
"Ini teh nya, sayang..." Ucap Mas Bagas yang datang dengan segelas es teh sesuai permintaanku.
"Sayang-sayang !" teriakku melotot. Mas Bagas tampak ngeri. Aku teguk es teh sampai hampir tandas. Ah, nikmat sekali. Solusi saat sedang terbakar emosi minumlah yang dingin-dingin dan manis agar kobaran api di dalam jiwa dan raga berangsur padam.
"Su-sudah tenang, sayang ?" Aku kembali melotot.
"Ma-maksudku, Ayu istriku..."
"Berapa juta yang sudah kamu kasih selama dua bulan ini ?" Tanyaku kesal.
"Se-sepuluh juta."
"Hah ?"
"Itu dari keuntungan jualan pentol selama dua bulan, Yu."
"Astaghfirullah," Aku mengelus dada sambil menarik nafas dalam.
"Berapa cicilan per bulannya ?" Tanyaku lagi.
"4.500.000, sayang."
"Ya Allah !" Teriakku kesal. Cicilannya besar banget lagi.
"Mau sampai kapan kamu bayarin cicilan ?"
"Gak tahu sayang, Mbak Dita usahanya bangkrut. Suaminya juga gak kerja lagi. Mereka gak bisa bayar cicilan. Buat makan aja susah. Mas gak tega sama bapak dan ibu."
"Maksudnya sampai lunas gitu ???"
"Mu-mungkin, daripada rumah disita. Penghasilan kita kan sudah banyak, sayang. Kita bisa buka cabang baru untuk pentol yang sedang laris manis. Belum lagi yutub dan TikTak. Totalnya bisa sampai dua puluh juta sebulan. Kita pasti bisa, sayang."
Setelah berpikir sejenak, aku memilih untuk mengakhiri obrolan ini.
"Oke, besok kita ke rumah ibu kamu."
"Mau ngapain, sayang ? Biar Mas aja yang urus."
"Lihat aja besok. Udah, aku mau tidur."
__ADS_1
Aku bangkit menuju kamar. Mas Bagas mengikuti dari belakang. Kami saling berhadapan. Aku melotot menatapnya.
"Mau ngapain ?" Sentakku dengan nada kesal.
"Ma-mau tidur juga, sayang."
"Enak aja ! Nih, tidur sana di depan." Aku berikan bantal pada Mas Bagas, biar malam ini dia tidur di depan saja. Malas aku dipegang-pegang. Ini hukuman untuk suami yang sudah bohong sama istri. Enak saja bohong sesuka hati. Meskipun dia imam dalam rumah tangga, tetap saja bohong tidak diperbolehkan.
Suami istri adalah satu kesatuan. Dua insan yang disatukan dalam ikatan halal yang bernilai ibadah. Ada dua pikiran dan dua hati yang harus dilibatkan ketika menentukan pilihan. Apalagi soal keuangan. Sudah sepatutnya jujur, jangan seenaknya mengatur sendirian. Suamiku punya hak memberi orang tuanya. Tapi aku sebagai istri berhak tahu berapa nominal yang dia berikan kepada orangtuanya.
"Sayang, maaf..." Ucap Mas Bagas dengan suara pelan.
"Maaf-maaf ! Sakit hati aku, Mas."
"Mas gak maksud kayak gini. Kalau jujur kamu pasti menolak bantu ibu. Mas terpaksa, gak tega kalau rumah ibu sampai disita."
"Udah, diam ! Aku mau tidur."
Aku menutup mata dan berusaha menenangkan hati agar tak mengekspresikan kekesalan dengan kata cerai. Mas Bagas pun memilih untuk diam, agar tak semakin memancing emosi.
***
Besoknya, sesuai ucapanku semalam, aku dan Mas Bagas berkunjung ke rumah mertua.
"Ayu gak mau basa-basi, tujuan Ayu kesini mau buat surat perjanjian."
"Surat perjanjian apa ?" Tanya bapak mertua.
"Anak kesayangan ibu dan bapak gak bisa bayar cicilan bank, begitu juga ibu dan bapak. Terus kalian nyuruh suamiku yang bayar. Oke, gak apa-apa, tapi kalian harus tanda tangan disini." Aku berikan secarik kertas yang sudah diberikan materai.
"Sayang, kamu serius ?" Bisik Mas Bagas.
"Diam aja, Mas." Mas Bagas pun langsung membisu.
"Kamu mau menguasai rumah ini ?"
