Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
POV Ayu


__ADS_3

"Mas, ayo ikut. Pasti udah terjadi perang dunia antara Adit dan Aldi, hahaha. Keren, nih, Mas."


"Sayang..."


"Hehehe, maaf, Mas. Soalnya aku kepo nih, ayo."


Mbak Dita sudah kabur menggunakan motor. Aku ingin mengikutinya tapi ingat ada Mas Bagas. Salam kondisi apapun, tentunya harus ingat suami. Jangan melakukan hal apapun tanpa izinnya.


"Jangan ikut campur, sayang. Lebih baik kita bawa ibu ke rumah sakit."


"Bagas, kamu lihat Dita saja. Ibu takut terjadi apa-apa." sela ibu.


"Tapi, Bu..."


"Ibu mohon, Gas. Aldi itu galak dan kasar, nanti kalau Dita diapa-apain gimana ?"


"Tuh, dengar kata ibu, Mas. Biar ibu disini dulu."


"Ya sudah, ayo."


Kamu segera menuju pabrik rokok milik keluarga Si Aldi. Lokasinya tak jauh dari sini. Di dekat pabrik juga ada rumah orang tuanya.


...


"Sialan !" teriak Adit dari kejauhan.


Saat aku dan suami datang, kondisi Mbak Dita sedang terjatuh dengan kondisi lutut dan sikut yang terluka. Mungkin Mbak Dita berusaha melerai keributan, malah jadi pelampiasan.


Aldi memukul Adit dengan brutal. Beberapa karyawan tak ada yang berani memisahkan. Keributan terus terjadi, entah apa awal mula permasalahannya, aku tidak tahu. Aldi dan Adit sama-sama sudah babak belur.


"Hentikan, Mas !" teriak Mbak Dita sekuat tenaga tapi dia tak berani mendekat.


"Woy, berhenti !!! Gak berhenti, aku laporin polisi !" teriakku emosi.


"Biar Mas pisahkan mereka."


"Jangan, Mas. Nanti kamu malah kena pukul. Aku tak akan membiarkan suami tercinta jadi ikan **** bonyok. Nih, pakai cara cerdas saja."


"Cara cerdas gimana maksud kamu ?"


Ngiung.... ngiung... ngiung...


Aku gunakan ponsel untuk menyalakan sirine polisi.


"Kalau kalian masih ribut, aku bawa polisi kesini !" teriakku emosi. Ternyata, ampuh juga membuat dua pria itu berhenti bertengkar. Mereka saling menjauh dengan wajah was-was, pasti takut kalau beneran ada polisi.

__ADS_1


"Heh, Mas Adit, ngapain sih ganggu rumah tangga orang, hah ?" tanyaku terpancing emosi juga.


"Jangan ikut campur !"


"Ya harus ikut campurlah, biar gak bikin gaduh."


"Arrghh, sialan kalian !" bentak Mas Adit. Dia pergi begitu saja. Sementara Aldi, mengibaskan tangan Mbak Dita yang mengejarnya. Dia juga pergi, acara ribut pun bubar.


"Mbak, sini aku bantu, kasian banget sih."


"Lepas !"


Dasar emak gambreng, ditolongin malah gak ada terima kasihnya sama sekali. Suamiku mengusap pundak, agar aku tak terpancing emosi. Kami mengikuti Mbak Dita dari belakang. Sampai di rumah, kami mendengar keributan antara Aldi dan Mbak Dita.


"Bu, ayo, waktunya kita pulang." Ajak Mas Bagas.


"Dita gimana, Gas ?"


"Tenang aja, dia sudah dewasa, Bu."


"Tapi..."


"Ya sudah, kalau ibu mau tetap disini, Bagas kembali ke Jakarta, tapi jangan hubungi Bagas lagi." jawab suamiku dengan nada sedikit kesal.


"Ya sudah, ibu ikut kalian."


Kami bawa ibu ke rumah dulu. Tak bisa langsung membawa ibu ke Jakarta, takut malah membuat kondisinya semakin buruk. Sebelumnya, kami bawa dulu ke dokter, dan dianjurkan untuk dirawat. Kami sengaja memesan rawat di rumah. Ribet kalau di rumah sakit, aku punya anak balita, tidak nyaman kalau tinggal atau bolak balik rumah sakit.


"Sus, makasih. Nanti di cek lagi kan ?"


