Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Menyesal


__ADS_3

"Dita, buka pintunya !!!"


Aku hafal betul siapa pemilik suara itu. Mas Adit, tapi tumben sore-sore dia kesini. Biasanya masih kerja. Pakai teriak-teriak lagi. Tapi aku segera berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu.


Plak!


"Aww! Sakit ! Apa-apaan sih, Mas ? Datang-datang main tampar aku, kayak orang kesetanan aja !" Aku pegangi pipiku yang terasa panas akibat tamparan Mas Adit.


"Kenapa kamu jadikan motorku barang jaminan, hah ?" Mas Adit melotot dengan wajah yang sudah merah sempurna. Aku sedikit ngeri melihatnya.


"Ma-maksudnya apa ? Mas ngelindur ?"


"Gak usah ngelak ! Motorku disita pihak bank. Ini semua ulah kamu, kan ?! Ngaku kamu !"


"Dit, ibu bilang juga apa. Ya Allah, ternyata tanpa Bagas, hidup ibu dan kamu makin susah aja." Bisik ibu tepat di telingaku. Aku melotot tanda agar ibu diam saja. Situasi lagi kayak gini, masih sempat-sempatnya menyesal.


"Ikut aku !"


Dengan kasar Mas Adit menarik tanganku dan hendak membawaku keluar entah kemana.


"Mau kemana, Mas ? Lepasin !!!"


"Bayar hutangmu dan ambil lagi motorku."


"Dih, Mas aja yang bayar, orang Mas juga ikut makan uangnya. Lagian, aku gak punya uang, Mas. Mau bayar pake daun ?"


"Mas gak mau tahu, pokoknya kamu bayar hutang kamu !"


Mas Adit mencengkram kuat tanganku. Aku berusaha melepaskan cengkeramannya, sampai tanganku rasanya perih.


"Hentikan, Adit !!! Kamu yang kurang ajar sama anak ibu !" Sentak ibu mendorong Mas Adit. Berhasil, suamiku mundur beberapa langkah.


"Ibu pasti tahu kelakuan anak ibu ini, kan ? Kenapa gak dibilangin sih, Bu ? Kalau kayak gini aku yang kelimpungan. Belum lagi bayar kontrakan. Jadi istri gak ada gunanya. Bisanya buat suami susah !"


"Itu sudah tugas kamu sebagai suami. Jangan malah nyalahin anak ibu. Harusnya kamu tanya sama diri kamu sendiri, kenapa Dita sampai menggadaikan motor kamu buat dapatin uang ! Makanya kalo kere gak usah sok poligami !!!" Ibu berdiri tepat di depanku dan bicara dengan sangat tegas pada Mas Adit.


"Mas, cari aja cincin emas Mbak Dita. Pas itu aku lihat dia pakai cincin. Itu pasti dibeli dari hasil gadai motor. Kita jual aja lagi, Mas. Lumayan kan buat nambah bayar tunggakan motor. Daripada motornya disita, Mas gak bisa kerja lagi." Ucap Bella. Ternyata pelakor itu ikut. Dari tadi dia sembunyi di balik pintu. Dan sialnya, dia malah memanas-manasi Mas Adit.

__ADS_1


"Jangan, Mas !" Teriakku berusaha menahan Mas Adit yang segera melangkah ke kamar.


"Awas !"


"Aww!"


Sialan ! Mas Adit mendorongku sampai keningku membentur lemari. Aduh, sakit, ada darah menetes dari kening.


"Astaga, Adit ! Beraninya kamu melukai anak ibu, istri kamu sendiri ! Mana lagi hamil lagi." Pekik Ibu segera menghampiriku.


"Bu, cincin aku, Bu !"


"Ajarin anaknya yang bener, Bu ! Untung masih ada emas ini, kalau tidak aku ceraikan saja istri gak tahu diri kayak anak ibu ini. Gak tahu suaminya susah, malah nambah bikin susah."


Suamiku pergi begitu saja sambil menggandeng Bella. Sekilas aku lihat senyum licik dari pelakor itu yang terlihat seperti sedang mengejekku. Sialan ! Pasti dia sangat senang rumah tangga ku jadi seperti ini.


"Dita, ibu bilang juga apa. Kamu sih, gak mau dengar kata-kata ibu, jadi kayak gini."


