
Aku sudah tidak nafsu membantu Mbak Dita. Dia itu buka tertipu oleh suaminya, tapi terlalu bodoh. Laki-laki itu dilihat dari tanggungjawabnya, kalau sudah tidak menafkahi dan mendua, mending dibuang ke lantai Ancol, biar dicubit kepiting.
"Sayang, kok masih hapean jam segini ?"
"Eh, pujaan hatiku, maaf yah, kamu jadi kebangun. Ini lho, tadi ponselnya nyala terus, tring, tring, notifikasi grup. Jadi keganggu."
"Ya udah, bobo lagi, sayang."
"Siap, cintaku."
Oke, waktunya tidur lagi. Alhamdulillah, Allah memberikan suami semanis ini. Meski kakaknya buat emosi, tapi adiknya pelipur lara di hati. Andai Mbak Dita bisa dinasehati baik-baik, pasti aku bantu biar hidupnya lebih terarah dan senada menuju bahagia. Kasihan, sudah punya anak, malah ditimpa banyak masalah.
***
"Ayu !" Teriak Mas Bagas dari luar. Tumben masih siang sudah pulang. Terus, gak biasanya suamiku teriak-teriak manggil nama.
"Ayu !"
"Mas, kenapa sih ?"
"Kamu bohongin Mas selama ini ?"
"Bo-bohong apa, Mas ? Ih, muka kamu serem banget, kayak hantu ijo Buto itu lho."
"Mas serius !"
Wah, kacau, muka suamiku bagai bara api. Merah merona siap membakar siapa saja. Dia tampak marah besar, tak biasanya seperti ini.
"Mas kenapa sih ?"
"Kamu bantu Mbak Dita ? Kamu suruh Rina buat mata-matain Mbak Dita ? Buat apa, Ayu ? Kamu cuma buat hidup kamu makin ruwet berhubungan sama kakakku. Hidup kita sudah bahagia, jangan mengacaukan keluarga cuma karena masalah Mbak Dita yang gak penting !"
"Mas, tenang dong, jangan kayak gini, serem. Suaranya udah kayak halilintar."
"Mas kecewa sama kamu, Ayu ! Mas sudah berusaha jujur, tapi di belakang Mas kamu bohong kayak gini."
"Mas... Maaf, aku gak maksud kecewain kamu, aku cuma kasihan sama Mbak Dita."
"Kasihan, buat apa ? Kamu mengorbankan ketenangan keluarga kita kalau berhadapan dengan kakakku yang sinting itu."
__ADS_1
"Astaghfirullah, Mas. Aku tahu Mbak Dita itu isi kepalanya oleng, banyak udaranya dari pada isinya, tapi ya, Mas jangan gitu dong. Sejelek-jeleknya Mbak Dita, meski mirip ikan busuk sekalipun, dia tetap kakak kandung kamu."
"Argh !" Bentak Mas Bagas murka.
Asli, tanganku gemetaran dengan sikap Mas Bagas. Baru kali ini dia mengamuk mirip kucing kebakaran bulu. Emang sih, berbohong dengan alasan apapun tak bisa dibenarkan, tetap saja perbuatan tercela. Aku menyesal bersikap diam-diam kayak gini.
Harusnya aku ingat, surga istri ada di kaki suami. Dalam keadaan apapun, istri harus menuruti perintah suami selama tidak menyuruh melakukan keburukan.
"Mas, maaf, hiks, hiks."
Jatuh juga air terjun dari mataku. Hati rasanya mendung dan kuping tersentuh dengan suara bentakan Mas Bagas yang mirip halilintar. Orang pendiam kalau sudah marah memang mengerikan. Tapi untungnya Mas Bagas hanya mengeluarkan emosinya melalui erangan kekesalan. Tak suka mengeluarkan kata tak pantas, apalagi menggunakan kekerasan.
"Astaghfirullah.... Sayang,"
Mas Bagas memelukku erat. Kami saling mencurahkan isi hati lewat pelukan. Meski tanpa kata-kata, aku paham kalau suamiku begitu mencintai, sampai mengalahkan kobaran emosinya.
"Coba ceritakan semuanya."
"Tapi, Mas janji yah, maafin aku."
"Iya, tapi kamu juga janji, harus jujur."
"Ya sudah, lupakan saja. Kamu gak usah ikut campur lagi. Buang-buang waktu saja."
Percekcokan kali ini ditutup dengan saling memeluk dan mencium penuh cinta.
