
"Dita, perut kamu makin besar, tapi ibu lihat Adit makin lalai memberi kamu nafkah. Terus gimana buat kamu lahiran nanti ? Kamu tahu sendiri ibu sama bapak juga sekarang kesusahan."
"Gak tahu, Bu, Dita pusing ! Gimana kalo kita cari aja Bagas sama Ayu ke Jakarta ? Aku yakin mereka pasti mau bantu. Kalau gak mau, ya kita paksa aja. Gimana, Bu ?"
"Ya sudah, kapan ?"
Ditengah-tengah perbincangan antara aku dan ibu, tiba-tiba Bapak pulang.
"Lho, kok Bapak sudah pulang ?
Ada yang aneh dengan Bapak. Bibirnya pucat pasi, wajahnya terlihat lemah, letih dan lesu, mirip orang belum makan seharian. Tapi, bukannya menjawab, Bapak malah langsung pergi ke dapur. Aku dan Ibu khawatir terjadi sesuatu, kami ikuti saja ke dapur dan memperhatikan tingkah laku Bapak. Bapak minum satu gelas air putih sampai habis. Aku dan Ibu terus menanyakan keadaannya, tapi Bapak tak langsung menjawab. Tingkahnya kayak orang linglung saja.
"Pak, kenapa sih ? Kayak orang kesambet kuntilanak bisu aja !"
"Bu, tolong buatkan teh hangat. Kepala Bapak rasanya pusing sekali."
Tanpa menggubris pertanyaan dari kami, bapak malah masuk ke kamar. Sementara itu, Ibu membuatkan teh untuk bapak, aku duluan saja mengikuti bapak ke kamar. Terlihat bapak merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan membalut sekujur tubuhnya dengan selimut tebal seperti orang kedinginan.
"Bapak sakit ?"
"Dita, tolong panggilkan Dokter Eko. Kepala Bapak sakit seperti di tusuk-tusuk. Dingin tapi badan panas."
Aku pegang tangan Bapak, benar saja tangannya panas bagai penggorengan. Aku bergegas ke rumah Dokter Eko Karen biasanya jam begini dia belum ke klinik.
...
"Bagaimana keadaan Bapak saya, Dokter ?" Tanyaku saat Dokter selesai memeriksa keadaan Bapak.
"Kondisi Pak Ramli kurang stabil. Tekanan darahnya sangat tinggi. Tolong dijaga pola makanya, jangan terlalu capek, dan jangan terlalu banyak pikiran. Saya sudah kasih resep, tolong diminum sesuai anjuran. Bapaknya dijaga ya, Mbak. Darah tinggi sangat berbahaya kalau dibiarkan. Bisa memicu serangan jantung atau bahkan stroke."
"Astaga, parah juga yah, Dok."
"Iya, makanya harus diperhatikan betul-betul. Ini resepnya bisa diambil di klinik saya. Tunjukkan saja resepnya."
__ADS_1
"Baik, Dok. Terima kasih."
Dokter Eko pun pamit. Beruntung di kampung ini, ada Dokter seperti Dokter Eko yang menerapkan sistem mengunjungi pasien ke rumah, jika kondisinya darurat seperti Bapak saat ini.
...
"Bu, duitnya mana buat bayar resep Bapak."
"Ibu lagi gak punya duit, Dit."
"Tanyain bapak deh, tahu aja bapak pegang duit."
Tanpa banyak bicara ibu masuk ke kamar, dan setelah menunggu beberapa saat ibu kembali dengan tangan kosong. Sepertinya Bapak juga tak punya uang. Bagaimana ini ? Aku juga tak pegang uang. Uang jatah dari Mas Adit seminggu hanya lima puluh ribu. Kalau minta lagi, dia pasti banyak alasan dan itu sudah pasti tidak akan dikasih.
"Gimana ini, Dit ? Kalau obatnya gak ditebus, Ibu takut Bapak makin parah. Kamu dengar sendiri kan kata Dokter Eko tadi."
"Aduh, Bu. Bikin pusing aja deh. Ya sudah, mending Ibu cari pinjaman deh sama tetangga. Itu satu-satunya solusi sekarang. Ihh, hidup kok susah banget kayak gini ?!"
