Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
15 Tahun Kemudian


__ADS_3

"Bunda ... Bunda ..."


"Iya sayang, kenapa ?"


"Ara udah selesai ujian, Minggu ini udah libur, tinggal nunggu kelulusan tiga Mingguan lagi. Ara mau ke tempat Mbah dulu, jemput Adek sama Mbah buat acara perpisahan nanti."


"Siap, nanti kita liburan ke tempat Mbah."


"Asek... ayah ikut gak ?"


"Ayah kamu masih ngurusin kerjaan, nanti dia nyusul."


"Oke deh."


Kiara masuk ke kamarnya dengan senyum sumringah. Tak terasa umurnya sudah delapan belas tahun, sebentar lagi akan masuk universitas. Sementara anak keduaku, Fahmi, mondok sejak lulus SD di tempat Kiai Munir.


Sejak Fahmi masuk pondok, ibu minta tinggal dirumahnya yang dulu. Dia memang sangat dekat dengan Fahmi, maklum sejak awal brojol sampai besar, ibu yang mengurus. Jadi, Fahmi juga sangat dekat dengan beliau.


Aku bersyukur dengan kondisi keluargaku sekarang, lima belas tahun ini terasa damai dengan kehadiran ibu mertua. Soal penyakit kanker ibu, bisa disembuhkan karena kami membawanya ke luar negeri.


Kalau soal Mbak Dita, sudah sepuluh kali lebaran dalam sepuluh tahun ini dia tak mengunjungi ibunya. Bahkan tidak lebaran sama ibunya sendiri.


.


.


"Ayah sudah pulang ?"


"Mau makan siang disini, kangen masakan Ayang, hehehe."


"Huuuh, udah tua masih bucin."


"Bagus dong, semakin tua harus semakin romantis."


"Hehehe, makin pinter gombal, bikin pipiku kayak tomat, nih."


"Nambah cantik, sayang. Muka bunda mirip kue rainbow cake pun tetap cantik."


"Ih, kayak badut dong. Ayah nih muji apa menghina ?" bibirku mengerucut kesal. Mas Bagas versi umur empat puluh tahun ini makin menyebalkan, tapi membuatku semakin sayang.


"Ampun, bidadari. Ayah mau makan."


"Oke ayah, cus ke dapur.


Aku tarik suami ke dapur untuk makan siang. Lalu, memanggil Kiara untuk makan bersama. Anakku dengan sigap menuangkan nasi dan lauk di piring ayahnya.


"Ayah, ikan mas apa yang bikin bunda kelepek-kelepek ?" tanya Kiara. Begitulah anak dan bapak, sangat dekat dan suka membahas topik random.


Kiara ini anaknya mirip denganku, ceplas-ceplos dan berani. Tapi dia lebih cerewet dariku, apa saja dibahas. Berbeda sekali dengan adiknya yang pendiam, mirip bapaknya dulu.


"Hhhmm ... ikan mas dibikin bakso, hahaha, soalnya bunda kamu suka makan bakso."


"Salah ayah."

__ADS_1


"Ah, masa salah ? Apa yah..."


"Nyerah gak ?"


"Nyerah deh."


"Ikan Mas Bagas, hahaha."


Astaga anak itu, mau makan saja masih sempat mengeluarkan candaan garingnya. Tapi lucu juga sih, hehehe. Ayahnya mencubit lembut lengan anaknya karena gregetan. Lalu, sesi bercanda terjeda dulu, karena kami harus menikmati makanan dengan khusyuk.


"Bunda, udah bilang ayah ?" Aku menggeleng.


Kiara langsung menyampaikan keinginannya untuk liburan. Dia sangat antusias mau menjemput neneknya.


"Emang udah libur ? Biasanya kan sebelum perpisahan harus latihan, Ara gak pentas apa-apa ?"


"Gak ah, Ara nyumbang nilai ujian tertinggi aja."


"Emang nilai kamu paling tinggi, Ra ?"


"Ya gak tahu sih, Bun. Tahu aja gitu, kan biasanya aku rangking satu, hahaha."


"Huu, pede banget." ledekku.


"Kita lihat aja, Bun. Aku udah belajar dengan mengerahkan segala elemen-elemen kehidupan, yakni doa, baca buku, sama nyontek, hahaha. Canda, Bun, nyontek itu dosa, kalau Ara ya belajar dong."


"Bagus-bagus, anak ayah. Ya sudah, kesana ada Bunda, sekalian nengok Mbah, udah beberapa bulan gak nengokin."


"Ayah nyusul, yah ?"


