Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Merawat Mertua


__ADS_3

Setelah mendapat perawatan selama tiga hari di rumah sakit, bapak mertua sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Meski kondisinya tak seperti sedia kala. Sekarang Bapak hanya bisa berbaring di atas ranjang. Buang air kecil dan BAB saja harus menggunakan popok karena sudah tidak bisa kemana-mana lagi.


"Aduh, bau banget !" Teriak Mbak Dita.


"Kenapa sih, Dit ?" Tanya ibu.


"Ini nih, Bu... Aku mau ngasih Bapak makan, tapi bau banget, Bu ! Ganti sana popoknya, Aku gak tahan baunya, bu. Pengen muntah, ya ampun, masih lebih wangi kotoran anakku."


"Nanti sajalah, ibu mual. Bisa-bisa ibu gak nafsu makan seharian. Lagian, bapak kenapa sih bisa kayak gini, Pak ? Ibu dan Dita kan jadi ribet banget ngurusin bapak yang gak bisa apa-apa."


"Astaghfirullah, Ibu, Mbak ! Kalau ngomong tuh dijaga ! Bapak lagi sakit, malah dikata-katain. Kalau julid lihat-lihat tempat dong !" Emosi juga aku mendengar ucapan mereka berdua.


Heran, orang tua, suami sedang sakit malah dihina. Bukanya membesarkan hati Bapak, biar cepat sembuh. Aku lihat ekspresi bapak jadi murung. Aku paham sekali, bapak pasti sakit hati dengan ucapan istri dan anak kesayangannya. Lagian, mana ada orang yang mau terbaring lemah di tempat tidur. Kalau ngomong benar-benar tak disaring. Kapan-kapan aku belikan jaring ikan paus, biar moncong Ibu sama Mbak Dita aku ikat pakai jaring. Kebiasaan, julidnya keterlaluan. Orang sudah sakit saja masih disakiti, astaghfirullah...


"Apaan sih, Ayu ? Ikut-ikutan aja !"


"Mbak yang apaan ? Lagian, kenapa Mbak Dita ada disini ? Izin siapa ? Harusnya izin dulu sama aku. Seenaknya tinggal dirumah aku." Ujarku tersulut emosi.


"Wah, mulai songong !"


"Dita, udah, jangan berdebat. Ayu, maafin Dita. Ayo Dit, ikut ibu keluar." Ibu menarik Mbak Dita keluar.


"Pak, mau ganti popok sekarang ?"


"Iya, Yu. Tapi nanti aja, kamu tidak akan tahan. Maafin bapak yah, Yu, kamu juga pasti merasa tidak nyaman."


"Bapak ngomong apa sih ? Udah, gak usah didengerin omongannya Mbak Dita. Ayu bantu sebisa Ayu, yah, Pak."


Aku ambil dulu masker ke kamar, walaupun tak yakin bisa membersihkan kotoran bapak. Aduh, kalau muntah gimana, jujur saja aku tipe orang yang suka jijik. Tapi kalau tak dibersihkan, kasihan juga Bapak.


"Biar Mas saja." ujar suamiku menepuk bahuku.


"Kamu dengar percekcokan di kamar sebelah, Mas ?"


"Iya, biar saja. Tugas kita disini merawat bapak."

__ADS_1


"Hehehe, setuju komandan."


"Biar Mas yang menggantikan popok bapak. Mas anaknya, maka Mas yang harus mengurus bapak."


Aku tersenyum lebar, ingin sekali bicara dengan bapak seperti ini, Pak lihat anak yang selama ini kau perlakukan berbeda, dia lebih mencintaimu. Tanpa rasa jijik sedikitpun, dengan suka rela membersihkan kotoranmu. Mana anak yang selalu dibanggakan ? Bukan meringankan beban, malah menambah penderitaan.


"Pak, apa yang sakit ? Kenapa nangis ?" Setelah berganti popok dan celana, bapak malah menangis.


"Bapak malu, hiks, hiks"


"Malu gimana, Pak ? Kalau ada yang sakit bilang sama Bagas, Pak." Suamiku tampak panik.


"Bapak malu sama kamu, Gas. Selama ini bapak sudah pilih kasih, tidak peduli sama kamu. Tapi... saat bapak sakit, hanya kamu yang paling peduli."


"Sudah, Pak, jangan nangis. Gak usah diingat-ingat lagi. Ini sudah tugas Bagas sebagai seorang anak."


