita."


"Bapak tidak setuju ! Usaha saja disini. Bapak dan Ibu sudah tua, harusnya kalian urus kami."


"Benar kata bapakmu. Masa usaha kamu maju mau di Jakarta, enak banget Mamanya Si Ayu."


"Tenang aja, Bu. Mamaku bukan tukang morotin mantu. Dia udah biasa mandiri, bisa kerja sendiri untuk kehidupannya."


Brak!


Bapak mertua menggebrak meja. Matanya merah menyala menatap kami. Apa sih masalahnya ? Ahh, jangan sampai karena drama mertua, aku gagal otw pindah ke Jakarta.


"Kalian jangan seenaknya. Mentang-mentang banyak uang, bersikap seenaknya sama orang tua. Ayu, kehadiran kamu disini cuma bikin keluarga Bapak penuh kebencian. Gara-gara kamu, Dita dan Bagas jadi musuhan !!!"


Asli, baru kali ini aku mendengar ucapan Bapak sangat pedas. Sakit sekali mendengar perkataan Bapak mertuaku. Menusuk sampai ke hatiku. Kenapa malah aku yang disalahkan ?


"Sayang, kamu nangis ?"


"Gak, Mas. Aku ke kamar dulu. Mas makan aja duluan." Rasanya mau nangis Bombay. Lagi mode sensitif, sakit hati sekali dengan sikap Bapak mertua. Kalau ibu, aku sudah biasa. Tapi aku tak menyangka, mulut bapak lebih mengerikan.


Aku juga manusia biasa. Meski tampak tegar dan tegas, kalau dihina seolah-olah aku biang keroknya, tentu saja rasanya sangat sakit. Bagaikan tersiram air keras, perih dan nyeri.


"Tunggu, sayang !" Mas Bagas memegangi tanganku, membuat langkahku terhenti. Matanya tajam menatap Bapaknya.


"Pak, selama ini Bagas selalu menghormati Bapak. Sikap Bapak gak tegas, saat Ibu selalu membela Mbak Dita, Bagas terima, Pak. Pekerjaan Bapak gak jelas dan selalu ngandelin Bagas dari dulu menjadi tulang punggung, Bagas juga terima, Pak. Tapi kali ini Bagas gak terima Bapak menghina istri Bagas. Apalagi melimpahkan sebuah kesalahan yang gak pernah Ayu lakukan. Semua kekacauan ini, rumah ibu digadai sampai gak sanggup bayar, semua ulah siapa, Pak, Bu ? Ulah siapa ?" Bentak Mas Bagas penuh emosi.


"Kenapa diam ? Coba jawab, Bu, Pak. Disini bibit masalahnya siapa ? Oh iya, Bagas lupa. Kalian ini kan pilih kasih. Selalu mengutamakan Mbak Dita diatas segala-galanya. Mau Bagas protes bagaimanapun, mana pernah Bapak sama Ibu ngertiin Bagas."

__ADS_1


"Cukup, Bagas !" Bentak Bapak mertua.


"Kenapa, Pak ? Malu sama sikap Bapak sendiri ? Atau tetap tidak sadar diri dan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dilakukan Mbak Dita dan Mas Adit. Bela terus mereka, Pak. Bela sampai ke liang lahat !"


Plak!


"Mas!" Pekikku kaget.


Bapak mertua menampar suamiku. Ya Allah, aku harus bagaimana ? Mau memisahkan, tali aku sedang menggendong Kiara.


"Tampar lagi, Pak. Pukul sekalian sampai Bapak puas. Bagas ini sebenarnya anak kandung atau hanya anak pungut ? Kenapa selama ini sikap kalian sangat berbeda jauh memperlakukan antara Bagas dan Mbak Dita ?"


"Bagas, Pak, sudah. Malu didengar tetangga kian ribut kayak gini."


"Hahaha, Bagas terus yang disalahkan. Kalau Mbak Dita saja, selalu dibenarkan. Sadar dengan sikap pilih kasih dari ibu dan bapak, makanya Bagas memutuskan untuk ke Jakarta. Bagas serahkan rumah ini buat ibu dan bapak, biar kalian ingat, siapa yang mati-matian mempertahankan rumah ini, sampai kami harus menelantarkan target-target kami."


