
"Ada apa kalian datang kesini ?"
"Begini Pak Aldi, saya ditunjuk Bu Ayu untuk menyampaikan kesepakatan keluarga."
"Maksudnya ?"
"Pak Aldi sudah berbuat kasar terhadap istri Pak Aldi, jadi Bu Ratih mau meminta Pak Aldi menceraikan Mbak Dita."
"Tidak ! Saya tidak mau."
"Kalau gak mau diceraikan, jangan kasar dong. Cowok apa banci kalengan, sih." ujarku emosi.
"Jangan ikut campur !"
"Ibu sama Ayu harus ikut campur, Aldi. Kalau kamu mau tetap sama Dita, jangan pernah kasar sama dia lagi. Ditambah lagi kondisinya sedang depresi. Ibu maunya kalian pisah saja."
"Ibu gak kasihan sama cucu ibu ? Anak dalam kandungan Dita itu anakku. Tenang saja Bu, walaupun aku sedang dalam masalah, tapi aku tetap mengusahakan nafkah untuk Dita."
"Makanya jangan kasar jadi laki-laki."
Memang kami pun tak tega menyuruh Mbak Dita bercerai. Lagian, mana bisa diproses kalau Mbak Dita saja sedang mode kurang waras.
"Terus, mau kalian bagaimana ?"
"Mbak Dita ingin membuat perjanjian agar Mas Aldi tidak kasar dan lebih bertanggung jawab. Perjanjian di atas meterai, kalau melanggar bisa dipolisikan, bagaimana ?"
Aldi tampak berpikir, beberapa menit kemudian baru dia setuju. Kami pun saling membubuhkan tanda tangan. Sebelumnya, Mbak Dita sudah ibu suruh tanda tangan juga.
"Bagus, gitu dong. Jadi suami yang bener. Ingat Mas, udah miskin jangan banyak gaya." Aldi menatap sinis ke arahku.
Aku sih, cuek, tak merasa salah. Aku melotot balik, dia membuang muka. Setelah perjanjian selesai, kami pulang. Aku membereskan barang ke mobil, dan langsung pamit pulang ke Jakarta. Sudah cukup membantu ibu, kapan-kapan lagi, hehehe.
***
Hampir setengah tahun berlalu, hidupku semakin nyaman. Ibu gak mengusik lagi karena anteng diberi jatah bulanan. Untung dia tak banyak tingkah, dan tak minta uang tambahan untuk hal yang macam-macam.
"Mas, liburan mau kemana nih ?"
"Maunya kemana, sayang ?"
"Bali yuk, Mas."
__ADS_1
"Yakin ? Gak repot bawa Kiara ?"
"Gak dong, Kiara pasti bisa diajak kerja sama, apalagi kalau kita sekalian bikin Adek buat dia, hehehe."
"Setuju dan semangat empat lima kalau gitu. Mau kapan ?"
"Huhh, dasar."
Suamiku tersenyum genit sambil mencium keningku. Dia memang paling jago membuatku jatuh cinta setiap hari. Untung saja selama berbulan-bulan rumah tangga ini terasa sangat damai. Semenjak sembuh dari depresi, Mbak Dita tak mengganggu lagi. Kayanya sih, dia rukun-rukun saja sama suaminya.
Mas Aldi dan Mbak Dita berusaha jualan pentol, sampai minta resep ke kami. Mas Bagas tidak memberikan resepnya, tapi aku suruh saja mereka membeli pentol Frozen food kami. Tapi entahlah bagaimana nasib usaha mereka.
...
"Hallo, Ayu..."
"Iya, Bu, tumben telepon. Ada apa, Bu ?"
"Ayu, tolong Carikan pengacara yah, buat bantu Dita bercerai dari Aldi."
"Bercerai ?"
-----------------------------
POV Dita
"Bu, gimana kata Si Ayu ?"
"Dia gak mau bantu. Katanya kalau kepentingan ibu baru dia bakal bantu, kalau kepentingan kamu, suruh kamu mandiri."
"Kampret tuh orang, mentang-mentang banyak duit, suka sekali menghinaku."
"Sudah, jangan marah-marah, Dit. Masih mending Ayu mau bantu sela ini. Kalau tidak, kita gak ada yang bantu. Bagas aja gak peduli."
