
Tiga bulan setelah kejadian kecelakaan itu, wajahku tidak kembali pulih seperti semula. Lukanya memang sudah sembuh, tapi menyisakan bekas luka, dan bekas jahitan yang cukup panjang di pipi sebelah kanan.
"Aargghh ! Kenapa bekas lukanya gak hilang ?!" teriakku kesal.
"Dita, kenapa ?" tanya ibu masuk ke kamar sambil menggendong putri keduaku Melia.
Aku tinggal di rumah sendiri, tapi setiap pagi ibu selalu datang untuk membantu pekerjaanku. Ibu juga yang sering belanja keluar. Kerjaan ku hanya mengurung diri di rumah. Aku malu punya wajah jelek seperti ini. Apalagi kalau bertemu Genk rumpi, Intan, Inem dan lainnya, bisa-bisa mereka tertawa puas di atas penderitaanku.
"Bu, minta duit atau pinjaman sama Ayu dan Bagas, Bu. Aku mau operasi plastik. Aku gak mau selamanya punya wajah buruk rupa begini, Bu."
"Memangnya operasi plastik butuh berapa uangnya, Dit ?"
"Lima puluh sampai seratus juta, Bu. Ayo Bu, coba hubungi mereka. Minjem gitu, nanti kalau aku sudah cantik lagi, punya suami kaya, pasti aku ganti."
"Hahaha, mimpi di siang bolong kamu, Dita ! Jadi manusia gak ada rasa syukurnya sama sekali. Mana mungkin Ayu dan Bagas mau meminjamkan uang untuk kamu. Coba saja, aku yakin mereka gak akan kasih. Saat ini, hanya aku yang bisa menerima keadaan kamu, Dita. Sudahlah, kamu tinggal terima saja, toh, aku selalu memberi kamu nafkah. Fokus pada anak kita, jangan mengeluh terus."
"Berisik ! Pergi kamu, Mas. Sana cari duit yang banyak, jangan pinter ngomong doang. Cuma ngasih duit sehari lima puluh ribu aja bangga."
"Dasar istri gak bersyukur !" bentak Ma Aldi lewat dari kamarku.
"Bu, buruan telepon, Bu."
"Ta-tapi ibu gak berani, Dit, takut Bagas marah. Bagas yang sekarang gak kayak Bagas yang dulu. Dia jadi keras sekarang, dan gak percayaan sama ibu."
"Bohongnya yang canggih dong, Bu. Buruan dicoba dulu !" bentakku kesal.
Aku rogoh kantong ibu dan mengambil ponselnya. Aku suruh ibu duduk di kasur sambil menggendong Lia. Aku paksa ibu minta duit sama Bagas dan Ayu. Harus dapat, kalau tidak aku mau mengamuk.
...
"Hallo, Ayu."
"Iya, Bu, kenapa ?"
"Bagas ada ?"
"Ada, Bu. Nih, lagi di samping Ayu. Kenapa ?"
"Be-begini, Yu, ibu butuh uang."
"Uang bulanan yah, nanti Ayu kirim."
"Bu-bukan, ibu butuh buat berobat, terapi dan perawatan, Yu."
"Hah ? Emang ibu sakit apa ?"
"Sakit kayak biasa, Yu. Eh, sekalian uangnya buat koleksi perhiasan juga."
"Butuh berapa ?"
"Seratus juta, kalau gak ada, lima puluh juta saja."
"Bener buat koleksi perhiasan dan pengobatan ?"
"Bener, Yu."
"Bukannya buat operasi plastik Mbak Dita ?"
Hah, Si Ayu tahu dari mana ? Jangan-jangan Mas Aldi yang memberitahu mereka barusan. Ih, awas saja pria jelek itu.
__ADS_1
"Bu-bukan, Yu."
"Sini hapenya, sayang." Suara Bagas terdengar merebut ponsel Ayu.
"Bu, masih berani bohong ? Mau sampai kapan memanjakan Mbak Dita ? Sampai ibu mati ? Bagas sudah kelewat kesal. Nanti Bagas kirim uang bulanan terakhir, setelah itu terserah ibu mau gimana. Mau sakit atau apa, Bagas gak peduli lagi. Muak lihat kelakuan ibu, sudah berkali-kali Bagas kasih kesempatan untuk berubah, setidaknya jangan neko-neko lah, terima uang bulanan yang ada buat ibu sendiri. Malah kayak gini lagi."
"Ma-maaf, Gas, ibu gak maksud bohong. Ibu cuman kasihan sama Dita, dia sedih wajahnya jadi buruk seperti itu sekarang. Tolong, Dita cuma mau pinjam, nanti pasti diganti."
"Bagas gak peduli !" bentak Bagas sangat kasar.
"Ba-"
Tuutt...
Panggilan telepon terputus. Dasar adik tidak tahu diuntung. Selalu bikin emosi. Padahal kaya raya, apa susahnya bantu kakak sendiri. Dari miskin sampai kaya sikapnya tetap saja kurang ajar.
"Tuh kan, Dit, apa yang ibu takutkan terjadi. Bagas sudah mewanti-wanti kalau ibu aneh-aneh kayak dulu, dia benar-benar gak peduli lagi sama ibu."