***
"Hallo, Ayunan, buka TikTak buruan !" Teriak Cindy dari balik sambungan telepon.
"Kenapa Cendol, pagi-pagi sudah berkoar kayak bayi gorila belum dikasih susu, hehehe."
"Ini berita kacau, Ayunan."
"Tunggu, aku kirim linknya terus tonton dengan khusyuk."
Sambungan telepon dimatikan, aku segera cek link yang dikirim Cindy.
"Ya Allah, Mbak Dita kenapa bikin video kayak gini ? Aduh, pusing. Dia buka aib sendiri. Mana komennya banyak juga yang jatuhin dia. Aduh..."
__ADS_1
Aku tepok jidat saking pusingnya. Dulu, jidatku lebar karena terlalu banyak sabar. Sekarang bisa-bisa jidatku nyungsep karena sering ditepuk-tepuk efek capek melihat kelakuan Mbak Dita."
Begini isi konten kesedihan dan umbar-umbar aib dari Mbak Dita.
"Perkenalkan, saya Dita, seorang istri pertama yang diselingkuhi. Tepatnya, seorang perempuan anak orang kaya, mencuri suami saya. Mungkin kalian kenal orangnya, namanya Bella. Saya juga heran, kenapa dia sangat terobsesi dengan suami saya. Selam dua tahun saya tidak curiga, mungkin saya terlalu baik kepada mereka. Sampai, perempuan itu datang sendiri mengakui statusnya sebagai istri kedua. Saya masih sabar saat diperlakukan pilih kasih, menunggu suami sadar. Tapi ternyata, suamiku malah dikuasai Bella, perempuan lulusan Rumah Sakit Jiwa."
Astaga, Mbak Dita benar-benar, kalau buat konten tidak disaring dulu. Coba dong, kau mau buat yang viral-viral, pakai adab sedikit, atau dipoles lebih bagus, biar gak kelihatan bodohnya. Aku malah ngakak lihat komen-komen pada netizen.
[Woy, dua tahun jadi rekan kerja baru ketahuan selingkuh, definisi istri bodoh. Makanya, jangan makan duitnya doang.]
[Yaelah, kayak gini kok viral. Bikin pusing nontonnya. Tinggal pisah aja apa susahnya. Ribet lu, Mbak.]
[Kesian sih, dengar kisahnya, tapi ya, greget juga sama Mbaknya. Jangan kelewat pinter dong, Mbak. Apa pas orok kepalanya ketiban duren, yah, hahaha. Maaf, bukan maksud tertawa diatas penderitaan orang, tali ngakak aja gitu sama Mbaknya.]
Ya ampun, aku senyum-senyum sambil ngakak. Lagian Mbak Dita kurang handal. Sini Mbak, aku ajarin dulu cara buat konten.
[Ini kakaknya Pak Bagas, pengusaha inspiratif itu kan ?]
Tuh, ada komentar yang menandai aku dan suami. Aduh, jangan sampai kolom sosial mediaku ikut dihujat karena tingkah antik Mbak Dita.
"Mas, udah pulang ?"
"Argh !" Teriak suamiku melempar tasnya, sampai mataku melotot Segede biji durian.
"Kenapa sih, Mas ? Kok emosi-emosi terus, mau PMS, hah ?"
"Maaf, sayang. Mas kesel banget sama Mbak Dita, kenapa sih, kerjaannya malu-maluin doang. Banyak yang nyerang akun yutub Mas, katanya Mas gak bisa bilangin kakaknya, gak dukung keluarga. Gara-gara Mbak Dita balas komen-komen netizen sambil jelek-jelekin Mas."
"Ya Allah, padahal ini urusan rumah tangganya Mbak Dita, kenapa dia malah bawa-bawa kita ? Ih, kesel juga ! Coba aku lihat komennya, Mas."
Aku baca-baca dulu, memang sih, Mbak Dita bawa-bawa isu kau aku dan suami menelantarkan orang tua dan saudara.
"Owalah, udah santai, Mas. Netizen juga tahu kalau Mbakmu bukan orok, harusnya dia bisa atur hidup sendiri. Udah , biarin aja, Mas."
"Tapi Mas malu, sayang."
Ditengah perdebatan, ponsel Mas Bagas berdering nyaring. Segera diangkatnya, wajah suamiku mendadak kaget luar biasa. Dia tertunduk dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa, Mas ?"
__ADS_1
"Bapak, sayang... Bapak..."