Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Bohong Lagi... Bohong Lagi !


__ADS_3

Kami berangkat pagi dari Jakarta, sampai dirumah jam dua siang. Istirahat sebentar, baru ke rumah sakit. Ibu dirawat di rumah sakit dekat kecamatan.


"Assalamualaikum,"


"Bagas..." Ibu mertua terseduh saat melihat Mas Bagas.


"Bu, Bagas bawakan buah kesukaan Ibu."


"Makasih, tapi yang Ibu butuhin kamu, Gas. Jangan pindah ke Jakarta. Kalau ada apa-apa sama Ibu dan Bapak siapa yang mau urus. Mbak mu lagi hamil, dia harus fokus sama anaknya."


"Gak usah dipikirin soal itu. Yang paling penting Ibu sembuh dulu."


Sikap Mas Bagas sedikit cuek. Meski khawatir, tapi dia tampak malas dengan sikap Ibu. Masih sakit saja, yang dikhawatirkan malah kondisi Mbak Dita. Ibu dan Bapak tak pernah menanyakan bagaimana perasaan, kondisi dan apa yang di inginkan Mas Bagas. Mertua malah membuat kami seperti tahanan di kampung halamannya. Tak bisa mencari kebebasan dan kedamaian untuk keluarga kecil kami.


"Tamu jauh baru datang. Kirain mau jadi Malin Kundang." Mbak Dita baru saja datang dengan membawa totebag berisi pakaian dan makanan.


"Bu, sakit apa ? Perasaan Minggu lalu masih beringas, sehat walafiat." Tanyaku mengalihkan ucapan Mbak Dita. Manusia modelan Mbak Dita, kalau dilayani yang ada malah makin menjadi.


Posisi sedang di rumah sakit, jadi aku tak mau membuat huru hara. Bisa-bisa didemo para pasien dan suster ngesot disini. Bahaya !


"Ibu sakit lambung dan tipes. Dia gak mau makan karena mikirin anak bungsunya yang kebangetan !"


"Dita, sudah. Jangan buat Bagas malah pergi lagi." Ucap ibu mertua pelan.


"Bagas, temani Ibu disini." Lanjut ibu mertua berpaling pada Mas Bagas.


"Iya, Bu. Sayang, kamu pulang saja, yah. Kasihan juga Kiara kalau lama-lama di rumah sakit. Nanti Mas antar kalian pulang, baru Mas balik lagi."


"Ya sudah, Mas. Kalo gitu, nanti kamu bawa selimut, yah. Kasihan kedinginan disini."


Mas Bagas mengantar aku dan Kiara pulang. Kami masih menggunakan mobil. Lumayan, tagihan sewa mobil membengkak. Tak apalah, sekali-kali. Mungkin, nanti kami kredit saja. Ternyata mobil sangat diperlukan ketika sudah punya bayi. Agar Kiara tidak kehujanan dan kepanasan saat diajak kesana kemari. Nanti aku harus membicarakan soal ini dengan Mas Bagas, kalau keadaan Ibu sudah baik.


Soal rumah, prosesnya masih panjang. Firasatku, agak sulit pindah ke Jakarta. Lihat saja sikap Ibu mertuaku, sampai kena lambung karena ditinggal Mas Bagas hanya satu Minggu. Sebenarnya sakit ibu gara-gara terlalu sayang sama Mas Bagas, atau karena takut tak ada lagi ATM berjalan ?


Tau ah, gelap ! Mau tidur aja. Bisa berubah jadi kelapa ijo kepalaku kalau terlalu memikirkan keluarga suami. Sepertinya harus dibawa santai biar tak kelimpungan.


.


.


"Bagas, nih, tagihan rumah sakit."


Untung aku rem dulu langkahku menuju ruang rawat Ibu. Ternyata sedang ada perbincangan penting. Pagi-pagi sudah geger soal uang saja.

__ADS_1


"Kenapa bukan Mbak Dita yang bayar ?"


"Jangan menghina kamu. Mbak kalau ada duit, pasti bantu Ibu. Buat diri sendiri aja susah. Gak malu kamu minta Mbak yang bayar ? Duitnya aja banyak, tapi pelitnya gak ketulungan !"


"Mbak Dita kan anak kesayangan. Kenapa cuma duitku yang dijadikan acuan ?"


"Ya Allah, Bagas. Kalau gak mau bayar, ya sudah. Biar Ibu ditahan di rumah sakit. Mungkin itu yang kamu mau." Ibu mertua terisak.


"Sudah, Bu, jangan nangis. Si Bagas emang berubah drastis semenjak nikah sama Si Ayu. Harus dibasmi tuh hama dalam pikiran Bagas."


