Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
OKB (Orang Kaya Belagu)


__ADS_3

POV Dita


"Ibu..."


Ih, dimana sih, ibuku. Bukannya mengurus Lea malah kabur entah kemana. Apa dia gak tahu aku harus pergi arisan, menemani Mas Aldi bertemu para pebisnis dan sahabatnya. Ih, ibu bikin emosi.


"Nah, ibu ternyata disini."


Ibu tampak kaget dengan kedatanganku


 Dia sedang menelepon seseorang. Aku langsung berikan Lea pada ibu.


"Abis telepon sama siapa, Bu ?"


"Sa-sama..."


"Sama Si Bagas ?" tanyaku setelah melihat ponsel ibu.


Kenapa sih, ibu masih menelepon Bagas. Harusnya anggap saja Bagas gak ada. Dia itu anak tak berguna, bisanya cuma nyusahin aja.


"I-iya, ibu cuma kangen."


"Kangen-kangen, anak kayak gitu dikangenin, Bu, Bu... Apa coba yang kurang dari Dita sebagai anak ibu. Setiap bulan Dita kasih jatah, makan gratis, tidur di rumah mewah."


"Tapi uang dari kamu gak cukup, Dit. Masa ibu cuma dikasih lima ratus ribu sebulan."


"Astaga, Bu, gak bersyukur banget jadi orang."


"Bukan gak bersyukur, Dit. Ibu juga mau beli emas, beli ini itu. Ditambah lagi ibu capek ngurus Lea, Dit. Kamu cari baby sitter saja."


"Manja banget sih, Bu. Ibu udah tua, harusnya banyak gerak buat kesehatan, ya solusinya ngurus Lea. Udah, urus dulu Lea nya, Bu. Aku mau jalan sama Mas Aldi."


Aneh, akhir-akhir ini ibu jadi manja sekali. Aku tak menyuruhnya bersih-bersih, hanya mengurus Lea saja. Tapi banyak ngeluhnya.


"Lama banget sih !" bentak Mas Aldi.


"Ma-maaf, Mas. Aku serahin Lea dulu tadi sama ibu."


"Ribet banget anak kamu. Kemana ibu kamu, hah ?"


"Ibu ada, tapi tadi lagi santai di kamarnya. Tenang aja, Lea sudah di tangan ibu."


"Bagus. Ibu kamu itu harus sadar, dia numpang disini, jangan banyak tingkah. Cuma disuruh jagain satu bayi saja susah. Gimana kalau kita nanti punya anak ?"


"Ya, kita sewa baby sitter aja, Mas."


"Enak banget kalau ngomong. Tidak ada baby sitter ! Aku tidak mau sembarangan menyerahkan anak sama orang lain." Sentak Mas Aldi.


Kesal sekali, minggu-minggu ini dia mirip orang yang sedang PMS, suka sekali membentak dan mempermasalahkan hal kecil. Tapi, sikapnya akan berubah manis ketika di depan sahabat, keluarga dan orang lain.


...

__ADS_1


"Beruntung kamu, Dita, janda satu anak tapi bisa dapat duda kaya tanpa anak seperti Aldi."


"Iya dong, aku memang pantas untuk Mas Aldi." ujarku percaya diri di depan sahabat dan rekan kerja Mas Aldi.


Hari ini ada acara pesta, kumpul-kumpul bersama dengan sahabat sekaligus rekan kerja Mas Aldi. Acaranya sampai malam, diadakan di rumah salah satu sahabat Mas Aldi.


Sebenarnya aku malas ikut acara seperti ini, pasti nanti Mas Aldi mabuk dan joget-joget gak jelas dengan cewek-cewek panggilan yang dipesan sahabat Mas Aldi.


"Hahaha, mantap, ayok... minum terus !" teriak Mas Aldi penuh semangat meneguk minumannya.


"Mas, pulang yuk."


"Argh, apaan sih, pegang-pegang !" bentak Mas Aldi mengibaskan tanganku dengan kasar.


Sialan, semua orang disini sudah mabuk kecuali aku dan beberapa istri teman-teman Mas Aldi.


"Mas, ayo pulang dong, ih..."


Bugh !


"Aaww, sakit."


Sialan Si Aldi,emang sih setengah sadar tapi jangan seenaknya. Dia mendorong tubuhku sampai membentur meja.


"Dita, keningmu berdarah, lebih baik kamu pulang saja, biar saja Aldi tetap disini."


"Gak apa-apa, Mbak Mia ?"


"Iya, Mbak, makasih." ujarku pada salah satu sahabat dekat suamiku.


"Ini tisu, nanti darahnya kena baju."