"Asik durhaka emang gitu. Ibu juga gak usah bela Si Ayu banget. Dia itu hanya terpaksa bantu ibu. Ya sudahlah, aku cari pengacara sendiri."
Kenapa sih, hidupku tak pernah bahagia ? Baru merasakan jadi orang kaya kurang dari setahun, sudah miskin lagi. Perut sudah membuncit hamil besar. Mau punya anak, hidupku malah penuh masalah. Jangan-jangan anak ini bawa sial ? Bibit Mas Aldi memang gak becus, Sam seperti ayahnya. Sekarang kerjaannya gak jelas, malah jadi tukang pentol keliling. Itupun pentolnya gak seenak buatan Bagas. Memang adikku itu pelitnya minta ampun, hanya berbagi resep saja tak mau.
"Dita ! Dita !!!"
"Aldi kesini, Dit."
__ADS_1
"Ih, males banget. Kenapa sih dia kesini ? Sudah jelek, item, pesek, miskin lagi. Mending Mas Adit, kere tapi ganteng. Setidaknya indah dipandang lah. Kalau suami kayak Mas Aldi apa yang harus dibanggakan."
"Kamu pikir-pikir lagi saja, Dit. Bukannya Aldi udah gak berani main kasar lagi sama kamu ? Dia juga mau usaha demi anak kalian. Kamu sabar saja, nanti kalau juragan Warso sudah keluar penjara, pasti Aldi bisa kaya lagi."
"Keburu meninggal, Bu, bapaknya. Gak tahu keluarnya kapan.
"Kamu sabar sedikit, Dit."
"Berisik, Bu, gak usah ikut campur, deh !"
Aku tinggal saja ibu yang sedang duduk di kursi meja makan. Malas bicara sama dia, lebih sering membela Si Ayu. Secara tak langsung suka membanggakan Ayu terus. Mentang-mentang anak itu sok baik. Aneh juga, hidup Ayu selalu lurus dan bahagia. Jangan-jangan dia pakai jampi-jampi. Kapan-kapan aku mau memaksa Ayu jujur tentang jampi-jampi atau dukun yang dia pakai untuk memakmurkan hidupnya, biar aku sukses juga.
"Ngapain lagi kesini, Mas ? Semalam aku udah bilang, minta cerai."
"Kamu gak bisa cerai dari aku, Dita. Kamu masih mengandung anakku."
"Ya sudah, habis lahiran kamu talak aku."
"Tidak ! Sampai kapanpun kita tidak akan bercerai. Aku tidak mau anakku kekurangan kasih sayang kayak anak pertamamu itu."
"Mending kekurangan kasih sayang, dari pada kekurangan duit. Sadar diri dong, Mas, kamu ini kerjaannya gak jelas, anak kita mau dikasih makan rumput ?"
"Memangnya selama ini kamu makan rumput tinggal sama aku ? Jadi orang itu harus bersyukur. Memang ekonomi kita sedang sulit, tapi kita masih punya rumah bagus. Orang-orang saja menikah bertahun-tahun masih ngontrak.
"Males, rumah gede aku yang ngurus sendirian. Aku butuh duit yang banyak, Mas. Mau naik mobil juga, bukan malah naik motor butut kamu itu."
"Dasar istri kurang ajar, berani kamu menghinaku ?!"
"Apa ? Mau nampar ? Tampar aja biar aku laporin kasus KDRT terus kita bisa pisah."
Mas Aldi menahan emosinya. Sialan, sudah miskin saja baru bersikap bener. Kalau kayak gini, sulit bagiku untuk menggugat cerai Mas Aldi. Apalagi Mas Aldi tak ada kasus selingkuh, dan dia pun masih memberi aku nafkah meski sedikit.
"Ingat Dita, aku tak akan menceraikanmu sampai kapanpun. Kamu juga tak akan bisa lepas dariku."
"Sialan ! Kamu susah Sendiri saja, Mas. Aku mau cari cowok kaya raya. Capek miskin kayak gini."
"Terserah, kamu boleh tinggal dulu disini sama ibu, tapi ingat kamu masih istriku. Berani main gila, aku hajat cowoknya."
"Dasar suami Dajjal ! Ceraikan aku sekarang, Mas !"
Mas Aldi tak menggubris ucapanku, dia malah pergi begitu saja dengan motor bututnya. Argh, sial ! Aku tak mau hidup miskin dengan pria jelek itu.
__ADS_1