Eh, enak aja, maksudnya aku ini istri yang menyebar hama di pikirkan suami ? Benar-benar Mbak Dita kalau ngomong lurus banget kayak jalan tol. Gak lihat diri sendiri, sok paling bener. Lagi hamil saja, mulut Dajjal nya gak berubah. Gak takut apa, nanti anaknya punya bibit-bibit julid kayak ibunya.


"Gak usah bawa-bawa istri Bagas. Jangan mancing emosi, Mbak."


"Assalamualaikum,"


Aku masuk saja karena Kiara sudah mulai rewel, dan kakiku juga sudah pegal Teru berdiri. Mata Mbak Dita langsung mendelik melihat kedatanganku.


"Mas, udah sarapan, sayang ?"


"Belum, sayang."


"Kita makan dulu, yah. Kamu harus punya banyak tenaga untuk menghadapi kenyataan. Aku ini kan istri yang perhatian. Bukan hanya cinta duitnya doang."


"Makasih, sayang. Masakanmu selalu enak."


"Sama-sama suamiku tercinta. Ayo, kita kembali lagi ke ruangan Ibu kamu."


Cuss... sudah terisi tenaganya. Siap bertempur adu mulut, kalau-kalau Mbak Dita gatal ngajak ribut, ya harus ditanggapi.


"Mas, bayarin aja biaya rumah sakit Ibu." Ucapku saat melangkah meninggalkan kantin rumah sakit.


"Gak apa-apa, sayang ?"


"Ya, gak apa-apa lah, Mas. Kalau buat orang tua kamu, mana aku larang. Yang gak boleh tuh, kalau uang kita digares kakakmu, baru aku ogah."


Sebelum kembali ke ruang rawat Ibu, kami ke bagian administrasi dulu. Mau bayar, sekalian nanya suster kapan Ibu boleh pulang.


"Berapa, Sus ?"


"Totalnya dua juta rupiah, Bu."


"Ini bayar sekarang boleh, Sus ? Nanti gak nambah lagi ?"

__ADS_1


"Pasien atas nama Bu Ratih sore ini diperkirakan sudah boleh pulang, Bu. Makanya diberitahu untuk menyelesaikan pembayaran."


"Alhamdulillah,"


Selesai melakukan pembayaran, kami kembali ke ruangan Ibu. Aku dan suami diam, sengaja belum memberitahu kalau pembayaran rumah sakit sudah di selesaikan.


"Dok, bagaimana kondisi ibu saya ?" Tanya Mas Bagas saat Dokter datang memeriksa keadaan Ibu sore hari.


"Bu Ratih sudah boleh pulang, karena kondisinya sudah membaik."


Cepat juga yah, Dok." Mulutku gatal ingin berkomentar.


"Kalau sakit diare, memang proses penyembuhannya bisa cepat, Mbak. Tidak dirawat juga bisa. Tapi karena kondisi Bu Ratih yang sudah berumur, disarankan untuk rawat inap agar tak kekurangan cairan."


Aku kaget mendengar penjelasan Dokter. Sama kagetnya dengan Mas Bagas.


"Lho, katanya sakit lambung dan tipes ?"


"Emang ada gejala lambungnya, iya kan, Dok ?" Sela ibu.


"Kalau perutnya perih, itu efek kosong. Harus dibarengi makan yang sering, sedikit-sedikit tapi jangan sampai perutnya kosong."


Ya ampun, bohong lagi... bohong lagi. Apa ibu gak capek, yah serba bohong ? Tapi, biarkan sajalah, kasihan juga kalau debat sekarang.


"Lepas infusnya, Sus."


Dokter pamit keluar dan suster melepas selang infusan. Kami beres-beres dan bersiap untuk pulang.


"Bagas, tolong bayar dulu uang administrasinya." Pinta Ibu.


"Su-"


"Berapa, Bu ?" Dengan cepat aku potong ucapan Mas Bagas.


"Lima juta. Sini uangnya, biar Mbak yang bayarin."


"Hahaha, ngelawak kamu, Mbak. Orang totalnya cuma dua juta."


"Gak usah sok tahu kamu, Ayu !"


"Bukan sok tahu, Mbak. Tapi emang tahu. Orang udah di bayar, nih ! Hehehe, kena jebakan Batman, deh."


"Dasar edan !" Mbak Dita langsung salah tingkah.

__ADS_1


Aku cekikikan, sengaja mau mengetes kejujuran. Nyatanya, memang kebohongan sudah melekat pada Mbak Dita dan Ibu. Biarkan saja, dosa ditanggung masing-masing. Ayo, kita otw pulang. Tak betah juga lama-lama di rumah sakit.


__ADS_2