"Bukan begitu, Pak. Cicilan rumah ini masih delapan bulan lagi, jumlahnya puluhan juta. Sementara uang hasil pinjaman gak dimakan Mas Bagas sama sekali, tapi Mbak Dita. Masa kami yang harus bayar, gak lucu dong."
"Tapi kami gak bisa bayar, Ayu !" Sela ibu mertuaku jutek.
__ADS_1
"Nah, karena itu, Ayu paham. Jadi, berdasarkan semedi panjang semalaman, Ayu putuskan untuk mengizinkan mas Bagas membayar cicilan rumah ini, syaratnya sertifikat rumah harus dibalik nama atas nama Mas Bagas."
"Enak aja, terus ibu sama bapak gak punya rumah ? Kamu ini tamak sekali, Ayu !" Bentak ibu mertua tak terima dengan persyaratan yang aku kasih.
Asli, aku emosi tingkat tinggi. Suamiku selalu dimanfaatkan disaat susah, tapi anak kesayangannya dibiarkan saja saat membuat keluarga susah. Tak bisa dibiarkan begini terus.
"Oke, kalau ibu sama bapak gak mau tanda tangan surat ini, artinya Mas Bagas gak akan bayar cicilan rumah ini lagi." wajah mertuaku langsung tegang dan kebingungan.
"Keterlaluan kamu, Ayu ! Perhitungan banget jadi mantu. Bagas saja gak keberatan, kok kamu yang repot."
"Ya gak bisa gitu dong, Bu. Kami belum punya rumah, kami juga harus nabung buat beli rumah dan tabungan masa depan anak. Kurang kerjaan banget bayarin hutangnya Mbak Dita. Dia untung, kami yang buntung. Memangnya kami bank Indonesia, tukang cetak uang ?"
"Sabar, sayang..." Ucap Mas Bagas sambil mengusap tanganku. Aku hempas kasar tangannya karena kesal luar biasa.
"Gimana, Bu, Pak ?"
Ibu mertuaku menampakkan wajah kesal. Bibirnya manyun ke kiri dan ke kanan. Sementara bapak mertuaku hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar.
"Ya sudah, bapak tanda tangan."
"Pak ! Enak aja main tanda tangan. Nanti kalau kita diusir sama Ayu, gimana ?"
"Diam saja kamu, Bu. Ini semua gara-gara kamu terlalu memanjakan Dita." Ibu langsung diam seribu bahasa.
Aku tersenyum penuh kemenangan. Bapak sudah tanda tangan di atas meterai, disusul ibu, kemudian aku dan Mas Bagas.
"Oke, beres. Ayo kita pulang, Mas." Ucapku mengajak suamiku pulang ke kontrakan kami.
Aku masih bisa mendengar ibu mengumpat saat meninggalkan kami masuk ke kamar.
Bodoh amat, aku bukan penipu atau perampok, hanya memperjuangkan hak aku dan suami. Biar Mbak Dita juga kapok dan tak berbuat seenaknya.
"Sayang, harusnya kamu gak kayak gitu sama bapak dan ibu." Ucap Mas Bagas saat kami sudah sampai di kontrakan.
"Mas kenapa sih, jadi lembek gini ? Kan Mas tahu sendiri, yang salah itu orang tua kamu."
"Iya, Mas paham. Bapak dan ibu cuma punya Mas buat bantu mereka. Anak mana yang tega jika rumah orang tuanya disita, sementara dia masih bisa untuk membantu. Percuma Mas paksa Mbak Dita. Meneror atau mengancam sekalipun gak ada gunanya. Kondisi ekonominya sedang bangkrut, tak bisa diharapkan."
"Terus masalahnya apa sama sikap aku, Mas ? Aku tetap setuju kamu bayar cicilannya. Tapi tetap harus ada feedback-nya dong. Biar orang tua kamu juga gak seenaknya terus. Dulu aja waktu mengurus pinjaman, kamu salah sekali gak diminta pendapat. Bahkan saat kamu gak setuju pun, orang tua kamu tetap gak peduli. Lalu sekarang apa ?"
__ADS_1
"Ya sudah," Jawab Mas Bagas lesu.
Kesal sekali, ujung-ujungnya jadi aku dan suami yang ribut. Biang masalahnya adalah Mbak Dita. Dia kakak pertama, tapi tidak tahu diri dan egois. Sukanya bertindak sesuai keinginannya yang hanya menguntungkan dirinya sendiri. Aargghh, kalau ingat dia rasanya pengen aku cubit ginjalnya.