Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Perkara Cicilan


__ADS_3

Aku tak sabar menunggu suamiku pulang dari narik ojek untuk memberitahu kabar gembira ini. Aku berencana untuk membuka usaha makanan dan kembali merintis yutub dan TikTak dari awal lagi.


"Alhamdulillah kalau uangnya sudah dibalikin. Kita mulai lagi buka ladang usaha yah, sayang. Maaf karena aku belum bisa membahagiakan kamu."


"Kesetiaan dan cinta Mas sudah membuat aku bahagia. Mas cukup berjanji untuk tetap menjadi Mas Bagas yang seperti ini. Jangan pernah berubah."


"Pasti, sayang." Kami pun saling berpelukan.


Mau bagaimana lagi, badai cobaan sudah menghantam. Sulit untuk dilawan. Hanya bisa terus berjuang bertahan hidup, dan menjaga bahtera rumah tangga ini untuk terus berlayar.


Masa paling sakit dan sulit saat berada di titik paling rendah dalam perekonomian. Tapi, sepahit apapun kondisinya, harus tetap dijalani dan dihadapi bersama.


***


Sudah dua bulan ini kami berjualan. Hasilnya lumayan untuk menyambung hidup. Meskipun tabungan mulai menipis karena kadang rugi. Sementara chenel yutub belum memenuhi syarat, jadi belum berpenghasilan.


"Bagas, ibu mau ngomong."


"Kenapa, Bu ?" Tanya suamiku yang sedang sibuk mencetak pentol untuk di jual di alun-alun.


"Bulan ini kamu bantu bayar cicilan, yah."


"Cicilan apa, Bu ?" Tanyaku angkat bicara. Aku yang sedang menata saos dan bumbu lain ke dalam botol, segera mendekat.


Perasaanku menangkap sinyal-sinyal tidak baik dari obrolan ini.


"Cicilan bank. Kan kalian juga makan uangnya."


Aktifitas Mas Bagas mencetak pentol seketika terhenti. Ia menatap tajam ke arah ibunya, begitu pula denganku. Dada rasanya panas, seperti tersulut api.


"Maksudnya gimana, Bu ?"

__ADS_1


"Itu lho, Gas... Mbak mu,"


"Mbak Dita kenapa ?"


"Usaha kafe Mbak mu bukannya untung, malah buntung. Untung gak dapat, modal malah habis. Jadi bulan ini dia kesulitan buat bayar cicilan. Minta tolong kamu dulu yang bayar. Ini juga gara-gara istri kamu, Gas. Udah tahu Dita mau buka usaha, malah di tagih hutang terus. Harusnya tunggu Dita sama Adit dapat untung dulu, biar banyak modalnya."


"Lho, kok nyalahin Ayu, Bu ? Mas Bagas juga anak ibu. Dia butuh uangnya buat usaha. Jangan pilih kasih dong, Bu."


"Kamu ini ngomong apa sih, Ayu ? Mana ada ibu yang pilih kasih terhadap anaknya. Ibu cuma kritik cara kamu menagih hutang yang tidak tepat waktu. Lagipula kalian kan punya tabungan


Harusnya bisa pakai uang tabungan kalian dulu."


"Bu, Bagas punya tabungan dari mana, uang Bagas habis, setiap gajian diminta ibu dan bapak. Gimana mau ngumpul ? Lagian, uang itu tabungan Ayu. Dia nabung untuk kami di masa depan. Buat rumah dan biaya anak. Kenapa selama ini ibu selalu mendukung Mbak Dita, tapi sama sekali tidak pernah mendukung Bagas. Kenapa, Bu ?"


"Kenapa kamu jadi perhitungan dan nuduh yang gak-gak sama ibu ? Sadar Bagas, kamu kayak gini pasti karena sudah di pengaruhi sama istri kamu yang gak bener ini. Emang keterlaluan banget kamu, Ayu ! Menantu gak tahu di untung !" Umpat ibu mertua terdengar menusuk di telingaku.


"Jangan pernah menghina istri Bagas, Bu. Harusnya ibu sadar, ibu yang pilih kasih. Kalau butuh uang mintanya sama Bagas dan Ayu, tapi ibu dan bapak sama sekali gak pernah mau bantu kalau Bagas lagi butuh. Beda sikap ke Mbak Dita. Apapun yang dia mau pasti kalian turuti."


