Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Settingan


__ADS_3

"Astaga !" Pekik ku kaget.


"Kenapa, sayang ?"


"Mas, sini deh."


Aku tarik tangan suamiku sedikit menjauh dari ibu agar ibu mertua tidak ikut melihatnya. Aku tunjukkan video yang sedang lewat di berandaku. Akun tiktakers yang aku curigai sebagai selingkuhan Mas Adit memposting video saat mereka menikah. Pria itu benar-benar Mas Adit. Dari cerita di video itu, Mas Adit sudah menikahi perempuan bernama Bella itu, sekitar dua tahun yang lalu.


"Berarti dugaan kamu benar, Sayang. Mas Adit selingkuh."


"Adit selingkuh ?"


Ibu mertuaku tiba-tiba sudah ada di belakang kami.


"I-ibu ?"


Ibu merampas ponselku dan melihat sendiri video itu.


"Astaghfirullah!" Teriak ibu histeris.


Aduh, makin heboh. Ibu berteriak memanggil bapak. Suasana rumah semakin gaduh, mirip demo aja.


Kami sekeluarga berusaha menghubungi Mbak Dita dan Mas Adit berkali-kali tapi tak satupun panggilan di jawab.


"Ya Allah, pak, kenapa bisa begini ? Kenapa harus anak ibu yang di selingkuhin ?"


"Sabar dulu, Bu. Kita tunggu kabar dari Dita."


Kami sedang berkumpul di ruang tamu. Mbak Dita masih saja tak bisa dihubungi, menambah panik saja. Kemana sih Mbak Dita, susah sekali di hubungi.


Apa dia sedang melabrak istri kedua suaminya ? Atau sedang adu Jambak ? Astaga, semoga saja Mbak Dita tak kena KDRT.


"Gimana, Ayu, Bagas, masa gak bisa di hubungi juga ? Apa kamu ke Jakarta aja, Gas, nyusul Mbakmu. Ibu benar-benar khawatir."


"Tenang dulu, Bu. Tahu aja bisa nyambung. Ibu pikir Jakarta dekat ? Jauh, Bu."


"Ayu ! Kamu ini bukannya bikin hati ibu tenang, malah bentak-bentak."


"Lha, siapa yang bentak-bentak ?"

__ADS_1


"Ya kamu ! Kamu suka kan Dita di selingkuhin ? Kamu pasti bahagia di atas penderitaan anakku. Gak ada akhlak kamu, Ayu. Awas saja kalau Dita kenapa-kenapa, kamu harus tanggung jawab."


Keningku berkerut dengan muka serius mendengar ucapan ibu mertuaku. Menantunya yang selingkuh, kenapa aku yang kena imbasnya ? Dasar mertua, sepertinya harus di kasih ramuan anti stres biar mulutnya gak ngaco kemana-mana.


Mulutku rasanya gatal ingin membalas ucapan ibu mertua yang membagongkan itu, tapi Mas Bagas menahanku.


Baiklah, yang waras mengalah dulu. Suasananya juga tidak tepat jika harus perang mulut lagi dengan mertua Julid seperti mertuaku ini.


Beberapa saat kemudian, akhirnya teleponnya nyambung. Suamiku sengaja menyalakan loud speaker biar semua anggota keluarga bisa dengar.


"Ya, kenapa, Gas ? Ganggu aja."


"Dita, kamu yang sabar yah. Sini balik ke rumah ibu, Nak. Biar kita balas suamimu yang tak tahu diri itu."


"Hah, maksudnya gimana, Bu ?"


"Ibu tahu ini semua pasti sangat berat, pasti tidak mudah juga buat kamu. Tenang saja, Nak, kita cari suami baru. Cepat kamu pulang, kalau sampai Adit berani KDRT sama kamu, ibu kirim dia ke penjara."


"Tunggu deh, ibu dari tadi nyerocos terus. Ini ada apa sih ?"


"Kamu gak usah pura-pura kuat dan nutupin dari ibu, Nak. Ibu udah tahu semuanya. Kamu pulang lagi ke rumah ibu, yah, Nak."


"Jadi gini Mbak, tadi Bagas dan Ayu lihat di TikTak ada akun bernama Bella yang posting video sama suami Mbak. Katanya mereka juga udah nikah dua tahun. Makanya kami semua khawatir sama keadaan Mbak."