"Nah, kita sehati, Ayah. Ara juga mau dimasakin cobek ikan mas sama Mbah. Bunda sih, gak bisa masakin."


"Hehehe, maklum biasanya Mbak yang masak. Mbah kamu kan suka banget masak, Bunda disuruh duduk manis doang."


"Iya juga sih, ah, jadi kangen Mbah. Lusa Ara mau otw, yah, Bunda, Ayah ?" Ayah menunjukkan dua jempolnya. Kiara langsung memeluk ayahnya.


Tinggal aku siap-siap membawa beberapa baju dan oleh-oleh. Sekalian menanyakan ibu mau dibawakan apa.


...


"Bawakan kue talas Bogor aja, Yu." ujar ibu di telepon.


"Terus apa lagi, Mbah ?" tanya Kiara ikut nimbrung.


"Gak usah banyak-banyak yang penting kalian kesini, Mbah seneng banget. Nantih Mbah ajak jalan-jalan, sekalian kamu bisa ketemu Gus Fatih.


"Ih, apaan sih, Mbah. Emang dia ada dirumah, Mbah ?" aku senyum-senyum sendiri, kelihatan gengsi tapi kepo juga, dasar Kiara.


"Ada, suka ngajar ngaji disini. Anaknya baik pol, cocok buat Ara."


"Ih, Mbah, Ara masih unyu-unyu, masa dijodoh-jodohkan."


"Maksud Mbah kamu, cocok buat jadi teman Ara, kamu ini mikirnya..."

__ADS_1


"Betul itu, kamu bisa belajar agama sama Gus Fatih. Kalau berjodoh ya, alhamdulillah. Mbah lebih setuju Gus Fatih sama kamu."


"Au ah, Mbah suka aneh. Pokoknya Mbah masak banyak disana. Lusa Ara otw."


"Siap cucu kesayangan Mbah."


Mereka mengobrol ini dan itu, sudah mirip besti saja. Sementara aku, merapikan koper. Kami siap pergi ke Jawa. Semoga saja disana damai, tak terjadi konflik. Soalnya, setiap pulang kampung pasti ada saja pertengkaran antara aku dan Mbak Dita, atau Kiara dan Lea. Entahlah, aku tak kaget jika Lea mewarisi kejelekan ibunya, dan mirip bapaknya juga.


***


"Mbah !" teriak Kiara menghampiri neneknya yang duduk di kursi roda.


Kondisi ibu yang sudah tua memang membuatnya tak bisa berdiri atau berjalan terlalu lama, tapi di umurnya yang sudah kepala enam, dia masih nyambung diajak bicara.


"Cucu kesayangan Mbah."


Mereka berpelukan. Lalu, gantian memeluk adiknya, tapi ya begitu, Fahmi bagaikan kulkas dua pintu. Beda banget dengan kakaknya yang ceria dan cerewet.


"Mbah, laper !" rengek Kiara.


"Ara, baru juga datang." tegurku.


"Biarin, Ara mau makan."


"Ayo, cucu Mbah. Di dapur sudah ada makanan kesukaan kamu."


Kiara langsung makan, anak itu seperti kelaparan, padahal di rest area tadi juga makan. Kalau aku, duduk dulu menikmati es teh yang dibuatkan Fahmi.


"Boleh nginap disini, sayang ?" tanyaku pada Fahmi.


"Boleh, Bun. Sekalian bantu Gus Fatih ngajar ngaji."


"Fahmi udah bisa ngajar ?"


"Udah dong, Bun."


"Masya Allah anak bunda." Aku cium kepala Fahmi. Masya Allah, dia anak yang membanggakan di bidang keagamaan. Sikapnya sangat mandiri, meski orang tuanya berkecukupan lebih memilih hidup sederhana di pondok.


...


"Tante ?"


"Lea ?"


"Ngapain Tante kesini ?"


"Liburan dong, Lea. Mama kamu mana, gak main ?"


"Mana ku tahu. Mbah mana ?"


"Di dapur."


Astaga, ank itu tidak berubah, minus sopan santun. Main nerobos masuk saja tanpa salam atau mencium tangan. Aku abaikan saja, tak mau terlalu ambil hati. Kata ibu mertua, sikap cucunya yang ini memang begitu.

__ADS_1


Lea memang suka main kesini. Meskipun ibu sudah tak terlalu dekat dengan Mbak Dita, karena sikap Mbak Dita sendiri. Tetapi, ibu bersikap baik kepada cucu-cucunya. Bahkan ibu bisa menempatkan diri, dia punya cara tersendiri menghadapi cucu-cucunya yang berbeda karakter.


__ADS_2