Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Tak Mau Cerai


__ADS_3

[Jadi anak laki-laki itu beneran bukan anaknya Mas Adit ?]


[Iya, Yu. Ini aku mau nemenin Dita, mau labrak Si Bella dengan bawa bukti-bukti itu.]


[Aku video call yah, Mbak. Nanti di loud speaker. Aku penasaran banget.]


[Iya, ini masih dijalan. Nanti angkat yah, kalau aku video call.]


[Siap, Mbak.]


Aku lanjutkan makan soto, sambil terus memantau ponselku.


"Sayang, kamu lagi makan soto, apa lagi nunggu dapat dorprize, kok serius banget."


Mas Bagas datang, dia buat aku kaget saja. Untung soto dalam mulutku sudah habis, kalau tidak bisa muncrat ke wajahnya yang tampan itu. Aku dan Mas Bagas pun terlibat perbincangan yang tidak penting sebenarnya, tapi selalu membuat hati cenat cenut karena Mas Bagas selalu berhasil dengan gombalan-gombalannya yang receh.


Ditengah canda tawa romantis kami, ponselku menunjukkan adanya panggilan video. Untung ponselku sudah mode hening, jadi Mas Bagas tidak sadar dengan panggilan dari Mbak Rina, dan aku juga tidak mungkin mengangkatnya di depan Mas Bagas.


"Aduh, aku mules, Mas. Kamu jagain Kiara dulu, yah ? Dia lagi di kamarnya sama bibi. Aku mau ke WC dulu, gak tahan."


"Kamu kenapa tiba-tiba mules, sayang ?"


"Gak tahu, Mas."


Aku berlalu begitu saja, masuk kamar dan langsung masuk WC beneran. Takut Mas Bagas masuk kamar, dia bisa mendengar pembicaraanku. Bukan maksud mau menyembunyikan ini semua, atau mau berbohong, hanya saja Mas Bagas pasti tak akan memperbolehkan aku ikut campur urusan Mbak Dita. Tapi, mau bagaiman lagi ? Aku gregetan tingkat tinggi. Tak bisa menahan gejolak rasa kepo di hati ini.


"Apa ? Jadi, Revan itu bukan anakku ?" Tanya Mas Adit dengan nada tinggi.


Aku mirip sedang menonton sinetron melalu video call. Mbak Rina tampaknya sedang duduk, diam-diam mengarahkan ponselnya kepada Mbak Mas Adit, Bella dan Mbak Dita yang sedang ribut di kontrakannya.


"Tuh, lihat kelakuan istri kedua kamu, Mas ! Dia gila, Mas ! Bisa-bisanya ngaku-ngaku kalau anak itu anakmu."


"Bella, jelaskan semuanya !"


"Apa yang harus dijelaskan, Mas Adit tercinta ? Mas sudah lihat hasilnya, bukan ?"


Gila, Bella sangat tenang bicara seperti itu. Dia bahkan masih sempat menyunggingkan senyum manis.


"Kamu gila, Bella !" Sentak Mas Adit.


"Terserah Mas mau bilang apa, intinya hari ini kita harus pergi ke Jakarta. Papi sudah menyiapkan mobil untuk menjemput kita."


"Tidak Sudi ! Kamu pembohong, penipu !"


"Eits, jangan berani kamu menamparku, Mas ! Ingat perjanjian kita."

__ADS_1


"Kamu saja yang pergi dari sini. Aku lebih baik bersama anak kandungku."


"Jangan main-main sama aku, Mas ! Jangan sampai aku berbuat nekat."


"Aku tak sudi sama kamu, Bella. Dari awal aku memang mau meninggalkanmu, aku tidak pernah benar-benar mencintaimu. Kalau bukan karena Revan, tidak Sudi aku bertahan. Kamu ini lebih gila dari Dita, bisa mati berdiri aku sama kamu. Sekarang aku mau kembali dengan Dita, dan akan menceraikanmu. Bawa Revan, dia bukan anakku !"


Mas Adit dan Mbak Dita menarik Rina untuk pergi. Kamera panggilan sudah tak terarah, tapi aku masih bisa mendengar teriakkan Bella. Sepertinya dia marah besar.


Tuuttt !


"Yah, mati lagi. Aku kepo nih, kenapa Mbak Dita malah mau diajak Mas Adit. Mbak Dita ini bucin apa buta, sih ? Ih, greget deh !" Ujarku gregetan sendirian.


Padahal aku membantunya agar dia bisa lepas dari Mas Adit.


"Sayang, kamu lagi BAB, apa ketiduran ?"


Aduh, Mas Bagas menggedor pintu lagi. Aku nyalakan kran dulu sebelum keluar , biar suamiku tak curiga.


"Kami ke WC bawa hp ?" Tanya Mas Bagas saat aku keluar.


"Hehehe, iya, Mas, biar gak ngelamun. Nanti aku malah kesenggol penghuni gaib, gimana ? Ya, mending sambil main sosmed."


"Tapi, tadi Mas dengar suara teriakan."


"Oh, itu... itu lagi lihat film."


"Gak ada, Mas. Ih, muka kamu kayak polisi lagi nanya-nanya maling aja."


"Bukan begitu, sayang. Mas cuma gak mau kamu gimana-gimana."


