Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
POV Dita


__ADS_3

"Dita, coba kamu telepon adikmu, sudah sampai belum ? Ibu telepon pakai hp ibu dan bapak, gak aktif-aktif."


Masih pagi Ibu sudah datang ke kontrakan. Lagi-lagi yang dibahas adik durhaka. Memang menyebalkan sekali Si Bagas. Dia pergi seenaknya, sama sekali tak menghargai keberadaan orang tua. Jadi aku yang ribet.


"Sabar, Bu, baru melek."


"Udah jam sembilan, Dit. Masa kamu belum bangun. Suami kamu mana ? Sudah berangkat kerja ?"


"Iya, Bu, dia kerja. Enak aja dirumah, kepalaku pusing gak ada beras."


"Ya udah, nanti bahas soal Aditnya. Sekarang telepon dulu adikmu."


Terpaksa aku melek. Buka ponsel dan menelpon adik durhaka.


"Lho, kok gak aktif, yah, Bu ? Wa nya juga gak aktif. Kayak udah ganti nomor."


"Kok bisa, Dit ?" Ibu panik.


"Mana Dita tahu. Sebentar, coba Dita cek sosial media mereka berdua."


Aku cek Instagram dan Facebook. Akun mereka tidak bisa ditemukan. Apa aku sudah di blokir ? Atau mereka sengaja tutup akun ?


"Gimana, Dita ?"


"Kurang ajar Si Bagas sama Ayu ! Mereka sama sekali tak bisa dihubungi lewat manapun. Coba ibu telepon Mamanya Si Ayu."


"Sama saja, Dit. Nomornya gak aktif."


"Wah, benar-benar anak durhaka. Ini sih namanya bukan pindah, tapi sengaja kabur dari Ibu dan Bapak biar gak dimintai duit."


"Ya Allah, gimana dong, Dit ? Uang bulanan pemberian Bagas tinggal sedikit. Harusnya satu Minggu lagi Bagas kirim uang bulanan. Mana ibu belum bayar listrik, arisan, pengajian, hutang keliling juga."


"Lagian, ibu segala hutang."


"Lho, itu uangnya dipakai buat kamu, Dit. Kamu kan mau beli kompor dan alat masak. Uangnya ya dari hutang keliling."

__ADS_1


"Lha, suruh siapa ibu ngutang. Udahlah, Bu, kepala Dita pusing, nih, perut makin gede aja, mana gak ada duit buat lahiran. Ibu jangan nambah pikiran Dita makin ruwet aja."


Ibuku diam dengan mata berkaca-kaca. Mau bagaimana lagi, boro-boro memberi uang untuk orang tua. Untuk diri sendiri saja kewalahan. Ini semua gara-gara Bagas, posisinya sedang kaya raya, tapi pelitnya naudzubillah. Hanya bantu uang bulanan saja keberatan. Kasihan juga ibuku, dia pulang dari sini dengan tangan hampa. Biar nanti aku hubungi bapaknya Ayu di desa sebelah. Kalaupun Ayu ganti nomor, dia pasti menghubungi orang tuanya.


***


Siang bolong suamiku baru pulang. Sekarang, dia kerja sebagai tukang ojek dan buruh apa saja. Aku suruh cari kerja di Jakarta lagi, dia bilang sudah mencoba, tapi tetap belum ada panggilan. Heran, kenapa hidupku jadi belangsak seperti ini. Makin cenat cenut kepalaku mengatur uang masak sampai botak. Pusing, ahh ! Kalau tidak sedang mengandung, aku sudah kabur dari sini dan mencari pekerjaan yang enak.


"Mas, minta uang buat masak."


"Ini..."


"Hah ??? Cuma dua puluh ribu ??? Uang segini cukup buat apa, Mas ?! Beras sekilo aja dua belas ribu, belum beli cabe, bawang, sayur."


"Jangan banyak protes jadi istri. Beli aja telor sama royko, beres !"


"Telor lagi, telor lagi !!! Lama-lama aku bisulan makan telor terus."


"Arghh... pusing aku dengar kamu ngoceh terus !"


"Cari duit buat nabok mulut kamu yang cerewet itu !"


