Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Ibu keras kepala


__ADS_3

"Bagas ... Ayu ... !" Aku mendengar suara tangisan ibu mertua. Ada apa dengan ibu, pagi-pagi begini tiba-tiba menangis.


"Bu, kenapa ?" tanya Mas Bagas.


"Ya Allah, Bu, ngagetin aja, kirain ada kadal buntung. Ibu sakit atau gimana ?"


"Ibu kangen sama Dita, suruh dia kesini, hiks, hiks."


"Ya Allah, Bu, tinggal ditelepon."


"Dia gak bisa dihubungi terus. Ditambah lagi, tadi ibu mimpi buruk. Gas, Ayu... coba kalian ke rumah Dita."


"Bu, jangan banyak pikiran yang aneh-aneh. Mbak Dita udah gede, gak bakal kenapa-kenapa."


"Gas, kamu gak tahu gimana Aldi. Tolong kesana, Gas. Takut Mbakmu kenapa-kenapa."


"Maksudnya pria itu suka main kasar, Bu ?"


"Iya, Bagas, kasihan Mbakmu, ibu minta tolong, Gas.


"Ya sudah, biar aku datangi rumah Mbak Dita, Bu."


"Aku ikut, Mas !"


"Kamu disini saja, sayang. Nanti yang jagain ibu siapa ?"


"Biar saja, Bagas. Kamu jangan sendirian." jawab ibu.


Mas Bagas pun akhirnya setuju. Menjelang jam sepuluh pagi, aku dan Mas Bagas pergi ke rumah Mbak Dita. Sebenarnya kami malas berhubungan dengannya, sudah tak peduli. Percuma Mbak Dita dipedulikan, kupingnya sama sekali sulit mendengar nasihat baik. Biar nyungsep sekalian.


Biasanya, manusia itu sadar saat ada di titik terendah dalam hidupnya. Tapi, mau bagaimana lagi, ibu masih sakit, kalau tidak dituruti bisa repot. Kalau makin sakit, bahaya dong.


"Mbak Dita !"


"Mbak !"


"Mas, masa Mbakmu masih tidur ?"


"Mas juga gak tahu, sayang."


"Mbak Dita ... Aldi ... woy, buka pintu !" teriakku emosi. Sudah setengah jam tidak dibukakan pintu, padahal mobil dan motor penghuni rumah ada di teras. Pasti di dalam ada orang.


"Mau kemana, sayang ?"


"Lewat belakang."


"Tapi, sayang, gak sopan."


"Ya elah, Mas, Mbak Dita itu kakak kamu, kita cuma mau ketemu dia, bukan maling."


Aku cari celah menuju pintu belakang. Setelah menemukannya, aku malah bertemu pembantu rumah tangga disini.

__ADS_1


"Mbok, Mbak Dita dimana ?"


"Kalian lewat pintu belakang ? Lebih baik pulang saja, Mbak Dita bisa murka."


"Emang kenapa, Mbok ? Si Aldi ada ?"


"Mas Aldi lagi gak ada di rumah."


"Oh, tapi Mbak Dita ada, yah, ayo Mas !"


"Tunggu Mbak !"


Bodoamat, aku terobos saja. Toh, niatku baik bukan mau macam-macam. Lagian, Mbak Dita ini kupingnya disumpel batu apa gimana, sih.


"Mbak Dita ?" Aku kaget melihat Mbak Dita keluar dari kamarnya. Pipi dan pelipisnya lebam. Apa yang sebenarnya terjadi ?


"Mbak, wajah kamu kenapa ?" tanya Mas Bagas.


Tuh, saking kagetnya suamiku saja ikut bertanya. Pasti dia heran sepertiku karena Mbaknya jadi bonyok mirip lele geprek.


"Kejedot ! Gak usah banyak nanya. Kalian ngapain kesini ?"


"Eh, buset, Mbak nanya ? Mbak bertanya-tanya ? Ya, kami kesini karena ibu mau ketemu Mbak. Udah berhari-hari masa ibu sendiri gak dijengukin."


"Berisik kalian, datang-datang ngoceh ! Nanti aja aku jenguk ibu, bilang ke ibu, sabar. Aku lagi malas, lagi gak enak badan juga. Tenang aja, aku pasti ke rumah. Sana, kalian pulang !"


"Ya elah, Mbak, itu mobil sama motor ada, apa susahnya tinggal kesana hari ini. Sebelum kami bawa ibu ke Jakarta."


"Mbak, kalau suami kamu kasar, lebih baik tinggalkan saja." ujar suamiku.


"Gak usah ikut campur, kalian sirik aku punya suami kaya, hah ?"


Dih, edan, otaknya dimana, sih. Emang sih kaya, tapi kalau jadi samsak, bonyok, seperti ikan asin gabus, apa enak ? Masa demi duit mau menggadaikan kewarasan dan kesehatan. Dasar, isi kepala kebanyakan lumutnya.


"Ayo Mas, kita pulang. Percuma ngomong sama Mbakmu. Harusnya kita bawa orang yang bisa bahasa hewan, biar bisa nasihat Mbakmu."


Aku tarik suamiku keluar. Kelamaan disini bikin darah tinggi. Kami kembali ke rumah dengan tangan hampa. Saat ibu tahu anak kesayangannya tak mau datang, wajahnya seketika jadi mendung, mirip awan yang siap mencurahkan hujan badai.


"Udah, Bu, jangan nangis. Nanti juga Mbak Dita kesini."


"Hiks, hiks, apa Dita terluka di sana ?"