Aku tarik saja Mas Bagas keluar, aku ajak main sama Kiara. Sebenarnya aku tak ahli berbohong, kalau topiknya tidak langsung dialihkan, bisa-bisa aku keceplosan.


...


[Ayu, kakak iparmu bikin emosi. Aku jadi ikut kebakaran jenggot. Benar-benar batu kalau dibilangin.]


Pesan dari Mbak Rina. Diam-diam aku buka pesan darinya, sedikit menjauh dari Mas Bagas yang sedang bermain dengan Kiara.


[Maksudnya, dia gak mau bercerai, Mbak ?]


[Iya, masa Si Dita malah emosi pas aku nasihatin buat pisah aja, dengan alasan biar gak dibego-begoin suaminya lagi.]


[Astaghfirullah, emang mata Mbak Dita udah kelilipan bakso mercon, gak bisa membedakan mana yang salah dan benar.]


[Iya, Yu. Padahal, mertua kamu juga gak setuju. Malah ibunya dibentak-bentak, ya, Mbak emosi dong. Mbak marah dan bilang kalau Mbak gak mau bantu dia lagi kalau sikapnya kayak gitu.]

__ADS_1


[Iya, udah bener, Mbak. Udah, tinggalin aja. Aku niatnya cuma bantu, kalau sikapnya malah diluar nalar, biarin aja. Susah dia rasain sendiri. Nanti aku suruh Mbak Intan buat ngusir Mbak Dita sama Mas Adit dari rumah itu. Kesel banget, laki benalu kayak gitu, kok masih aja dipertahankan.]


[Ya sudah, tugas kita cukup sampai sini, Yu. Biarin aja kakak ipar kamu. Mbak balik dulu, yah.]


[Oke, Mbak.]


Astaghfirullah, aku tahan gejolak emosi dalam hati. Hampir mengeluarkan asap kepalaku ini, saking kesalnya.


Sudahlah, aku harus sadar kalau kakak ipar macam Mbak Dita sulit diajak menuju jalan yang lurus. Dia sukanya jalanan terjal, penuh kebohongan suaminya. Sekarang bodoamat, awas aja, jangan cari aku, Mbak, kalau nanti susah. Mbak Rina tak akan aku izinkan lagi membantunya, dan Mbak Intan akan aku suruh mengusirnya agar kembali ke kontrakan.


***


[Hei ! Angkat, Ayu ! Sekalinya menampakkan diri, beraninya kamu ngusir aku, hah ?!]


Besoknya, ada nomor baru telepon. Sesuai ucapan Mbak Intan, katanya Mbak Dita merebut ponselnya dengan paksa waktu dia mengusir Mbak Dita kemarin, jadi nomorku dicolong. Gampang, tinggal blokir saja, beres. Toh, dia juga sudah berhasil aku usir dari rumah. Keren memang para bestiku, mereka sangat bisa diandalkan. Apalagi Mbak Intan dan Inem, mereka pasti sangat senang bisa mengusir Mbak Dita. Tak apalah, sekali-kali harus diberi pelajaran biar paham caranya jadi manusia yang sadar diri.


[Hei ! Malah diblokir ! Angkat kalau berani !]


"Ih !"


Sudah ada lebih dari lima nomor digunakan Mbak Dita untuk menerorku. Biasa hidup tenang selama berbulan-bulan, malah kembali mendengar ucapan-ucapan sampah, Mbak Dita.


Setelah nomor kelima diblokir, beberapa jam tidak ada lagi gangguan. Baguslah, mungkin Mbak Dita susah kehabisan akal. Aku mau mengurus Kiara saja. Bikin pusing berhadapan dengan Mbak Dita. Tak lagi-lagi deh, biarkan saja dia hidup sesuka hati. Mau bergaya ala monyet atau kesurupan macan pun aku tak peduli lagi.


***


"Kenapa Mbak Intan telepon malam-malam begini ?" Tanyaku melihat panggilan tak terjawab berkali-kali dari Mbak Intan.


Jam satu dini hari, Mbak Intan telepon berkali-kali, sampai aku terbangun. Untung suami dan anakku masih nyenyak, kalau ikutan bangun, tambah ribet.


"Hallo, Mbak, kenapa ?"


"Akhirnya kamu nelpon, Yu. Aku pusing, nih, malam-malam diteror kakak iparmu. Disuruh pulang, malah nangkring sambil nangis-nangis depan rumah."


"Lha, kenapa lagi dia ?"


"Katanya Si Adit diculik."


"Hah, diculik ? Masa laki bangkotan kayak dia bisa diculik ? Apa yang diharapkan kalau menculik Mas Adit ? Rada-rada mabok tuh penculiknya."


"Diculik anak buah bapaknya Si Bella. Dipaksa ke Jakarta. Si Dita minta bantuan biar aku sama dia bisa cari suaminya. Soalnya gak bisa lapor polisi, bahaya katanya, dia diancam gitu."


"Oh... Ya udah, biarin aja, Mbak."


"Hah, serius kamu, Yu ?"

__ADS_1


"Iya, biarin aja. Tugas kita udah beres buat menyadarkan dia. Sisanya, biar sekarang Mbak Dita sendiri yang berhadapan sama Bella."


__ADS_2