Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Ribut Karena Daging Ayam


__ADS_3

"Taruh di situ, Mas."


"Siap, sayang."


Jam sepuluh pagi aku dan suami sudah kembali dari pasar membawa kompor dan beberapa sayuran, tahu, tempe dan ayam. Bukan hanya itu, aku juga membeli beberapa gelas dan piring.


Alat masak tidak aku beli, karena sudah punya, dapat dari hadiah saat nikahan. Sebagian ada yang sudah di pakai ibu mertua, sebagian aku simpan di kamar.


"Wah, benar kamu beli kompor ?" Tanya ibu mertua dengan wajah sinis menatapku.


"Iyalah, Bu. Masa aku bohong. Jadi, ibu gak usah pusing lagi masak buat aku sama Mas Bagas. Aku bakal masak sendiri."


"Baguslah, gak nyusahin." Ibu langsung berlalu ke dapurnya.


Selesai memasang gas, suamiku istirahat dulu. Hari ini dia mau fokus bantu aku edit video. Tadi kami membuat mini vlog. Kami juga mau fokus di Tik Tak, biar cepat kaya dan tidak di remehkan mertua.


"Wah... enak banget masak ayam. Minta yah," Ujar Mbak Dita.


"Iya Mbak, nanti kalau udah matang aku kabari." Jawabku sedikit berbohong.


Saat Mbak Dita pergi dari dapurku, segera aku sediakan rantang untuk menyimpan masakan yang sudah matang. Sementara di piring hanya menyisakan ceker dan tempe. Lauknya aku bawa ke kamar.


"Ayu!"


"Ayu!" Teriak Mbak Dita.


"Mbak Dita kenapa, sayang ?"


"Gak tahu, Mas. Udah, fokus aja upload sama ngedit. Soal Mbak Dita biar aku yang ke depan. Terus, kalau lapar cemilannya makan aja yah."


"Siap, Sayang. Makasih."


Aku pergi ke dapur. Ada apa lagi dengan kakak ipar ku ini. sudah diberikan makanan, mulutnya masih saja berisik. Harusnya tadi aku buat sambal mercon, biar bibir Mbak Dita dower kayak kena petasan.


"Kenapa, Mbak ?"


"Mana ayamnya ? Tadi kamu masak paha ayam sama sayap. Kenapa di meja cuma ada cekernya doang ?"

__ADS_1


"Oh, sayapnya udah terbang ke perut aku, Mbak. Kalau pahanya, udah di telan Mas Bagas."


"Astaga, terus buat Mbak mana ?"


"Itu ceker."


"Dih, ogah. Sana masak lagi, Mbak lapar."


"Masak ayam ? Orang udah habis, Mbak. Aku masaknya cuma porsi berdua."


"Kamu pelit banget sih, Ayu !" Sentak ibu mertua ikut mendekat.


"Dua puluh ribu mana cukup beli makanan banyak. Mbak Dita kan sarjana banyak duit, jadi traktir lah penghuni rumah ini. Masa mau malak pengacara alias pengangguran banyak acara kayak aku ini." Ujarku dengan senyuman semanis gula, di tambah ekspresi sok polos dan imut.


"Udah jangan ribut. Ayu, sini uang lima puluh ribu. Jangan perhitungan jadi orang. Kamu tinggal gratis disini, listrik, mandi, BAK, BAB, itu kalau di jumlahkan banyak banget. Ibu cuma minta uang buat beli ayam, sini."


Aduh, lempeng sekali ibu mertuaku kalau ngomong. Selama ini setiap gajian dia selalu diberi satu juta sampai satu juta setengah untuk uang dapur dan listrik. Kalau ngomong seolah-olah aku tahanan yang numpang gratisan. Untung gak punya darah tinggi. Masih bisa tenang dan sabar menghadapi mertua versi kuno era kolonial Belanda. Sabar Ayu, sabar...


"Gak ada, Bu. Uangnya habis buat beli kompor. Tuh, di kulkas ada tahu sama tempe, Ayu beliin buat ibu. Masak aja."


"Wah-wah... parah kamu, Yu. Kamu makan enak, sementara kami makan ala-ala orang melarat. Kamu juga numpang disini, jangan kebanyakan gaya. Beli kamera bisa, bantu orang tua buat masak gak bisa."


