
Sepanjang jalan tak hentinya aku mengoceh. Saking kesalnya hampir saja aku menabrak tebing-tebing. Aduh, suasananya jadi seram dan mencekam begini. Magrib-magrib begini jarang sekali ada motor atau mobil berlalu lalang. Hanya satu atau dua saja.
"Aargghh ! Sialan, mana gak ada sinyal lagi ! Tempat apaan sih, sinyal aja susah." keluhku saat beristirahat sejenak di salah satu warung. Ini adalah warung terakhir, satu jam kesana, sudah tidak ada lagi, rumah warga pun jarang.
"Neng, lebih baik malam ini nginap di rumah bapak saja, dari pada melanjutkan perjalanan malam-malam begini, bahaya Neng. Tiga puluh menit dari sini bakal melewati hutan yang banyak monyetnya."
"Emang disini gak ada hotel, Pak ? Atau setidaknya penginapan lah begitu."
"Hotel ada, tapi masih naik lagi. Harusnya Neng naik terus ke atas sampai menemukan tempat wisata. Nah, disana ada hotel."
"Jauh, Pak. Saya pulang saja."
Malas sekali berhadapan dengan bapak-bapak genit. Aku beli air minum dan jajanan, lalu tancap gas.
"Aduh, seram banget sih."
"Aa..uuuu"
"Duh, suara apaan sih, tuh ?"
"Hihihi"
"Jangan ganggu, permisi... permisi."
Sialan, suara-suara aneh itu malah semakin memenuhi pendengaran. Dadaku berdegup kencang, sampai terasa sesak. Aku coba membaca doa, tapi tak ada satupun yang beres. Malah baca doa makan dan doa mau tidur.
"Salah, salah ! Aduh, pergi dong... astaga."
Plok !
"Aa ... uuu ... aaa !"
"Aargghh !"
Ada monyet melompat yang tiba-tiba saja menghalangi jalan, aku banting stir ke kanan, mata melotot kaget melihat tebing di depan mata. Tatapan mata sudah tak jelas, suasana terasa sangat mencekam, gelap gulita dan aku sendirian.
"Aw, sakit." lirihku memegangi perut yang terbentur stang. Pipi juga terasa perih terkena bebatuan dan akar-akar pohon. Tubuh terhempas dari motor, tergeletak dekat pohon. Perlahan, mata ini tak kuat lagi untuk terus terbuka. Rasa sakit di sekujur tubuh membuatku perlahan tidak sadar.
__ADS_1
.
.
"Haus ... Haus ... !"
"Dita, kamu sudah bangun, Nak ?"
Perlahan mataku membuka. Dimana aku ? Yang terlihat hanya ruangan bercat putih. Apa aku sudah mati dan ada di surga ? Tapi, ada suara ibu. Lalu dimana aku ?
"Ibu ?"
"Dokter, anak saya, tolong !"
Seperti kecepatan air yang menetes, satu tetes, dua tetes, kesadaranku mulai kembali. Dokter datang dan langsung mengecek keadaanku. Ibu ada di sampingku menatap dengan mata berkaca-kaca. Di belakangnya ada pria jelek yang sangat aku kenal.
"Alhamdulillah, Mbak Dita sudah sadar. Mau minum, Mbak ?" Aku mengangguk lemah pada dokter.
Lalu, ibu memberikan sedotan agar aku bisa minum. Dokter dan beberapa suster pamit keluar. Aku mulai mengingat-ingat apa yang sudah terjadi padaku sebelumnya.
"Bu, perutku ?" Aku meraba perutku, sudah rata.
"Lahiran ?"
"Iya, Dita, kamu kecelakaan, dan perutmu kena benturan jadi anak kita harus segera dikeluarkan. Muka kamu juga jadi kayak gitu. Lagian, kamu ini sedang hamil malah pergi-pergi jauh. Untung anak kita selamat, sehat dan baik-baik saja. Kalau sampai anakku kenapa-kenapa, aku laporkan kamu istri gak becus !"
"Diam, Aldi. Kasihan anak ibu, baru sadar sudah dimaki-maki."
"Aww ! Wajahku perih, Bu, kenapa yah ?"
Aku pegang pipiku yang terasa sangat perih. Ada perban yang menempel di pipi sebelah kananku. Apa aku terluka ? Astaga, perih sekali. Wajahku...