Cukup lama Ibu tak kunjung kembali. Aku yang mulai frustasi hanya bisa bolak balik ke depan kamar melihat kondisi Bapak. Dipikir-pikir, susah sekali hidup kami. Makan saja susah, pas sakit mau berobat juga sulit. Lagian, ada-ada saja Si Bapak, kondisi lagi sulit begini, Bapak pakai sakit segala. Bikin makin susah aja.
"Dit, ini uangnya. Kamu cepetan tebus resepnya Bapak." Ibu menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribu.
"Lama banget sih, Bu ?! Dapat minjem dari siapa, Bu ?"
"Dari Si Intan."
"Ih, ngapain sih Bu, minjem duit sama dia ? Si Intan itu kayak nenek gambreng dan mulutnya itu lho... kayak silet, tajem !"
"Terus mau pinjam sama siapa lagi ? tetangga kita disini rata-rata orang miskin. Cuma Si Intan aja yang ekonominya bagus, secara suaminya kan pelayaran. Sudah, lupakan dulu soal itu. Yang penting sekarang Bapak bisa minum obat dulu. Buruan bayar dan ambil obatnya."
Ya sudahlah, aku biarkan saja. Nanti kalau ketemu Si Intan aku pura-pura tak pernah pakai uang dia saja. Toh, yang minjem Ibu bukan aku.
***
__ADS_1
"Bu, Bapak gimana ? Udah hampir dua Minggu lho Bapak gak kerja ? Mana kita makan cuma sama telur, kadang cuma sama sayuran doang. Kalau Bapak gak kerja terus, kita bisa gak makan, Bu ! Emang Ibu gak kasihan sama aku yang lagi hamil begini tapi makannya gak bergizi, gak teratur pula !"
"Ibu juga mikirnya kayak gitu, Dit. Tapi mau gimana ? Ibu gak bisa apa-apa. Kerja sampingan juga udah gak ada panggilan dari Bu Fatimah. Mmm, atau coba kamu hubungi Ayu atau Bagas lagi. Siapa tahu mereka udah bisa dihubungi, Dit."
"Mereka itu udah gak ada kabarnya, Bu. Susah nyarinya. Mau kita cari sampe lubang semut pun gak bakal ketemu kalo mereka emang niatnya gak mau ketemu sama kita. Lagian, kondisi Bapak lagi sakit, mana bisa ditinggal buat cari mereka."
"Iya juga yah. Terus kita harus gimana ini, Dit ? Sana kamu minta duit dulu sama Adit. Kamu kan juga istrinya, masa gak dikasih uang. Ibu udah gak punya duit buat beli sayuran. Di dapur udah gak ada apa-apa lagi. Kasihan juga Bapak belum makan. Nanti bukannya sehat, malah tambah sakit."
"Hhmm, sebenarnya Dita malas banget ke kontrakan, Bu. Nanti harus ketemu Si Bella perempuan sok-sokan itu. Tapi mau gimana lagi ? Ya sudahlah !"
Demi mengisi perut yang kosong siang ini, aku rela harus berjalan kaki ke kontrakan Mas Adit dan pelakor itu. Tapi, baru saja melangkah keluar rumah, tiba-tiba perutku rasanya tak enak.
"Aduh, Bu... perutku kok tiba-tiba mules. Aduh duh, sakit Bu !"
"Mules kenapa, Dit ?
"Aduh... Bu, sakit ! Kayaknya Dita mau lahiran, Bu !"
"Hah ? Mau lahiran ?"
"Aduh, Bu... sakit banget !"
"Ya Allah, Dita... kenapa harus lahiran sekarang, sih ? Bapak kamu lagi sakit masa ibu tinggal ?"
"Ihh, Ibu ! Lahiran mana bisa diprediksi, Bu ! Aduh... Sakit nih, perut aku. Buruan cari bantuan, Bu ! Aku gak kuat nahan sakitnya, Bu !'
Prang !
"Suara gelas pecah ! Kenapa sama Bapak kamu, Dit ?"
"Duh, Ibu cari bantuan dulu. Anakku mau brojol, nih !" Teriakan ku tak dihiraukan ibu. Wanita yang melahirkan aku itu malah masuk ke kamar. Padahal aku sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang melilit ini.
"Tolong !"
__ADS_1