Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Minggat


__ADS_3

"Kita mau kemana, Mas ?" Tanyaku pada suami saat motor sudah melaju meninggalkan rumah mertua.


"Kita coba cari kontrakan yah, sayang."


"Apa uangnya cukup ? Uang tabungan kita kan di depositkan. Udah jam begini mana bisa ? Dan pasti ribet. Lebih baik kita ke rumah papa dulu."


"Gak apa-apa kita ke rumah papa kamu ?"


"Gak apa-apa, tenang aja, Mas. Soal mama tiri aku, biar aku yang lawan. Dari kecil udah biasa adu mulut, bahkan adu lempar sendal pun sering, hehehe." Mas Bagas pun ikut menyunggingkan senyum tipis dan mengangguk.


Kalau boleh jujur, sebenarnya aku malas ke rumah papa. Disana ada istri pertama papa. Ya, mama ku dulu istri kedua. Papa menipu Mama dengan mengaku bujangan. Hingga aku berusia lima tahun, mamaku mengetahui kebohongan papa. Dengan berat hati mereka berpisah. Mama merasa bersalah hingga memilih untuk mundur.


Imbasnya, padaku. Mama tiri ku Julid tingkat tinggi. Kalau diadukan dengan ibu mertua, tentu ibu tiri pemenangnya. Kata-katanya jauh lebih pedas, belum lagi saudara-saudara ku yang satu bapak beda ibu. Mereka terang-terangan membenciku dan mencap aku sebagai anak pelakor.


Padahal mamaku tidak sepenuhnya bersalah.


"Assalamualaikum, Pa, Ma..."


"Ayu, ngapain kamu kesini ?" Tanya kakak pertamaku yang bernama Dewi.


"Mau numpang tidur, Mbak. Nanti kalau udah dapat kontrakan baru cek out." Jawabku enteng.


Tenang saja, sepahit dan setajam apapun ucapan ibu tiri dan kakak-kakakku, hati ini sudah punya perisai sekuat baja.


"Hahaha, anak kebanggaan kok jadi gelandangan."


"Ralat, Mbak. Kami bukan gelandangan, cuma numpang sebentar. Yang pasti bukan benalu yang gak punya pikiran." Ujarku dengan cengiran kuda.


Puas sekali rasanya bisa menyindir langsung kakak benalu yang omongannya menggetarkan jagat bak halilintar.


"Mas, ayo bawa barang-barang kita ke kamar aku."


Dirumah ini bapak memang sengaja menyisakan satu kamar khusus untukku. Karena bapak tegas, tidak ada satu pun yang berani menempati kamarku.


Bapak sangat menyayangiku lebih dari kakak-kakakku. Mungkin karena aku anak satu-satunya dari wanita yang sangat dia cintai.


"Kalian ?"


"Hallo ibu tiriku yang cantik sejagat raya, anak kesayangan mu ini mau tinggal sementara disini. Jangan sampe jantungan yah."

__ADS_1


Ibu tiriku langsung melotot. Aku tampakkan saja senyum sebahagia mungkin. Sikapku begini bukan maksud tak sopan, tapi lebih baik menyerang duluan, sebelum diserang dengan kata-kata yang lebih menyakitkan. Toh, perkataan ku penuh dengan pujian, meskipun mengandung sindiran.


"Wah, songong dia, Bu. Harus di gampar biar sadar."


"Jaga ucapanmu, Dewi." Sentak papaku yang datang dari arah belakang.


Aku tersenyum penuh kemenangan. Sebelum datang kesini aku memang sudah menghubungi Papa agar pulang lebih cepat dari kandang ternak. Karena jika ada papa, ibu mertua sama kakak-kakak ku tak bisa berkutik.


"Ayu, Bagas, masuk kamar. Kalian pasti capek. Lupakan omongan mereka."


"Siap, papaku tercinta."


Aku tarik suamiku ke kamar. Akhirnya bisa lolos dari cengkeraman mulut mercon ibu tiri.


Aku bisa menghembuskan nafas lega sekarang. Walaupun setelah ini pasti akan datang drama-drama menegangkan lainnya. Semoga bisa secepatnya dapat kontrakan.


...