Aku dan suami saling pandang. Mau jujur, takut ibu kepikiran. Terpaksa kami bohong, mengatakan semua aman terkendali, supaya ibu bisa istirahat tanpa memikirkan keadaan Mbak Dita. Harusnya sih, pada posisi seperti ini, ibu sadar kalau Mbak Dita bukan anak yang patut dibanggakan. Lihat saja, orang tua sakit, menengok sebentar saja malasnya minta ampun.


***


"Mas, kapan kita mau ke Jakarta ?"


"Mas juga bingung, sayang. Mas udah bilang sama ibu kalau kita mau bawa dia ke Jakarta, tapi ibu nolak. Pengennya tinggal disini saja. Tapi, Mas belum tega ninggalin ibu dengan kondisi kayak gini."


"Hhmmm, gimana yah, masalahnya keuangan pabrik kamu lagi bermasalah, kita harus tuntaskan dari sekarang."

__ADS_1


"Ya sudah, Mas ngomong sama ibu lagi. Kamu siap-siap."


Suami pergi ke kamar ibu. Aku kepo mau mendengar percakapan antara ibu dan anak. Aku intip saja dari pintu, sengaja tak masuk, biar ibu ngomong dengan leluasa.


"Bu, lusa kita ke Jakarta, yah."


"Dita kapan kesini ?" ditanya apa, jawabnya apa. Aduh, ibu mertuaku sedang sakit saja masih menyebalkan.


"Mbak Dita bilang nanti mau kesini. Sudahlah, jangan pikirin Mbak Dita terus. Ibu fokus jaga kesehatan ibu saja.


"Tapi ibu mau izin dulu sama Dita, boleh atau tidak ke Jakarta."


"Ngapain izin, Bu ? Jadi, ibu mau ikut atau tidak ?"


"Ibu gak mau ikut. Gak bakal nyaman tinggal sama menantu kayak Ayu. Ibu pengennya disini, tapi kalau sendirian dengan kondisi sakit, ibu takut gimana-gimana."


"Terus gimana, Bu ? Bagas harus segera pulang ke Jakarta."


"Kamu disini saja dulu."


"Mana bisa gitu, Bu. Jangan keras kepala dong, Bu." ujarku ikut menimpali. Aku kesal, jadi ikut masuk saja. Lagian, punya mertua kok kepala batu sekali. Padahal, apa yang kamu lakukan demi kebaikannya, tetap saja yang dipikirkan hanya Mbak Dita.


"Kalian pergi saja kalau tega ninggalin ibu kayak gini."


"Oke, Bu. Toh, ibu udah gak diinfus, tinggal tahap penyembuhan. Biar Mbak Rina dan Joni yang mantau. Jadi, kami tetap akan pulang lusa."


"Beneran kalian mau pulang ? Gak kasihan sama ibu, Gas ?"


"Ibu yang mau tetap disini, jadi ibu minta tolong Mbak Dita saja." tegas suamiku dengan raut kesal.


Untungnya suamiku sudah tak membenci ibunya. Mau ibu bersikap abstrak, aneh, menyebalkan, atau apapun itu, dia sudah tak pernah ambil hati. Ya, hanya sebatas marah sekilas saja. Maklum, ibunya memang mirip bom atom, membuat siapa saja yang ada di sekitarnya meledak emosi.


Mas Bagas keluar dari kamar ibu.


"Ayu, jangan hasut Bagas. Kalau kamu kesal sama ibu, julidnya nanti kalau ibu sudah sembuh."


"Hahaha, ibu... ibu, siapa yang julid, sih ! Ibu toh, yang Julid. Nih, Bu, sebagai mantu yang baik, Ayu kasih tahu ya, bukan sok tua, tapi pemikiran ibu kadang gak setua umurnya. Gini Bu, kadang, ibu harus tega sama Mbak Dita, biar dia mikir. Kalau ibu terus mikirin kebahagiaan Mbak Dita, yang ada kurus kering tingg tulang. Makanya, Mas Bagas mau rawat ibu benar-benar, eh, malah milih dijadiin babu sama Mbak Dita."


"Kamu gak di posisi ibu, gak bakal paham jadi seorang ibu kayak gini. Bagas hidupnya sudah enak, rumah tangga kalian juga damai. Jadi, ibu sengaja membiarkan kalian mandiri. Beda sama Dita, nasibnya kurang baik. Punya suami kaya, tapi kasar. Ibu gak mau anak ibu jadi korban KDRT."


Sesi curhat ibu mertua.


"Kasihan sama Mbak Dita boleh, tapi jangan repotin satu anak doang. Kami gak keberatan ngurus ibu, tapi di Jakarta. Kalau disini repot, jauh bolak-balik, sementara Mas Bagas juga banyak urusan."


"Suruh siapa kalian buka usaha di Jakarta. Sudah, pindah saja, terus tinggal di rumah ini."


"Astaga, ibu pikir pindah-pindah usaha gampang, kayak buat sambel terasi ? Ya, gak gitu dong, Bu."


"Sudah, ibu sedang sakit malah diajak debat. Kamu ini emang mantu kurang baik, nanti ibu tukar di pasar baru tahu rasa."


Dih, ibu malah ngelawak. Ya sudahlah, suka-suka ibu mertua, intinya lusa pulang ke Jakarta. Biar nanti aku suruh orang mengawasi dan merawat ibu tiap hari. Jadi, aku dan suami tidak terlalu was-was meninggalkan ibu sendirian disini.

__ADS_1


__ADS_2