
"Ayu, siapa dia ? Pakaian hitam-hitam, kepala pakai dililit selendang, kalung tengkorak, serem amat !" Tanya Mbak Dita.
"Ih, malah melotot."
Sumpah, pengen banget aku tertawa sampai guling-guling melihat ekspresi Mbak Dita.
"Sstt, Mbak jangan sembarang ngomong. Nanti di sihir punya buntut monyet, mau ? Ini Bunda Loren, paranormal terkenal yang lagi viral di Tik Tak."
"Paranormal ? Ngapain kamu bawa dia kesini ? Tunggu, aku harus panggil ibu kesini."
Mbak Dita masuk ke kamar memanggil ibu. Tak lama kemudian mereka berdua keluar dengan wajah kebingungan. Setelah ibu melihat sendiri kehadiran Cindy yang menyamar sebagai paranormal, ibu langsung teriak-teriak memanggil bapak dan suamiku.
"Ada apa, Bu ?"
"Itu, mantu kamu aneh-aneh aja, bawa orang serem begitu ke rumah."
"Aneh gimana, Bu ? Itu Bagas yang izinin. Kita sengaja mengundang Bunda Loren ini kesini untuk mencari tahu siapa yang sudah mencuri cincin Ayu. Ayo, kita duduk dulu."
Sebelumnya aku memang sudah menceritakan tentang rencana ini pada suami. Awalnya suami tak begitu setuju, namun setelah aku tunjukkan bukti rekaman cctv di toko emas itu, suami ku langsung setuju dan mendukung rencana gilaku ini.
"Kamu ini apa-apaan sih, Gas. Ini namanya syirik. Bisa-bisanya ngundang orang gak jelas. Kalau mau apa-apa tuh izin dulu."
"Syirik gimana sih, Mbak ? Bunda Loren ini bukan dukun. Dia itu spesial dari kecil, bisa melihat makhluk halus, alias indigo."
"Suami sama istri sama gak warasnya. Perkara cincin aja, pakai hal-hal kayak gini. Udah, Pak, Bu... bubarin aja !"
Mbak Dita sepertinya mulai kebakaran jenggot. Di tambah wajah Cindy yang sangat meyakinkan. Untung saat resepsi pernikahan aku dan Mas Bagas di rumah Mama, Cindy datang saat keluarga Mas Bagas sudah pulang, jadi mereka tak mengenal wajah sahabatku ini.
"Sudah, gak apa-apa. Ikuti saja kemauan Bagas. Sayang juga cincin emasnya kalau hilang begitu saja. Siapa tahu masih bisa ketemu." Ucapan bapak mertuaku langsung membuat Mbak Dita mati kutu.
"Sudah bisa di mulai ?"
"Bisa, Bunda. Silahkan."
"Tolong siapkan dulu syaratnya. Susu putih, kopi pahit, kopi manis, air putih botolan dan es teh."
"Es teh ?"
"Diam ! Turuti saja atau penunggu disini bisa marah." Sentak paranormal gadungan itu membuat Mbak Dita kaget dengan wajah takut.
"Sebentar saya siapkan."
Besti ku ini memang ada-ada saja. Untung semuanya sudah ada. Aku siapkan di atas meja, lalu Cindy meminum habis es teh yang aku bawa. Hahaha, sepertinya dia sangat kehausan.
"Kita mulai sekarang."
Cindy duduk bersila di atas sofa.
__ADS_1
"Ayu, nanti saya akan undang penunggu rumah ini. Tugas kamu menanyakan tentang cincin kamu yang hilang."
"Baik, Bunda."
Cindy mulai menutup matanya. Benar-benar menghayati sekali perannya sebagai paranormal.
"Alam semesta, pemilik jahat raya, sang pemberi suka, suka dan lara. Mari kita bertemu untuk saling mengadu."
Cindy melafalkan mantra yang lebih terdengar seperti puisi di telingaku.
Namun orang-orang dirumah ini terlihat sangat tegang. Apalagi Mbak Dita, wajahnya keringatan. Dia pasti sedang ketakutan.
"Hihihi, ada apa kalian panggil aku ?" Cindy merubah suaranya menjadi centil. Sepertinya dia sedang memerankan Mbak Kunti.
"Ih, serem banget, Bu." Ujar Mbak Dita semakin menempel pada ibunya.
"Diam !" Sentak Cindy.
"Mbak, diam dulu. Nanti yang masuk ke tubuh Bunda Loren, malah pindah masuk ke tubuh Mbak." Aku tambah saja menakuti-nakuti.