"Bu, kaca !" pintaku.
"Buat apa, Dita ? Sudah, kamu istirahat saja. Semuanya akan baik-baik saja, Dit. Anak kamu perempuan lagi, dan dia sangat cantik seperti kamu."
"Kaca, Bu !!!" aku desak ibu tanpa menggubris ucapan ibu tentang anakku yang baru saja lahir.
__ADS_1
"Nih ! Lihat sendiri mukamu !"
Mas Aldi menyodorkan kaca padaku. Dengan cepat aku ambil kaca itu dari tangan Mas Aldi. Mataku melotot sempurna melihat beberapa luka di kening dan pipi. Cukup banyak luka-luka lecet di bagian kening, dan luka yang paling parah di bagian pipi. Pasti ini akibat saat jatuh mukaku terkena akar-akar pepohonan dan ranting-ranting tajam. Ranting-ranting pohon itu merobek pipiku dan harus dijahit hampir dua puluh jahitan. Pantas saja rasanya begitu perih.
"Lihat, muka kamu sekarang jadi buruk rupa ! Itu karma karena kamu suka menghina suami jelek. Lihat, sekarang mukamu bahkan lebih jelek dariku ! Kamu lebih mirip monster sekarang, hahaha."
"Aargghh !" Sialan, pria jelek itu malah menertawaiku.
"Tenang, Dit, muka kamu pasti bisa sembuh lagi, dan kembali seperti semula, tenang yah, Dita."
"Muka aku sekarang jelek banget, Bu ! Hiks, hiks,"
Aku menangis sejadi-jadinya. Tapi rasanya pipiku semakin perih terkena air mata. Aku berusaha tenang, daripada rasanya semakin menyiksa.
"Susui anak kamu dulu, Dit."
Ibu menyodorkan anak keduaku. Malas sekali melihatnya, dia selamat tapi kenapa aku yang terluka parah. Pasti anak itu yang membawa sial.
"Susui anak kita ! Kalau kamu tak mau merawat anakku, lihat saja, aku tak akan memberimu nafkah." Ancam Mas Aldi.
"Dita, ayo susui anakmu. Saat ini kamu butuh Aldi."
"Males, Bu. Anak ini bawa sial !"
"Jaga mulutmu ! Aku bisa menalak mu kapan saja. Lihat saja, dengan kondisimu yang seperti ini, kamu tidak bisa menikahi pria kaya. Bahkan pria jelek sekalipun tak akan mau menikahi mu, sudah jelek, tak punya rahim lagi !"
"Apa ? Rahimku ? Rahimku kenapa, Bu ?"
"Iya, Dita, bagian rahim kamu juga kena benturan yang cukup keras. Jadi, harus diangkat sekalian. Tapi, yang penting kamu selamat, Dit. Untung kamu ditolong warga yang lewat situ. Kalau tidak, Ya Allah, ibu gak sanggup membayangkan."
"Makan tuh, karma ! Aku sudah tahu kamu ke tempat itu untuk cari dukun. Semua chat kamu sudah aku baca. Syukurin, gara-gara kebodohan otakmu itu kamu merusak dirimu."
"Berisik kamu, Mas !" teriakku kesal.
Dasar suami Dajjal, istri sedang kesusahan dan penuh penderitaan malah dihujat. Bukannya menenangkan hati, malah meledakkan emosi.
Terpaksa aku susui anakku. Tak ada pilihan lain, wajahku sudah buruk rupa begini, mana ada yang mau. Lebih baik aku bertahan saja dengan Mas Aldi.
__ADS_1
"Bagus, urus anak kita dengan baik. Aku tak akan menceraikanmu, dan akan tetap memberi nafkah untukmu dan anak-anak kita. Asal kamu nurut kata suami."
Mas Aldi tersenyum penuh kemenangan. Pria jelek itu pasti merasa menang karena bisa membuatku kalah telak. Sialan, ini semua karena Si Juleha kurang ajar itu ! Lulus sudah harapanku punya suami kaya lagi. Malah wajah cantikku jadi buruk rupa seperti ini. Awas saja kamu Leha, kalau bertemu denganku, habis aku cakar juga mukamu, biar mukanya itu ikut buruk rupa kayak aku.