"Bagas, gak punya otak yah ! Lihat, kotor !!!" Sentak ibu tiri saat Mas Bagas tak sengaja menumpahkan minyak.


"Santai dong, Bu, ngomongnya." Ucapku membela suami, karena suami pasti hanya akan diam saja.


"Kamu yang harusnya pakai etika kalau ngomong sama orang tua. Kasihan sekali nasibmu, Ayu. Selalu jadi perempuan yang tak berharga. Persis seperti ibumu."


"Dasar anak pelakor !"


"Ih !"


"Tenang, sayang."


Mas Bagas merangkulku. Kalau tidak ditahan suami, sudah ku siram pakai air bekas cucian piring tuh nenek gerondong.


Ya Tuhan, kenapa dimana-mana penuh dengan orang-orang bermulut jahat. Lama-lama capek hati juga.


"Baru dua hari disini, lama-lama aku bisa berubah jadi manusia serigala, Mas."


"Sabar, sayang."


"Kita cari kontrakan saja, Mas. Capek aku. Kalau kayak gini terus, bisa cepat ubanan kepalaku."

__ADS_1


"Mas coba tanya Joni dulu, yah. Mudah-mudahan dia udah nemu kontrakan yang cocok untuk kita."


"Iya, Mas."


Mas Bagas pun segera menghubungi Joni, temannya Mas Bagas dari zaman mereka SMA.


Tak berapa lama panggilan pun terhubung.


"Gimana, Jon ?" Tanya Mas Bagas.


"Pas banget kamu telepon, Gas. Ini ada satu kontrakan, baru aja kosong. Buruan kesini, cek langsung. Kalau kalian mau, kita bakal tetanggaan."


Tanpa basa basi lagi, Mas Bagas dan Joni langsung mengakhiri panggilan.


Dan saat itu juga, kami langsung berangkat untuk mengecek kontrakan yang akan kami tempati.


Aku suka dengan tempatnya, sepertinya akan nyaman. Jadi, kami langsung membayar cash tujuh ratus ribu kepada pemilik kontrakan, lalu kembali ke rumah bapak untuk berkemas.


"Kamu yakin mau ngontrak ? Gak mau tinggal disini saja, sama papa ? Lagipula, rumah papa ini cukup besar. Gak masalah kalau kalian juga ikut tinggal disini."


"Makasih, Pak. Tapi Ayu sama Mas Bagas mau belajar mandiri, jadi kami akan tetap mengontrak untuk sementara waktu."


"Ya sudah, kalau begitu biar bapak sewakan mobil untuk mengangkut barang-barang kalian, yah."


Aku berpikir sejenak. Sebenarnya aku tak enak juga, tapi dipikir-pikir, kami memang membutuhkan mobil untuk mengangkut barang-barang yang masih berada di rumah ibu mertuaku.


Kami pamit dan langsung meluncur ke rumah ibu mertua.


"Kalian jadi ngontrak ?" Tanya ibu mertua sinis saat melihat barang-barang milikku dan Mas Bagas di angkut ke mobil.


Sengaja aku bawa semua barang yang aku beli dengan uangku. Hadiah-hadiah panci yang sudah di pakai ibu juga aku bawa semuanya. Di kontrakkan aku akan membutuhkan semua itu. Bahkan kasur yang di beli Mas Bagas saat kami menikah juga aku bawa.


"Kasur juga kamu bawa, Ayu ?"


"Iya dong, Bu. Kasurnya termasuk seserahan pas aku nikah, masa gak dibawa ?"


"Kemaruk !" Ucap ibu mertua ketus sambil menjauh dariku. Dia duduk di depan teras sambil menatap sinis. Sementara Mas Bagas, sama sekali tidak mau merespon atau bicara apa-apa.


Semua barang sudah selesai diangkut. Kamu segera meluncur ke kontrakan. Disana sudah ada Joni dan istrinya Rina yang sedang bersih-bersih. Ya, aku sangat berterima kasih karena sangat merasa terbantu.

__ADS_1


Setelah itu, aku dibantu Rina menata semua barang-barang yang kami bawa.


Mulai lagi dari nol. Semoga perekonomian keluarga kecil kami membaik.


__ADS_2