"Berisik, Bu ! Mending cariin Betadine. Untung lukanya ringan."


***


"Dita, lebih baik kamu minta cerai saja dari Si Adit. Makin lama kelakuannya makin keterlaluan. Kelihatan banget dia pilih kasih sama istri keduanya. Ibu gak mau hidup kamu makin sengsara."


"Terus anakku nanti gimana, Bu ?"


"Lebih baik urus anakmu sendiri, Dita ! Bapak dan ibu juga pasti bantu. Dan satu lagi, kamu jangan buat huru hara lagi. Ini semua karena ulah kamu sendiri."


"Lho, kok Bapak malah nyalahin Dita ?"


"Jelas salahmu ! Salah siapa lagi ? Ibu ? Bapak ? Hutang tanpa kasih tahu suami, ya begini jadinya. Dan kamu, Bu, harusnya nasihatin anak, bukan malah sekongkol."


"Bapak ini, bukannya marahin Si Adit, atau sekalian hajar saja anak itu, malah nyalahin anak kita."


"Terserahlah ! Pusing kepalaku, Bu. Capek kerja, pulang ke rumah isinya keributan terus. Ternyata lebih baik Ayu dan Bagas yang tinggal disini, daripada Dita ! Bapak menyesal sudah menyia-nyiakan mereka."


"Pak, tega ngomong gitu di depan Dita. Dasar Bapak pilih kasih !" Teriakku dongkol.

__ADS_1


Bagas lagi, Ayu lagi, kenapa mereka terus yang selalu dibangga-banggakan, sih ? Padahal jelas-jelas mereka itu anak durhaka. Enak saja malah aku yang disalahkan terus.


"Aduh, perutku sakit, Bu."


"Kamu istirahat dulu, Dit. Perut kamu udah gede, bentar lagi lahiran. Udah, gak usah mikirin Si Adit. Biar nanti Ibu yang ngomong sama dia."


Aduh, kenapa sekarang hidupku sial begini. Sudah tak punya uang, cincin dirampas, perut suka sakit, ah... pusing !


***


"Mas, minta duit !"


"Hhh, merusak pagiku saja kamu ini, Dita ! Datang-datang minta duit."


"Suruh siapa udah seminggu gak kasih jatah."


"Itu hukuman buat kamu ! Makanya kalau mau apa-apa izin dulu sama suami."


"Benar itu, Mbak. Masa motor satu-satunya milik suami kita mau dirampas rentenir. Mbak ini kalau berpikir yang panjang dong."


"Berisik ! Gak usah ikut campur kamu pelakor !"


"Bella benar, harusnya kamu belajar dari Bella, dia selalu mengerti kondisi Mas. Gak banyak nuntut. Uang dua puluh ribu ditangan Bella bisa jadi makanan enak. Tapi kalau ditangan kamu, isinya ngeluh terus. Gak ada bersyukur sama sekali."


Sialan, bisa-bisanya aku selalu dibanding-bandingkan.


"Buruan, mana duitnya ! Yang adil dong, kalau Bella dikasih setiap hari, aku juga harus dikasih setiap hari."


"Jatah kamu udah habis dipakai bayar cicilan pinjaman kamu sendiri. Makanya jadi istri gak usah aneh-aneh. Bersyukur berapapun yang dikasih. Jangan malah minjem kayak gitu."


"Tega kamu, Mas !"


Aku bergegas pergi karena percuma juga disini, suamiku lebih sayang sama Bella. Aku pikir, setelah Ayu pergi jauh, hidupku akan kembali nyaman. Ternyata malah datang nenek sihir yang lebih menyebalkan dan lebih berbahaya dari Ayu.


Terus sekarang aku harus gimana ? Sudah satu Minggu tak pegang uang. Hanya mengandalkan pemberian ibu dan bapak, itupun hanya seribu, paling banyak lima ribu, hanya cukup buat beli es di pinggir jalan. Boro-boro beli skin care, makan aja ala kadarnya.


Ini semua gara-gara Bagas dan Ayu. Coba mereka gak pake acara kabur-kaburan dan masih disini. Aku bisa numpang makan enak dan minta duit sama Si Bagas. Kenapa sih mereka harus pergi ? Jadi tak ada orang yang bisa dimanfaatkan.

__ADS_1


__ADS_2