Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Fakta tentang Bella


__ADS_3

"Duduk, Jon, Rin."


"Iya, Bu Ratih, terima kasih."


"Kok kalian tahu, bapakku dirawat ?" Tanyaku heran.


"Kebetulan kami lagi kandungan, terus lihat Bu Ratih di bagian administrasi, mau manggil tapi sudah jalan duluan, jadi kami ikuti saja sambil tanya suster."


"Oh." Agak mencurigakan sih, tapi, ya biarkan saja.


"Joni, kebetulan kamu disini, ibu mau nanya, apa kamu punya nomor Ayu dan Bagas ?" Dua orang itu tampak saling pandang, lalu menunjukkan senyuman.


"Gak tahu, Bu. Kayaknya mereka ganti nomor. Saya sudah beberapa kali coba hubungi tapi tidak bisa."


"Joni, kamu bilang mau bayar rumah sakit bapakku ?" Tanyaku to the point.


"Iya, Mbak Dita. Saya pernah punya hutang sekitar lima juta sama Bagas, berhubung Bagas dan Ayu tidak bisa dihubungi, saya bayar saja ke Bu Ratih."


"Alhamdulillah, beneran, Jon ?"


"Betul, Bu. Ini uangnya, kami baru ambil kes. Niatnya habis dari periksa kandungan mau langsung ke rumah ibu, pas banget ketemu disini." ujar istri Si Joni.


Ah, apa mungkin ini semua hanya kebetulan ? Aneh juga, kok bisa tiba-tiba ketemu, dan mereka sudah menyiapkan uang sebanyak itu. Ahh, bodoamat, yang penting ibu punya uang.


"Ya Allah, Alhamdulillah. Pak, kita punya uang, Pak, syukurlah..."


"Sudah berapa lama bapak dirawat, Bu ?"


"Sudah tiga hari, Jon. Sakitnya udah dua Minggu."


"Sakit apa, Bu ?"


"Sakit jantung, Rin. Harus berobat jalan juga, kalau gak, bisa kena kombinasi."


"Komplikasi, Bu."


"Iya, itu maksudnya. Bapak gak boleh kecapean, tapi mau gimana lagi, kalau bapak gak kerja, kita gak makan. Udah dua Minggu bapak gak kerja aja, dapur ibu terancam gak ngebul."


"Ya Allah, yang sabar yah, Bu."


"Mana bisa sabar ! Ini semua gara-gara sahabat kalian tuh, Si Ayu sama Bagas, calon ahli neraka. Bapaknya sakit, gak ada telepon."


Joni dan istrinya hanya diam saja mendengar ocehanku. Mereka malah tak acuh dan tampak tak suka padaku. Sialan, pasti mereka berpihak pada Bagas.


"Bu, kami pamit dulu, yah. Maaf, kami gak bawa apa-apa. Tapi, ini ada sedikit uang, gunakan buat modal, yah, Bu."


"Ibu buat ibu ?"


"Iya, Bu. Tolong digunakan buat buka usaha. Seingat Joni, dulu Bagas pernah bilang kalau ibu mau buka warung sembako. Gunakan saja uangnya buat buka warung, biar ibu ada pemasukan kalau bapak sakit kayak gini." Ujar Si Rina.


"Halah, paling duit seratus, dua ratus, mana cukup !" Sindirku. Uangnya dalam amplop, jadi aku tak tahu nominalnya.


"Itu dua juta, Bu. Ditambah sisa bayar rumah sakit satu juta, jadi ada sekitar tiga juta. Cukup, bahkan lebih buat buka warung."


"Ya Allah, kalian baik banget. Ini namanya bantuan tak terduga. Anak bungsu ibu saja gak peduli, kalian orang luar, malah baik sekali."

__ADS_1


"Yang jauh belum tentu gak peduli, Bu. Ini semua berkat kebaikan Ayu dan Bagas. Kami merasa hutang Budi. Tak bisa membayar langsung pada mereka, jadi kamu langsung balas kebaikan Ayu dan Bagas lewat ibu. Ibu jangan benci sama mereka, kadang apa yang terlihat buruk, belum tentu hakikatnya buruk."


"Sok tahu kamu, Rina ! Namanya durhaka ya tetap durhaka !"


"Kami pamit, Bu, Pak."


Sialan, mereka sama sekali tak menanggapi ucapanku.


"Pak, kenapa malah nangis ?"


"Bu, Bagas jauh dari kita, tapi kebaikan dia bisa bantu kita, Bu. Apa semua yang terjadi ini karena sikap kita kurang baik Sam Bagas dan Ayu, Bu ? Buktinya, mereka tak ada, terasa sekali hidup kita menderita."


"Banggain terus anak durhaka. Itu duit Si Joni, bukan duit Si Bagas, Pak. Gak usah lebay, deh."


Dasar orang tua aneh, sudah jelas-jelas anak durhaka masih saja dibanggakan.


***


Satu bulan berlalu, tak enak sekali jadi seorang ibu. Harus urus anak, susah makan, sulit tidur, ditambah lagi punya suami gak perhatian.


"Bu, kok gak ada popok bayi, sih ?"


"Ibu belum belanja, Dit."


"Dita minta duit, Bu, buat beli popok. Atau gak, ibu aja deh yang beli."


"Kamu aja, Dit. Ibu lagi jaga warung."


"Biar Dita aja yang jagain warung, Bu. Sana ibu beliin dulu."