"Hahaha, ya ampun, soal itu ?"


Aku dan Mas Bagas saling lirik. Kami keheranan dengan respon Mbak Dita. Dalam benakku terbayang Mbak Dita yang akan mengamuk sambil nangis-nangis. Tapi kenapa malah tertawa girang ? Aneh, apa kakak iparku mulai stres.


"Mbak, nyebut Mbak. Jangan depresi akut gara-gara suaminya selingkuh. Lapangkan dada dan kuatkan raga, Mbak."


"Ngaco kamu Ayu. Ini pasti gara-gara kamu yang bikin heboh. Itu semua cuma akting. Setingan. Mas Adit sudah lama kerja sama Bella. Kita juga udah tanda tangan kontrak kerja samanya, biar Mas Adit jadi aktor di kontennya Bella."


"Apa iya ? Jangan bohong sama ibu, Dita."


"Ih, ibu gak percaya banget. Makanya Bu, jangan suka kemakan omongan buruk si Ayu. Dia emang selalu sirik sama aku. Sebentar, aku video call. Ada Mas Adit juga disini."


Di layar ponsel terlihat Mas Adit sedang tidur berdua bersama Mbak Dita. Wajah mereka tampak lelah. Baju yang Mbak Dita pakai juga terlihat seksi. Mungkin dia sudah mengikuti saran Bunda Loren.


"Kamu beneran gak selingkuhin anak ibu kan, Adit ?"

__ADS_1


"Ya gak lah, Bu. Ibu sama bapak gak lihat, kita lagi romantis begini."


"Syukurlah."


"Udah dengar sendiri kan, Bu ?"


"Beneran yah suami kamu gak selingkuh."


"Beneran, Bu ! Ponsel aku gak aktif karena lupa di charge. Tadi begitu sampai, Mas Adit langsung ngajak tidur, jadi lupa ngabarin ibu. Udah ya, Bu. Kami mau berduaan dulu. Dan kamu Ayu, jangan sembarangan kalau nuduh. Kamu ini bikin heboh saja bisanya."


Sambungan telepon di putuskan secara tiba-tiba. Aku duduk sambil geleng-geleng kepala. Apa iya, itu semua hanya setingan ? Cuma buat konten aja ?


"Ayu, lain kali kalau ada berita di cek dulu kebenarannya. Jangan bikin heboh satu rumah." Ujar bapak mertuaku tampak kesal.


"Gas, nasehatin istri kamu. Pintarnya bikin keributan. Jangan asal nuduh, Adit itu pria baik. Gak mungkin dia selingkuh. Kamu lihat sendiri kondisi mereka terlihat harmonis."


"Lha, siapa yang pintar bikin keributan ? Mending pintar cari uang, biar bisa pisah rumah dengan mertua. Orang ibu sendiri yang lihat videonya, bukan Ayu yang ngadu."


"Tapi kamu yang bikin heboh. Coba tadi pikiran kamu positif, pasti ibu juga gak bakal mikir macam-macam."


"Berarti salah ibu juga. Siapa suruh ikut-ikutan berpikir negatif. Lagian Mbak Dita aneh, kenapa gak cerita dari kemarin-kemarin. Gimana gak buat heboh."


"Intinya kamu yang salah ! Udah, jangan ikut campur urusan rumah tangga Dita. Jangan sampai rumah tangga anakku hancur gara-gara mulut jahat kamu."


"Stop, Bu ! Gak usah ngomong yang gak-gak kayak gitu. Jelas-jelas ini salah Mbak Dita, dia gak pernah ngomong."


"Bagas ! Kamu ini sama saja kayak istri kamu. Udah, ibu mau makan lagi."


Ibu dan bapak menampakkan raut wajah kesal luar biasa kepadaku.


Ekspresinya sudah seperti melihat musuh bebuyutan.


Kesal sekali, hati ini rasanya bergemuruh emosi.


"Gak usah dipikirin omongan ibu, Sayang. Sudah, abaikan saja."


"Tapi Mas, jelas-jelas videonya kayak gitu."


"Sudah, biarkan saja. Pelajaran buat kita, gak usah peduli lagi sama Mbak Dita."

__ADS_1


Baiklah, mulai sekarang lebih baik fokus pada diri sendiri. Tak usah berempati pada orang yang tak punya hati. Malah bikin sakit hati dan emosi tingkat tinggi.


__ADS_2