"Cepat katakan ! Lagi asik tidur-tiduran di WC malah di panggil kesini. Hihihi,"
"Ini lho, Mbak Kunti kan sering nangkring disini, tahu dong siapa yang ambil cincin saya."
"Oh, cincin sama suratnya ? Tahu lah, Hihihi"
"Tuh, Hihihi"
"Eh, kok nunjuk-nunjuk aku ? Udah gila kali nih setan. Seenak jidat nuduh aku."
"Hihihi, dasar manusia serakah !"
"Ayu ! Kamu ngapain sih pakai beginian ? Udah, usir... usir ! Mbak serem liatnya !"
Mbak Dita bangkit, hendak pergi namun dengan cepat Cindy mencekal tangannya dengan mata melotot.
"Arrghh !!!" Mbak Dita menjerit antara sakit dan ketakutan.
"Manusia tamak ! Serakah ! Tidak mau mengaku kamu ? Aku ganggu tidurmu ! Hihihi"
"Ayu, bantuin ! Tangan Mbak sakit !" Suara Mbak Dita terdengar bergetar.
"Aku gak bisa apa-apa, Mbak. Mending Mbak jujur aja kalau ada yang Mbak sembunyikan. Dari pada di telan setan." Aku pun pura-pura bergidik.
"Aku benci manusia yang jahatnya melebihi setan !" Cindy mencekik Mbak Dita. Ah, sepertinya dia sedang membalaskan kekesalanku.
Kulihat Mbak Dita semakin ketakutan. Aku memberi kode pada Cindy agar tidak kebablasan.
__ADS_1
"Aargghh... A-ampun setan ! Iya, iya, aku ngaku. Aku yang ambil cincinnya Ayu."
Cindy langsung melonggarkan tangannya dan perlahan kembali duduk ala-ala paranormal yang akan mengembalikan kesadarannya. Kemudian Cindy meminum susu dan melihat ke arahku dan suami bergantian.
"Apa kalian sudah tahu siapa pencurinya ?" Tanya Cindy ala-ala Bunda Loren.
"Mbak Dita ! Mbak benar-benar keterlaluan !" Sekarang gantian suamiku yang akting. Ya, tapi dia memang marah sungguhan, meluapkan kekesalan yang dia simpan.
"Ya Allah, Dita... kamu kenapa nyuri cincin adik iparmu ?" Ibu mertuaku menampakkan raut wajah kecewa.
"Itu.. A-anu, aku gak sengaja, Bu."
Wajah Mbak Dita langsung pucat pasi. Dia terlihat sangat gugup dan salah tingkah.
"Bagas sangat kecewa sama Mbak !"
"Kamu ini ada-ada aja, Dita. Bikin kepala bapak pusing. Kalau mau cincin ya minta lah sama suami kamu si Adit, bukan kayak gini. Bapak gak pernah ngajarin kamu jadi pencuri."
"Habisnya Dita kesal sama Ayu dan Bagas, Pak, Bu. Sombong banget, baru punya cincin juga."
"Bukan kamu yang sombong, tapi Mbak yang iri hati."
"Berisik kamu, Ayu !"
"Sudah Mbak, cepat kembalikan cincinnya Ayu."
"Gak ! Gak bisa ! Udah deh, nanti Mbak ganti uangnya."
"Aku gak mau uangnya, aku mau cincin aku, Mbak."
Enak aja Mbak Dita ini. Di kira aku bisa di tipu ? Mana punya uang dia buat ganti cincin aku.
"Iya Mbak, kami mau cincinnya kembali. Uang yang sepuluh juta aja belum di ganti. Cepat balikin cincinnya, Mbak. Atau gak, Bagas bakal lapor polisi."
"Sembarangan kamu, Gas. Cuma masalah cincin doang tega kamu laporin Mbak kamu ke polisi ? Lagian, gak ada bukti juga."
Wah, kakak iparku ini mau nantangin.
"Siapa bilang aku gak punya bukti, Mbak ?"
Aku putar video rekaman cctv di ponselku. Mata Mbak Dita melotot melihatku. Mukanya seram, mirip macan mau menerkam.
"Dit, kembalikan saja cincin adikmu, biar urusannya selesai." Ibu mertua angkat bicara. Mungkin dia takut kalau anak kesayangannya masuk penjara.
Mbak Dita menghentakkan kaki kesal lalu pergi ke kamar. Sesaat kemudian dia keluar dan melemparkan dompet kecil berisi cincin dan suratnya ke arahku.
Aku tangkap dengan senyum kemenangan karena rencana ku sukses besar. Ya, walaupun kesal dengan sikap Mbak Dita yang tak sopan.
__ADS_1