Ibu bangkit dari duduk dan mengambil uang dari kaleng yang ada di warung. Untung saja ibu punya warung sembako, jadi aku tidak harus pusing memikirkan beras, makan dan jajan. Bisa stres kalau hanya mengandalkan uang pemberian Mas Adit.


"Dit, kamu yang tegas dong sama Adit. Masa mau gini terus. Gimana untuk biaya sekolah Lea nanti ? Buat makan aja masih susah, kadang numpang sama ibu. Tuh, lihat warung ibu, baru sebulan buka udah berkurang aja modalnya."


"Sana ibu aja bilang sendiri sama Mas Adit. Aku capek ngomong sama dia gak didengerin."


"Lebih baik kamu ceraikan saja pria tak berguna itu." ujar bapak yang keluar dari rumah.


"Gampang kalo ngomong doang, Pak. Tapi tak semudah itu, aku yang jalani."


"Kasihan ibumu, dia susah karena kamu jadi benalu disini."


"Bapak juga benalu, cuma ibu doang yang kerja."


"Kondisi bapak kayak gini, gimana mau kerja ? Walaupun kayak gini, bapak masih tetap berusaha cari uang. Gak kayak kamu, Dita ! Dari kecil sampai sudah punya anak, kerjaannya bikin susah orang tua !"


"Bapak kalau ngomong pedas banget. Sadar dong, Pak, Bapak juga jadi beban, sakit-sakitan, bikin makin banyak pengeluaran aja buat beli obat-obatan."


Plak!


"Dasar anak gak tahu diuntung !"


"Bapak!"


"Cukup ! Kalian jangan bertengkar, bikin ibu pusing aja !" Teriak Ibu. Aku masuk saja ke kamar. Sakit hati sekali dengan ucapan bapak, seakan-akan aku ini anak yang sama sekali tak berguna. Apa bapak lupa, waktu aku kerja, aku juga suka membantu keluarga. Ih, menyebalkan, kenapa aku terus yang disalahkan.

__ADS_1


...


"Mas, akhirnya kamu datang juga. Kebetulan aku lagi pusing gara-gara diomelin bapak. Katanya aku benalu dirumah ini."


"Ya mau gimana lagi, perekonomian kita emang lagi sulit."


"Gimana gak sulit, kamu ngasih duitnya sama Bella terus."


"Asal kamu tahu, tanggungan kamu lebih banyak, Dita ! Hutang motor, belum lagi hutang pas kamu operasi."


"Jadi itu hasil hutang, Mas ?"


"Iyalah, aku sudah bilang itu hasil pinjaman."


"Pinjaman dari siapa ?"


"Kamu gak perlu tahu. Cukup kamu jaga anak kita."


"Mas !" Teriakku merebut Lea dari tangan Mas Adit.


"Itu... uang Bella. Lebih tepatnya, uang ayahnya."


"Hah, maksudnya gimana, Mas ? Kalau dia orang kaya, kenapa dia mau hidup susah sama kamu disini ?"


"Ya karena aku gak bisa tinggalin kamu dan anak kita. Dari awal mereka sudah menawarkan Mas uang, tapi Mas gak bisa tinggalin kamu, karena Mas juga sayang sama kamu. Tapi kalau sudah begini, ya... terpaksa kita harus pisah, Dita."


"Apa maksudnya, Mas ?"


"Orang tua Bella mau aku tinggalin kamu supaya aku bisa menikahi Bella secara resmi. Dan sekarang, aku harus melakukan itu, Dit, karena aku sudah menerima uang sepuluh juta dari mereka untuk biaya operasi kamu."


"Gila kamu, Mas ! Tega kamu mau ninggalin aku sama anak kita ?"


"Aku akan kasih kamu uang buat usaha, sekaligus bekal buat membesarkan anak kita."


"Stres kamu, Mas !"


Mas Raka menunjukkan bukti transfer senilai sepuluh juta, kemudian pergi begitu saja. Aku menangis meraung, sampai ibu masuk ke kamarku. Aku ceritakan semuanya.


"Ya Allah, Bu Ratih, ada apa ini ?" Tanya Rina. Tiba-tiba wanita itu datang. Ibu pun menceritakan semuanya.


"Ya Allah, kok ada yah, pria kayak gitu. Lebih baik biarkan saja pria tidak baik seperti itu dengan selingkuhannya. Tapi kalau kamu penasaran dan kesal dengan pelakor itu, kamu cari tahu dulu tentang dia."


"Maksudnya gimana, Rin ?"


"Maaf yah, aku pernah sekilas lihat anaknya Bella, kok gak ada mirip-miripnya sama suami kamu. Coba deh, kamu cari tahu lagi tentang Bella. Jangan iya-iya aja dipoligami."


Mendengar ucapan Rina, kok aneh yah, dia sok tahu sekali, persis Si Ayu. Tapi tak apalah, sekali-kali aku mendengarkan saran orang lain.


"Aku punya rencana, itupun kalau kamu mau."


"Apa ?"


"Test DNA ! Aku yakin 70% kalau anak itu bukan anak suami kamu. Dan satu lagi yang harus kamu tahu, Bea itu mantan penghuni rumah sakit jiwa."


"Hah ? Serius ? Jangan asal gosip kamu, Rin !"

__ADS_1


"Ini buktinya."


Rina menunjukkan sebuah data sekitar dua setengah tahun lalu, bahwa Bella pernah masuk rumah sakit jiwa. Dari mana Rina mendapat informasi seperti ini. Dan kok aku merasa, Rina ini jadi mirip Si Ayu.


__ADS_2