Aku membisu, bukan tak bisa membalas kata-kata jahat mertuaku, tapi batin rasanya sangat sakit. Apalagi melihat ekspresi suaminya yang tampak begitu terluka.


Wajahnya berubah merah menahan kesal. Dia bangkit dari duduknya, mencuci tangan dan menggandeng tanganku.


"Ayo ! Kita pergi dari rumah ini, sayang."


"Mas ?"


Aku kaget dengan keputusan suami. Baru kali ini dia bertindak seberani ini.


"Ibu tak menginginkan kehadiranmu, sama saja ibu tak menyukai kehadiranku. Kita pergi dari sini. Masih banyak tempat yang lebih nyaman dari pada rumah ini."


Mas Bagas menarik ku dan bergegas masuk ke kamar.

__ADS_1


"Bagas, tunggu, jangan salah paham dulu, Nak." Teriak ibu mertua mencoba menghentikan Mas Bagas. Namun Mas Bagas sepertinya sudah sangat mantap dengan ucapannya.


Begitu masuk kamar, Mas Bagas langsung mengambil koper miliknya dan memasukkan beberapa pakaiannya.


"Cepat beres-beres, sayang." Ucap Mas Bagas saat aku hanya diam menatapnya.


"Bagas, dengarkan ibu, kamu jangan terhasut dengan istrimu yang kurang ajar itu. Harusnya kamu lebih memilih ibu dari pada istri kamu. Kalau pun ada yang harus keluar dari sini, biar saja Ayu sendirian yang pergi. Bagas, kamu jangan kabur-kaburan kayak anak kecil dong."


Ibu mertuaku tak henti berteriak dari balik pintu kamar, tapi Mas Bagas sama sekali tidak menggubris nya. Mas Bagas malah memintaku untuk lebih cepat berkemas. Aku turuti saja kemauan suami, walau kami belum tahu akan tinggal dimana.


Suamiku sakit hati, kecewa yang dia simpan sejak kecil akhirnya meledak juga. Sementara ibu mertua kebingungan dengan keputusan Mas Bagas untuk meninggalkan rumah. Entah karena menyesal, atau takut kehilangan jatah bulanan dari suamiku.


Aku dan suami sudah selesai mengemasi pakaian. Kami keluar dari kamar dengan membawa barang-barang yang penting saja.


Ibu mertua masih berada di depan pintu kamar kami, tapi Mas Bagas tetap tidak menghiraukannya.


"Pak, lihat anakmu ini, dia mau kabur, Pak"


"Ada apa ini, Gas ?"


"Bagas udah gak bisa tinggal disini lagi, Pak."


"Kenapa ? Ada apa ? Coba ceritakan baik-baik."


"Tanyakan saja pada ibu. Tapi harusnya bapak juga menyadari nya sendiri. Sadar sikap pilih kasih kalian sama Bagas. Selama ini Bagas berusaha mati-matian ikut jadi tulang punggung, tapi disaat Bagas terpuruk, dimana kalian ? Kalian cuma ada untuk mendukung Mbak Dita, bukan Bagas."


Ibu dan bapak mertua terdiam. Mungkin mereka sadar dan merasa tertampar dengan ucapan Mas Bagas. Mereka tak bisa berkutik dan sulit mengelak, karena ketimpangan antara anak pertama dan anak bungsu ini sangat kentara.


"Bagas pamit."


Mas Bagas menyimpan kopernya di motor, sementara aku hanya membawa tas kecil berisi beberapa pakaian. Sebelum pergi, aku selamatkan dulu bahan-bahan membuat pentol. Lumayan dapat satu kresek, bisa dijual nanti. Aku juga bawa minyak, bumbu, saus dan daging yang ada di kulkas, biar tak rugi.

__ADS_1


Tatapan ibu mertua begitu tajam menancap di sanubari. Dia pasti sangat kesal dan makin jengkel saja dengan sikapku yang tak mau membantu meredakan emosi Mas Bagas, malah sangat niat keluar dari rumah ini.


__ADS_2