"Ya Allah, hiks, hiks."


Air mataku ikut mengalir deras. Hatiku luluh lantah menyaksikan sikap suamiku. Betapa mulia hatimu, Mas. Kamu sudah berhasil mengalahkan bisikan setan, dan lebih memilih jalan penuh kebaikan dan keberkahan.


"Pak, semangat untuk sehat yah, Pak. Jangan didengarkan kata-kata yang tidak enak. Kita usaha biar bapak sembuh lagi. Ayu sama Mas Bagas akan selalu dukung bapak."


"Sudah, Pak, jangan menangis. Ini sudah tugas Bagas sama Ayu. Tapi, maaf... Bagas tidak bisa setiap waktu ada buat bapak. Bagas punya tanggung jawab di pabrik, tidak mungkin Bagas berlama-lama meninggalkan pekerjaan Bagas disana. Biar nanti Bagas Carikan perawat buat mengurus bapak." Bapak mengangguk haru, mengerti dengan alasan Mas Bagas.


Mas Bagas masih mengobrol, aku biarkan saja anak dan bapak saling menumpahkan kerinduan lewat komunikasi. Aku kepo mau melihat Mbak Dita dan ibu sedang apa.


"Ih, Si Ayu caper banget ! Sok-sokan baik, padahal dia lebih Julid." ujar Mbak Dita di dapur.


"Ya memang begitu, tapi kamu jangan cari perkara, Dit. Kalau sampai Ayu dan Bagas murka, kamu mau tinggal dimana ? Suami gak jelas rimbanya, kasihan anakmu kalau kamu diusir dari sini. Ibu mana bisa bantu, sementara bapakmu sudah berpihak pada Ayu."


"Iya sih, Bu. Arghh... kesel aku ! Ngapain sih mereka harus balik lagi kesini."


"Ya harus balik lagi lah, kan ini rumahku, Mbak. Makanya Mbak tuh perbaiki hidup. Jangan jadi beban orang tua terus. Orang tua lagi sakit malah diabaikan, ya ampun... Hati-hati karma, Mbak. Nanti anaknya kayak gitu baru tahu tempe deh, hehehe."


"Berisik !" Jawab Mbak Dita dengan judes. Aku senyum-senyum sendiri melihat ekspresinya yang aneh.

__ADS_1


Semoga kamu cepat sadar, Mbak. Gimana mau bahagia, kalau tak pernah berusaha membuat orang lain bahagia juga.


Aku tak mau berdebat dengan Mbak Dita. Ya, pengen sih mengusirnya dari sini, tapi sekarang dia punya anak, aku tidak boleh gegabah. Jangan sampai, niatnya aku ingin memberi pelajaran pada Mbak Dita, malah anaknya yang menderita. Jadi, biarkan saja dia disini, asal jangan macam-macam.


.


.


"Sayang, kita sudah satu bulan disini. Mas mau lusa kita pulang ke Jakarta."


"Beneran, Mas ? Memangnya ada masalah di pabrik ?"


"Ga ada, sayang. Mas cuma mau kembali ke rumah kita."


"Bapak gimana ?"


"Tenang, sudah ada perawat."


"Hhmm, ya sudah, nanti aku siap-siap barang-barang kita."


Setelah berbincang, suami membawa anak kami ke teras, sementara aku membereskan beberapa baju.


"Gas, kamu kembali tinggal disini saja. Ibu butuh kamu. Lihat kondisi bapak, ibu harus cari uang dari jualan, terus ngurus bapak kamu juga." keluh ibu.


Jiwa kepo ku langsung meronta. Aku tinggalkan saja dulu beberapa pakaian yang masih belum beres.


"Soal bapak, Bagas yang bayar perawat juga obat-obatan bapak. Jadi, ibu gak perlu khawatir."


"Jatah bulanan ibu gimana ?"


"Ambil dari warung saja. Bagas sudah kasih modal buat ibu usaha."


"Tapi, Gas... Itu-"


"Selamat siang," ujar seorang pria seumuran bapak.

__ADS_1


Tiba-tiba ada tamu tak diundang datang dan langsung memotong pembicaraan antara ibu dan Mas Bagas. Di samping pria itu ada Mas Adit, dan keadaannya baik-baik saja.


Sebentar, aku tak asing dengan pria di samping Mas Adit itu... Bapaknya Bella !


__ADS_2