Dih, kenapa malah dia yang marah-marah ? Harusnya aku yang marah, dasar suami aneh. Kesal sekali, baru pertama hamil, tapi tidak dimanja sama sekali. Beda sama Si Ayu, kayaknya dia hamil enak banget. Mau ini itu langsung dibelikan sama Bagas. Sementara aku ? Boro-boro, buat makan aja susahnya setengah mampus.


"Mending ke rumah Ibu, deh. Mau minta dimasakin ayam."


Aku jalan menuju rumah ibuku. Cuma disana aku bisa makan enak. Apapun yang aku mau pasti diberikan. Maka apapun masalahnya, mengadu pada bapak dan ibu solusinya.


"Bu... Ibu ! Buka pintunya, Bu !"


Tak ada sahutan.


"Ih, kemana sih ?"


Tiba-tiba Ibu datang dari arah depan, menenteng kresek.

__ADS_1


"Dita ? Ibu abis beli sayur. Ayo, masuk."


Ibu membuka kunci pintu dan kami pun masuk. Aku periksa apa saja yang ibu beli di warung Bu Ijah.


"Bu, cuma beli kangkung ?" Tanyaku heran. Tumben ibu cuma masak satu lauk. Biasanya dia beli ayam atau ikan.


"Ibu gak punya duit, Dit. Udah satu Minggu lebih sejak kepergian Bagas dari rumah ini, Ibu kelabakan buat makan. Cuma ngandelin dari bapakmu, lha, bapakmu ngasihnya cuma dua puluh ribu, cukupnya ya cuma beli kangkung. Untung beras ada, dari hasil kuli mancul."


"Astaga, Bu... Si Bagas benar-benar gak ngabarin ?"


"Gak, Dit. Pasti Si Ayu sengaja mau menguasai anak Ibu. Kalau begini terus, hidup Ibu bisa susah."


"Benar-benar durhaka mereka berdua. Aduh, kalau begini pupus sudah harapan Dita makan enak, Bu. Dita mau makan ayam, ahh, pokoknya beliin Dita ayam, Bu."


"Uang dari mana, Dita ? Uang ibu udah gak ada, nih." Ujar Ibu menunjukkan kantong dasternya yang kosong melompong.


Arghh!! Frustasi, tak ada harapan makan enak kali ini. Terus aku harus gimana ? Gak bisa susah kayak gini. Seorang Dita gak level makan kangkung atau telor doang. Bisa jadi jelek aku kebanyakan makan makanan tak bergizi. Meski orang kampung, tapi tolonglah, makananpun jangan kampungan.


"Pokoknya Dita gak mau tahu. Ibu ngutang dulu sana, biar Dita bisa makan ayam."


Aku terus merengek sampai akhirnya ibu mengalah dan segera pergi ke warung Bu Ijah untuk ngutang ayam. Tak lama ibu kembali dengan sekilo ayam dan wajah yang murung. Pasti karena Bu Ijah berkata yang tak enak. Tapi tak apalah, yang penting aku makan enak sekarang.


Aku makan ayam geprek buatan ibu. Lezat sekali, sampai habis dua piring. Sudah satu Minggu ini aku tak makan enak. Akhirnya bisa makan-makan gratis dan maknyus seperti ini.


"Dita, lauknya sisain buat bapak."


"Bapak makan kangkung aja, Bu. Ini yang satunya mau Dita bawa buat Mas Adit."


"Ya sudah. Oh iya, coba kamu cari cara biar Ibu bisa menghubungi Bagas. Kalau gini terus, ibu bisa makin susah. Kemarin aja ibu harus ngumpet dari bank keliling."


"Gimana kalo kita ke rumah bapaknya Si Ayu aja, Bu ? Nanti aku pinjam motornya Mas Adit."


"Boleh, tuh. Nanti kamu jemput ibu, yah."


"Siap, Bu. Aku mau tidur siang dulu. Nanti sore aku kesini jemput ibu. Makasih ibuku sayang, buat ayam gepreknya."

__ADS_1


Sudah makan pulang. Enak sekali punya ibu yang baik hati. Sekarang waktunya tidur siang, karena perut sudah kenyang habis makan dua piring. Soal Ayu dan Bagas, tenang saja, aku pasti bisa mendapatkan nomor mereka. Enak saja mereka mau lari dari tanggungjawab. Harusnya mengurus ibu dan bapak tanggung jawab bersama dong, malah dilimpahkan padaku.


__ADS_2