"Mas, udah, Mas." Ucapku sambil mengelus lengan suami.


"Tenang yah, anak Mama. Ara jangan nangis, yah, sayang..." Aku tenangkan dulu anakku yang menangis dalam gendonganku.


"Anakku nangis. Lihat, Pak, Bu, anak sekecil itu saja merasa jika keberadaannya disini tidak dipedulikan. Di depan bayiku kalian tega mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Ayo sayang, kita pergi dari sini !"


Mas Bagas menarikku ke kamar. Dengan raut penuh emosi, dia memasukkan semua pakaian ke dalam koper. Aku hanya bisa diam di pojok kamar sambil menenangkan Kiara.


Setelah Kiara tenang, aku letakkan anakku di atas kasur. Aku hampiri suamiku dan memeluknya dari belakang. Kasihan sekali, batinnya pasti sangat tersiksa. Tak ada yang mempedulikan kebahagiaannya. Tinggal disini, selalu diusik. Mau pindah ke Jakarta malah ditahan-tahan. Heran deh, mertuaku maunya apa ?


Apa mereka maunya kami berikan rumah ini, duit, sama usaha pentol dan ****** ***** sekalian untuk Mbak Dita ? Kalau kami sudah belangsak baru boleh tinggal di Jakarta. Apa itu mau mereka ? Heran ! Sekali saja membiarkan aku dan Mas Bagas hidup tentram, aman, nyaman bagai di atas awan.


"Istighfar, Mas... Dulu kita masih bisa kabur-kaburan. Sekarang ada Kiara, Mas. Jangan gegabah dalam bertindak. Kita belum ada mobil, masa Kiara mau diajak naik motor kesana-kemari. Tenang dulu, yah... Kita akan tetap pindah ke Jakarta, tapi pakai mode selow."


"Maaf, sayang. Maafkan Mas. Bukan membawa kamu di tengah keluarga yang nyaman, Mas malah membawamu ke dalam keluarga yang lebih layak dibilang neraka."


"Istighfar, Mas. Gak boleh kayak gitu. Baik buruknya mereka, itu tetap orang tua kamu, Mas. Tegas boleh, tapi jangan sampai benci apalagi menyimpan dendam. Tenang, yah, Mas..."

__ADS_1


Suamiku mengangguk.


Seburuk apapun orang tua, sebagai anak kita tetap harus berbakti. Karena kebaikan orang tua tak akan bisa kita bayar. Aku akan selalu bantu doa agar Gusti Allah melembutkan hati mertuaku, agar mereka sadar dan tidak berat sebelah memperlakukan anak-anak mereka.


.


.


"Bagaimana perkembangan jual beli tanah, sayang ?" Tanya Mas Bagas.


"Harga kita sudah sepakat, Mas. Nanti kita ke Jakarta, yah. Cek tanahnya dulu. Gak usah langsung bawa banyak barang. Kamu kan juga masih harus proses pindahin usahanya. Sekalian kita cari lokasi buat produksi pentol."


"Siap, sayang. Jadi, kapan rencananya ke Jakarta ?"


"Lusa, Mas. Aku juga mau ikut, yah, Mas. Insyaallah baby Ara kuat di jalan. Kita sewa mobil aja, sekalian jalan-jalan. Toh, Ara udah lima bulanan. Udah aman lah di ajak jalan jauh."


Sesuai rencana, aku sudah menyiapkan beberapa pakaian untuk kami pergi ke Jakarta. Pastinya pakaian Kiara paling banyak.


"Mobil siapa itu, Ayu ?"


"Mobil aku, Bu."


"Ah, Masa ?"


"Gak percaya banget sih, Bu."


Maaf, Bu, becanda yah, bukan bohong. Biar makin penasaran, aku sengaja tak bilang kalau mau ke Jakarta. Bahkan, kami menyewa mobil saja bukan dari orang kenalan di desa ini. Tapi, langsung sewa di rental mobil yang ada di kecamatan. Pemiliknya teman Mas Bagas juga, jadi dapat potongan harga.


"Kalian mau kemana ?" Tanya Ibu mertua masih terus mengawasi.


"Ke Jakarta !"


"Hah ???"

__ADS_1


__ADS_2