Aku ambil tisu dari Mbak Mia, berjalan menjauh menuju mobil miliknya. Di mobil, tiba-tiba mata berkaca-kaca. Sudah ketiga kalinya sikap Mas Aldi kasar seperti ini. Kalau bukan karena hartanya yang banyak sampai tujuh turunan, aku gak sudi terus menjadi istrinya. Saat pacaran saja romantis dan perhatian, setelah menikah berubah drastis. Argh... Besok aku harus belanja banyak untuk menghilangkan kekesalan ini.


***


Pas banget, pulang dari mall kota, aku melihat geng tukang gosip sedang berkumpul. Waktu yang tepat untuk pamer berlian dan koleksi emasku yang segambreng ini.


"Hai semua, masih belanja sayuran di warung, kasian sekali."


"Wah, kamu makmur sekali, Dita." puji Bu Ijah.


"Iya, dong, Bu. Hidupku makmur sekali, bahkan kekayaanku lebih banyak dari pada istri pelayaran."


"Nyindir, hah ?" tanya Intan.


"Bukan nyindir, fakta dong. Nih, emasku lebih banyak dari kamu, Intan. Nih, berlian asli. Kalian mana mampu belinya."


"Ya elah, mentang-mentang mendadak nikah sama orang kaya, mendadak jadi OKB, orang kaya belagu !" sahut Inem.


"Bener banget, Nem. Biasa, orang miskin kaget langsung kaya, jadi norak !"

__ADS_1


"Eh, jaga mulut kamu !"


Aku simpel mulut Si Intan dan Inem dengan cabe setan. Terus, aku lempar tahu kuning tepat di mukanya. Sialnya, mereka membalas menimpukku dengan timun. Sakit ! Dasar tim gosip tukang rusuh.


"Aduh, stop-stop ! Sayuranku habis !" Teriak Bu Ijah.


"Nih, Bu, aku bayar ! Jangan ganggu."


Aku keluarkan sepuluh lembar uang berwarna merah. Bu Ijah langsung melotot melihatnya.


"Wow, banyak banget, lanjut-lanjut. Nih, ikan asin sekalian."


"Argh, bau, jijay !" teriak Intan saat ikan tongkol aku lempar tepat di wajahnya.


"Bu, sudah, Bu. Bapak menelepon, Bu." ujar supir pribadiku.


"Argh !!!" Terakhir aku lempar ikan asin ke wajah Intan dan Inem. Supir pribadi segera menarikku menuju mobil.


"Dasar geng cewek-cewek ahli neraka !" teriakku kesal.


"Bu, tenang... Bapak bisa marah besar kalau tahu ibu kayak gini. Kata Bapak, tolong jaga etika, agar tidak mencoreng nama baik keluarga Warso."


"Ih, iya-iya, makanya jangan bilang-bilang."


Emosi tingkat tinggi, mirip lahar gunung Merapi. Kesal sekali, mereka selalu saja menguras emosiku. Sudah miskin, tetap saja mulutnya mirip petasan kembang api. Harusnya mereka hormat dan segan padaku karena sekarang aku sudah jadi orang kaya.


.


.


"Dita !" Sentak Mas Aldi sesampainya di rumah. Dia langsung menarikku secara kasar menuju kamar.


"Aww, sakit, Mas !"


"Kamu gila ? Kenapa ribut-ribut tidak jelas, hah ?"


"Maaf, Mas, aku kesal sekali sama Intan dan Inem. Mereka selalu bikin aku emosi."


"Terserah, apapun alasannya, jaga etika kamu ! Ingat, kamu bukan orang miskin lagi. Harus jaga tingkah lakumu !"


"Iya, Mas."


"Iya-iya, awas sekali lagi kamu bertingkah konyol." Mas Aldi mencengkram rahang ku. Perih sekali, rasanya seperti ditusuk belati.


Tenaganya sangat kuat, hampir membuat tulangku remuk. Sialan, semakin lama tingkah suamiku sangat mengesalkan. Dia pikir aku binatang ?


"Arrghh, sakit, Mas."


"Makanya jaga sikap !" bentaknya, lalu pergi begitu saja.


Ah, sialan ! Kenapa kebahagiaan yang didambakan, malah sikap tak mengenakan yang dirasakan. Aku pikir Mas Aldi pria kaya yang baik dan romantis. Kenapa kenyataannya begini ? Tidak, aku harus bahagia. Ingat Dita, uangmu banyak, bisa kemanapun dan berbuat apapun. Lihat saja, seorang Dita pasti bisa menaklukkan seorang Aldi. Aku yakin, hidupku akan semakin bahagia.

__ADS_1


__ADS_2