"Tentu, Bu, seperti dirawat di rumah sakit. Nanti dokter akan cek besok sore. Obatnya dimakan sesuai aturan yah, Bu."


"Iya, Sus, makasih."


Ibu terbaring lemah di kamar. Untungnya rumah ini sudah dibersihkan Mbak Rina dan Joni tadi. Kiara juga aku titipkan sama mereka.


"Mbak Rina, makasih yah, selalu membantu."


"Sama-sama, Ayu. Kebaikan kamu malah lebih banyak sama keluarga kecilku. Karena kepercayaan kamu menjalin kerja sama dengan kami, aku dan suami bisa punya rumah. Harusnya aku yang banyak terima kasih."


"Bisa aja, Mbak Rina ini."


Setelah beberapa menit kami berbincang, Mbak Rina dan Joni izin pulang. Sementara aku dan Mas Bagas sibuk mengurus Kiara dan Ibu, sampai lupa ternyata sudah hampir malam. Aku izin sama Mas Bagas untuk pergi membeli makanan karena disini tidak ada apapun yang bisa dimasak.


...

__ADS_1


Sampai di rumah, aku sodorkan bubur untuk ibu mertua. Dia makan sedikit, wajahnya tampak lelah sekali, mungkin batinnya juga.


"Ayu, telepon Dita, ibu mau bicara. Tadi, berkali-kali ibu telepon gak diangkat."


"Iya, Bu, sebentar."


Aku coba telepon nomor Mbak Dita, tapi tak diangkat. Setelah itu nomornya malah tidak aktif. Aneh sekali, ibunya sakit malah diabaikan begitu saja.


"Gak bisa dihubungi, Bu."


"Yu, tolong nanti kamu ke rumah Dita. Ibu takut Dita kenapa-kenapa."


"Emangnya Mbak Dita bakal gimana, Bu ? Orang dia di rumah suaminya sendiri. Udah, ibu jangan banyak pikiran. Makan aja dulu, biar cepat sembuh."


Raut gusar tergambar jelas, ada apa dengan ibu mertua ? Apa jangan-jangan Aldi memang suka main kasar ? Sudahlah, biar Mbak Dita belajar bertanggung jawab dengan pilihannya sendiri. Dia yang memilih, biarkan dia yang menikmati.


Lagian badanku capek sekali setelah melakukan perjalanan jauh. Mau rebahan sebentar sambil santai-santai.


"Mas, ini laporan keuangan semakin menurun aja ? Harusnya kita kontrol terus sampai stabil, kalau kayak gini bisa rugi, Mas." ujarku saat rebahan di samping Mas Bagas. Tak sengaja aku cek soft file laporan keuangan.


"Iya, sayang, memang harusnya kita melakukan upgrade produk. Tapi, Mas harus kesini, jadi terhambat."


"Hhmmm, tapi kita juga gak bis tinggalin ibu sendirian, Mas."


"Gimana kalau kita bawa saja ibu ke Jakarta, sayang ?"


"Sepertinya, itu ide yang bagus. Dari pada bolak balik lagi, ribet ngatur pabriknya."


"Tapi, kamu gak apa-apa ibu tinggal sama kita ?"


"Ya, gak apa-apa, Mas. Emang kenapa ? Aku udah kebal kalau ibu Julid, hehehe. Tapi, kayaknya ibu bak bakal betah tinggal sama aku."


"Hehehehe, karena ibu kewalahan ngadepin istri Mas yang cerdas ini."


"Wkwkwk, bisa aja, emang sih, sedikit cerdas. Maklum, aku ini suka baca-baca novel tentang rumah tangga, Mas. Jadi, punya seribu satu cara membangun jembatan, jalan, bahkan selokan untuk melewati tingkah mertua, hahaha."


"Istri paket komplit kamu kamu tuh, sayang. Kayaknya aku ini pria paling beruntung."


"Halah, gombal !"


"Serius, kamu mau apa ? Bulan dan bintang pun pasti Mas kasih."


"Hahahaha, dasar bucin akut tingkat internasional." Suamiku cengengesan. Padahal kita sedang menghadapi masalah, tetapi tetap bisa senyum bahagia.


Kunci rumah tangga yang bahagia itu bukan hanya uang, tapi kompak menghadapi cobaan. Kalau kompak, uang bisa didapatkan.

__ADS_1


__ADS_2