"Halah, tenang aja, Bu, dia pasti ngasih duit lagi. Ibu tinggal akting aja pura-pura sakit."
Ibu diam, malah menunjukkan wajah sebal. Dia langsung pergi meninggalkan Lia di sampingku.
"Bu ! Ih, malah marah sama aku."
Semua orang tidak paham sekali perasaanku. Ibu juga, lebih mempedulikan perasaan Bagas. Saat ini aku yang menderita, harusnya aku yang dibela dan dicarikan uang untuk operasi.
...
"Bu... mau makan, Bu !"
Setelah menyusui dan menidurkan Lia, perutku lapar. Dari tadi memanggil ibu tak ada jawaban. Aku cek ke seluruh ruangan, ibu gak ada. Aku telepon, tapi gak diangkat. Ditelepon lagi, nomornya malah gak aktif.
"Aduh, lapar banget."
Aku berusaha menelepon Mas Aldi yang sedang jualan pentol keliling. Lama sekali dia mengangkat telepon dariku.
"Mas, kamu dimana ?"
"Jualan di desa sebelah, kenapa ?"
"Lapar, Mas. Aku mau makan."
"Tinggal makan, aku udah kasih kamu uang harian."
"Siapa yang warungnya ? Ibu gak ada."
"Punya kaki, keluar sediri, jangan manja !"
"Gak mau, Mas. Malu ! Cepetan kamu beliin aku makanan dulu, terus balik lagi."
"Manja, beli sendiri !" Bentak Mas Aldi langsung mematikan telepon.
"Ih, suami Dajjal !"
Bagaimana ini, perutku sakit sekali. Lea masih kecil, baru bisa jalan terbata-bata, mana bisa aku suruh ke warung. Bagaimana ini, aku sudah tak kuat menahan lapar.
"Ahaa, pakai cadar, biar gak kelihatan."
Aku pergi ke warung terdekat. Sialnya, tutup. Mau tak mau aku harus ke warung Bu Ijah di desa ibu, jaraknya tak terlalu jauh. Semoga saja tak ada geng rumpi disana.
__ADS_1
...
"Beli..."
"Beli apa, Mbak ?"
"Telor, beras, mie, sama ayam seperempat."
"Iya, Mbak. Mbaknya warga baru ?" tanya Bu Ijah sepertinya tak mengenaliku. Baguslah.
"Bu, beli ikan." ujar Intan. Aduh, kenapa dia malah datang. Semoga dia juga tak mengenaliku.
"Bu, cepetan belanjaan saya dihitung."
"Siapa, Bu ?" tanya Intan.
"Warga baru."
"Apa iya ? Kayak kenal suaranya."
"Jadi berapa ?" tanyaku berusaha mengabaikan kecurigaan Si Intan. Perempuan itu malah semakin memperhatikan. Dia mendekat dengan tatapan menyelidik.
"Empat puluh ribu."
Aku serahkan uangnya dan bergegas pergi.
"Tunggu !" Intan mencekal tanganku.
"Kenapa, yah ? Saya buru-buru mau masak."
"Kamu Dita, yah ?"
"Siapa Dita ? Jangan aneh-aneh, saya mau masak." jawabku berusaha melepaskan cengkeraman Intan.
"Ihh !" teriak Intan setelah menarik cadarku. Sialan, manusia laknat itu dengan gerakan secepat kilat menarik cadarku sampai lepas. Aku berusaha mengambil cadarku, tapi Intan malah membuangnya jauh-jauh.
"Ih, benar ternyata gosip yang beredar, seorang Dita, ratu julid berubah jadi buruk rupa, hahaha."
"Parah sekali muka kamu, Dita." ujar Bu Ijah dengan tatapan ngeri menatapku.
Ibu-ibu lain berdatangan untuk membeli sayuran. Mereka menatapku heran dan jijik. Dada ini terasa panas dan kesal luar biasa.
"Lepas !"
"Hahaha, Dita Si buruk rupa !" teriak Intan sambil tertawa puas.
Aku berlari kembali ke rumah. Sepanjang jalan warga yang berpapasan di jalan menatap kaget dengan kondisi wajahku, padahal sudah berusaha ditutupi dengan hijab lebarku ini.
"Aargghh, sialan !" teriakku emosi tingkat tinggi.
Aku banting panci dan beberapa barang-barang di dapur. Ini semua karena ibu. Kemana dia ? Harusnya dia tetap disini !
"Dita, kamu kenapa ?" tanya ibu datang dari arah kamar Lea. Aku diam menatap tajam ke arah ibu.
"Kamu kenapa, hah ? Ibu disuruh datang kesini lagi sama Aldi. Bisa-bisanya kamu meninggalkan Lea yang lagi main sendirian di lantai. Untung dia gak nangis dan jalan-jalan ke dapur."
Plak !
Aku tampar ibu begitu keras. Wajahnya menatap heran, sambil menggelengkan kepala. Matanya berkaca-kaca, dan tangannya memegangi pipi keriput yang memerah.
__ADS_1
"Ma-maaf, Bu, a-aku gak sengaja."