Rasanya tanduk badak ingin segera muncul dari kepala.


"Mbak... Mbak, mari istighfar. Udah, makan aja cekernya, atau gak ya hutang aja di warung Bu Ijah. Kalau gak ada uang ya mau beli pakai apa ?"


"Ayu ! Tunggu !"


Aku keluarkan jurus menghilang untuk meredam emosi. Tak lucu ribut-ribut hanya karena daging ayam. Lebih baik masuk kamar, menenangkan hati. Biarkan saja Mbak Dita teriak-teriak. Dia tidak akan berani melabrakku, takut di tagih hutang sama Mas Bagas.


"Kenapa, sayang ?"


"Biasa Mas, Mbak mu suka ngajak perang. Udahlah, fokus ngonten aja, Mas."


"Apa Mas samperin aja, biar Mbak Dita gak bikin kamu kesel lagi."


"Gak usah, Mas. Yang ada malah makin panas. Mas fokus edit aja. Aku mau rebahan bentar, capek tadi habis ke pasar."

__ADS_1


"Oke, Sayang. Sabar yah, sebentar lagi Mas gajian. Alhamdulillah bulan ini dapat tiga jutaan."


"Alhamdulillah, semangat selalu yah suamiku."


"Ini semua berkat doa tulus dan kesabaran kamu, sayang. Mas bakalan kerja keras biar kamu bahagia jadi istri Mas."


"Bismillah, kita bisa melewati masa ekonomi sulit ini ya, Mas."


Mas Bagas mencium keningku, memelukku sesaat lalu kembali fokus.


Doa seorang istri yang tulus akan di kabulkan sedikit demi sedikit.


Saat melihat suami mau berusaha bekerja keras dan bertanggungjawab, sudah menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri untukku sebagai istri.


Sejatinya, yang hebat bukan pria yang memiliki banyak uang, tapi pria yang bertanggungjawab.


Kita memang butuh uang dalam berumahtangga, tapi cinta dan kekompakan suami istri yang menjadi modal utama.


***


"Bu, Bagas udah gajian. Ini satu setengah juta, buat bayar listrik dan keperluan rumah."


"Alhamdulillah... Makasih, Gas. Pas banget bapak kamu emang gak kasih duit. Belum lagi istri kamu yang seringnya masak enak tapi tak di bagi-bagi."


"Makanya, di hemat-hemat uangnya, Bu. Biar pas liat aku makan ayam, ibu juga bisa beli. Ya, maaf gak bagi-bagi, biasanya ibu juga gitu. Yang aku tahu mandiri itu ya sendiri-sendiri. Hehehe."


Mata ibu mertua malah melotot menatapku, tapi dia tidak terlalu menggubris ucapan ku. Dia terlalu fokus dengan uang yang sedang di pegangnya, sambil mencium wanginya. Setelah itu berlalu ke kamar untuk menyimpan uangnya.


"Sayang, ini uang satu setengah juta juga buat kamu. Pakai aja yang lima ratus ribu buat beli skin care dan makeup atau apa aja yang kamu mau. Untuk uang sehari-hari nanti Mas kasih lagi dari hasil narik ojek."


"Siap, suamiku tercinta. Semoga berkah yah rezekinya."


"Amin."


Aku peluk suamiku penuh bahagia. Begini nikmatnya kalau bersyukur. Memang uang segitu tak banyak, tapi sebagai istri harus menghargai nafkah dari suami. Bukan malah menghujatnya.


Prinsipku, jika kita bisa membuat suami senang, maka dia juga akan semangat mencari nafkah.

__ADS_1


Soal cukup tak cukup, itu relatif. Asal kita usaha dan Doa, pasti ada saja rezeki nya. Kalau terus memikirkan besok dan besok takut kekurangan, maka tak'kan ada cukupnya.


Lebih baik sedikit demi sedikit menabung, berusaha menambah penghasilan, tapi tetap kebutuhan pokok jangan sampai di kurangi. Makan tetap nomor satu. Jangan sampai kurus kering karena terlalu menghemat. Itu namanya menyiksa diri.


__ADS_2